
Fin selalu pulang larut malam. Renal yang belum kembali ke tanah air membuat Fin menyelesaikan segala pekerjaannya seorang diri.
Seperti malam ini. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun Fin masih berada di dalam ruangannya. Setelan jas nya pun sudah Fin tanggalkan. Dia berganti pakaian dengan kaos polo shirt navy yang ada di dalam lemari ruang kerjanya.
Fin tengah fokus mengecek laporan dan menandatangani beberapa dokumen penting. Dia juga sudah beberapa kali meregangkan tubuhnya yang lelah.
"Renal! Jangan harap kamu mendapatkan gaji untuk bulan ini!" ancam Fin yang masih fokus pada pekerjaannya.
Fin terperanjat kaget saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada lehernya. Selain sebuah pelukan Fin juga di kejutkan dengan kecupan yang mendarat pada pipinya.
Fin menyingkirkan tangan tersebut, kemudian memundurkan kursinya. Sebuah senyuman terpatri dari bibir Fin saat mengetahui siapa orang yang dengan lancang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi dan langsung memeluk serta mencium nya itu.
"Mommy!" Fin menarik tangan istrinya yang sempat Fin singkirkan tadi, kemudian menjatuhkan tubuh istrinya ke dalam pangkuannya. Fin buka kacamata yang tengah di pakainya kemudian dia letakkan di atas meja.
"Kenapa malam-malam Mommy kesini?" tanya Fin dengan pipi yang dia tempelkan pada punggung istrinya dan kedua tangannya melilit pada perut ramping sang istri.
"Daddy terlalu fokus bekerja! Mommy mengetuk pintu saja... Daddy tidak dengar!" gerutu Karina. Dia menyamping menatap wajah suaminya. Fin kecup bibir yang tengah berkerut menggemaskan itu. Setelahnya, Fin letakan kepalanya di atas dada Karina.
Karina membalas pelukan suaminya.
"Apa pekerjaan Daddy masih banyak?" tanya Karina sambil mengelus lembut punggung Fin.
"Masih ada beberapa dokumen yang harus Daddy periksa dan tanda tangani." jawabnya malas.
"Selesaikan dulu! Mommy duduk di sana sampai pekerjaan Daddy selesai." tunjuk Karina pada sofa, kemudian menepuk punggung Fin agar bangkit dan bergegas.
Karina mengangkat tubuhnya untuk pergi dan menunggu Fin menyelesaikan pekerjaannya. Namun Fin menahan tubuh Karina agar tetap di atas pangkuannya.
"Mommy tetap disini!" perintah Fin.
"Kalau Mommy posisinya seperti ini, Daddy yang kesulitan memeriksa dokumen!" ujar Karina.
"Ya sudah, Mommy cari saja posisi yang memudahkan Daddy untuk bekerja!" perintah Fin.
Karina berpikir sejenak kemudian dia angkat kaki sebelah kanannya melewati tubuh Fin. Posisi Karina saat ini duduk berhadapan dengan Fin.
Kedua tangan Karina dia lilitkan pada leher Fin dengan kepala yang dia simpan di satu sisi bahu dari suaminya itu.
"Bagaimana kalau seperti ini?" tanya Karina pada suaminya.
"Ya, ini lebih baik dan lebih intim. Mommy jangan banyak bergerak kalau tidak ingin berakhir di tempat tidur!" ancamnya.
Karina membulatkan matanya mendengar ancaman dari suaminya. Dia kembali pada posisinya. Begitu juga dengan Fin yang melanjutkan pekerjaannya dengan tubuh sang istri di atas pangkuannya.
Meski tubuh Fin dan Karina saat ini tengah menempel satu sama lain. namun itu semua tidak mengganggu fokus Fin pada pekerjaannya. Fin tipe pekerja keras yang tidak akan terganggu dengan hal sepele seperti itu.
Fin baru saja menyelesaikan pengecekkan dokumen terakhir. Saat ini jam menunjukan pukul sepuluh kurang lima belas menit.
