
"Ini Kakek Bram?" tanya Eca sedikit memekik.
"Iya, kenapa?" tanya Renal heran.
"Oh my God!" pekik Eca dengan tangan yang dia simpan di atas kepalanya.
"Kenapa yank?" tanya Renal memfokuskan perhatiannya pada Eca.
"Apa Kak Renal ingat, saat Aden hilang tempo hari?" tanya Eca pada suaminya.
Renal mengangguk. Tentu saja dia mengingatnya. Itu adalah hari dimana kesabaran Renal benar-benar di uji.
Dia harus memohon untuk rapat yang sebelumnya Fin batalkan. Menahan segala umpatan yang ingin dia lontarkan. Serta menahan sakit di seluruh tubuhnya, karena perjalanan dari Jakarta ke Surabaya kemudian Surabaya ke Jakarta yang mereka tempuh hanya dengan satu hari saja.
"Kenapa?" tanya Renal kembali.
"Dia, Kakek yang Aden bantu tempo hari." jelas Eca pada suaminya.
Renal melebarkan matanya tidak percaya.
"Perhatikan dengan seksama, yank. Mungkin salah lihat," pinta Renal pada istrinya.
"Gak salah, Kak Renal! Warna matanya sama persis. Bahkan Kak Karina bilang, dengan melihat mata Kakek, membuat Kak Karina tenang." jelas Eca kembali.
"Tenang apanya? Cucu-cucu nya saja, merasa terintimidasi hanya dengan menatap mata Kakek Bram. Terus, si Karina bilang merasa tenang? Oh God!" pekik Renal sambil menjatuhkan tubuhnya di atas punggung sofa.
"Ya, mungkin karena warna mata Kakek Bram sama dengan warna mata dari, Aden." jawab Eca.
"Apa Kakek Bram sengaja mendekati, Aden?" tanyanya pada Renal.
"Mungkin saja. Justru kalau Kakek diam saja dan tidak melakukan apa-apa itu akan sangat aneh. Kakek dengan segala kuasanya pasti sudah mengetahui segala fakta tentang pernikahan Fin." tebak Renal dengan segala prediksinya.
"Berarti, Kakek sudah di Indonesia lebih dari satu minggu." lanjut Renal menganalisis temuannya.
"Yank, jangan beritahu Karina dulu tentang Kakek Bram. Biar dia tau dengan sendirinya." pesan Renal pada istrinya.
Eca mengangguk menyanggupi permintaan suaminya.
"Mulai besok, kamu di minta Fin untuk menjadi pengawal pribadi Karina lagi."
"Yes!" refleks Eca bersorak mendengar permintaan Fin.
"Kenapa kamu bersorak?" kesal Renal dengan alis yang berkerut.
"Yank, aku sengaja memberhentikan kamu sebagai pengawal Karina, karena kamu sekarang menjadi tanggung jawab aku." ucap Renal menjelaskan.
"Kalaupun kerja, kan gak berat. Hanya menjaga Kak Karina dan Aden. Kak Karina pun seringnya diam di dalam rumah."
"Tuh, orangnya memanggil," Eca menunjukan telepon genggamnya pada Renal.
"Iya, kak." jawab Eca setelah menggeser icon berwarna hijau.
"Besok?" tanya Eca.
"Sebentar ya, aku izin dulu sama Kak Renal." ucapnya kembali, membuat Renal mengerutkan alisnya bingung.
"Kenapa?" tanya Renal sesaat setelah Eca mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Mmmm... aku diminta ikut ke Singapura untuk menemani Aden dan Kak Karina bertemu Bu Kiara" Eca meminta izin pada suaminya.
"Kapan?" tanyanya.
"Besok siang," cicit Eca.
"Besok?" pekik Renal membuat Eca menutup telinganya.
Eca menatap Renal dengan kesal.
"Gak usah lebay, deh!" sindir Eca.
"Serius besok?" tanya Renal kembali.
"Iya, kenapa sih?" bingung Eca mendengar pertanyaan suaminya.
"Apa dia lupa kalau kita pengantin baru?" tanya Renal sambil membaringkan kepalanya di atas paha Eca.
