Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Apa kamu bilang?


__ADS_3

Ini pagi pertama Karina berperan sebagai Ibu rumah tangga seutuhnya. Karina cukup bahagia menjalaninya. Dia tidak perlu berburu dengan waktu untuk dia bergegas mandi dan bersiap agar tidak terlambat berangkat ke kantor.


Seperti sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Tapi Karina masih santai dengan pakaian rumahan nya. Dia bergerak kesana kemari menyelesaikan semua pekerjaan yang biasa dia kerjakan setiap paginya.


Bedanya hari ini dengan hari-hari yang lain adalah, Karina dapat memandikan dan menyuapi anaknya dengan tangannya sendiri dan bisa melayani sang suami secara maksimal.


Karina menyiapkan jus yang sebentar lagi akan Fin minum saat turun dari lantai tiga. Karina pun menyiapkan vitamin dan segala kebutuhan suaminya. Mulai dari hal kecil sampai hal terpenting sekalipun.


Seperti dugaannya, Fin turun dengan handuk yang dia sampirkan di atas bahunya.


Keringat mengucur hampir di seluruh tubuhnya. Pakaian yang Fin pakai pun menyatu dengan keringat sehingga tubuh kekarnya tercetak jelas dari luar.


Fin berjalan sambil menyeka keringat menggunakan handuk kecilnya. Dalam sesaat Karina terpaku menyaksikan keindahan yang tersaji di hadapannya.


"Mommy kenapa liat Daddy kaya gitu?" tanya Fin sambil meraih jus buatan istrinya.


Karina hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya untuk menjawab.


"Mmuahh..." Fin mengecup pipi Karina sesaat.


"Daddy mandi dulu!" pamitnya.


Fin berbalik untuk naik ke lantai dua. Namun, Bugh...


Karina menabrakkan tubuhnya pada punggung Fin. Kedua tangannya melilit pada pinggang suaminya itu.


"Mommy, ikut..." ucapnya manja.


Fin mengerutkan keningnya.


"Mom, Daddy bau keringat!" Fin memperingatkan Karina yang saat ini masih memeluknya erat.


Fin tau, Karina sangat membenci bau keringat Fin. Karina selalu meminta Fin untuk mandi terlebih dahulu sebelum memeluknya.


Fin bawa tubuh Karina kehadapan nya. Karina menaikkan kedua kakinya ke atas kaki Fin dengan kedua tangannya yang masih memeluk pinggang Fin dengan posesif. Karina mendongakkan kepalanya menatap Fin dengan mata sayu nya.


Fin berjalan seperti seorang robot. Karina masih menyimpan kakinya di atas kaki Fin yang saat ini tengah berjalan menuju lift.


"Ikut ... " rengek nya kembali. Pipi Karina dia tempelkan pada dada bidang suaminya yang berotot.


Fin menghentikan langkahnya.


"Mommy mau ikut Daddy mandi?" tanya Fin dengan sebelah alis Fin yang dia naik turunkan menggoda istrinya.


Karina menggeleng. Wajahnya menengadah menatap suaminya. Terlihat kedua alis Fin saling beradu mencoba berfikir keras menafsirkan maksud dari istrinya.


"Terus Mommy mau ikut kemana?" tanya Fin kembali.


"Surabaya!" jawabnya singkat, menyebutkan daerah yang akan Fin kunjungi hari ini untuk kunjungan kerjanya.

__ADS_1


"Mom, Daddy hanya setengah hari di sana! Kasihan Mommy kalau harus nunggu Daddy kerja!" jawab Fin jujur.


Karina melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami. Karina pergi begitu saja setelah mendengar jawaban dari suaminya. Karina masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai dua.


"Salah lagi!" ucap Fin refleks. Fin menghembuskan nafasnya. Fin heran dengan perubahan istrinya akhir-akhir ini. Pasalnya, bukan pagi ini saja Karina merajuk.


Fin menyusul Karina untuk masuk ke dalam lift. Namun saat akan masuk ke dalam, lift tersebut sengaja Karina tutup agar suaminya tidak bisa ikut. Pada akhirnya dengan terpaksa Fin menaiki tangga untuk sampai di lantai dua rumahnya.


Saat Fin tiba di dalam kamarnya di sana sudah ada Karina yang tengah menyiapkan pakaian yang akan Fin pakai hari ini.


"Sana, Daddy mandi dulu!" usir Karina sambil mondar mandir menyiapkan segala kebutuhan sang suami.


"Mommy marah?" tanya Fin pada istrinya.


Karina membalikan tubuhnya sambil diam menatap Fin.


"Apa Mommy terlihat sedang marah?" tanyanya pada Fin sambil jari tangannya menunjuk wajahnya sendiri.


Fin menggeleng ragu. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi sesuai perintah istrinya.


