Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Fin tersenyum puas..


__ADS_3

Bram tengah menyambut para pelayat di depan pintu masuk. Tidak ada keluarga lain, baik dari mendiang Ayah ataupun Ibunya. Dia sebagai tetua merasa bertanggung jawab untuk menjadi perwakilan dari keluarga Queen.


Bram beberapa kali mencuri pandang ke arah di mana Karina berada. Dia mengkhawatirkan kondisi Karina yang terlihat sedang tidak enak badan. Wajah Karina bahkan masih terlihat pucat.


Fin sendiri masih berada di lantai dua rumah Nada. Lantai dua itu sendiri merupakan tempat dimana kamar Queen berada. Fin masih belum terlihat turun setelah sebelumnya membopong tubuh Queen yang tiba-tiba tidak sadarkan diri tepat di hadapannya.


Kiara berjalan menghampiri Karina saat di lihatnya sang Kakak ipar tengah melamun di hadapan peti yang berisikan jenazah sang Tante.


"Abang kemana?" tanya Kiara sambil celingukan mencari keberadaan sang Kakak. Kiara sendiri, tidak mengetahui kejadian sebelumnya.


Karina diam, tidak merespon pertanyaan dari adik iparnya. Dia masih mematung dan larut dalam lamunannya sendiri.


"Kakak!" panggil Kiara kembali sambil menyikut lengan Karina sedikit kencang.


Karina mengerjap. Dia menengok ke arah dimana sang adik ipar tengah duduk.


"Eh... Kiara. Sejak kapan kamu disini?" tanya Karina yang tidak menyadari kehadiran Kiara sebelumnya.


"Ckk... ckk... Kakak tengah memikirkan apa? aku bertanya dari tadi, tapi Kakak tidak merespon," keluh Kiara membuat Karina tidak enak hati karena sudah mengabaikan adik iparnya.


"Hem?" bingung Karina. Pasalnya, Karina sama sekali tidak menyadari kedatangan Kiara.


"Kamu tanya apa?" tanyanya kembali. Karina merasa bersalah pada adik iparnya.


"Tadi aku tanya, Abang kemana?" ulang Kiara.


"Oh... Abang di lantai atas. Kak Queen pingsan lagi!" jelas Karina berusaha terlihat biasa saja di hadapan sang adik ipar. Padahal dada Karina tengah bergemuruh menahan segala cemburu yang bersarang di dalam dadanya.


"Queen pingsan? iyakah? Bukannya tadi saat sampai di sini pun, dia baik-baik saja?" heran Kiara. Karina hanya tersenyum menanggapi keheranan dari Kiara.


"Kakak sakit? Kenapa pucat?" tanya Kiara saat melihat wajah Karina yang pucat.


"Hanya sedikit pusing" jawab Karina singkat.


"Kiara, maaf ya, kita gagal pergi ke Singapura," tulus Karina dengan beribu sesal di mata coklatnya.


"Kenapa harus minta maaf, Kakak? Lagi pula, siapa yang bisa memprediksi ini sebelumnya?" jawab Kiara bijak.


"Kakak, Devin di mana?" tanya Kiara saat sadar kalau sang keponakan tidak ada di kediaman Nada.


"Devin pulang ke rumah sama Bu Linda. Kasihan, dia butuh istirahat," jawab Karina yang mendapat anggukan setuju dari Kiara.


"Kakak, Devin pasti kecewa tidak jadi bertemu Ara," celetuk Kiara.


"Ya. Devin sempat merajuk sebelumnya. Namun, setelah diberi pengertian, dia mengerti kok. Memang pada dasarnya, Devin anak yang mudah di ajak berdiskusi," jelas Karina.


"Kamu berangkat lagi kapan? Adik di sana sama siapa?" lanjut Karina bertanya tentang keponakannya.


"Ada Mami dan Papi nya bang Raiden. Aku nanti malam berangkat ke Singapura lagi. Asi yang aku tinggalkan untuk Ara hanya cukup untuk satu hari." jawab Kiara.


Karina mengangguk paham. Ara masih sangat kecil untuk Kiara titipkan pada orang lain. Apalagi Ara masih membutuhkan ASI dari Ibunya.

__ADS_1


"Kakak, apa boleh aku bawa Kakak Devin ke Singapura?" tanya Kiara hati-hati.


"Kiara, sepertinya akan sangat repot kalau Devin ikut ke sana." jawab Karina.


"Gak bakal repot. Please! aku rindu menghabiskan waktu sama Kakak Devin. Aku yakin, Kakak Devin pun sudah sangat merindukan adik kesayangannya," bujuk Kiara.


"Kamu ijin sama Abang dulu," saran Karina.


"Ijin apa?" tanya Fin yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.


"Uuwwwooo...." Karina kembali mual, saat mencium parfum Queen yang menempel pada pakaian yang Fin kenakan.


"Daddy, bisa tolong menjauh dari Mommy?" tegas Karina dengan sorot matanya yang tajam.


"Kenapa?" tanya Fin tidak terima.


"Bukannya Daddy tau alasannya? Apa perlu Mommy jelaskan kembali?" tanya Karina berusaha memelankan suaranya agar tidak terdengar awak media.


Selain bau parfum Queen yang membuat Karina mual, banyaknya wartawan yang mengawasi Fin pun membuat Karina tidak nyaman untuk dekat dengan suaminya.


"Mom..."


"Dad... please!" mohon Karina sambil menggeser tempat duduknya.


"Hissh..." kesal Fin sambil pergi dari hadapan Karina.


