
Karina menatap kepergian Fin dengan tatapan yang memprihatinkan. Dia dapat melihat bagaimana tangan Queen merangkul dengan kepala yang di sandarkan nya pada bahu suaminya. Queen menoleh dengan sedikit senyum ke arah Karina. Entah senyuman apa yang Queen berikan senyuman meminta izin kah? Atau mungkin sebuah senyuman untuk mengejek? Hanya Queen dan Tuhan lah yang tau.
Entah kenapa dada Karina terasa sesak dalam sesaat. Karina mengatur nafasnya yang mulai memburu.
"Tenang, Karina!" ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Karina menepuk-nepuk dadanya. Kini selain sesak, dada itu terasa sakit.
Karina raih gelas yang sedang di bawa pramusaji. Dia tenggak isinya sampai tandas dengan wajah yang berkerut merasakan rasa asing yang masuk ke dalam tenggorokan nya.
Tidak cukup satu gelas, Karina menghabiskan minuman yang sudah sangat lama tidak di cicipinya itu sebanyak tiga gelas. Raiden yang kebetulan melihat kakak Iparnya itu sempoyongan akhirnya meminta Vera untuk membawa Karina keluar dari dalam Ballroom dan membawa nya menuju tempat sopir pribadi nya menunggu sampai pesta usai.
Vera memasukkan istri bos nya itu ke dalam mobil yang tengah terparkir.
"Pak," ucap Vera menyapa seseorang yang duduk di kursi pengemudi.
"Bu Karina sepertinya mabuk," jelasnya. Dia pergi setelah mengantarkan istri bos nya itu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Karina menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Dia memijat kepalanya yang sakit.
"Kurang ajar, gara-gara minuman itu kepala ku sakit!" umpatnya sambil memukul kening nya.
"Oh, mahkota ini juga benar-benar menyebalkan! AAaa... kenapa semua orang menyebalkan?!" racau Karina sambil berteriak di dalam mobil. Dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya. Karina sedang benar-benar ada dalam pengaruh alkohol.
Karina berusaha melepaskan mahkota yang ada di kepalanya, dengan cara menariknya.
"Huuuaa..." tangis Karina tiba -tiba pecah. Karina meraung melampiaskan rasa yang di pendamnya selama di dalam Ballroom.
"Kurang ajar!!" umpatnya kembali.
"Kamu menyusahkan hidup ku dengan cara membiarkan aku bergantung padamu, FIN!!" teriak nya melanjutkan umpatan nya.
Ya Karina tengah melampiaskan kekesalan nya pada Fin yang lebih memilih pergi mengantarkan Queen.
__ADS_1
Karina kembali menumpahkan air matanya sampai hatinya benar-benar lega. Setelah di rasa cukup tenang, Karina menghapus air matanya kemudian memasang sabuk pengaman dan menyuruh sopir nya untuk melajukan mobil nya.
"Ayo, jalan Pak!" perintah nya dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa.
Sopir yang duduk di bangku pengemudi, menengok ke arah Karina dengan membalikan tubuhnya.
"Apa anda sudah puas? Kalau belum masih ada beberapa menit untuk anda kembali mengumpat!" ucap sang sopir sambil menatap jam tangan yang di pakainya.
"Kurang ajar, bahkan efek alkohol itu mempengaruhi mataku!" ucap Karina sambil menggosok mata nya.
"Heh, kenapa kamu disini kurang ajar? Bukannya kamu sedang bersenang-senang bersama model cantik itu?" tanyanya dengan nada tinggi pada seseorang yang tengah menatap tajam Karina dari kursi pengemudi.
"Pak Deni, sejak kapan bapak setampan suami saya?" tanyanya sambil meraih pipi kemudian di kecup nya bibir yang Karina sebut Pak Deni itu.
"Mommy, stop!" geram Fin dengan mata yang melotot tajam.
__ADS_1
Ya, Fin saat ini tengah berada di dalam mobil yang sama dengan yang Karina naiki.