
"Apakah dia, alasan kamu sehingga lebih memilih merahasiakan pernikahan ini dari orang lain?!" tanya Fin dengan suara serak dan dinginnya. Matanya menatap Karina dengan tatapan yang sangat tajam hingga mampu merobek setiap bagian dari retina siapa saja yang menatapnya.
Karina menggeleng dengan cepat sebagai jawaban. Selain alasan Karina bukan seperti yang Fin tuduhkan, dia juga semakin ketakutan dengan debar jantung Karina yang semakin menggila melihat Fin yang seperti itu.
Fin masih dengan posisinya. Mata zamrud Fin menatap dalam, bola mata coklat milik istrinya. Fin raih kepala bagian belakang istrinya secara kasar, kemudian menarik dan membawanya tepat kehadapan wajahnya.
Pupil mata Karina membesar, saat bibir lembut Fin melahap bibir miliknya dengan kasar dan rakus. Fin mencium Karina masih dengan posisi tangan kanan Fin, menekan rahang milik Karina. Sementara tangan sebelah kirinya, berada di belakang kepala Karina dan sedikit mendorongnya. Karina melenguh, saat bibir bagian bawah miliknya, Fin gigit demi membuka akses untuk lidah Fin masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Fin melepaskan bibirnya. Posisinya saat ini Karina dan Fin saling berhadapan dengan kepala mereka yang saling beradu dengan dada yang naik turun dan nafas yang saling memburu meraih oksigen.
"Da...Daddy," lirih Karina kembali.
Fin membuka matanya. Di tatapnya wajah ketakutan sang istri dengan mata cantik nya yang mulai basah dengan air mata. Dia arahkan jempolnya untuk mengusap bibir istrinya yang membengkak dan memerah akibat ulah kasarnya.
"Maaf," lirih Fin penuh penyesalan. Fin di selimuti amarah saat melihat wanitanya di sentuh lelaki lain. Kemarahan nya memuncak, saat di dalam mobil dia mengetahui kalau lelaki yang akan mencium istrinya itu, ternyata mantan kekasih dari sang istri.
"Maaf," ucapnya kembali sambil di kecupnya sudut bibir Karina yang terluka akabat kebrutalan ciuman nya.
Karina mengangguk dengan cepat. Dia tidak ingin membuat Fin marah kembali. Memangnya apa yang bisa Karina lakukan saat ini selain mengikuti kemauan Fin? Melawan pun Karina tidak mampu. Dia kalah dari berbagai aspek.
__ADS_1
Saat ini, Karina hanya menganggap dirinya sebagai jaminan atas hutangnya, demi kelanjutan hidup sang bibi yang sudah sangat berjasa pada hidup Karina dan anaknya.
Di saat Karina mulai terbuai dengan segala kebaikan Fin akhir-akhir ini, hari ini dia disadarkan kembali dengan melihat sisi lain seorang Fin yang temperamental.
Fin usap lembut wajah sang istri. Jari tangannya dia arahkan untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Karina. Dia turunkan kembali wajahnya demi meraih bibir candu favoritnya. Saat ini, Fin melakukannya dengan amat pelan dan hati-hati. Dia tidak ingin menyakiti istrinya kembali.
Karina tersihir dengan perlakukan lembut Fin, sehingga dengan mudahnya dia melupakan perlakuan kasar yang sebelumnya Karina terima.
Rasa takut dan cemas yang sejak tadi Karina rasakan, seketika sirna tergantikan oleh rasa nikmat dari lihainya permainan lidah sang suami yang mengajak lidah miliknya untuk menari bersama, saling membelit, mengecap dan mengecup.
Karina sedikit mendorong dada sang suami, demi melepaskan mulut nya dari cengkraman bibir Fin. Karina kehabisan oksigen. Dia menghirup oksigen secepat kilat, karena Fin bawa kembali bibir mungil itu untuk dia cium.
Bibir Fin turun menyasar leher jenjang Karina yang sejak di pesta tadi sangat mengganggu konsentrasinya. Karina menggeliat dengan bibir yang dia gigit agar tidak mengeluarkan ******* nya.
Fin mendorong tubuh Karina untuk mengikuti langkahnya mendekat pada jendela besar yang menghadap danau pribadi miliknya, namun dengan bibir yang tidak lepas dari area leher dan tulang selangka milik Karina.
Fin balik tubuh Karina untuk membelakanginya. Tangan Karina bertumpu pada kaca besar di depannya. Karina menunggu dengan cemas apa yang selanjutnya akan Fin lakukan padanya.
Tunggu dulu! Apa baru saja Karina sedang berharap agar Fin melakukan sesuatu padanya? Karina mengerjapkan matanya untuk meraih kembali kewarasannya.
__ADS_1
Fin singkirkan rambut hitam Karina yang menutupi punggung polosnya. Dia daratkan beberapa ciuman di sana. Dia mencoba menghapus jejak Ramon yang tadi terlihat akan menjamah punggung Karina dengan bibirnya. Tato kupu-kupu yang menjadi area favoritnya tidak Fin lewatkan untuk di ciumnya.
Kedua tangan Fin sendiri aktif membelai dada Karina. Pertahanan nya hampir goyah. Karina menggeliat beberapa kali dengan desah yang akhirnya keluar dari mulut lancangnya.
"Da-Daddy... S- ssstop," ucapnya.
Karina berhasil! Fin menghentikan kegiatannya. Namun, SRREKK... suara pakaian robek terdengar begitu nyaring di telinga Karina. Ternyata Fin merobek bagian belakang gaun yang dikenakan Karina saat ke acara pesta adik iparnya. Karina tidak sempat berganti pakaian, karena tengah sibuk menunggu kepulangan suaminya dengan cemas.
Gaun yang Karina pakai terkoyak menjadi dua bagian. Saat ini, nampaklah pemandangan indah, tubuh polos Karina yang hanya berbalut G-string dengan background taman dan danau di depannya.
"Daddy!" pekik Karina.
"Shuuttt," desis Fin meminta istrinya diam.
Fin raih sebuah remot yang ada di atas meja dekat kaca, kemudian Fin pencet beberapa tombolnya dan, Wush... air di dalam danau, memancar membentuk sebuah gelombang, menari mengikuti alunan musik yang ada di dalam kamar Fin.
Karina terperangah menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Kedua tangan yang awalnya Karina pakai untuk menutupi tubuh polosnya, kini berpindah, menempel pada dinding kaca dengan matanya yang berbinar.
Fin menyeringai! Dia lebih tertarik memandangi tubuh polos istrinya, daripada menikmati pertunjukan air mancur yang tengah menari mengikuti musik yang Fin putar.
__ADS_1
"Come on baby, it's time to play!" bisik Fin tepat di telinga Karina.