Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Awas kamu!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Karina sudah terbangun dari tidur nyenyak nya. Fin, bahkan masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Keadaan Fin, masih polos. Tubuhnya hanya berbalut selimut putih dengan tangan memeluk tubuh istrinya.


Dua hari yang lalu, Fin berhasil memasuki Karina. Akibatnya, setiap malam Karina harus rela melayani suaminya tanpa mengenal waktu. Alhasil, hari ini Karina bangun masih dalam keadaan mengantuk, namun harus tetap beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini, akan menjadi hari yang padat bagi Karina. Banyak yang harus dia persiapkan untuk keberangkatan nya besok pagi.


Jam di atas nakesnya, menunjukan pukul setengah enam pagi. Biasanya Fin akan terbangun pukul enam pagi untuk pergi menuju lantai tiga, dan mulai berolahraga.


Namun, pagi ini berbeda. Saat Karina membuka matanya, dia dapat melihat wajah tampan suaminya yang tengah tertidur pulas. Biasanya, Fin sudah tidak ada di samping Karina saat dia bangun tidur.


Karina menyingkirkan tangan Fin yang melingkar di atas perutnya secara hati-hati agar tidak menggangu tidur pulas suaminya. Dia turunkan kedua kakinya secara perlahan, kemudian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan aroma sisa percintaan nya bersama Fin semalam.


Sebelum keluar dari dalam kamarnya, Karina memeriksa kembali penampilannya, terutama bagian lehernya. Banyak sekali tanda merah yang Fin buat di sekitar leher dan dadanya. Karina tutupi semua tanda itu, menggunakan concelear.


"Good morning!" sapa suara serak yang terdengar seksi di telinga Karina dari atas tempat tidurnya.


Karina menggerakan lehernya, menengok si pemilik suara seksi itu.


"Good morning," jawab Karina dengan mata yang tidak dapat berpaling dari wajah suaminya. Sungguh pemandangan yang langka melihat Fin versi bangun tidur.


Rambut berantakan, mata sembab, otot yang terpangpang indah dan tangan yang tengah mengucek kedua matanya.


Sungguh di luar dari imagenya selama ini yang terkenal dengan penampilannya yang selalu perfeksionis. Lagi-lagi Karina tidak dapat menolak pesona suaminya Karina akui kalau suaminya selalu jadi pusat perhatian orang-orang.


Wajah Karina tiba-tiba merona saat Fin berdiri dengan tubuh polosnya dan berjalan begitu saja menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi.


"Mommy, sedang membayangkan apa?" teriak Fin dari dalam kamar mandi dengan suaranya yang terdengar tidak jelas karena sedang menggosok giginya.


"Hem?" tanya Karina tidak mengerti, Karina berjalan menuju walk in closet dan mulai menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya. Untuk sepuluh hari ke depan, Fin harus rela menyiapkan segala kebutuhannya seorang diri.


"Salah siapa, menempatkan istrinya di pelosok desa untuk sepuluh hari ke depan?" Gerutu Karina dalam hati.

__ADS_1


"Memang kamu kuat, tidak bercinta selama itu?" lanjutnya. Blush, pipi Karina merona kembali saat ingatannya di tarik kembali pada aktivitas ranjangnya, yang setiap hari mereka lakukan. Setiap hari? Ya, karena tiga hari berturut-turut mereka melakukannya. Dan besok, Fin harus rela berpisah dengan Karina atas keputusannya sendiri.


"Wajah Mommy merah, Mommy sedang membayangkan apa?" tanya Fin kembali yang juga masuk kedalam walk in closet dengan hanya menggunakan handuk. Fin memunggungi Karina. Dia membawa pakaian olahraganya kemudian memakainya saat itu juga.


Kaos pas body tanpa lengan, dipadukan dengan celana sport yang panjangnya hanya sebatas paha atas. Penampilan Fin jauh lebih indah dari pada seorang model pakaian olahraga, yang tengah berjalan di atas catwalk.


Karina masih sibuk mencocokan dasi dengan jas yang akan suaminya pakai.


"Hari ini, ada beberapa proyek yang harus Daddy cek, sepertinya akan lebih nyaman kalau hanya menggunakan t-shirt itu saja!" Tunjuknya pada t-shirt putih dengan logo brand terkenal.


