Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Turun pamor!


__ADS_3

Karina tengah duduk di atas pangkuan Fin dengan milik mereka yang menempel satu sama lain.


Fin terus menggoda bagian sensitif istrinya, dengan permainan lidah dan beberapa kecupan yang membuat bagian dalam milik Karina berkedut, memijat milik Fin yang tengah menancap gagah memenuhi milik Karina yang sempit.


"Ough... Dad!" Karina mulai meliukan tubuhnya, bergerak dengan alami mencari kenikmatan nya sendiri. Fin menyandarkan kepalanya pada jok mobil yang di buat setengah berbaring. Matanya terpejam menikmati setiap gerakan lembut yang istrinya lakukan.


Gerakan lembut yang mengurut setiap sisi dari milik Fin. Kedua tangan Fin tidak tinggal diam, Karina memberi akses untuk suaminya memainkan area tersebut.


"Do it fast, Dad!" perintah Karina dengan sedikit merintih. Badannya masih bergerak maju mundur di atas Fin.


"Sorry, Mom, harus selesai dengan cepat bukan style, Daddy!" jawab Fin dengan sombongnya. Namun menang faktanya seperti itu.


Fin tidak pernah bermain dengan permainan singkat. Paling singkat menurut Fin yaitu empat puluh lima menit, itupun dia ulang kembali 2-3 kali. Karina harus benar-benar bisa mengimbangi keperkasaan suaminya.


"Daddy!" rengek Karina.


"Kita bisa terlambat kalau Daddy mainnya lama!" lanjut Karina.


"Masih ada jalan lain untuk cepat sampai di tempat tujuan, Mom!" jawab Fin memberi solusi.


"Tapi ini di jalan raya, Daddy! Banyak mobil lain lewat! Bagaimana kalau kita di datangi pihak kepolisian gara gara berbuat tidak senonoh di jalan raya?!" tanya Karina kesal.


"Yang mancing-mancing duluan siapa, Mommy?" kesal Fin mengingatkan Karina kalau Karina lah yang memancing nya duluan.


"I... iya, ta... tapi, kan"


"Yakin Mommy mau sebentar?" tanya Fin dengan mata yang menyipit menunggu jawaban istrinya.


"Y... ya..." jawabnya tergagap dengan kepala sedikit mengangguk dan menggeleng.


"Yakin?" tanya Fin kembali.


"Tapi dari tadi Mommy menikmatinya. Badan Mommy tidak berhenti bergerak menggesek milik, Daddy! Yakin mau sebentar?" tanya Fin tengil.


"Daddy!" Pekik Karina. Dia frustasi. Antara ingin lama dan ingin berhenti. Karina memeluk suaminya yang tengah menyandar pada jok yang di buat setengah berbaring dengan milik mereka yang masih menyatu satu sama lain.


Fin tersenyum, dia menepuk punggung istrinya memintanya untuk bangkit.


"Oke, kita buat singkat, Mom." Fin mulai menggerakkan tubuh nya.


Karina masih bergerak liar.


"Kurang ajar," umpatnya.


"No, Daddy!" sergahnya. Karina meminta Fin untuk tidak memuntahkan cairan cintanya sekarang.

__ADS_1


"Please, Daddy. Mommy belum selesai." mohon Karina pada suaminya.


Fin menyeringai mendengar kejujuran istrinya. Fin berhasil dengan rencananya. Dia berhasil membohongi istrinya dengan bilang kalau dia akan selesai. Fin mengusap pipi istrinya pelan. Dia dapat melihat kabut gairah pada mata istrinya.


Karina tampak seksi di mata Fin dengan keringat yang mengucur di dahi dan di tempat lainnya.


"Daddy bohong?!" pekik Karina saat melihat Fin tersenyum seakan mengejek Karina.


"Sudah Daddy bilang, terburu-buru bukanlah style, Daddy!" jawabnya santai.


"Oh, God!" gumam Karina sambil memutar bola matanya.


Karina bangkit dari pangkuan Fin. Dia pergi menuju jok tempat duduk milik nya. Fin mengkerutkan dahinya bingung melihat istrinya yang pergi di tengah pergulatan panasnya.


Fin berpikir Gisa marah padanya gara-gara Fin membohongi Karina. Namun setelahnya, Fin tersenyum dengan sudut bibir sebelah kanan nya saja yang tersungging.