Karina menghembuskan nafasnya kasar. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi Karina. Baik lelah secara fisik maupun psikisnya.


"Kakak beneran gak hamil?" tanya Kiara kembali memastikan.


"Sepertinya enggak. Kenapa memang?" tanya Karina heran.


"Kok gelagat-gelagat nya... kaya orang hamil, Kak." ucap Kiara curiga.


"Saat hamil Devin dulu gak seperti ini. Empat bulan pertama, minum pun gak masuk. Hampir tiap bulan juga masuk rumah sakit." jelas Karina menceritakan masa kehamilannya yang penuh perjuangan.


"Sepertinya akhir-akhir ini, penciuman Kakak hanya sensitif saja dengan bau parfum Queen atau mungkin hanya masuk angin biasa. Bulan ini pun Kakak masih menstruasi," lanjut Karina menjelaskan dengan panjang lebar.


"Grizelle!" panggil seorang pria tampan. Tubuhnya tinggi dengan wajah bule Eropa. Mata abu nya, berbinar saat dia memanggil nama tengah Karina.


Kiara melebarkan matanya tidak percaya, saat melihat pria tersebut. Karina sendiri langsung menegakan tubuhnya sambil membalas senyum pria tampan tersebut.


"Kak Ziko!" pekik Karina terkejut.


Pria tersebut adalah Alziko Davidson. Putra dari pengusaha sukses, yang merupakan sahabat dari Agam, Ayah dari Karina.


Di sisi lain, Fin mengepalkan tangannya erat, dengan rahang yang mengeras menahan gemerutuknya gigi Fin yang tengah menahan amarahnya.


Ya, Fin marah saat ada yang memanggil istrinya dengan nada mesra. Apalagi pria itu memanggil nama tengah istrinya yang tidak di ketahui banyak orang. Mata Fin terus menatap ke arah Karina dengan tajam.


"Saingan mu bertambah, bro! Mana bule lagi! Wow..." bisik Renal memanas-manasi Fin.

__ADS_1


Fin menatap Renal dengan tajam.


"Kamu bosen kerja sama aku?" tanya Fin dengan suara dingin dan beratnya.


"Ckk, gak asik candaannya di pecat terus," kesal Renal.


"Sejak kapan aku suka bercanda? Apa yang keluar dari mulut ku berarti seperti itu faktanya!!" ucap Fin kesal.


Fin berlalu dari hadapan Renal dan pergi mencari posisi yang dekat dengan istrinya. Tentunya mencari tempat tersembunyi. Gengsi Fin terlalu besar untuk mengakui kalau dia tengah cemburu.


Pria yang Karina panggil dengan Kak Ziko tersebut, berjalan dan berhenti tepat di hadapan Karina. Dia membawa Karina masuk ke dalam pelukannya.


Kiara melebarkan matanya melihat keakraban pria yang menjadi Kakak kelas Kiara tersebut. Ya. Alziko adalah Kakak kelas Kiara saat SMA dulu, Queen pun, pasti tau dengan Alziko. Karena Kiara dan Queen bersekolah di sekolah yang sama dan berada di angkatan yang sama.


Alziko populer di antara murid-murid perempuan di sekolah Kiara, karena Alziko sendiri merupakan kelua osis dan kapten tim basket yang terkenal karena sifat cueknya terhadap setiap siswa perempuan yang mendekatinya.


Karina yang mendapat pelukan secara tiba-tiba itu, mematung tanpa membalas pelukannya.


"Kamu kemana saja? Sudah lama Kakak tidak melihat kamu," ungkap Alziko sambil melepaskan pelukannya.


"Aku tinggal sama Bibi. Kakak kesini sama Om?" tanya Karina sambil matanya mencari keberadaan Ayah Alziko.


"Kakak mewakili Papi dan Mami yang tidak bisa hadir. Mereka tengah berlibur mengunjungi beberapa Negara dalam setahun ini. Jadi perusahaan Papi sementara di handle aku dulu," jawab Ziko menjelaskan.


Karina mengangguk sambil tersenyum.


"Aku pikir, Kakak hanya bisa main basket." cicit Karina menggoda.


"Kamu, ya!" Ziko mencubit hidung Karina dan pura-pura kesal. Karina tidak nyaman di perlakukan seperti itu oleh Ziko. Terlebih, saat ini di sampingnya ada Kiara sang adik ipar.


Fin sudah sangat marah melihat pemandangan yang menyakiti matanya itu. Dia memanggil salah satu bodyguard nya untuk mendekat.


"Cari tau segala hal tentang pria kurang ajar itu!!" perintah Fin pada bodyguard nya.


Berbeda dengan Fin, Kakek Bram justru tersenyum puas melihat pria yang tengah bersama Karina tersebut. Dia menyeringai dan tengah mengatur rencana di otaknya.


"Kamu sakit?" tanya Alziko pada Karina. Karina menggeleng ragu.


"Gak kok. Kurang tidur mungkin." elak Karina.


"Oh iya, Kak. Kenalkan, ini Kiara. Adik ipar aku." Karina memperkenalkan Kiara pada Alziko.


"A... adik ipar? Maksudnya... dia adik suami kamu?" tanya Alziko terkejut.


Karina mengangguk.


"Ya." jawab Karina singkat.


"Kamu sudah menikah?!" pekik Ziko terkejut. Namun, dari raut wajahnya terlukis sebuah kekecewaan.


Di sisi lain, Fin tersenyum puas. Dia bangga dengan istrinya yang setiap di dekati pria selalu mengingat statusnya yang sudah mempunyai seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2