
"Da-daddy..." panggil Karina pelan. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan datang ke sana.
"Hem??" tanya Fin kembali sambil mengangkat sebelah alisnya.
Karina meraih tas yang tersimpan di atas meja, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Karina menyerahkan sebuah map kecil berwarna silver kepada suaminya.
"Apa ini?" tanya Fin. Pasalnya, bukan itu yang dia mau.
"Buka saja, itu jawaban dari pertanyaan Daddy," jawab Karina.
Walaupun bingung, Fin mengikuti permintaan istrinya untuk membuka buku silver yang istrinya berikan tadi. Dengan hati-hati Fin mulai membuka lembar pertama yang berisikan identitas istrinya.
Lembar kedua berisikan tanda-tanda vital dari Karina, termasuk keluhan dan riwayat kehamilan serta persalinan terdahulu. Fin semakin bingung dengan isi dari buku tersebut.
Pada lembar ke tiga, terpampang hasil USG, dengan foto si janin di dalamnya. Fin masih belum mengerti. Apalagi, di dalam foto itu hanya terdapat kode-kode yang isinya tidak Fin pahami.
Walau tidak mengerti, Fin tetap melanjutkan membuka lembar terakhir dari buku silver yang istrinya serahkan. Pada lembar terakhir itu, terdapat tulisan.
__ADS_1
"Selamat atas kehamilan anda. Janin anda sehat, dengan usia memasuki Minggu ke tujuh. Mual muntah di awal kehamilan merupakan hal yang wajar. Terus berikan janin anda nutrisi terbaik demi pertumbuhannya yang sempurna. Jika saat makan anda mual, makanlah dengan porsi sedikit tapi sering. Ingat, kembali bulan depan untuk pemeriksaan, namun saat ada keluhan, jangan tunggu bulan depan, ya!" isi dari lembar terakhir.
Fin membulatkan matanya tidak percaya. Dia membaca ulang bagian kalimat yang mengatakan kalau Karina tengah hamil tujuh Minggu.
"Mommy, ini serius kan?" tanya Fin sekali lagi. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Karina mengangguk ragu. Dia bingung melihat ekspresi suaminya.
"Se... se... serius," lirih Karina.
Ketiga sahabat Karina menahan nafas menunggu reaksi Fin. Mereka tidak tau kalau ternyata Fin tidak mengetahui tentang kehamilan Karina. Ternyata mereka lah orang pertama yang tau tentang kehamilan Karina. Sungguh sebuah anugerah, bisa menjadi saksi dari proses kehidupan sang pewaris Grahatama.
"Maaf! Ya, memang begitu seharusnya!" ucap Fin datar. Dia masih berdiri di tempatnya, dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana. Tangan kemejanya dia gulung sebatas sikut.
Rina membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang suami dari sahabatnya itu katakan.
"Hei!!!" bentak Rina kencang. Dia berdiri dari tempatnya dengan tangan terangkat menunjuk Fin.
__ADS_1
"Rina..." cegah Nisa sambil menyuruh Rina untuk duduk kembali. Soalnya, ini bukan ranah mereka untuk ikut campur dalam kehidupan rumah tangga sahabatnya.
Fin menatap Rina sekilas kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Karina. Karina masih ketakutan. Tangannya saling bertautan satu sama lain dengan bibir bagian bawah yang dia gigit.
Rina semakin marah melihat ketakutan di mata sahabatnya. Andai saja dia dapat menerjang tubuh Fin dan membawa Karina keluar dari dalam sana. Namun benar kata Nisa, ini bukan ranah dia untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga Karina. Rina hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
"Apa Mommy tidak ingin menjelaskan sesuatu pada Daddy?" tanya Fin pada istrinya.
"Hanya maaf?"
Karina menggeleng pelan. Tidak ada yang bisa dia jelaskan terkait kehamilannya. Memangnya Karina bisa apa? Bukannya dulu suaminya itu selalu terlihat antusias saat tengah membahas tentang kehamilan? Lantas, sekarang kenapa? Apa Fin menyesal? Begitulah yang Karina pikirkan.
"Apa Daddy orang terakhir, yang tau tentang kehamilan, Mommy?" tanya Fin.
"Saat di rumah sakit, kenapa Mommy tidak jujur pada Daddy?" Fin marah karena Karina menyembunyikan kehamilannya. Nadanya dingin saat bertanya itu.
Rina yang menyadari kesalah pahaman ini meringis mengingat dengan beraninya dia membentak Fin yang merupakan bos di tempatnya bekerja. Sementara itu, Nisa dan Mila tersenyum miring, mengejek Rina.
__ADS_1
"Mampus!!" ucap Mila menggunakan gerak bibir.