Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Anda?


__ADS_3

Karina berjalan dengan anggun memasuki gedung Grahatama Group. Pak Deni mengikutinya dari belakang dengan menenteng beberapa paper bag.


Karina sendiri berjalan sambil menggenggam tangan Devin yang hari ini ikut bersamanya mengunjungi perusahaan sang Daddy.


Mata para karyawan membulat tidak mempercayai dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana bisa anak bos nya itu datang bersama Karina yang merupakan musuh dari Ayahnya sendiri? Pikir para karyawan.


"Ah, mungkin dia di pecat dari perusahaan dan sengaja di jadikan baby sitter oleh Pak Fin!" celetuk seorang karyawan yang masih sibuk memperhatikan Karina dan Devin.


"Sadar nggak sih kalau anak itu mirip si Karina?" tanya karyawan lain.


"Ngarang, kamu! Terus kamu mau bilang kalau Pak Fin suaminya si Karina gitu?"


"Nggak masuk akal sih, masa iya dia mau jadi anak magang di perusahaan suaminya sendiri!" Percakapan antara karyawan itu pun berakhir karena satu persatu dari mereka mulai pergi untuk makan siang.


Karina masuk ke dalam lift untuk pergi menuju lantai atas tempat teman-teman nya berada.


"Bu, apa tidak sebaiknya kita naik lift itu saja?" bisik Pak Deni sambil menunjuk lift eksekutif yang biasa dinaiki Fin.


"Tidak perlu, Pak. Mau lift ini ataupun yang itu, fungsinya tetap sama. Tidak masalah jika kita harus menunggu beberapa saat. Kalaupun terlambat, kita tidak akan rugi milyaran rupiah. Beda halnya dengan, Pak Fin." Karina menjelaskan dengan lembut.


Tidak jauh dari Karina seseorang tengah tersenyum mendengarkan penjelasan Karina. Tanpa alasan yang pasti, hatinya diselimuti rasa bangga dengan kerendahan hati Karina walaupun dia seorang istri dari pemilik perusahaan Grahatama Group.


Karina bahkan tetap menyebut suaminya dengan panggilan Bapak karena saat ini dia sedang berada di kantor. Karina tidak enak kalau harus memanggil Fin dengan panggilan sayangnya.


Lift berhenti di tempat yang sebelumnya menjadi ruangan Karina dalam menghabiskan waktunya saat bekerja. Karina berjalan bersama Devin di sampingnya.


Pak Deni sendiri berjalan di depan dan mulai menyimpan barang yang Karina bawa di ruangan itu.


"Bu, saya kembali ke bawah." ijin Pak Deni pada Karina setelah menyelesaikan tugasnya.


"Terima kasih, Pak. Bapak bisa menunggu di kantin bawah sekalian Bapak makan siang dulu!" Karina menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan, untuk sopirnya tersebut membeli makan siang.


"Terima kasih, Bu!" tulus Pak Deni.


"Karina!" pekik Rina yang mengintip dari balik pintu ruangannya.


Karina yang awalnya fokus pada Pak Deni, langsung mengalihkan pandangannya dan melihat siapa yang memanggilnya tersebut.


Karina tersenyum sambil melambai. Dia pun segera menghampiri teman-teman yang sudah menunggunya di dalam. Tampak Nisa dan Mila yang tengah mengintip paper bag yang berjejer di atas meja.


Mereka berdua sontak terkejut saat Karina masuk bersama Devin disampingnya. Begitu pun dengan Rina yang hanya bisa melongo tanpa kuasa untuk bertanya.


"Baby, salam sama aunty!" Karina meminta Devin untuk menyapa teman-temannya.


Devin menjulurkan tangannya dan mulai menyalami satu persatu teman-temannya Mommy nya.


"Depin!" ucapnya menggemaskan.


"Devin!" Karina membenarkan pelafalannya.

__ADS_1


Nisa berjongkok kemudian mengusap kepala Devin pelan.


"Oh, God! Mau satu yang seperti ini!" rengek Nisa sambil menatap Devin dan mencubit pelan pipinya.


Devin dengan dinginnya mengusap bekas cubitan Nisa dan kembali ke sampaing Mommy nya.


Rina dan Mila sendiri masih tercengang mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi.


"Kamu sekarang jadi pengasuh anaknya, Pak Fin?" tanya Rina polos.


Begitupun dengan Mila yang hanya mengangguk menyetujui pertanyaan dari Rina.


"Mulut kalian, ya!" ucap Nisa gemas.


"Kenapa?" bingung keduanya.


Karina hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu. Karina tidak memasukannya ke dalam hati karena siapapun yang melihatnya pasti akan beranggapan seperti itu, kalau Karina baby sitter nya Devin.


Sementara itu, Devin duduk di atas kursi kerja yang kosong dan mulai membuka buku yang tergeletak di atasnya.


"Dia anakku!" ujar Karina menjawab rasa penasaran dari sahabatnya.


