Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Menjenguk!


__ADS_3

Fin dan Karina saat ini baru sampai di rumah sakit tempat Tante Nada dirawat. Dua orang bodyguard yang selalu mengikuti kemana sang Tuan nya pergi itu datang mendekat setelah Fin memintanya untuk membantu.


Karina bergidik ngeri, melihat besar dan tingginya tubuh bodyguard suaminya itu. Mereka berdua membawa tiga buah pot berisikan bunga yang Karina beli saat di jalan tadi.


Fin menggendong Devin. Sementara Karina membawa buket bunga serta dua goodie bag berisi buku yang akan di berikan pada Nada, dan goodie bag satu lagi, berisikan cake yang tadi dia beli. Karina berniat memakannya di ruangan Tante Nada.


Fin berjalan di depan, membimbing bodyguard nya itu untuk sampai di lantai atas tempat sang tante di rawat. Seperti biasa, tangan Fin tidak lepas dari pinggang istrinya.


"Daddy tidak apa-apa satu lift dengan mereka?" tanya Karina pada suaminya. Karina mengkhawatirkan kondisi suaminya, yang akhir-akhir ini selalu mual saat mencium aroma parfum orang lain.


"Tidak masalah, Mom! Sepertinya, keadaan Daddy sudah jauh lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya." jawab Fin penuh keyakinan.


"Oke kalau Daddy yakin." jawab Karina mempercayai ucapan suaminya.


Mereka sudah sampai di lantai atas tempat Tante Nada di rawat. Fin mengetuk pintu kamar sang tante.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat datang membukakan pintu ruangan tersebut.


"Pak! Bu! Silahkan masuk," sapa perawat tersebut sambil membungkuk hormat, saat melihat siapa yang datang berkunjung.


"Sus, apa kedatangan kami mengganggu istirahat, tante?" tanya Karina pada perawat muda yang di tugaskan Fin untuk merawat bibinya itu.


Mereka tengah berjalan untuk masuk ke dalam ruangan. Dua Bodyguard yang Fin tugaskan untuk membawa bunga, sudah meletakan bunga-bunga tersebut di atas meja. Mereka pamit untuk berjaga di luar ruangan, setelah tugas yang diperintahkan oleh Fin selesai.


"Bu Nada tidur sudah cukup lama. Mungkin sebentar lagi beliau akan bangun." jawabnya sopan.


"Bagaimana keadaan Tante sekarang?" tanya Karina kembali.


Karina mengangguk mendengar penjelasan dari suster yang merawat Tante Nada.


"Kalau begitu, saya permisi, Bu. Ibu bisa memanggil saya lewat ini," tunjuk nya pada benda kecil berbentuk tombol berwarna merah.

__ADS_1


"Kalau ibu membutuhkan sesuatu." Suster itu pamit keluar dari ruangan, setelah menjelaskan segalanya kepada Karina.


Karina mengangguk kembali, memahami setiap pesan yang di jelaskan oleh perawat muda itu. Selanjutnya perawat itu pergi, meninggalkan Fin dan Karina di sana.


Anak dan suaminya, saat ini tengah berdiri di depan kaca besar yang menghadap langsung pada keramaian kota yang ada di bawah bangunan rumah sakit tersebut.


Mereka berdua memiliki kebiasaan yang sama. Sama-sama penikmat pemandangan dari atas ketinggian.


Karina yang menyaksikan tingkah keduanya, tersenyum sambil tidak lupa mengabadikan momen langka itu menggunakan ponselnya.


"Entah kebetulan yang ke berapa puluh kali. Kalian selalu memiliki minat yang sama dengan selera yang sama pula!" desis Karina pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Karina mengatur bunga-bunga yang dibawanya. Satu pot bunga tulip, dan dua pot bunga anggrek. Karina menyimpannya di depan, agar saat sang tante membuka mata, pemandangan yang pertama kali di lihatnya adalah bunga-bunga cantik tersebut.


Karina juga menggelar kue-kue yang di borongnya tadi di atas meja, masih satu ruangan dengan tempat Nada terbaring.

__ADS_1


Devin mendekati Karina, kemudian menarik pakaiannya. Karina mengalihkan fokusnya pada sang anak.


"Kenapa, baby?" tanya Karina sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya. Tangannya mengusap kepala sang anak.


__ADS_2