Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Semua sifatnya mewarisi kamu.


__ADS_3

Saat ini sudah pukul tiga dini hari. Karina tengah tertidur pulas di temani Kiara dan Renal yang tidak di ijinkan pulang oleh Fin.


"Kiara," panggil Fin sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya agar bangun.


"Mmmmhhhh..." gumam Kiara pelan.


"Bangun!"


"Kenapa sih, bang?" kesal Kiara yang merasa tidurnya terganggu.


"Abang pulang dulu. Kalau ada apa-apa bangunkan Renal dan langsung hubungi Abang."


Kiara mengucek matanya sambil menatap jam dinding yang ada di ruangan Karina.


"Astaga Abang... ini pukul tiga dini hari. Kenapa tidak pulang besok saja sih?"


"Abang harus pulang sekarang. Besok pagi Abang ke sini sekalian membawa Devin,"


"Ya sudah. Hati-hati," Kiara kembali tidur sementara Fin pergi menuju parkiran dan pulang ke rumah Karina.


Kurang dari setengah jam, Fin sampai di rumah Karina sambil menenteng goodie bag berisikan pakaian ganti miliknya.


Begitu sampai dia pergi menuju kamar Karina kemudian mandi dan berganti pakaian. Setelah di rasa sudah bersih, Fin bergegas pergi menuju ke kamar anaknya.


Dia membangunkan Bu Linda dan memintanya istirahat di kamar yang lain. Fin menghampiri Devin yang tengah terlelap sambil memeluk guling kesayangannya.


Dia pandangi wajah damai anaknya. Fin usap lembut kepala dan pipi Devin.


"Terima kasih sudah memilih Daddy menjadi orang tua kamu. Maaf untuk segala kesulitan yang kamu hadapi selama ini, Nak. Atas segala tekanan yang kamu rasakan saat berada di dalam kandungan Mommy kamu. Atas segala pandangan miring orang saat kelahiran kamu. Terima kasih sudah menjadi kuat di usia kamu yang masih kecil ini." tulus Fin sambil mencium kening dan tangan sang anak.


"Ingat, Daddy akan selalu ada di belakang kamu. Mensupport kamu, melindungi kamu," ucapnya kemudian berbaring di samping Devin sambil memeluk tubuh mungil sang anak pertamanya itu.


##########


Pukul tujuh Devin terbangun dari tidur lelapnya.


"Daddy," panggilnya saat melihat Fin yang tengah duduk sambil membaca buku yang ada di kamar Devin.


Fin menyimpan kembali buku tersebut ke dalam rak. Dia bangkit dan pergi menghampiri Devin.


"Masih ngantuk?" tanya Fin sambil merapikan rambut anaknya.


Devin menggeleng sambil mengucek kedua matanya.


"Mommy mana?" tanya nya saat tak mendapati Karina di sana.


"Nanti kita ke tempat Mommy. Sekarang Devin mandi dulu sama Daddy," ajak Fin.


Fin dan Devin mandi bersama. Banyak yang mereka bahas saat tengah berendam di dalam bathtub. Fin sengaja meluangkan waktu untuk anak pertamanya itu. Memilihkan pakaian untuk Devin, memasakkan nya sarapan, hingga pergi bersama ke rumah sakit untuk bertemu dengan Karina dan anak kedua mereka yang akan dia perkenalkan kepada anak pertamanya.


Fin meminta Renal untuk turun dan membantunya membawa barang-barang keperluan Karina dan si baby yang dia bawa dari rumah.


"Hey boy! Mau uncle Renal bantu?" tanya Renal saat melihat Devin ringkih dengan barang bawaannya.


"No! Thank you." jawabnya judes.


"Ceckk. Awas saja kalau uncle punya anak cewek gak bakal uncle ijinin buat pacaran sama kamu! Bisa-bisa dia makan hati!" celoteh Renal sambil terus menurunkan barang-barang dari bagasi mobil.


"Ck... ck..." decak Fin sambil menggelengkan kepalanya.


"Bisa-bisanya kamu debat sama anak kecil," lanjutnya.


Ketiganya sampai di ruangan Karina. Renal meletakkan beberapa goodie bag dengan cap brand-brand ternama di pojok ruangan. Sementara Fin menyerahkan goodie bag berisikan makanan untuk Kiara dan Renal sarapan.


"Mommy," panggil Devin kemudian bergegas menghampiri Karina yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Good morning baby..." sapa Karina dengan lembut.


Devin memeluk sang Mommy kemudian memberinya kecupan di pipi seperti biasanya.


