Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kecelakaan!


__ADS_3

Semua orang yang ada di sana mematung melihat kemarahan Fin. Beberapa orang mulai bertanya tentang apa yang membuat seorang Fin marah seperti itu.


Alziko dan Bram yang sudah berada jauh di depan Fin, menghentikan langkahnya sambil berbalik menatap Fin dengan kompak.


Alziko mengernyitkan dahinya bingung.


"Kenapa?" tanya Alziko membuat Fin semakin marah dengan pertanyaan tersebut.


Sementara itu, Kakek Bram hanya menatap tajam sang cucu.


"Kenapa? Apa kamu tidak lihat apa yang sedang anak muda ini lakukan?" tanya Bram tegas.


"Ayo! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" ucap Bram sambil sedikit mendorong punggung Alziko agar bergegas pergi dan tidak menghiraukan gertakan cucunya.


Fin melebarkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang di lakukan sang Kakek padanya. Bagaimana bisa sang Kakek membiarkan istrinya di bawa oleh pria lain?


'Apa ini bagian dari rencana Kakek untuk memisahkan kita?' batin Fin menerka-nerka.


Renal datang bersama Eca.


"Kenapa?" tanya Renal bingung dengan atmosfer dingin di sekitarnya itu.


Kiara tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya mengernyitkan wajahnya sebagai kode bahwa semuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu dari mana saja??!!" bentak Fin pada Renal. Renal menjadi pelampiasan kemarahan Fin. Apalagi saat matanya menangkap mobil yang dinaiki sang istri dan si pebasket itu pergi dari sana.


"Kenapa sih kamu marah-marah?" tanya Renal.


"Yang nyuruh aku nyiapin kebutuhan istri mu siapa?" bentak Renal kesal karena menjadi objek pelampiasan Fin.


"Kak Renaallll..." desis Eca pelan sambil menarik kemeja yang di pakai Renal. Renal memalingkan badannya untuk menatap Eca. Eca tidak bicara. Dia hanya menggeleng sambil memelototi Renal agar tidak melawan Fin. Renal berdecak kesal karena sang istri yang lebih membela Fin.


Kepala Eca celingukan mencari keberadaan sang Nyonya.


"Maaf Pak, Bu Karina kemana?" tanya Eca hati-hati. Saat bersama Fin, Eca kembali menggunakan bahasa formalnya.


"Dia dibawa pria kurang ajar itu!" ucap Fin penuh amarah.


Eca melebarkan matanya kaget saat mendengar kalau Karina di bawa orang lain.


"Di... di bawa?" tanya Eca.


"Ya!" jawab Fin singkat sambil berlalu pergi dari sana.


"Abangggg" panggil Queen dengan nada lirih.


Queen memberengut kesal karena sudah di tinggalkan begitu saja oleh Fin. Dia menyalahkan Karina untuk keadaannya saat ini. Queen menuduh Karina melakukan hal tersebut untuk menarik simpati orang-orang. Tingkat kebencian Queen pada Karina meningkat beberapa kali lipat. Apalagi melihat bagaimana Kakek Bram begitu mengkhawatirkan Karina saat dia pingsan. Queen tidak terima dengan keadaan yang berbalik tersebut.


Bram menjadi harapan Queen satu-satunya, namun setelah melihat itu semua, Queen hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk berjuang menyadarkan Fin, bahwa dia telah menikahi perempuan yang salah.


"Ayo Queen kita pulang sekarang!" ajak Kiara.


"Kak Renal bisa bantu memegangi Queen?" tanya Kiara pada Renal.


Renal bergerak kemudian berdiri di samping Queen dan memapahnya untuk sampai di tempat mobil terparkir.


Eca dan Kiara berjalan mengikuti Renal di belakang. Eca larut dalam pikirannya sendiri. Dia tengah berpikir tentang sang Nyonya yang di bawa pergi oleh pria lain.


