
Mereka berdua pergi menuju ruangan Dokter Sinta. Sepanjang jalan, Karina tidak berhenti mengembangkan senyumnya, dengan tangan yang terus bergerak memberi usapan di atas perutnya yang masih rata. Karina bahkan membayangkan ekspresi suaminya, saat tau kalau dia tengah mengandung anaknya.
Keduanya saat ini sudah sampai di depan ruangan yang akan mereka tuju. Karina menarik nafasnya tegang, saat Dokter Maya mulai membuka pintu poli kandungan. Sudah sangat lama Karina tidak mengunjungi Dokter kandungan. Terakhir, saat lahiran Devin hampir tiga tahun yang lalu.
"Mari, Bu," ajak Dokter Maya, agar Karina masuk mengikutinya.
Karina mengerjap dari lamunannya.
"I... iya Dok," jawabnya gugup. Dokter Maya hanya tersenyum menanggapi kegugupan Karina.
"Ibu gugup?" tanya Dokter Maya mencoba mencairkan suasana.
"Iya Dok. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mengunjungi Dokter kandungan," cicit Karina di selingi senyuman.
"Jangan gugup, kita akan segera mengetahui hasilnya," tutur Dokter Maya. Karina mengangguk, sambil mengikuti kemana Dokter Maya akan membawanya.
__ADS_1
Di ruangan yang cukup luas itu, tampak seorang perempuan paruh baya, tengah duduk sambil fokus membaca sebuah map berwarna biru. Dia adalah Dokter Sinta. Dokter senior, yang merupakan Dokter kandungan terbaik di rumah sakit Medistra.
"Dok," sapa Dokter Maya, sambil sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
Dokter Sinta tersenyum hangat. Matanya beralih, dari yang awalnya menatap Dokter Maya, kemudian menatap sosok cantik yang berdiri di belakang Dokter Maya. Saat mata Karina dan Dokter Sinta bertemu, dengan refleks, Karina tersenyum sambil membungkuk untuk menyapa.
"Dok," sapa Karina.
"Sudah sangat lama kita tidak bertemu," lanjut Karina sambil berjalan mendekati Dokter Sinta. Karina menjulurkan tangan untuk menyapa. Dokter Sinta tidak membalas juluran tangan Karina, melainkan langsung membawa Karina ke dalam pelukannya.
"Anak nakal!" gurau nya.
Dokter Maya sendiri hanya tersenyum sambil membayangkan seberapa dekatnya Karina dan Dokter Sinta. Dokter Sinta melepaskan pelukannya sambil membawa Karina untuk duduk.
Karina menatap Dokter Sinta penuh haru. Ternyata Dokter Sinta masih sebaik dulu.
__ADS_1
"Maaf... aku terlalu malu untuk bertemu dengan Dokter," cicit Karina pelan.
"Malu?" tanyanya. Karina mengangguk sambil mengernyitkan wajahnya. Dokter Sinta hanya menggeleng, menanggapi jawaban Karina.
"Apa yang membuat kamu malu untuk bertemu dengan ibu, hem?" tanya Dokter Sinta. Karina tidak menjawab. Dia kembali tersenyum bingung.
Dokter Maya pamit untuk langsung pulang ke rumahnya. Jadwal praktek Dokter Maya sendiri, sudah selesai karena Karina lah pasien terakhirnya.
Karina merupakan pasien Dokter Sinta di masa lalu. Dia di bantu Dokter Sinta saat hamil Devin, tiga tahun lalu. Karina yang tidak mempunyai banyak uang untuk memeriksakan kondisinya, di bantu Dokter Sinta yang merupakan sahabat mendiang Ibunya, dari awal kehamilan sampai Devin lahir.
"Ibu bahagia, saat tau kalau kalian sudah ada yang menjaga," jujur Dokter Sinta penuh syukur sambil membawa tangan Karina ke dalam genggamnya.
Karina terkejut.
'Dari mana Dokter Sinta tau?' pikir Karina. Seakan tau kebingungan Karina, Dokter Sinta menceritakan segalanya.
__ADS_1
"Tadi Dokter Maya menelepon ibu sambil mengirimkan e-mail tentang identitas serta riwayat kamu. Katanya, seorang klien VVIP akan dia rujuk ke sini," jelas Dokter Sinta.
Karina hanya tersenyum canggung. Menjadi seorang VVIP bukanlah keinginan Karina. Namun statusnya yang menjadi anggota keluarga Grahatama membuat Karina secara otomatis menjadi seorang VVIP di setiap tempat yang dikunjunginya.