"Are you oke?" tanya Devin melihat infusan menancap di tangan kiri Karina.

__ADS_1


"Sure," jawab Karina dengan ceria.


"Mom, baby masih di inkubator?" tanya Fin melihat anak keduanya tidak ada di sana.


Baru saja Fin bertanya dari luar suster datang sambil menggendong anak kedua Fin dan Karina.


"Selamat pagi" sapanya pada semua orang.


"Anak saya sudah boleh keluar dari inkubator?" tanya Fin.


"Berat badan adeknya lebih dari 2500 gram selain itu saat lahir Adek juga langsung menangis dan menyusu dengan kuat. Jadi Dokter menyarankan untuk rawat gabung saja dengan Ibunya," jelas suster.


"Siapa yang mau gendong?" tanya suster.


Fin pergi menuju wastafel untuk mencuci tangan. Dia juga mengeluarkan kain yang ada di dalam goodie bag kemudian menaruhnya di depan dada.


"Sini, sama saya" Suster menyerahkan bayi mungil tersebut kepada Fin. Fin menatapnya dengan penuh kasih sayang sambil sesekali dia tersenyum. Fin bawa bayi itu ke samping Karina dan Devin.


"Baby?" tanya Devin sambil menunjuk bayi yang Fin gendong.


"Ya. Adik." jelas Karina.


"Adik" ulang Devin.


"Selamat, fotocopy an bapaknya bertambah lagi" goda Renal.


"Kak Renal...." sahut Eca yang baru datang dari arah belakang.


"Baby...kapan datang?" tanya Renal sambil melesakan tubuhnya memeluk Eca. Eca hanya menghela nafas tanpa membalas pelukan suaminya. Dia menepuk punggung Renal agar menjauh dari tubuhnya.


"Ceckk..." Renal berdecak untuk kesekian kalinya.


"Kalian memang cocok bersama!" sindirnya pada Eca, Fin dan Devin.


"Cincin lamaran sudah kamu amankan?" tanya Renal saat melihat cake yang di keluarkan Eca."


"Aaaa..." teriak Renal kesakitan saat tiba-tiba Eca mencubitnya.


"Maaf aku kelepasan," cicit Renal pelan sambil menatap Fin penuh penyesalan.


"Tumben?" bingung Renal.


"Nih," Karina mengangkat tangan dan menunjukannya pada semua orang.


"Kapan kamu lamar dia?" bingung Renal.


"Semalam. Selesai operasi." jawab Fin singkat.


Prok... prok... prok...


Renal bertepuk tangan.


"Wah... wah... wah bisa-bisanya kamu kepikiran buat acara lamaran di ruang operasi," ucap Renal tidak habis pikir.


Kiara dan Eca memeluk Karina dan memberinya selamat. Semua berharap Karina akan mendapat kebahagiaan setelah semua badai yang di laluinya selama ini.


Fin, Karina, Devin dan baby D tengah berada di aula rumah sakit dan di kelilingi awak media. Hari ini Karina sudah di perbolehkan untuk pulang. Sebelum pulang mereka mengadakan jumpa pers terlebih dahulu. Karina terlihat cantik dengan dress flora berwarna kuning nya. Sementara Devin dan Fin memakai kemeja dengan model dan warna yang senada. Mereka juga di temani Dokter Sinta sebagai Dokter yang membantu persalinan Karina.


Dokter Sinta menjelaskan semua proses persalinan Karina dan menjelaskan kondisi sang bayi kepada awak media. Hingga sampai pada pertanyaan terakhir.


"Apakah Pak Fin sudah menyiapkan nama untuk sang buah hati?" tanya salah satu wartawan.


"Kami sudah mendiskusikan nama untuk anak kami beberapa hari yang lalu sampai terpilih satu nama yang menurut kami cocok untuk anak laki-laki kami ini," jawab Fin.


"Boleh kami tahu nama anak kedua Bapak?" tanya sang wartawan kembali.


"Devano Grahatama" jawab Fin singkat.


"Adakah yang ingin Bapak sampaikan pada istri Bapak?"


Fin diam sesaat kemudian menatap Karina dengan dalam.

__ADS_1


"Tidak ada satu kata pun yang mampu menggambarkan rasa bersyukur saya karena memiliki wanita spesial seperti dia," ucap Fin dengan mata yang tidak beralih dari Karina.


############


Tiga bulan telah berlalu sejak kelahiran Devano. Karina dan Fin saat ini tengah berada di sebuah hotel tempat acara pernikahan mereka di adakan. Saat ini keduanya sudah sah menjadi suami istri. Sebelumnya Karina meminta waktu tiga bulan untuk berpacaran sebelum akhirnya mereka menikah kembali.