"Ahhh..." pekik Eca saat tiba-tiba kakinya terkilir karena berjalan sambil melamun.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kiara sambil memegangi lengan Eca.


Renal yang mendengar istrinya memekik kesakitan langsung berbalik menatap Eca yang tengah berjongkok sambil memegangi kakinya.


"Yank, kenapa?" panik Renal melepaskan lengannya dari tubuh Queen kemudian berlari menghampiri istrinya.


Queen sempoyongan karena gerakan tiba-tiba dari Renal.


"Kak Renal ih!" kesal Queen marah.


'Kurang ajar! Gak si Karina gak pengawalnya sama-sama perempuan kurang ajar!!' pekik Queen dalam hati.


Renal langsung membawa tubuh Eca ke dalam gendongannya. Eca memekik kencang karena kaget. Dia memukul dada Renal dan meminta Renal untuk menurunkannya.


"Bisa diam gak?" tegas Renal sambil menatap Eca dengan tajam.

__ADS_1


Bukan apa-apa, pukulan yang Eca berikan lumayan kencang dan membuat dada Renal sakit. Bayangkan saja bagaimana kuatnya tangan seorang Eca, yang dari kecil sudah papi nya latih dengan segala macam bela diri.


Kiara hanya menggeleng tidak habis pikir dengan yang di lakukan pengantin baru tersebut.


"Queen, kamu masih kuat kan jalan kaki sendiri?" tanya Renal sambil berjalan melewati Queen.


"Si..." mulut Queen terhenti saat akan mengeluarkan umpatannya. Dia di pelototi sang manager karena masih ada beberapa wartawan di sekitar Queen.


Queen harus tetap menjaga image suci dan polosnya yang sudah melekat beberapa tahun terakhir ini. Dia tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun yang membuat dirinya dalam masalah.


###########


Di tempat lain, Bram dan Alziko tengah berada di dalam mobil milik Alziko yang di kendarai oleh sopirnya. Mereka akan pergi menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisi Karina yang pingsan saat di pemakaman tadi.


"Kakek maaf, bukannya yang tadi meneriaki aku adalah Fin Grahatama? Cucu Kakek?" tanya Alziko penasaran.


"Ya, laki laki bodoh itu cucuku." jawab Bram dengan nada kesal


Alziko mengernyitkan dahinya bingung dengan mimik Kakek Bram yang terlihat kesal saat membicarakan Fin, sang cucu.


"Kenapa tadi meneriaki, saya? Apa sebelumnya, sama punya salah sama dia?" tanya Alziko penasaran.


"Bukan. Sebenarnya dia kesal karena kamu sudah membawa is..."


"Emmmhh..." lirih Karina sambil memegangi kepalanya dan bangkit dari paha Kakek Bram.


"Sayang..." panggil Bram sambil membantu Karina untuk duduk.


"Aku dimana?" tanya Karina sambil melihat sekelilingnya


"Kamu ada di dalam mobil. Kita akan ke rumah sakit," jawab Bram sambil tersenyum lega melihat Karina sudah sadar.


Alziko yang duduk di jok depan, melirik ke arah Karina dan Kakek Bram duduk.


"Grizelle! Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Alziko perhatian.


Bram yang melihat sikap Alziko pada Karina sudah bisa menebak kalau Alziko memiliki perasaan lebih dari sekedar kenalan yang terpisah lama. Ada cinta di balik matanya yang khawatir.


'Abang, kalau kamu tetap bodoh dan tetap memelihara ketidakpekaan mu itu, jangan membuat perempuan ini menderita terlalu lama. Lepaskan dia! Karena ada pria lain yang sudah sangat siap untuk membahagiakannya.' ucap Bram dalam hati.


Karina mengerutkan keningnya mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Ya, kamu tadi pingsan. Apa ada yang sakit?" tanya Bram.


"Ahhh, Maaf aku sudah merepotkan semua orang" sesal Karina.


"Aku sudah jauh lebih baik. Apa bisa kita pulang saja?" mohon Karina.


