
Fin tersenyum hangat, saat matanya menangkap sosok mungil yang tengah fokus menyantap makan siangnya. Dia bergegas mendekat dengan langkah lebarnya.
"Mommy, Baby..." panggil Fin dengan suara khasnya yang serak dan berat.
Karina dan Devin dengan kompak menengkok ke arah sumber suara. Sebuah senyum, terbit di kedua sudut bibir dari Karina dan Devin saat mengetahui siapa orang yang memanggilnya.
"Daddy!" panggil Karina. Dia bangkit dan berjalan mendekat ke sisi suaminya. Karina raih tangan sang suami untuk dia kecup.
Setelahnya, giliran Fin yang memeluk serta mencium kening, bibir, serta dagu istrinya. Sebuah kebiasaan yang selalu mereka lakukan setiap kali mereka bertemu ataupun saat akan berpisah untuk bekerja. Fin menghampiri anaknya kemudian dia labuhkan bibirnya di atas kepala Devin. Devin menengadahkan kepalanya, memberikan senyum terbaiknya pada sang Daddy
"Habiskan mam nya!" ucap Fin pada anaknya. Devin mengangguk dan kembali menyelesaikan makan siangnya.
Karina duduk di atas kursi miliknya. Sementara Fin berdiri di samping Karina dengan tangan yang dia lilitkan di atas bahu istrinya. Tangan Karina sendiri melilit di atas kedua paha Fin. Karina tidak takut, seandainya ada yang memergoki dirinya tengah bermesraan bersama Fin. Yang membuat Karina berpikir demikian adalah jam makan siang di Grahatama Group sendiri sudah usai, sehingga karyawan sudah mulai masuk kembali ke dalam perusahaan untuk melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Selain itu, harga makanan yang cukup mahal di restoran tersebut semakin menambah keyakinan Karina bahwa hanya orang-orang tertentu Grahatama Group saja yang dapat memasuki tempat itu.
Kening Fin berkerut, saat matanya menangkap sesuatu di atas meja.
"Itu milik siapa?" tanya Fin pada istrinya sambil jarinya menunjuk sebuah topi dan sunglasses yang tergeletak di atas meja.
"Punya Kakek Buyut!" jawab Devin spontan. Kedua tangannya tengah mengarahkan serbet untuk menyeka mulutnya.
Karina sendiri hanya menganga, menyadari sesuatu.
"Kakek buyut?" tanya Fin pada anaknya tersebut.
"Iya!" jawab Devin penuh keyakinan dengan kepala yang dia angguk-anggukan,
"Hem?" Fin beralih menatap Karina yang tengah menepuk kepalanya. Pikiran Fin dipenuhi dengan kebingungan.
"Ya ampun! Mommy lupa!" pekik Karina.
"Kenapa?" tanya Fin.
"Kakek Bram belum kembali!"
"Siapa lagi Kakek Bram?" Fin semakin bingung mendengar nama-nama asing yang dia dengar dari anak dan istrinya.
__ADS_1
"Nanti Mommy jelaskan! Sekarang, Daddy bisa tolong Mommy untuk mencari Kakek Bram ke dalam toilet? Tadi beliau pamit ke kamar kecil, tapi sampai sekarang belum kembali,"
Karina meminta Fin untuk melihat kondisi sang Kakek ke dalam toilet. Karina khawatir terjadi sesuatu pada Kakek tua itu.
"Baby, tunggu sebentar ya!" Karina meminta sang anak untuk tetap di tempatnya.
Devin hanya menjawab dengan anggukan. Sementara Fin, walaupun dia kebingungan, tapi dia tidak menolak permintaan istrinya dan tetap mengikuti istrinya itu untuk pergi menuju toilet.
Setelah sampai di depan toilet, Karina berhenti di luar. Sementara Fin, Karina suruh untuk masuk ke dalam toilet pria.
Saat langkah Fin sampai di depan toilet, dia berhenti kembali, kemudian menatap istrinya.