Fin menyerahkan handuk pada Karina sambil mencium pipi istrinya, kemudian keluar begitu saja dari dalam kamar dan pergi menuju lantai tiga untuk memulai rutinitas paginya. Karina tersenyum dengan wajah yang kembali merona atas perlakuan manis suaminya.


"Lihatlah saat sedang seperti ini, dia bahkan lebih manis daripada seekor kucing!" cicit Karina.


"Tapi, saat dia sedang marah, dia lebih menyeramkan daripada binatang buas!" desah Karina, kemudian menyimpan pakaian yang sudah di pilihnya di atas tempat tidur.


Setelah sarapan pagi, Fin kembali ke lantai dua bersama Renal untuk membahas sesuatu di ruang kerjanya. Pagi ini, Karina akan memulai paginya dengan mengantarkan Devin ke rumah Kiara terlebih dahulu.


Devin sudah siap dengan tas dinosaurus favoritnya, yang menempel di punggung mungilnya. Karina dan Devin berjalan beriringan untuk masuk ke dalam ruang kerja Fin.


Aroma menyegarkan dari minyak kayu putih menyeruak masuk ke dalam ruangannya. Renal dan Fin yang tengah fokus berdiskusi mengalihkan perhatiannya pada pintu masuk ruang kerjanya.


Di sana berdiri Devin dengan penampilannya yang menggemaskan. Bibir Fin secara otomatis melengkungkan sebuah senyuman saat melihat sang anak mendekat dan menghampirinya.


"Hey, boy!" sapa Renal sambil mengucek rambut Devin. Devin menatap tajam Renal sambil merapikan kembali rambutnya.


"Ya ampun... ini anak kecil! Aku karungin juga, kamu," ucap Renal gemas.


Sekarang giliran Fin yang menatap tajam Renal. Tatapannya, sama persis dengan tatapan yang Devin berikan kepada, Renal.

__ADS_1


"Ckk, ckk, anak sama Bapak, sama-sama pintar mengintimidasi!" gerutu Renal.


Karina hanya tersenyum menanggapi segala keluhan Renal. Dia bersyukur, orang-orang terdekatnya, memperlakukan Devin bukan seperti anak sambung Fin, melainkan sudah seperti anak kandung Fin sendiri.


Fin meraih tubuh mungil anaknya kemudian mendudukan Devin diatas pangkuannya.


"Devin sudah rapi mau kemana?" tanya Fin pada anaknya.


"Ckk, lihatlah cara dia berbicara! Sudah seper..." ucap Renal terpotong saat empat mata zamrud menatapnya dengan tatapan tajam.


"Oke, oke! Lanjutkan!" Sambil mengangkat tangannya, seperti mempersilahkan. Renal menyandarkan punggungnya pada sofa yang ada di ruangan kerja Fin dengan kedua tangan yang dia lipat di atas dada.


Karina hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum hangat.


"Devin mau ke rumah Onthy Kiara, Daddy!" ucap Karina menjelaskan.


"Itu dinosaurus nggak berat ikut di punggung kamu, boy?"


Huwwaaaa...


Tiba-tiba Devin menangis karena kesal dengan uncle nya tersebut. Renal hanya menyengir kuda dengan tangan menggaruk belakang kepalanya.


Fin menatap Renal sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sementara tangannya, mengusap punggung Devin dengan lembut.


"Ckk, ckk, ckk... Renal, sepertinya kamu benar-benar ingin berhenti bekerja!" ucap Fin pada Renal, dan ajaibnya kalimat tersebut membuat Devin berhenti menangis.


Di depan pintu masuk ruang kerja Fin yang terbuka, seseorang tengah menatap ke arah Renal dengan tatapan yang mentertawakannya. Dia tersenyum, dengan senyuman yang meledek seolah mensyukuri apa yang baru saja Fin ucapkan.


Renal menatap balik perempuan tersebut dengan tatapan yang tajam, sambil berkata.

__ADS_1


"Awas kamu!" namun tanpa suara. Dia akan mulai membalas dendam pada musuhnya tersebut.


__ADS_2