"Kita sudah setengah jalan. Setengah jam lagi mungkin kita sampai di sana." jawab Alziko menolak permintaan Karina secara halus. Dia memberikan air untuk Karina minum.


"Terima kasih. Tapi aku sudah..."


"Kakek tidak suka di bantah!" tegas Bram mulai mengeluarkan sisi otoriter nya.


Karina mengatupkan kembali mulutnya saat melihat sorot mata hijau Kakek Bram yang tajam. Mata itu, sama persis seperti mata suaminya saat tengah marah.


Saat melihat mata zamrud sang Kakek, Karina teringat tentang suaminya. Karina mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling mobil dan berharap sang suami ada di sana dan tengah mengkhawatirkannya.


Namun nihil. Matanya sama sekali tidak menemukan sosok sang suami.


'Apa Daddy sama sekali tidak peduli dengan Mommy? Kenapa Daddy berubah begitu drastis?' tanya Karina pada dirinya sendiri. Hatinya sakit, mengingat sikap dingin Fin saat di pemakaman tadi.


'Apa..., akting Daddy sudah selesai untuk berpura-pura mencintai, Mommy? Terus, sekarang Daddy mulai memperlihatkan sifat asli Daddy.' lirih Karina sambil memejamkan matanya mencoba meredam kekecewaannya.


#######


Fin sendiri, saat ini tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia beberapa kali memukul setir guna melampiaskan kemarahannya. Wajah Fin memerah dengan dada yang naik turun. Amarahnya sudah di ubun-ubun.


"Kurang ajar!!!" teriak Fin penuh amarah.


Beberapa mobil mengklakson dengan kencang saat mobil Fin melaju tanpa aturan. Bahkan beberapa orang mulai mengeluarkan umpatan dari balik jendela mobilnya. Namun Fin sama sekali tidak menghiraukan kemarahan mereka. Dia terus melajukan mobilnya dengan kencang.


"Mommy, apa Mommy tidak mengerti dengan perubahan sikap Daddy? Daddy marah. Daddy kesal melihat keakraban Mommy dengan pria lain!" ucap Fin lirih.


"Mommy dimana? Kenapa Kakek tidak bisa di hubungi? Apa Kakek benar-benar ingin memisahkan kita?" tanya Fin pada dirinya sendiri. Dia mulai panik membayangkan kalau ini semua rencana dari Kakeknya yang berusaha menjauhkan Fin dari anak dan istrinya.

__ADS_1


"Devin!" pekik Fin mengingat sang anak yang tengah di rumah bersama pengasuhnya.


Fin segera menghubungi telepon rumah dan meminta Bu Linda untuk tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam rumahnya apalagi membawa sang anak.


Fin harus segera menemukan istrinya dan pergi dari Indonesia, menjauhi sang Kakek kalau perlu. Fin tidak membutuhkan perusahaan yang saat ini Kakeknya percayakan pada Fin. Dia hanya menginginkan anak dan istrinya kemudian memulai hidup baru, jauh dari ancaman-ancaman yang mungkin keluarga kecil mereka akan dapatkan.


Karina saat ini tengah terlelap di ruang perawatan. Tangannya terpasang infus. Dokter yang menanganinya menyebutkan kalau Karina hanya sedikit stress dan butuh istirahat untuk mengembalikan staminanya.


Kakek Bram setia menunggui Karina sampai dia selesai melakukan pemulihan.


Saat tengah fokus membaca buku tiba-tiba pintu ruangannya di buka dengan tiba-tiba oleh seseorang.


"Maaf Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan." izin bodyguard yang dari tadi berjaga di luar.


Bram menatap Karina sesaat. Karina masih terlelap di atas ranjang ruang rawat inapnya.


"Apa?" tanya Bram dengan suara seraknya yang dingin. Bram mengijinkan sang anak buah untuk menyampaikan berita penting itu secara langsung di sana.


"Tuan muda Fin..." jedanya.


