Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Ramon!!!!


__ADS_3

Di dalam ruangan, acara tengah berlangsung Fin menggendong Devin, hampir di sepanjang acara. Entah kenapa, hari ini Devin begitu manja pada Fin. Orang-orang menatap kagum mereka berdua. Mereka perpaduan sempurna dengan keindahan pada bola mata hijau langka yang mereka miliki.


Di sudut ruangan, seseorang tengah menatap tidak suka tiga orang yang ada di seberangnya. Tangannya terkepal erat dengan mata yang menatap tajam. Dia benci, melihat kedekatan Fin dan Devin.


Dulu, saat dia menjalin hubungan dengan Ibunya, bahkan Devin tidak sudi untuk di gendongnya. Tapi lihatlah sekarang! Mungkin orang-orang akan menyangka kalau mereka memiliki ikatan darah. Pikir lelaki tersebut.


"Sayang, lihatlah! Wanita murahan itu, dengan bangga nya, berdiri di depan tamu undangan bersama keluarga Grahatama yang lain," ucapnya mencibir. Lengan perempuan itu dia kaitkan pada perut si pria.


"Diamlah, Lisa!" ucapnya dingin.


Lisa menatap Ramon dengan tatapan bingung akan perubahan sikapnya yang drastis. Mungkin dia sedang capek, pikir Lisa. Ramon dan Lisa, saat ini berada di mansion mewah keluarga tengah Grahatama. Bagaimana bisa? Apa mereka sahabat dari Kiara? Atau,... keluarga dari Raiden, suami Kiara?


"Dia hanya seorang pengasuh! Tapi lihatlah penampilannya, dia memposisikan dirinya, seolah-olah dia seorang Nyonya besar!" Cibir Lisa kembali, yang mengira kalau Karina merupakan pengasuh dari Devin, anak kandung Fin.


Selama bersahabat dengan Lisa, Karina tidak pernah memberi tahu statusnya yang telah memiliki seorang putra. Bukan hanya dengan Lisa, namun dengan sahabat-sahabatnya yang lain pun Karina merahasiakan statusnya sebagai seorang Ibu tunggal. Hanya pada Ramon saja dia jujur, karena saat itu, Karina kira kalau Ramon akan menjadi suaminya.

__ADS_1


Ramon melepaskan tangan Lisa dari pinggang nya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Lisa, Lisa memberenggut kesal karena Ramon tidak menanggapi nya.


Selain itu, Lisa juga kesal dengan tatapan yang Ramon berikan pada Karina. Dia menatap Karina, dengan tatapan penuh kagum. Dari mata Ramon pun terpancar sebuah rindu dan penyesalan.


"Daddy, Devin tidur!" Karina berbisik di telinga Fin dengan kaki yang berjinjit meraih telinga Fin yang ada di atas kepalanya.


Fin menatap bahunya, tempat sang anak bersandar. Ternyata benar saja, Devin tengah terkulai di atas bahunya dengan mata tertutup dan tangan yang melingkar di leher, sang Daddy.


"Abang, tidurkan di kamar Ara saja! Selain box bayi, di sana juga ada tempat tidur yang lumayan besar, cukup untuk Kakak tidur!" ucap Kiara saat mendengar Karina berbisik.


"Abang, Kakak biar nginap di rumah ku saja. Besok kan minggu, jadi Abang bisa menjemput nya besok siang!" pinta Kiara pada sang Kakak.


"Kasian kamu kalau harus mengurus dua sekaligus, Kiara! Devin lumayan aktif kalau bersama orang yang sudah akrab, dengannya!" sahut Karina pada adik iparnya.


"No! Aku serasa ada teman kalau ada Devin di sini. Kalau hanya berdua dengan Ara, rasanya terlalu sepi, karena Ara kerjaannya hanya tidur dan belum bisa di ajak mengobrol." lanjut Kiara disertai gelak tawa.

__ADS_1


"Baiklah, Kiara! Kalau kamu kerepotan, kamu langsung telepon saja!" ucap Karina mengijinkan.


"Abang sana! Kasihan leher Kakak Devin sakit," ucap Kiara sambil mengelus rambut halus Devin, Fin naik ke lantai dua untuk menidurkan Devin di kamar Ara. Karina mengikuti Fin dari belakang.


"Kamu tunggu di bawah saja, biar Bu Linda yang menunggu Devin di atas. Kita pulang sebentar lagi!" perintah Fin pada istrinya. Karina mengangguk patuh kemudian menunggu di lantai satu.


Tamu satu persatu sudah meninggalkan tempat acara. Tamu yang hadir pun, diberi sebuah hampers mewah berupa hand bag Dior dan emas batang 24k bersertifikat seberat 5g dengan ucapan terima kasih di dalamnya.


Karina duduk sendirian setelah Kiara pamit untuk menidurkan Ara ke lantai atas. Saat ini Karina tengah menunggu suaminya kembali.


"Baby, do you miss me?" tanya seseorang dari belakang tubuh Karina.


Karina terhenyak saat mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. "Ramon!" gumamnya masih tidak berani berbalik. Karina memegang kedua tangan nya dengan gigi yang mengerat. Karina juga merasakan kalau Ramon semakin merapatkan tubuhnya. Bahkan hembusan nafasnya terasa di pundak Karina yang polos. Karina merapatkan matanya dengan kedua tangannya semakin memegang erat.


BUGH...

__ADS_1


"Aahh," jerit Karina saat mendengar sebuah pukulan yang keras mendarat tepat di wajah Ramon. Karina masih belum tau siapa yang melayangkan sebuah bogem mentah pada mantan kekasihnya tersebut, karena saat ini Karina semakin erat merapatkan kedua matanya. Dia gemetar, ketakutan!


__ADS_2