Fin merenggangkan tubuhnya dengan menarik kedua tangannya ke depan. Saat akan merenggangkan lehernya dia baru sadar kalau sang istri masih di atas pangkuannya. Kepala Karina menempel di atas bahu Fin.
Saat Fin tengok istrinya yang tetap tenang di atas pangkuannya ternyata Karina tengah tertidur pulas. Fin elus punggung sang istri untuk membangunkannya.
"Mommy bangun sayang!" panggilnya pelan.
__ADS_1
"Ayo, pulang!" ajak suaminya.
Suara serak dan berat milik Fin berhasil membangunkan Karina. Dia bangkit dari bahu Fin sambil mengucek kedua matanya persis seperti yang selalu Devin lakukan.
Fin gemas sendiri melihat apa yang dilakukan istrinya itu. Dia raih kedua pipi sang istri kemudian dia kecup beberapa kali bibir dan hidung mungil istrinya.
"Daddy!" rengek Karina menjauhkan kepalanya dari serangan bibir Fin.
"Ayo pulang!" ajak Fin pada Karina.
"Aaaahh!" Karina memekik saat tubuhnya di angkat oleh Fin. Posisi Karina dan Fin masih seperti semula dengan posisi yang saling berhadapan dan menempel satu sama lain. Kedua kaki Karina dia lilitkan pada pinggang suaminya dengan kedua tangan yang tetap melilit posesif pada leher Fin.
Fin keluar dari ruangannya untuk pergi menuju lift eksekutif yang akan membawanya menuju lantai dasar.
"Daddy, nanti ada yang lihat!" ucap Karina memperingatkan suaminya.
"Siapa yang jam segini masih di kantor, Mommy?" tanyanya.
"Hanya ada security! " lanjutnya.
Karina mengangguk paham. Dia kembali menyembunyikan wajahnya pada leher sang suami. Karina juga kembali memejamkan matanya dan tidak lama setelahnya dia kembali terlelap.
Fin berjalan dengan tenang melewati security yang tengah berjaga di depan pintu masuk. Security yang tengah berjaga dengan refleks berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
Fin hanya mengangguk sebagai jawaban dari sapaan security tersebut dengan wajahnya yang tetap datar tanpa ekspresi.
Fin juga mengkode satu security untuk mengikutinya dari belakang. Tanpa menunggu lama security itu pun mengikuti Fin dari belakang sampai ke tempat parkir perusahaan.
Fin meminta sang security membuka pintu mobilnya dengan menyuruh security tersebut meraih kunci mobil terlebih dahulu dari dalam kantong celananya.
Fin menutup pintu untuk dia masuk ke dalam tempat kemudi. Sebelum beranjak meninggalkan perusahaannya Fin mengambil uang tunai dari dalam dompet miliknya.
Dia keluarkan uang satu juta rupiah kemudian memanggil security yang masih berdiri menunggu sang bos pergi baru dia kembali bergabung bersama security yang lain.
Fin mengeluarkan kepalanya dari balik jendela mobil, kemudian memanggil security tersebut dengan menggerakkan jarinya tanpa berbicara.
Security tersebut mendekat dengan wajah tegangnya. Dia takut melakukan kesalahan yang tidak dia sadari sehingga membuat bos memanggilnya. Apalagi wajah Fin yang cenderung datar tanpa ekspresi membuat security tersebut tidak dapat membaca situasi yang terjadi pada bos nya.
"Iya, Pak!" tanya security tersebut dengan badan yang sedikit membungkuk.
"Belilah makanan enak untuk kalian makan saat berjaga!" ucapnya sambil memberikan uang satu juta yang ada di tangannya. Setelah uang tersebut berpindah tangan Fin meninggalkan parkiran tersebut untuk pulang menuju rumahnya.
Security tersebut masih mematung pada tempatnya saat mobil Fin sudah menjauh meninggalkan halaman parkir. Dia bahkan tidak sempat berterima kasih pada Fin saking terkejutnya dengan apa yang Fin berikan padanya.
