
Fin dan Karina kini tengah berada di dalam sebuah Range Rover hitam mobil mewah Fin yang hari ini menemaninya pergi ke kantor, ada lebih dari dua belas mobil mewah di dalam garasi rumahnya, saat keluar dari dalam hotel tadi Fin langsung membawa Karina masuk ke dalam mobilnya.
Fin masih bergeming, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutnya, matanya masih setajam saat mata itu menatap Karina di depan pintu masuk toilet tadi, Karina tidak berani bersuara biarlah Fin dengan pemikirannya sendiri pikir Karina.
Kedua tangan Karina sibuk memegang bagian samping rok kerjanya, bibir bawahnya dia gigit dengan berwarna merah terkuras dari wajahnya.
Sudut mata Karina melirik sekilas ke arah suaminya. Saat ini mata Fin berkilat, mulutnya membentuk garis keras dengan otot di rahangnya yang mengejang, ekspresinya mengeras dengan kedua tangan yang tengah memegang setir mobil mengeras seperti sedang menyalurkan amarahnya, Karina menundukkan wajahnya tidak berani menatap kembali suaminya, rasa takut terlukis di wajah Karina.
Karina merasakan mobil yang dia tumpangi memelankan lajunya, Karina angkat wajahnya dengan mata berkeliling mengamati sekitar dan benar saja mobil Range Rover yang dia tumpangi saat ini tengah berhenti di depan sebuah toserba.
Karina mengernyitkan dahinya masih belum berani untuk bertanya ataupun menatap suaminya Karina hanya bisa menyimpan pertanyaan untuk dirinya sendiri.
"Renal cari bodyguard perempuan yang menguasai berbagai jenis bela diri, secepatnya!" Fin tengah menghubungi Renal melalui sambungan telepon, suara serak dan dingin begitu mendominasi perintahnya, seperti biasa Fin mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Renal, artinya Fin tidak menerima penolakan apapun, apa yang diperintahkan Fin hukumnya mutlak tidak bisa ditawar apalagi ditolak.
Setelah mematikan panggilannya, Fin keluar begitu saja dari dalam mobil tanpa menghiraukan Karina yang tengah duduk di sebelahnya, jangankan menanyakan keadaan Karina, menatapnya saja seolah tidak mau, Karina jadi bimbang sendiri harus turun mengikuti suaminya atau diam saja di dalam mobil, namun akhirnya Karina memilih untuk tinggal di dalam mobil.
Karina menengadahkan wajahnya menatap langit-langit mobil agar air mata yang menggenang di matanya tidak luruh membasahi pipi Karina yang saat ini tengah merasakan sakit akibat tamparan yang Karina terima dari ibu tirinya.
Karina mencoba memejamkan matanya, meredam segala gelisah yang hinggap di hatinya saat ini, tiba-tiba.
"Nyep..." sesuatu yang dingin menempel di pipi sebelah kanan Karina yang saat ini tengah membengkak.
Karina mengerjap, membangkitkan tubuhnya yang tengah menyandar pada jok mobil untuk duduk, tangannya meraih benda dingin yang tengah menempel itu.
Wajah Karina memutar menatap jok sebelah tempat Fin duduk, saat ini Fin tengah mengompres pipi Karina menggunakan es krim yang dia beli dari toserba tempat mobilnya parkir, ekspresi Fin jauh lebih baik dibandingkan tadi saat keluar dari hotel.
Mata Karina kembali berkaca-kaca dengan bibir bawahnya bergetar dia terisak, air matanya sudah tidak bisa dia bendung lagi, Karina menumpahkan tangisnya yang sudah dia tahan sejak tadi.
Fin bawa tubuh rapuh itu masuk ke dalam pelukan hangatnya, tangannya mengusap lembut punggung yang tiga tahun terakhir itu selalu berdiri kokoh di tengah hinaan dan cacian yang dia terima, Fin masih bergeming dia membiarkan Karina puas dengan tangisnya saat ini.
Fin dudukan kembali tubuh Karina, dia membuka kemasan es krim stroberi yang dibelinya kemudian menyerahkannya pada Karina.
"Maaf" ucap Fin sambil tangannya mengelus pipi Karina lembut.
Karina tersenyum bahagia melihat es krim stroberi kesukaannya, es krim yang Fin bawa cukup ampuh memperbaiki mood nya, Karina menggeleng pelan sambil tersenyum dengan bekas air mata yang masih tercetak jelas di pipinya, Karina kira permintaan maaf yang Fin lontarkan adalah untuk sikap dinginnya tadi pada Karina.
Namun salah permintaan maaf Fin adalah untuk Fin yang tidak dapat melindungi Karina dari perlakuan jahat orang lain yang mengakibatkan Karina terluka bukan hanya di fisiknya tapi juga di hatinya.
"Mommy tidak salah" ucapnya kembali, saat ini Fin sudah pada mode suami yang hangat kembali.
"Malam ini kita tidur di apartemen dulu" lanjut Fin sambil melajukan kembali mobilnya.
"Devin?" ucap Karina.
__ADS_1
"Tidak mungkin Mommy bertemu Devin dengan keadaan pipi Mommy yang seperti itu" ucapnya pada Karina.
