Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Apa maksud semua ini Fin?


__ADS_3

"Eca kamu mau kemana?" tanya Renal bingung. Eca merobek dress bagian bawah yang sedang dia kenakan sampai atas lutut, kemudian naik ke atas pangkuan Renal.


Renal membelalakan matanya.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Renal pada Eca.


"Saya yang mengemudi! Bapak pindah ke tempat saya sebelumnya!" ucapnya sambil membuka safety belt milik Renal.


"Apa? Kamu gila!" pekik Renal untuk kesekian kalinya.


"Cepat!" bentak Eca pada Renal. Renal menuruti perintah Eca. Dia secara perlahan pindah dan menempati kursi kosong yang Eca tinggalkan. Renal tidak mengalihkan pandangan nya dari Eca.


"Pasang sabuk pengaman kamu!" perintah nya pada Renal sambil Eca memasangkan earphone ke dalam telinganya.


Renal mengerjap. Dia terlalu terkesima dengan aura yang Eca pancarkan. Dia terlihat berbeda saat ini. Dingin, tidak tersentuh. Dengan matanya yang tajam dan tangan nya yang lihai mengendalikan kemudi.


Lihatlah bagaimana cara Eca mengemudikan mobil, dengan tubuh yang menyerong, menengok kaca belakang mobil.


Terlihat dua mobil terus mengikuti Eca dengan kecepatan yang sama dengan mobil yang Eca kendarai. Sementara, mobil bodyguard yang telah Fin perintahkan untuk selalu mengawasi mobil utama tertahan oleh satu mobil lain, masih komplotan yang sama dengan yang mengejar mobil yang Devin tumpangi.


"Sayang, mau bersenang-senang bersama, Aunty?" tanya Eca lembut tanpa menurunkan kecepatan mobilnya. Devin mengangguk sambil tersenyum.


"Oke, Baby! Pegangan yang erat!" pekiknya kemudian menancap gas dan melesat membelah keramaian jalanan.


Renal memekik kaget, karena saat ini mobil yang Eca kendarai tengah meliuk-liuk menyalip setiap mobil yang ada di depannya tanpa mengurangi kecepatan nya. Tidak sedikit orang yang memaki mobil yang Eca kendarai saat mobil tersebut menyalip dengan seenaknya tanpa mengindahkan aturan di jalan raya.


Eca mengemudi menggunakan sebelah tangannya. Sementara tangan yang lain dia gunakan untuk meraih senjata api yang ada di dalam dashboard mobil dan mengisinya dengan peluru. Eca mengisi peluru dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.


Bisa di bayangkan seberapa mahir nya dia menggunakan senjata api? Renal mematung. Dia tersedot masuk ke dalam pesona seorang Eca. Di saat seperti ini, kecantikan nya bertambah beberapa kali lipat di mata Renal.


"Papi, kirim anak buah Papi, sekarang!" teriak Eca pada sang Ayah melalui sambungan teleponnya.


"Bodyguard bayangannya Pak Fin hanya dua orang, tapi yang mengikuti kita ada lebih dari dua mobil!" pekiknya kembali. Renal hanya menyaksikan apa yang Eca lakukan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Oh, Papi... You are my Hero!" ucap nya pada sang Ayah masih pada telepon yang tersambung.


"Oke, aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya sambil menunggu anak buah Papi datang! Thank you, Papi. I love you!" ucapnya sebelum mengakhiri panggilan nya.

__ADS_1


"Baby, kita perlu berkeliling beberapa kali lagi sebelum Opa Alex mengeksekusi semua yang mengejar kita, oke?" ucapnya dengan ceria.


Renal mengerenyitkan dahinya ngeri mendengar kata eksekusi.


"Eca, kamu sedang berbicara dengan anak kecil! Bahasa kamu tolong di perhatikan!" gerutu Renal tapi masih dengan nada rendah nya. Mana berani sekarang Renal membentak ataupun mengganggu sang Clarke.


Eca tersenyum memamerkan gigi putih milik nya. Dia sekarang bisa bernafas lega setelah sang Ayah memberitahunya kalau beberapa anak buah yang dekat dengan lokasi Eca langsung on the way ke sana.


"Siapa mereka semua?" tanya Renal pada Eca.


"Entahlah! Mungkin, sebentar lagi kita akan mengetahuinya!" jawab Eca dengan tatapan fokus pada kemudi nya.


Eca membawa mobil ke tempat yang lebih sepi. Dia mencoba mengulur waktu sambil menunggu anak buah sang Ayah datang.


"Kita aman sekarang!" ucap Eca penuh kelegaan sambil menurunkan kecepatan berkendaranya.


"Hem?" tanya Renal tidak mengerti, Eca memutar setengah badan nya untuk menengok kaca belakang mobil yang di kendarainya.


