
"Sudah mommy putuskan?" tanya Fin kembali.
"Mood Mommy sedang baik saat ini. Mommy maafkan mereka." jawab Karina membuat kantin kembali riuh oleh kehebohan karyawan kantor yang ada di sana.
Karina mengusap lengan Fin sambil memberikan senyum manisnya yang tulus. Dia tau suaminya tidak puas dengan keputusan Karina yang lebih memilih untuk memaafkan penghujat nya itu.
Karina tidak sekejam itu. Dia tidak tega jika harus memotong sumber penghasilan mereka dengan mengeluarkan mereka dari perusahaan suaminya.
"Mereka sudah kejam pada Mommy!" kesal Fin.
"Mereka tidak tau kalau Mommy istri, Daddy. Jadi, bukan salah mereka. Kalau Mommy ada di posisi mereka, mungkin Mommy akan berpikir hal yang sama dengan mereka. Seorang yang sudah berkeluarga, membawa selingkuhannya ke kantor.
"Sudahlah! Ayo Mommy lapar," ajak Karina menarik suaminya agar keluar dari kantin.
Saat Karina, Fin dan para bodyguard keluar dari dalam kantin, suasana kembali riuh. Mereka memuji kebaikan Karina yang dengan kuasanya bahkan lebih memilih memaafkan para penghujat yang dengan tidak berperasaan menuduh Karina sebagai simpanan bos mereka.
__ADS_1
Lantas, siapakah Queen? Begitulah pertanyaan orang lain terkait status Queen. Beberapa orang yang tadi bersimpuh di lantai, mereka terkulai lemas, meratapi nasib apes mereka hari ini.
Sementara itu, Viona sibuk memegangi pipinya yang masih terasa panas. Harga dirinya hancur dalam seketika saat dia dipermalukan di depan semua orang.
Dadanya naik turun, dengan wajah memerah menahan amarah. Giginya gemerutuk melampiaskan kebenciannya pada Karina.
"Kamu mempermalukan aku di hadapan banyak orang! Lihat saja, sampai kapan kamu bisa mempertahankan kesombongan mu ini!" ancam Viona dengan tangan terkepal erat.
"Gak usah mimpi deh, kamu. Syukur-syukur kamu gak di depak dari perusahaan ini. Jadi, buang niat jahat mu jauh-jauh!!!" ucap Rina tepat di belakang telinga Viona, seolah-olah tau apa yang Viona rencanakan.
Mereka tidak sudi melihat wajah-wajah penjilat yang dengan menjijikkan nya langsung memohon-mohon pengampunan setelah mengetahui status Karina yang sebenarnya.
"Kaliannnn... aaaaaa..." teriak Viona sambil membanting apa saja yang ada di hadapannya.
"Ckk... ckk..." decak Nisa, berbalik sambil tersenyum sinis melihat apa yang Viona lakukan. Dia tidak terkena lemparan gelas Viona, karena jarak mereka sudah cukup jauh. Ketiga serangkai itu, sudah mencapai pintu keluar saat Viona mengamuk.
__ADS_1
Karina dan Fin, saat ini tengah berada di dalam kantor milik Fin. Karina mengajak Fin ke sana, setelah melihat wajah suaminya itu tertekuk kesal. Fin masih kesal dengan keputusan sepihak dari istrinya yang lebih memilih untuk memaafkan mereka daripada memecatnya.
Fin tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya diam dan langsung duduk menempati kursi kebesarannya begitu sampai di kantornya. Dia mulai berjibaku dengan pekerjaannya. Fin tidak menghiraukan kehadiran Karina.
"Ya ampun...kenapa marahnya mirip sekali dengan Devin?" gumam Karina pelan. Dia gemas sendiri melihat suaminya marah.
"Sok sibuk!" gumamnya kembali sambil berjalan menghampiri Fin.
Dengan tiba-tiba, Karina memutar kursi yang Fin duduki agar menghadap padanya. Karina melebarkan kakinya kemudian naik ke atas pangkuan Fin. Posisi keduanya saat ini saling berhadapan dengan tubuh yang saling menempel satu sama lain.
Kedua tangan Karina melilit pada leher Fin.
"Daddy marah?" tanya Karina sambil tangannya mengelus lembut belakang leher Fin.
Fin tidak merespon. Dia hanya diam dan terus melakukan pekerjaannya, mengecek berkas yang masuk.
__ADS_1
"Daddy..." rengek Karina manja, sambil menggoyanghan pinggulnya. Bokongnya sendiri, sedikit menekan area inti milik Fin.