Ternyata, di balik wajah dingin dan arrogant nya seorang Fin Grahatama tersimpan sisi lembut dan baik hati yang tidak banyak orang tau. Fin selalu menyediakan uang tunai di dalam dompetnya untuk dia berikan pada orang-orang yang membutuhkan.
Banyak keluarga dari pegawai perusahaannya yang dia bantu secara diam-diam. Fin lebih senang membantu tanpa orang lain ketahui.
Saat Fin tengah fokus berkendara, tiba- tiba.
Cup...
Sebuah kecupan yang cukup lama mendarat pada pipinya.
__ADS_1
"Mommy, sudah bangun?" tanya Fin pada istrinya.
"Apa cara Daddy membawa mobil membuat tidur Mommy terganggu?" tanyanya kembali.
"Mommy bangga sama, Daddy!" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Fin sebelumnya.
"Hem?" tanya Fin bingung.
"Mommy mimpi?"
"Nggak! Mommy nggak mimpi!" jawab Karina sambil menaikkan kembali tempat duduknya.
"Mommy melihat semua yang Daddy lakukan pada Bapak security yang tadi!"
"Mmmm..." jawab Fin singkat.
"Semoga kebaikan Daddy bisa menurun pada Devin! Walaupun dia bukan darah..."
"Dia anak, Daddy! Dan dia akan jauh lebih baik dari pada Daddy!" potong Fin.
Dada Fin terasa sakit setiap kali Karina membahas tentang status Devin yang Karina anggap sebagai anak sambung Fin. Ada rasa tidak rela dalam hatinya setiap kali Karina mengungkitnya.
Namun, untuk memberitahu kebenarannya pun saat ini bukan saat yang tepat bagi Fin membuka segala masa lalu tentang mereka. Satu langkah saja Fin salah mengambil tindakan, bisa-bisa dia kehilangan Karina untuk kedua kalinya. Fin menunggu waktu yang tepat untuk Karina kembali mengingat segalanya.
Kalaupun takdir membuat Karina kembali melupakan Fin setelah pertemuan kedua ini, Fin akan kembali datang dengan cinta yang sama dan membuat momen yang sama.
Fin menghentikan laju mobilnya di depan sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Fin harus menjernihkan pikirannya sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Karina takut melihat Fin yang memasang wajah dinginnya.
Fin mengusap kepala Karina.
"Daddy turun sebentar untuk membeli minum!" ujarnya.
"Mommy mau titip apa?" tanyanya.
"Terserah, Daddy!"
"Ice cream, mau?" tanya Fin lembut, saat melihat raut ketakutan dari wajah istrinya.
Karina mengangguk sebagai jawaban. Fin turun dan masuk ke dalam minimarket tersebut. Fin membeli air mineral dan beberapa ice cream stroberi kesukaan istrinya.
Setelah membayar semuanya, Fin masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyerahkan tiga buah ice cream stroberi dengan berbagai macam bentuk.
Karina membuka kantong kresek tersebut. Namun, ekspresi wajah Karina jauh dari yang Fin harapkan. Tidak seperti biasanya yang selalu berbinar saat Fin membelikannya ice cream stroberi, malam ini Karina justru menekuk wajahnya kesal saat melihat ice cream tersebut ada dinhadapannya.
"Kenapa membeli ice cream stroberi?" tanya Karina.
Fin mengerutkan keningnya bingung.
"Sebentar! Sejak kapan selera Mommy berubah? Bukannya stroberi buah kesukaan, Mommy?" tanya Fin bingung.
"Nggak lagi! Entah apa alasannya seminggu ini Mommy benci lihat stroberi!" ucapnya dengan wajah yang memberengut menjauhkan ice cream tersebut dari hadapannya.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Fin bingung. Pada akhirnya Fin kembali masuk ke dalam minimarket dan membelikan Karina ice cream rasa baru yaitu vanilla dan coklat.