Namun seperti Ibu baru pada umumnya, semua kencan yang mereka rencanakan selalu gagal karena si bayi yang tidak bisa di tinggal. Devano menolak minum susu formula. ASI perah pun dia tidak mau. Dia akan minum kalau itu langsung dari pabriknya.


Seperti saat ini di tengah malam pengantin mereka yang panas tiba-tiba si bayi menangis minta susu. Ya, Karina membawa Devano ke dalam kamar pengantin mereka.


"Astagaaaa anak ini... sepertinya dia benci Daddy. Dari saat hamil sampai sudah lahir ada saja hambatannya," kesal Fin sambil bangkit dari tubuh Karina dan memakai bathrob nya.


Karina menutup tubuhnya dengan selimut sambil tercicit geli mendengar keluhan suaminya.


Pada akhirnya malam pengantin mereka gagal dan pulang ke rumah tanpa hasil yang memuaskan.


############


Tiga belas tahun telah berlalu. Saat ini usia Devin menginjak enam belas tahun. Seperti karakternya saat kecil dulu, dia tumbuh menjadi pria dingin yang tidak suka keramaian.


Dia tengah berjalan sendirian saat tubuh mungil seorang anak perempuan merangsak masuk ke dalam Coat yang di pakainya.


"Tampan, aku sembunyi di sini sebentar, boleh?" tanya anak lima tahun tersebut sambil memberikan senyum genitnya.


Devin mengerutkan kening mendengar anak lima tahun tersebut memanggilnya dengan panggilan tampan. Bisa-bisanya anak sekecil itu menggodanya.


"Hhhhuuuuaaaaa...." seorang anak laki-laki seumuran dengan anak perempuan itu datang sambil menangis dan membawa orang dewasa di belakangnya.


"A... abang lihat perempuan galak di sini gak?" tanya anak laki-laki tersebut pada Devin sambil terisak.


Devin hanya diam sambil menggedikan bahunya.


"Abang kapan datang?" tanya seorang pemuda yang merupakan adik keduanya.


"Barusan!" jawabnya singkat.


"Devan kenapa?" tanya Devin pada sang adik.


"Di pukul Renika," jawab Devano.


Devan Grahatama merupakan adik bungsu Devin. Devin dan Devan mempunyai selisih jarak sebelas tahun. Berbeda dari kedua kakaknya, si bungsu ini lebih petakilan dan energik.


"Renika siapa?" tanya Devin kembali.


"Dia..."


"Kemana anak nakal itu?" tanya Eca yang datang dari arah belakang di ikuti Renal.


"Sudahlah mih..." Renal tidak melanjutkan kalimatnya karena sang istri memelototinya.


"Anaknya uncle, Renal," jawab Devano.


"Pantas," sahut Devin.


"Hem?" tanya Devano.


"Devin! Kapan datang dari Singapura?" tanya Eca sambil menghampiri Devin.


"Barusan aunty," jawab Devin sambil cipika-cipiki dengan Eca.


Saat Devin berdiri untuk menyapa Eca, Coat yang di gunakan Renika untuk sembunyi terangkat ke atas sehingga menampilkan tubuh mungilnya yang tengah bersembunyi di belakang tubuh Devin.


Renal memeluk Devin sambil memberi kode pada Renika untuk pergi demi menghindari kemarahan mami nya. Namun semua usaha Renal sia-sia. Eca telah mengetahui keberadaan Renika.


"Mami sudah bosan menasehati kamu! Jangan berkelahi dengan anak laki-laki! Ayo minta maaf sama Devan!" perintah Eca pada anaknya.


Renika Ludwig Araav. Anak satu-satunya dari Renal dan Eca. Sikapnya yang tomboy, membuat Eca kewalahan. Setiap hari ada saja laporan yang masuk dari guru ataupun tetangga yang melaporkan kelakuan nakal anaknya.


"Maaf mami aku salah aku minta maaf. Ayo tampan kita ke rumah Mommy Karina," ajaknya pada Devin. Renika menggandeng tangan Devin dan membawanya masuk ke villa milik keluarga Grahatama meninggalkan Eca yang masih menangis akibat ulah nakal nya.


Eca melebarkan mata melihat kelakuan centil anaknya.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu! Semua sifatnya mewarisi sifat kamu!" kesal Eca sambil pergi meninggalkan Renal.


Sementara itu, Devano hanya tersenyum miring, setuju dengan apa yang Eca sebutkan.


__ADS_2