
'Apa katanya tadi? Tinggal? Dia mau tinggal di rumah ini?' batin Karina tidak habis pikir dengan yang dilakukan Queen.
'Apa tujuan kamu melakukan ini semua, jurik?' tanya Karina pada dirinya sendiri. Dia memiliki panggilan baru untuk rivalnya itu.
Jurik. Ya, sepertinya panggilan itu sangat cocok untuk Queen yang memang seperti hantu. Bergentayangan, mencari celah untuk masuk diantara hubungan Karina dan Fin.
Fin mengerutkan keningnya.
"Tinggal di sini?" tanya Fin memastikan. Queen hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Fin.
"Dad, turun dulu." bisik Karina tepat di telinga suaminya.
Fin tidak menghiraukan keinginan istrinya untuk turun. Fin juga belum menjawab permintaan Queen, yang meminta ijin untuk tinggal di rumahnya. Dia terus berjalan menggendong tubuh ramping sang istri sambil menaiki tangga kemudian berlalu meninggalkan Queen.
"Kita bicarakan itu nanti! Ada hal penting lain yang harus Abang selesaikan!" ucap Fin sambil terus melangkahkan kakinya menapaki tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua rumahnya.
Dari atas gendongan suaminya, Karina menatap Queen sambil tersenyum mentertawakan Queen yang di abaikan suaminya. Matanya menyipit, dengan sudut bibir yang terangkat sedikit. Karina tengah mengolok-olok Queen dengan ekspresinya itu.
Dengan sengaja. Karina miringkan kepalanya untuk mengecup leher Fin dan meninggalkan jejaknya di sana. Queen masih mematung di tempatnya, menyaksikan aksi keduanya.
"Mommm..." pekik Fin dengan hasrat yang sudah di ubun-ubun. Fin memberi kecupan di seluruh wajah Karina hingga membuat Karina memekik karena geli. Keduanya menganggap, seolah-olah Queen tidak ada di sana. Mereka sibuk memadu kasih, saling memuaskan satu sama lain.
"Kurang ajar! Dasar wanita murahan! Kurang ajar!!!!" maki Queen dari lantai bawah, saat pasangan suami istri itu, menghilang di balik pintu kamar. Wajahnya memerah dengan nafas yang naik turun, melampiaskan amarah yang sudah memuncak.
Queen marah pada Karina yang dianggapnya sudah sangat menjatuhkan harga dirinya. Selain itu, dia juga marah dengan Fin yang menanggapi kehadirannya dengan dingin dan terkesan tidak perduli.
"Bu, mau saya bawakan sesuatu?" tanya seorang maid yang baru saja datang dari arah belakang rumah.
Queen menatap nyalang maid tersebut dengan mata yang berkilat. Dia memaki kembali.
"Kurang ajar! Pergi! aku gak butuh, kamu!!" bentaknya, sambil mengangkat tangannya dan menyuruh maid tersebut keluar meninggalkan dirinya seorang diri.
Maid yang di usir Queen, pergi begitu saja.
"Ckk... ckk... aku viralin, mampus kamu! Attitude kayak gitu, gak pantes jadi publik figur!" gerutunya sambil berlalu pergi menuju belakang rumah, untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa?" tanya Bi Surti yang merupakan maid senior di rumah Fin.
"Itu, tamu yang di ruang depan sekarang sedang marah-marah! Aktris kok gitu.. Jadi, apa yang di tampilkan nya di layar kaca, hanya pencitraan saja? Ckk... ckk... ckk..." gerutu Ningrum.
Dia maid yang baru bekerja kurang dari dua minggu. Usianya yang masih muda, membuat emosinya gampang terpancing. Selain itu, kepribadiannya yang apa adanya, membuat apa yang ingin dia ungkapkan, dia curahkan begitu saja tanpa melihat situasi ataupun kondisi yang akan dia terima, setelahnya.
"Hush... kamu gak boleh gitu. Itu semua bukan urusan kita, Ningrum! Urusan kita hanya bekerja, paham?" Bi Surti mengingatkan Ningrum.
Ningrum mengangguk, namun hatinya masih kesal dengan perlakuan semena-mena dari Queen. Dia kembali mengerjakan tugasnya agar tidak mendapat teguran dari Bi Surti, yang merupakan maid senior di tempatnya bekerja.
#########
Di lantai atas, dua insan yang baru selesai menjalankan ritual celup mencelup, tengah berbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1
Karina masih meringkuk di dalam pelukan suaminya. Bercinta dalam keadaan menahan amarah berhasil meningkatkan gairah Karina dua kali lipat dari pada bercinta dalam keadaan biasa saja.
Dia melampiaskan segala amarah dan kekesalannya dengan melakukan gerakan-gerakan kasar yang berhasil membuat suaminya mengerang, serta memuji performa Karina malam ini.
"Besok ke Singapura jam berapa?" tanya Fin pada istrinya. Tangan Fin sibuk mengusap punggung polos istrinya.
Karina mematung sambil menahan nafasnya. Dia lupa dengan rencananya yang akan berangkat ke Singapura besok pagi. Sepertinya Karina harus memikirkan ulang rencananya. Tidak mungkin kan, Karina meninggalkan suaminya berduaan bersama Queen? Sama saja dengan dia mengumpankan suaminya pada seorang pelakor lapar yang sudah mengincar suaminya itu sejak dulu.
Bukannya tidak percaya pada Fin, tapi waspada kan harus! Kita tidak tau, dari mana datangnya setan akan menggoda.
"Mmm... sepertinya... Mommy gak jadi kesana," ucap Karina pelan.
"Gimana?" tanya Fin memastikan.