Karina tidak menjawab apa yang Fin bilang memang benar adanya, Devin anak yang kritis! dia akan selalu bertanya tentang apa yang membuatnya penasaran dan dia pasti akan menanyakan bagaimana Karina bisa memiliki lebam di wajahnya.
"Sebelum ke apartemen kita ke rumah sakit dulu" ajak Fin pada istrinya.
"Tidak usah kompres air dingin saja cukup" ujarnya pada Fin.
"Kalau begitu kita berhenti di apotik depan untuk membeli obat" putusnya final.
#########
Setelah mampir sebentar ke apotik, Karina dan Fin sampai di apartemen mewah miliknya, apartemen yang sama saat Fin membawa Devin tempo hari.
Fin menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di apartemennya, yang terakhir Fin menunjukkan kamar pribadi mereka, kamar luas dengan tipe yang sama seperti di mansion miliknya.
"Daddy, mandi dulu kalau Mommy lapar Mommy bisa pesan melalui aplikasi" Fin membuka pakaiannya di hadapan Karina tanpa canggung sedikit pun. Karina dengan refleks membalikkan badannya memunggungi Fin. Lagi-lagi pipinya merona begitu melihat otot perut Fin yang menonjol di enam bagian.
"Kebiasaan" gerutu Karina di dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Fin.
"Mommy harus terbiasa" terangnya seolah dapat membaca pikiran Karina.
"Daddy, mandi air hangat?" tanya Karina.
"Nggak usah, Mommy istirahat saja" sambil menaruh kedua tangan di dalam saku celana panjangnya.
"Mommy siapkan pakaian ganti dulu" Karina berlalu masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan baju ganti Fin, belum sampai di walk in closet Karina menghentikan langkahnya dan memutar badannya untuk menanyakan menu makan malam yang ingin Fin makan.
Tampak Fin tengah memunggungi Karina dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Daddy, makan malam sama ap..." ucap Karina terpotong, Karina berjalan ke arah Fin, sementara Fin mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa?" tanya Fin sambil melihat Karina.
"Tunggu" Karina berjalan memutari badan Fin dan berhenti di bagian punggung suaminya.
"Ini?" tanyanya sambil mengelus tato kupu-kupu yang sama persis dengan tato miliknya yang ada di belakang punggung Fin.
"Kok bisa?" tanyanya bingung.
Fin bergeming.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu?" pekik Karina dengan mulut menganga dan mata yang hampir melompat keluar.
Fin memutar tubuhnya menatap Karina.
Pletak...
Fin menjentikkan jari telunjuknya di atas kening Karina.
"Aduh sakit" pekik Karina sambil memegang kemudian mengusap dahinya yang sakit.
"Itu hukuman karena sudah lancang membentak suami kamu" dia masukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Maaf Daddy refleks," cicit Karina.
"Tapi itu..." tunjuk nya pada punggung Fin.
Fin membalikkan tubuhnya membelakangi Karina sambil menunjukkan gambar tato kupu-kupu yang ada di belakang punggung bagian atasnya.
"Ini?" tanyanya pada Karina.
Karina mengangguk pelan sambil menggigit ujung kuku jari tangannya, dia gugup menunggu jawaban dari Fin, pada dasarnya Karina tidak dapat mengingat sejak kapan dia mulai memakai tato dan yang membuat Karina heran kenapa Fin memiliki tato yang sama persis dengan tato miliknya.
"Tato ini dibuat beberapa hari yang lalu setelah Daddy bertemu Mommy" dusta nya dengan ekspresi yang meyakinkan.
"Kenapa?" tanya Karina kembali.
"Mommy apa boleh Daddy mandi dulu atau..." jedanya.
"Mommy mau Daddy mandi disini?" tanyanya mengalihkan sambil tangannya memegang resleting bersiap untuk membukanya.
"No! go away!" pekik Karina dengan kedua tangan terangkat dan menjulur ke depan seperti gerakan mengusir Fin.
Fin melepaskan tangannya dari resleting kemudian menatap Karina kembali.
"Yakin?" tanya Fin usil.
"Daddy" pekik Karina kembali.
Fin tertawa lepas sampai bergegas masuk ke dalam kamar mandi sebelum datang pertanyaan lain yang pada akhirnya akan menyulitkan Fin saat menjawabnya.
Di dalam kamar mandi pun Fin tidak langsung mandi dan membasuh tubuhnya dengan air, dia masih menyandar di balik pintu dengan kedua tangan bertolak pinggang dan kepala yang dia tundukkan seolah ada beban berat yang menumpuk di kepalanya.
"Maaf belum waktunya kamu mengetahui segalanya" lirih nya di dalam hati.
__ADS_1
Jika di dalam kamar mandi Fin tengah termangu, beda halnya dengan Karina saat ini Karina tengah membaringkan tubuhnya di atas king koil mewah berukuran king size, sehingga tubuh Karina terlihat mungil saat berbaring di atasnya. Hari ini, hari yang benar-benar melelahkan bagi Karina, bukan hanya fisiknya tapi juga psikisnya.