Karina saat ini tengah menungging dengan kedua tangannya memeluk jok tempat duduknya yang setengah bersandar. Rambutnya dia simpan di satu sisi, menampilkan tato kupu-kupu yang selalu menjadi favorit suaminya.


Karina benar-benar terlihat seksi dengan posisinya saat ini. Posisinya menempel pada kursi dengan menampilkan bagian bokong nya yang seksi.


Karina mulai mengangkat kaosnya ke atas, membukanya sedikit demi sedikit dengan gerakan yang sangat pelan.


Glek...


Mobil sport yang sempit dan mewah tersebut, kini di penuhi aroma percintaan dari Karina dan Fin.


Kegiatan rintih merintih itu, selesai dalam waktu tiga puluh menit. Sebenarnya Fin masih ingin lama namun Karina memohon pada Fin untuk mengakhirinya.


Saat ini mereka tengah berbaring pada tempat nya masing-masing. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Kedua mata mereka saling bertemu dengan mata yang saling menatap dengan dalam.


"Mommy kenapa?" tanya Fin masih dengan mata yang menatap istrinya.


"Hem?" tanya Karina.


"Mommy tiba-tiba berubah, kenapa? Apa ada sesuatu yang Daddy tidak tau?" tanya Fin.


"Berubah apanya, Dad?"


"Tadi. Mommy tiba-tiba punya inisiatif memulai duluan dengan posisi kita yang masih di jalanan." Fin mengutarakan kebingungannya.


"Apa ada sesuatu yang menganggu, Mommy?" tanya Fin lembut.


"Hem?" tanya Karina kaget dengan pertanyaan suaminya.


"Daddy lebih suka Mommy yang pendiam?" tanya Karina.

__ADS_1


"Bukan gitu, Mom." elaknya.


"Tapi..." Pembicaraan mereka terpotong, saat tiba-tiba telepon genggam milik Fin berdering. Nama sahabatnya terpangpang pada layar telepon genggam milik Fin.


"Siapa?" tanya Karina.


Fin menunjukan telepon genggam nya. Mata Karina melebar saat di lihatnya Renal yang saat ini tengah menjaga anaknya lah yang memanggil.


Fin menggeser icon berwarna hijau nya ke atas untuk menjawab.


"Kamu masih di mana, Fin?" tanya Renal saat panggilan itu di angkat Fin.


"Masih di jalan." jawabnya acuh.


"Kamu nggak mampir ke hotel dulu, kan?" tanya Renal dengan polosnya.


Uhuk... Uhuk...


Karina yang tengah minum,l tersedak mendengar apa yang di katakan Renal. Fin mengusap lembut tengkuk Karina kemudian membersihkan mulut Karina yang basah dengan jempol nya. Tangannya yang lain tengah memegangi iPhone nya.


"Sudah aku duga! kurang ajar kamu. Aku jagain anak mu disini dan kamu malah enak-enakan bikinin si Boy adik!" gerutu Renal dengan gaya bicaranya yang blak-blakkan.


Wajah Karina memerah mendengar setiap yang Renal ucapkan. Dia malu karena Karina lah yang memulainya duluan. Andai Renal tau lokasi bercintanya bukan di dalam hotel melainkan di dalam mobil pasti Karina tidak ingin bertemu dengan Renal karena malu, Renal dapat menebak kegiatan nya bersama sang suami.


"Language, please!" Fin memperingatkan nya seperti biasa.


"Anak mu lagi sama si Cece! Makanya aku bebas maki kamu!" jawabnya.


"Kamu cepat kesini! Cewek-cewek nggak mau deketin aku gara-gara di kira dia anak ku. Bisa-bisa pamor ku turun!" gerutu Renal.


"Ckk," decak Fin tanpa menanggapi gerutuan sahabatnya.


Tok... Tok... Tok....


Tiba-tiba kaca jendela mobil di ketuk dari luar oleh seseorang yang memakai setelan jas hitam. Karina memegang dadanya ketakutan dengan orang yang ada diluar.


"Daddy, si... siapa?" tanya Karina ketakutan.


"Sebentar," pinta Fin akan membuka jendela mobil.


"Daddy, jangan," Karina menahan tangan suaminya dengan kepala yang menggeleng pelan


"Percaya sama, Daddy!" sambil memegang tangan istrinya lembut.


"Tapi, Dad," ucapnya. Namun Fin tidak menghiraukan ketakutan istrinya dan tetap membuka jendela mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2