"Ckk... Mommy gak jadi ke Singapura!" jawab Karina kesal.
"Kenapa?" tanya Fin heran. Dia bahkan menghentikan usapannya, pada bagian belakang punggung istrinya.
Karina sedikit mendorong tubuhnya untuk menjauh dan menengadahkan kepalanya untuk melihat suaminya. Kedua alisnya saling bertemu, efek dari kerutan di dahinya.
"Apa maksud Daddy dengan, kenapa?" mata Karina menatap tajam.
'Oh God! Marah lagi...' pekik Fin dalam hati.
"Apa Daddy menginginkan Mommy pergi?" tanya Karina nyalang. Dia tidak memberikan kesempatan untuk suaminya menjawab.
Saat di rasa Karina sudah relaks kembali, Fin melepaskan bibirnya. Dia mengusap kepala istrinya penuh sayang.
"Boleh Daddy bicara?" tanyanya pelan. Matanya teduh, membuat Karina terhipnotis. Dia mempersilahkan suaminya itu untuk bicara.
Fin tersenyum. Sepertinya sang istri sudah jauh lebih jinak dari pada sebelumnya.
"Mommy gak jadi ke Singapura?" tanya Fin lembut.
"Gak jadi. Mommy di sini saja," jawab Karina. Jawabannya tidak se garang tadi. Nadanya pun jauh lebih halus.
"Kenapa? Bukannya semalam Mommy memohon, agar Daddy mengijinkan Mommy pergi ke sana," tanya Fin.
Karina mulai memikirkan alasan yang cocok. Dia gengsi, jika harus memberitahu sang suami tentang kekhawatirannya.
"Setelah di pikir- pikir... lebih baik, Mommy di rumah saja. Lagi pula, Mommy kan masih kurang sehat," elaknya.
Fin mengangguk memahami alasan istrinya.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah, Mommy istirahat dulu. Daddy masih harus menemui Queen di lantai bawah," ijinnya pada sang istri.
Walaupun berat mengijinkan suaminya bertemu dengan perempuan lain, namun Karina mempercayai suaminya. Dia pria terhormat yang tidak mungkin melakukan hal tercela apalagi di dalam rumahnya sendiri.
Karina dapat menjamin suaminya namun tidak dengan Queen. Perempuan ular itu selalu menghalalkan segala cara, agar yang diinginkannya terpenuhi. Oleh karena itu, secara diam-diam Karina mengikuti suaminya yang akan pergi menuju lantai bawah rumahnya.
__ADS_1
Karina berjalan sangat pelan agar tidak di ketahui suaminya. Terlihat Queen masih berada di ruang tengah. Ternyata dia benar-benar menunggu Fin menyelesaikan ritualnya bersama Karina, sang istri.
"Queen!" panggil Fin membuat Queen tersenyum cerah.
"Abang..." panggilnya.
"Kenapa membawa koper sebesar ini?" tanya Fin to the point.
"Mmmm ..., untuk sementara waktu.. apa boleh aku tinggal di rumah Abang?" tanya Queen pelan. Nadanya dia buat selembut mungkin dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin.
"Hanya beberapa waktu saja, sebelum aku kembali ke Paris." lanjut Queen merayu.
"Kenapa?" tanya Fin singkat.
"Abang kan tau, aku selama ini hanya tinggal berdua sama Mama dan sekarang... Mama... " jelasnya dan mulai mengeluarkan skill aktingnya. Queen menangis demi mendapat simpati Fin.
Sementara itu, di tempat lain Karina tengah menahan diri agar tidak menerjang tubuh Queen dan menyeretnya keluar seperti yang pernah dia terima dari Lisa beberapa bulan yang lalu.
"Sudahlah Queen... kasihan Tante. Kamu jangan nangis terus! Lebih baik kamu do'akan, dia."
Queen mengangguk seolah paham dengan apa yang Fin bilang.
"Kamu tau kan Abang sudah menikah!" seru Fin. Queen mengangguk kembali.
"Segala sesuatunya harus Abang diskusikan dengan, Karina. Abang tidak bisa seenaknya mengambil keputusan sendiri. Jadi, untuk malam ini, kamu boleh menginap dulu di sini. Untuk hari-hari kedepannya, Abang akan tanya Karina dulu." jelas Fin.
"Minta salah satu maid untuk menyimpan koper itu ke kamar tamu," lanjut Fin.
Karina tersenyum lebar saat mendengar penuturan suaminya. Jiwanya terasa melayang mengetahui seberapa pentingnya dia di hidup suaminya.
Karina berniat kembali ke dalam kamarnya. Dia cukup puas mendengar jawaban dari suaminya. Secara hati-hati, Karina mulai keluar dari persembunyiannya dan kembali menuju lantai atas.
Namun, baru beberapa langkah pergi, sesuatu yang menarik dan cukup menyesakan dada, membuat Karina mengurungkan niatnya untuk kembali.
"Abang, boleh aku tanya satu hal lagi?" tanyanya.
"Soal apa?"
"Mmm... tentang perempuan yang selalu Abang cari-cari, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Queen membuat dada Karina sesak saat mendengarnya.
"Baik. Dia sangat baik!" jawab Fin singkat. Setelah menjawab demikian, Fin pergi menuju dapur rumahnya.
Sementara itu, Karina mematung mendengar jawaban suaminya. Setelah jiwanya melayang ke angkasa sekarang jiwa itu jatuh sampai ke dasar.
"Jadi, apa artinya Mommy buat Daddy?" lirih Karina pelan sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang.
Queen tersenyum sinis. Dia pergi menuju kamar tamu, setelah melihat Karina terluka.
"Satu sama!" ucap Queen pada dirinya sendiri.
__ADS_1