"Tuh," tunjuknya pada Renal.


Bagaimana bisa Eca yang notabene nya seorang perempuan tidak takut sama sekali dengan hal-hal seperti itu? Benar-benar perempuan langka. Eca perempuan istimewa pertama yang Renal temui selama dia mengabdikan hidupnya sebagai seorang casanova, pikirnya.


Devin sendiri saat ini tengah tertidur di atas car seat miliknya. Dia sama sekali tidak terganggu, dengan segala keributan yang mengancam di sekelilingnya. Bahkan saat mobil yang Eca kendarai menukik ataupun terbanting saat melalui tikungan tajam, Devin hanya diam tanpa protes ataupun menangis. Dia benar-benar anak yang bisa diajak bekerja sama.


"Kita ke rumah Fin saja!" ajak Renal.


"Di sana, Fin pasti menempatkan keamanan yang jauh lebih tinggi daripada tempat-tempat lain termasuk rumahnya Kiara!" lanjut Renal yang di setujui Eca.


Eca melajukan mobilnya untuk pergi menuju kediaman Fin. Saat mereka sampai di kediaman Fin, Renal menggendong Devin dan membawanya masuk untuk di baringkan di kamarnya.


Setelahnya, Renal membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan mata menatap langit-langit rumah mewah Fin. Jantungnya berdetak cepat. Dia shock dengan apa yang hari ini dia alami. Dia masih mematung mencoba mengembalikan kembali kewarasannya.


Sementara itu, Eca menghubungi sang Tuan untuk melaporkan segala yang terjadi padanya hari ini.


##########


"Kenapa, Dad?" tanya Karina yang mendengar sang suami menyebut nama Devin sang anak.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, Mom!" dusta Fin.


"Eca memberitahu kalau dia, Renal dan Devin baru pulang dari Mall. Sekarang Devin sedang tertidur karena kelelahan!" lanjutnya tanpa memberitahu fakta sebenarnya. Bisa di pastikan jika Karina tau tentang ancaman yang sang anak terima, malam ini pun Karina akan meminta suaminya untuk kembali ke tanah air.


"Mommy benar-benar merindukan, Devin! Apa tidak bisa dia kesini?" tanyanya pada Fin.


Fin maju membawa tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya dan berdiri di depan balkon kamar mereka sambil mengarahkan pandangannya pada Menara Eiffel yang terlihat luar biasa indahnya dari balkon kamar mereka.


"Mommy, kita niatnya honeymoon! Daddy buat jadwal lain untuk kita berlibur bersama ke Disneyland, setelah selesai acara ulang tahun perusahaan!" janjinya pada sang istri.


Karina tersenyum penuh syukur dengan segala kebaikan sang suami. Dia pun mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.


"Maaf, Mommy belum bisa menjadi istri yang sempurna buat, Daddy!" lirih nya pelan.


"Mommy sudah lebih dari sempurna di mata, Daddy." Fin mengecup bibir istrinya sekilas.


Fin jauhkan tubuh sang istri kemudian dia tatap istrinya yang malam ini terlihat sangat cantik menggunakan dress hitam dengan bagian punggung yang terbuka. Rambutnya dia bentuk bund menampilkan leher jenjangnya yang indah.


Fin sendiri menggunakan jas yang senada dengan warna dress yang sang istri kenakan. Fin terlihat begitu luar biasa dengan jas yang membalut tubuh kekarnya.


"Ayo, berangkat!" ajaknya pada sang istri. Fin dan Karina berangkat untuk makan malam romantis mereka.


##########


Di sinilah mereka sekarang di atas dermaga Sungai Seine menunggu kapal pesiar mewah yang Fin sewa bersandar. Mereka akan berlayar menyusuri Sungai Seine sambil melewati beberapa bangunan bersejarah sambil menikmati makan malam romantis di atas kapal.


"Mom, sebentar! Daddy cek dulu keluar!" pintanya pada sang istri.


Fin keluar dari dalam mobil mewah miliknya, dan mendekat ke arah kapal yang baru saja sandar. Beberapa orang yang juga menyewa kapal tersebut, baru saja turun dari atas kapal mewah itu. Salah satu dari penumpang tersebut berlari dan memeluk tubuh Fin yang tengah berdiri menatap ke arah kapal mewah itu.


"Abang..." teriaknya sambil memeluk erat tubuh Fin.


"Abang ke sini sengaja menjemput aku?" tanya wanita cantik itu.


Di dalam mobil Karina menyaksikan segalanya. Dia memegang erat dadanya yang sesak. Apa yang ada di depan matanya seakan Dejavu kejadian saat dia memergoki sang mantan tengah bercinta dengan sahabatnya.


"Apa maksud semua ini Fin?!" lirihnya dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


__ADS_2