
Renal beranjak pergi menyusul kemana Fin pergi. Fin sudah benar-benar kelewat batas. Renal harus memperingatkan sahabatnya itu sebelum dia menyesali segalanya di kemudian hari.
Sementara itu, Kiara menghampiri Karina dan Devin yang saat ini tengah terpukul atas apa yang sudah Kakaknya itu lakukan. Melihat bagaimana keponakan kesayangannya itu terluka membuat hati Kiara sakit.
Devin terus menatap kue buatan Mommy nya yang sudah hancur.
"It's oke Mommy. Aku tidak apa-apa. Mommy jangan nangis. Aku tidak mau kue kok," dusta Devin menenangkan Mommy nya yang saat ini masih menangis. Dari awal, Devin tidak menangis sama sekali. Dia menahan segalanya sampai dadanya terasa sesak dan sakit.
Tangis Karina semakin menjadi saat anaknya yang hari ini tepat berusia tiga tahun itu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapannya. Ini ulang tahun terburuk bagi Devin. Karina tidak pernah membayangkan kalau Fin akan mematahkan hati Devin dengan cara yang amat sangat menyakitkan hatinya.
Kiara hanya bisa duduk di samping Karina tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia menunggu segalanya membaik dan Karina mulai tenang kembali walaupun akan sangat mustahil karena Karina sudah sangat terluka. Kiara meminta Bu Linda untuk menenangkan Devin dan membawanya ke dalam kamar.
Kiara segera membawa Karina masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Kakak iparnya itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kiara menunggu kondisi Karina membaik sebelum menceritakan segalanya.
Ada banyak hal yang tidak Karina ketahui tentang hari kelahiran Kakaknya. Masa lalu yang begitu memilukan hingga menjadi momok yang selalu menghantui Fin di setiap tahunnya.
"Ayo, kita duduk di sana," Kiara membangunkan Karina dan mendudukkannya di atas sofa ruang keluarga.
Kiara memberikan segelas air agar Karina jauh lebih tenang.
"Maaf," ucap Kiara sambil meraih tangan Kakak iparnya. Dia meminta maaf untuk apa yang sudah Kakaknya lakukan.
Karina menggeleng dengan mata yang kembali berembun.
"Jangan Kiara! Ini bukan salah kamu," Karina menatap mata Kiara.
"Abang kamu kenapa? Apa Kakak melakukan sesuatu yang membuat Abang kamu marah?" tanya Karina pelan. Walaupun sakit Karina harus mengetahui alasan di balik kemarahan suaminya.
"Sebenarnya... mmm..."
"Kenapa?" tanya Karina penasaran.
__ADS_1
"Kiara, aku harus ke bandara untuk menjemput Eca," ijin Renal yang tiba-tiba turun dari lantai dua kamar Fin. Sebelum keluar Renal mengedipkan matanya memberi kode pada Kiara seolah berkata 'Fin sudah aku urus. Sekarang giliran Kiara yang harus menyakinkan Karina'.
Queen sendiri sejak tadi tidak memberikan respon apapun dengan apa yang terjadi pada Karina dan Fin. Dia hanya diam cenderung acuh. Saat Fin melempar kue pun Queen hanya menonton sambil tersenyum tipis. Sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya.
"Ada apa Kiara? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya Karina kembali.
"Sebenarnya... mmm... Abang tidak pernah merayakan ulang tahunnya sejak sebelas tahun yang lalu," jelas Kiara pelan.
"Walau hanya perayaan kecil? Tiup lilin?" tanya Karina terkejut. Pasalnya, Fin dari keluarga sultan yang biasanya akan merayakan setiap momen ataupun pencapaian yang mereka raih.
Kiara menggeleng.
"Abang membenci hari kelahirannya sendiri," cicit Kiara pelan.
"Tapi, kenapa? Ada apa?" tanya Karina masih belum mengerti. Dia membutuhkan penjelasan adik iparnya itu.
"Sebenarnya... sebelas tahun lalu... Mami dan Papi meninggal karena kecelakaan," Kiara menarik nafasnya saat akan membuka kembali luka lamanya. Karina mengusap punggung Kiara.
"Kalau kamu belum siap tidak perlu di lanjutkan," Walaupun Karina penasaran namun dia paham dengan rasa sakit saat harus mengenang kembali orang yang sudah meninggal. Terlebih lagi itu orang tua sendiri.
"Kakak perlu mengetahuinya, karena ini ada hubungannya dengan Abang," lanjutnya.
Karina mengangguk kemudian menyiapkan hatinya untuk mendengar apa yang akan adik iparnya itu sampaikan.
"Sebelas tahun lalu, Mami dan Papi meninggal karena kecelakaan pesawat terbang," ulang Kiara. Karina terkejut dengan fakta yang baru dia ketahui tentang mertuanya.