Fin mulai membersihkan seluruh tubuhnya. Dari arah kamar terdengar suara istrinya memanggil.


"Dad!" panggil Karina dengan suara kencangnya.


Pada panggilan kedua Fin membuka pintu kamar mandinya. Tanpa ragu Fin berdiri dengan tubuh polosnya dan tangan yang tengah sibuk menggosok giginya.


"Hmm?" tanyanya.


Fin menghentikan aktivitasnya yang tengah menggosok gigi. Dia menatap istrinya sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Oke! Dengan pengawal tapi!"


"Dad! Mommy butuh quality time! Hanya berdua!" tegas Karina.


"Seperti dulu..." lanjutnya lirih.


Fin termenung, mencoba mencari solusi terbaik dari permintaan istrinya. Karina sendiri masih berdiri di depan pintu menyaksikan tubuh seksi suaminya yang bergerak kesana kemari membersihkan mulutnya serta membilas tubuhnya sebelum keluar dari kamar mandi.


"Daddy memakai sabun stroberi Mommy, ya?" pekik Karina saat hidungnya mencium aroma stroberi dari arah kamar mandi.


Fin hanya tertawa kaku dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


"Daddy suka aromanya!"


"Sejak kapan Daddy suka stroberi?" tanya Karina penasaran. Pasalnya Fin anti sama yang namanya buah stroberi.


Fin menggedikan bahunya kemudian keluar dari dalam kamar mandinya.


Karina naik ke atas tempat tidur kemudian duduk dengan kedua kaki yang bersila di atasnya.

__ADS_1


Karina memberikan celana kepada suaminya dengan mulut yang terus bercerita membujuk sang suami agar mengijinkannya keluar rumah hanya berdua bersama Devin.


Fin menerimanya dan mulai memakai semua yang Karina berikan sampai yang terakhir jas dan kaos kaki yang kemudian Karina pasangankan sendiri pada tubuh Fin.


Mereka berjalan menuruni anak tangga dengan tangan yang saling menggenggam. Devin sudah duduk di depan meja makan bersama Bu Linda yang menungguinya.


"Morning, Baby!" sapa keduanya kompak.


Devin tersenyum.


"Molning, Mom! Daddy!" jawabnya.


Karina mulai menyajikan sarapan untuk suaminya. Setelahnya Karina menyuapi Devin sampai sarapannya bersih tak bersisa.


#########


Fin saat ini tengah berdiri di depan rumahnya bersama Devin dan Karina. Mereka menunggu Renal datang menjemput Fin untuk selanjutnya pergi ke Bandara dan berangkat menuju Surabaya.


"Dad, boleh tidak?" tanya Karina kembali.


"Ya sudah!" jawabnya sambil merapikan rambut Karina.


"Tapi, lokasinya tidak terlalu jauh dari sini!" Fin mengajukan syarat.


"Oke!" Karina menyutujui persyaratan yang di ajukan suaminya. Karena tujuan Karina sendiri tidak terlalu jauh dari kediaman Fin.


#######


Karina dan Devin saat ini tengah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka menuju tempat yang akan Karina tuju. Karina membawa mobilnya sendiri tanpa Pak Deni sang sopir pribadi.


Tampak raut wajah bahagia dari Karina dan Devin saat mereka dapat menghabiskan waktu berdua seperti dulu sebelum Karina bekerja dan memiliki waktu yang terbatas untuk bisa selalu bersama Devin.


"Baby, kamu tunggu disini sebentar, ya! Mommy harus membeli dulu bunga yang cantik untuk di berikan kepada, Oma!" pinta Karina pada anaknya. Devin mengangguk paham dan duduk manis di dalam mobil.


Karina menyebrang setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia harus membeli bunga kesukaan mendiang Ibunya terlebih dahulu.


Kebetulan tidak jauh dari tempat pemakaman umum terdapat sebuah toko bunga yang selalu menjadi langganan Karina setiap kali Karina berkunjung kesana.


Setelah selesai membeli bunga Karina kembali ke dalam mobil. Alangkah terkejutnya Karina saat di dalam mobil tidak di dapati sang anak disana.


Bunga yang sudah Karina siapkan untuk Ibunya jatuh begitu saja. Karina panik! Dia berlari kesana kemari mencari anaknya yang berharga yang sekarang hilang entah kemana.


Karina melorotkan tubuhnya lemas. Dengan mata yang berlinang dan tangan yang gemetar hebat, Karina menelepon suaminya yang saat ini sudah tiba di Surabaya untuk bertemu klien besar.


"Hallo, Mom!"


"Dad, De... Devin..." lirihnya pelan.


"Devin, hilang!" lirih Karina dengan tangis yang mulai pecah.

__ADS_1


"Apa kamu bilang???!!!"


__ADS_2