"Anak? Maksudnya? Kamu sudah menikah dan punya anak?" pekik kedua sahabatnya tidak percaya.


"Ckk! Dia anak Pak Fin!" jawab Nisa.


"Semua orang juga tau kali kalau dia anak Pak Fin!" sewot Mila.


"Devin anaknya Pak Fin," jeda Nisa yang di jawab dengan anggukan oleh Rina dan Mila.


"Karina menikah dengan Pak Fin. Jadi, dengan otomatis anaknya Pak Fin akan menjadi anaknya dia juga!" ucap Nisa sambil menunjuk Karina dengan jawaban sok tau nya itu.


"Apa?" pekik keduanya bersamaan.


"Tunggu-tunggu... jangan ngarang kamu, Nisa!" bentak Rina sambil mengetok kepala Nisa pelan.


"Thh..." Nisa mengusap kepalanya yang terkena pukulan tangan Rina.


Karina hanya menggeleng.


"Sudahlah, kalian tidak perlu berdebat!" Karina mencoba melerai.


"Apa yang Nisa bilang, memang benar. Pak Fin memang suami saya dari empat bulan lalu." ucapnya membuat Rina dan Mila melongo tidak percaya.


"Tapi, perihal Devin, apa yang Nisa bilang tadi, tidak benar! Devin anak saya. Dan Pak Fin adalah Ayah sambung nya Devin!" Sekarang, bukan hanya Rina dan Mila yang kaget, Nisa pun ikut tercengang dengan fakta baru yang baru dia ketahui itu.


"Oh my God! Bagaimana bisa mereka memiliki begitu banyak kemiripan, Karina?" tanya Nisa tidak percaya.


"Ya, jalan Tuhan memang indah. Tuhan sengaja memberi Devin sosok seorang Ayah yang memiliki begitu banyak kemiripan dengannya." ucap Karina penuh syukur.

__ADS_1


"Lihat saja bagaimana wajah seriusnya saat membaca, benar-benar fotocopy nya, Pak Fin!" Mila menunjuk Devin dengan dagunya.


Karina tersenyum menatap syukur anaknya.


"Jangan sampai orang lain tau. Cukup kalian saja yang mengetahui tentang semua ini!" pinta Karina pada sahabat-sahabatnya


"Maaf ya, selama ini kadang kami suka berbicara jelek tentang, Pak Fin!" sesal Rina yang lebih sering menjelekan Fin.


"Tidak masalah Rina! Asal kalian tau, bukan hanya kalian yang selalu mengeluhkan sikap dinginnya, aku pun sama!" cicit Karina diakhiri dengan tawa saat membayangkan nya.


"Yang ada di dalam paper bag, apa itu hadiah untuk kita?" tanya Mila dengan tidak tahu malunya.


"Oh ya, hampir saja lupa!" ucap Karina sambil membawa satu persatu paper bag yang Pak Deni simpan di atas meja.


"Ini untuk aunty Nisa, Rina dan Mila!" Karina memberikan tiga paper bag pada masing-masing sahabatnya itu.


"Kamu dari Jogja?" tanya Nisa saat melihat isi dari paper bag yang Karina berikan padanya.


Karina mengangguk.


"Hanya sehari sih! Kebetulan Devin mau naik kereta sama kemarin lagi kepengen makan bakpia langsung dari sana!" ucap Karina membuat sahabatnya melongo.


"Terus, Pak Fin mau?" tanya Rina penasaran.


Karina mengangguk.


"Selama kami menikah, dia tipe suami yang tidak banyak mengekang keinginan istrinya. Aku minta kerja saja ... dia mengijinkan!" jawab Karina sambil tersenyum membayangkan segala kebaikan suaminya.


"Ck... Ck... Ck... berbeda sekali dengan image nya selama ini!" celetuk Nisa yang mendapat senggolan dari Mila.


Devin menarik dress sang Mommy.


"Mommy, mau ke luangan, Daddy!" ucap Devin memberitahu sang Mommy.


"Nah loh, dia mau laporan sama Daddy nya kalau kamu sering jelekin dia!" celetuk Mila pada Rina.


Karina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Daddy nggak di kantor, Baby! Daddy lagi di luar kota." Karina dengan lembut menjelaskan semuanya pada sang anak.


##########


Karina yang melihat kalau Devin sudah ingin keluar dari ruangan yang di datanginya, kemudian pamit pergi pada mereka. Karina memesankan makan siang untuk sahabat-sahabatnya yang akan di antarkan oleh kurir.


Saat ini Karina dan Devin tengah memasuki restoran yang tidak jauh dari kantor sang suami. Karina akan mengajak sang anak untuk makan siang terlebih dahulu sebelum nanti sore pergi ke Mall untuk berbelanja bulanan.


"Kakek buyut..." panggil Devin pada seorang Kakek yang juga ada di restoran tersebut.


Karina menghentikan langkahnya mencari seseorang yang anaknya panggil Kakek buyut tersebut.

__ADS_1


"Anda?" pekik Karina tidak percaya.


__ADS_2