"Mommy, Daddy kan tidak tau seperti apa Kakek yang sedang Mommy cari!" ucap Fin pada istrinya.
"Daddy cari saja Kakek tua yang memakai kemeja abu-abu!" jawab Karina dan menyuruh Fin bergegas masuk dengan kedua tangannya dia gerakan ke depan.
Setelah Fin masuk, Karina menunggu dengan cemas di depan toilet pria. Dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan pada Kakek Bram.
Fin keluar dari dalam toilet. Namun, Fin keluar hanya seorang diri tanpa Kakek yang Karina cari di sampingnya.
"Loh! Nggak ada, Dad?" tanya Karina pada suaminya.
"Ya sudah. Ayo kembali! Kasihan Devin sendiri," ajak Karina pada suaminya.
Fin dan Karina kembali menuju tempat mereka sebelumnya. Tampak Devin yang tengah duduk anteng sambil fokus membaca buku yang tersimpan di depannya.
"Bawa berapa buku hari ini?" tanya Fin pada istrinya.
"Hanya satu, Dad. Mommy janji kalau hari ini mau membelikan Devin buku baru sekalian belanja bulanan." jawab Karina.
Mereka sampai di meja sebelumnya. Devin yang melihat kedatangan orang tuanya, segera membereskan bukunya dan memasukannya kembali ke dalam tas Dinosaurus nya. Fin menggendong sang anak dan menurunkannya dari atas kursi.
"Terima kasih," ucap Devin pada sang Daddy.
"Sama-sama, Baby!" tulus Fin.
__ADS_1
"Dad, Mommy pergi sekarang, ya! Daddy juga harus kembali ke kantor," ucap Karina sambil mencium pipi kiri dan kanan dari suaminya.
Karina membawa topi dan sunglasses Kakek Bram yang tertinggal di atas meja. Mereka berjalan menuju meja kasir untuk membayar makan siang.
Tangan kanan Fin merangkul pundak istrinya, sementara tangan kirinya memegang tangan mungil dari Devin.
Para pegawai restoran dan beberapa pelanggan yang kebetulan ada di sana, kembali saling berbisik membicarakan istri sang Grahatama yang sebelumnya di sembunyikan itu.
Mereka berdua tampak cocok saat bersama. Apalagi dengan kehadiran Devin yang mewarisi ketampanan sang Daddy dan kerupawanan sang Mommy.
Karina mengeluarkan kartu sakti pemberian suaminya untuk membayar. Namun di tolak petugas kasir tersebut.
"Maaf Bu, makan siang ibu sudah di bayar semuanya." ucapnya sopan.
Karina mengerutkan keningnya bingung.
"Dibayar?" tanyanya, karena Karina tidak merasa sudah membayar makan siangnya.
"Ya, Kakek yang tadi datang bersama ibu sudah membayar semuanya." jawab si kasir tersebut.
"Boleh saya menitipkan ini di sini?" tanya Karina sambil memberikan topi dan kacamata milik Kakek Bram pada petugas kasir tersebut.
"Ini milik Kakek yang membayar makanan saya. Sepertinya beliau tidak menyadari kalau topinya tertinggal." Karina menjelaskan.
"Baik, Bu. Nanti kalau beliau kembali, akan saya sampaikan." ucapnya sopan sambil menyimpan topi dan sunglasses yang Karina berikan ke dalam laci.
"Terima kasih!" tulus Karina.
"Oh iya Bu, maaf sebelumnya. Ini ada titipan." kasir tersebut memberikan secarik kertas kepada Karina.
"Titipan?" tanya Karina bingung.
"Iya, Bu!" jawabnya sopan.
"Beliau meminta saya menyerahkan ini langsung kepada, Ibu!" lanjut penjaga kasir menjelaskan kepada Karina.
__ADS_1
Walaupun bingung, Karina tetap menerimanya dan akan membacanya saat di dalam mobil nanti. Pikir Karina.
"Terima kasih!" tulus Karina sambil tersenyum hangat.