"Pesawat yang Mami dan Papi tumpangi jatuh dan terbakar. Kejadian itu tepat saat ulang tahun Abang yang ke tujuh belas tahun. Malam sebelum kejadian Abang meminta Mami dan Papi untuk pulang dan merayakan ulang tahun bersamanya. Awalnya, mereka tidak bisa datang dan hanya mengirimkan sebuah mobil mewah beserta SIM dan kartu tanda penduduk sebagai kado untuk ulang tahun ke tujuh belas nya. Namun, karena Abang terus memaksa akhirnya Mami dan Papi pulang. Saat di perjalanan pulang pesawat yang Mami dan Papi naiki mengalami kecelakaan yang mengakibatkan keduanya meninggal dunia." Kiara menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum lanjut bercerita.
"Kejadian tersebut benar-benar membuat Abang terpukul. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Mami dan Papi. Sejak saat itu, Abang sudah tidak pernah lagi merayakan ulang tahunnya. Dia benar-benar membenci tanggal lahirnya sendiri. Abang akan pergi ke tempat yang sepi untuk menyendiri dan kembali saat petang. Tidak ada yang tahu kemana Abang pergi seharian itu. Sebelas tahun Abang terus menyalahkan dirinya sendiri" Kiara mengusap air matanya. Dia benar-benar berharap kalau sang Kakak akan berdamai dengan masa lalunya.
Karina mematung mendengar kisah pilu suaminya. Karina kira hanya dia yang memiliki kehidupan yang tragis. Ternyata suaminya pun tidak jauh berbeda dengannya. Fin menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng tangguh yang di bangunnya selama ini.
__ADS_1
Dahi Karina berkerut saat mengingat sesuatu tentang kejadian tadi siang.
"Mmmm... apa semua keluarga mengetahui tentang ini?" tanya Karina penasaran.
Lantas, pertanyaan lain muncul. Apa hanya Karina yang tidak mengetahui ini? Dalam hati kecil Karina ada sedikit rasa sakit saat menyadari ternyata sang suami belum sepenuhnya menerima Karina sebagai bagian dari masa depannya.
"Ya, semua keluarga Grahatama mengetahui tentang ini," jawab Kiara.
"Termasuk Queen?" tanya Karina kembali.
Kiara mengangguk membenarkan. Karina melebarkan matanya. Ternyata Queen mengetahui tentang kondisi suaminya. Lantas, kenapa saat berkunjung siang tadi, Queen tidak mencegah Karina saat tau kalau Karina tengah menyiapkan pesta untuk Fin? Pikir Karina.
"Kenapa?" tanya Kiara menyadarkan Karina dari lamunannya.
"Ada yang salah?" tanya Kiara kembali.
"Ti... tidak," dusta Karina.
"Ya sudah Kiara, aku ke kamar dulu. Abang pasti sedang benar-benar sedih sekarang." pamit Karina pada Kiara.
Karina pergi menuju lantai dua rumahnya untuk menemui Fin dan meminta maaf atas ketidaktahuannya. Tanpa sengaja Karina sudah menyakiti Fin dengan membuka luka lamanya kembali. Begitulah Karina padahal Karina sendiri terluka dengan apa yang sudah Fin lakukan tadi.
#############
Di dalam kamar, Fin tengah berdiri bersama seseorang yang tengah memeluknya dari belakang. Fin tidak menyadari kalau seseorang itu adalah Queen. Fin kira kalau itu adalah istrinya. Dia bahkan meminta maaf dan menceritakan kisah yang sama persis dengan yang Kiara ceritakan pada Karina. Bau parfum yang Queen pakai benar-benar sama dengan yang biasa Karina pakai.
Queen masuk ke dalam kamar Fin saat tau kalau Karina akan naik juga. Dia tidak memikirkan efek dari tindakannya. Yang Queen inginkan hanya perpisahan antara Karina dan Fin, apapun jalannya.
Pintu kamar di buka seseorang dari luar. Saat melihat bayang Karina dari pantulan kaca di sampingnya dengan cepat Queen segera berbalik untuk berganti posisi dan berdiri di hadapan Fin.
Fin yang terkejut hanya bisa mematung sambil melebarkan matanya. Saat Karina sudah benar-benar ada di dalam kamar, Queen lantas menarik kepala Fin agar menunduk sehingga dari belakang terlihat sedang berciuman.
__ADS_1
"ABANG!!!" teriak Kiara dengan kencangnya. Ternyata diam-diam Kiara mengikuti Karina dari belakang. Dengan refleks Kiara berteriak saat melihat adegan yang menyakitkan matanya itu.
Sementara itu, Karina hanya mematung. Apa yang sudah Queen rencanakan berhasil. Karina hancur untuk kesekian kalinya. Kali ini, Karina hancur sehancur-hancurnya. Tidak ada yang bisa Karina selamatkan dari pernikahan singkatnya.