Bram yang tengah memfokuskan matanya pada buku seketika menatap sang bodyguard yang tengah tergagap menyebutkan nama sang cucu.


"Kenapa lagi dengan anak itu?" tanya Bram sedikit kesal.


"Tuan muda, ada di lantai bawah UGD. Dia kecelakaan." lanjut sang bodyguard.


"Apa?" pekik Bram dan Karina berbarengan. Karina ternyata bangun saat mendengar nama suaminya di sebut.


"Yang benar saja kamu!!" ucap Bram marah.


"Daddy..." Karina histeris. Karina mencabut infusan yang tengah menancap di tangan kirinya dan beranjak pergi dari tempat tidurnya.


"Sayang, jangan seperti itu! Kamu tunggu di sini, biar Kakek yang mencari tau!" Bram mencoba menenangkan Karina namun percuma Karina sudah berjalan keluar ruangan untuk pergi menuju lantai bawah.


"Daddy..." lirih Karina panik. Dari lengannya mengucur darah karena bekas infusan yang terbuka.


Orang-orang menatap Karina dengan aneh. Beberapa perawat bahkan mencoba menghentikan Karina untuk menutup bekas infusan yang menusuk pena nya, namun Karina terus berjalan memasuki ruang UGD dan mulai mencari keberadaan suaminya.


Banyak pasien kecelakaan yang datang dengan luka parah di bagian kaki bahkan wajahnya. Karina meneliti setiap pasien yang datang sambil berdoa berharap kalau itu bukan suaminya.


Perhatian Karina teralihkan saat di pintu masuk datang satu brankar dengan pasien yang sudah di tutupi kain putih. Karina mematung dengan dada yang derdentum kencang.


Bukan pasien yang ada di atas brankar yang menjadi perhatian Karina, namun orang-orang yang mengantarkan pasien tersebut. Mereka semua adalah anak buah Fin yang menjadi bodyguard bayangan dan selalu mengikuti kemanapun Fin pergi.


"Daddy..." Karina berjalan menghampiri jasad yang terbujur kaku tersebut.


"Jelaskan apa ini semua?" teriak Bram pada pengawal yang baru saja masuk.


Dalam seketika suasana di dalam ruang UGD menjadi hening, saat Bram mengeluarkan teriakan nya.


"M... maaf..." ucap seorang bodyguard.


"Tolol!! Apa dengan meminta maaf dapat mengembalikan nyawa cucuku??" tanya Bram sambil menunjuk wajah para bodyguard tersebut.


Para bodyguard yang semula menunduk seketika mengangkat wajahnya sambil menatap Bram.


Sementara itu, Karina terkulai lemas dan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Daddy... apa Daddy benar-benar ingin pergi dari Mommy? Daddy bisa pergi, tapi tidak dengan cara seperti ini, Daddy...." lirih Karina mulai kehilangan kesadarannya kembali.


"Grizelle!" teriak Alziko yang baru saja datang.


Kakek Bram yang mendengar teriakan Alziko melirik ke belakang dan mendapati sang cucu sudah terbaring di atas lantai.


"Karina!!" pekik Bram.


Alziko mulai menggendong Karina untuk dia bawa menuju lantai atas ruang perawatan.


Seseorang menahan bahu Alziko.


"Turunkan istri saya!" ucap seseorang pemilik mata zamrud yang tengah menatap tajam Alziko dengan penuh kebencian itu.


"Abang!!" pekik Bram kaget melihat cucunya sehat walafiat.


"Istri? Apa maksud Pak Fin?" tanya Alziko. Ya, orang itu Fin, yang Karina dan Bram kira sudah meninggal.

__ADS_1


"Turunkan istri saya!! Dia istri saya!! Karina Grizelle Putri, adalah istri dari Fin Grahatama" ucap Fin kencang sambil menekan setiap kalimatnya.


"Apa?" pekik Alziko tidak percaya. Begitu juga orang-orang yang kebetulan ada di sana.


__ADS_2