"Lantas, kalau pengantin baru memang kenapa? Kita beda dengan yang lain Kak Renal..."
"Apanya yang beda? Pernikahan kita sama dengan pernikahan orang lain. Hanya saja, memerlukan waktu lebih dalam urusan perasaan."
'Perasaan kamu ke aku, yank.' batin Renal melanjutkan.
Eca tidak menanggapi perkataan suaminya. Dia sibuk mengutak-atik telepon genggamnya dengan kepala Renal tersimpan di atas pahanya.
Renal sendiri hanya menatap wajah istrinya penuh kagum. Namun setelahnya, perhatian Renal teralihkan. Tangannya sudah sangat gatal ingin meraih bagian menonjol yang tengah menggantung memenuhi pandangannya.
Eca yang sadar dengan keterdiaman suaminya, lantas menyingkirkan handphone dari hadapannya, dan menatap ke bawah tempat sang suami berbaring di atas pahanya.
"Kenapa?" tanya Eca sedikit garang.
"Apa?" tanya Renal kembali pura-pura tidak mengerti.
"Chh..." Eca berdecih.
"Ini?" tanyanya sambil mengangkat kaos yang tengah di pakainya, menampilkan dua buah benda kenyal yang tidak terbungkus pakaian dalam sama sekali.
Renal melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata istrinya tidak sepolos yang Renal pikiran selama ini.
"Ya... yank..." pekik Renal. Eca meraih kedua tangan Renal, kemudian membimbingnya untuk melakukan apa yang diinginkan Renal sejak tadi.
Bagai seekor kucing yang disuguhi ikan asin, Renal menyambut tawaran istrinya untuk bermain-main dengan benda kenyal milik istrinya tersebut.
Dengan lihainya, Renal bermain di kedua benda kenyal tersebut.
Eca menikmati permainan suaminya. Dia memejamkan matanya sambil memainkan bibir dan lidahnya.
Renal yang sudah sangat terpancing dengan pemandangan menggiurkan yang tersaji di hadapannya, bangkit dari tidurnya dan langsung meraih tengkuk istrinya untuk dia cium secara brutal.
Eca mengimbangi permainan suaminya dengan baik. Dia menjauhkan tubuh Renal setelah dirasa kehabisan oksigen. Matanya menatap dasi yang tergelak di atas meja.
Seketika jiwa liarnya terpancing untuk melakukan lebih. Eca mengambil dasi yang ada di atas meja. Eca gigit dasi tersebut, sementara tangannya, menarik Renal untuk berdiri.
Renal sendiri hanya diam dan mengikuti apa yang istrinya perintahkan.
Eca berdiri dibelakang tubuh Renal. Dia raih kedua tangan Renal kemudian menarik kedua tangan tersebut ke belakang.
__ADS_1
Eca mengambil dasi yang tengah digigitnya, selanjutnya dia lilitkan dasi tersebut di atas kedua tangan Renal.
Renal masih mematung, menikmati setiap permainan dari istrinya.
Beristrikan seorang yang ahli dalam bela diri memang berbeda. Biasanya, gadis-gadis yang Renal temui di club adalah gadis-gadis manja yang hanya menunggu untuk di puaskan. Tanpa punya inisiatif untuk melakukan hal lain.
Selanjutnya, Eca berpindah kehadapan Renal. Dia dorong tubuh Renal untuk duduk di atas sofa. Eca kembali pada posisinya kemudian berdiri di hadapan Renal kembali.
Secara perlahan, Eca membuka semuanya dan hanya menyisakan sehelai benang saja di bagian intinya hingga membuat Renal terperangah melihat tubuh seksi istrinya.
Renal tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk datang ke Italia pada saat itu. Dia yakin, mengajak Eca menikah adalah keputusan terbaik dalam sejarah hidupnya.
Eca berjalan secara perlahan mendekati Renal. Tangan Renal bergerak gelisah di belakang tubuhnya. Ingin sekali Renal menjamah tubuh polos itu. Namun apa daya ikatannya terlalu kuat.
Eca menurunkan tubuhnya, kemudian berjongkok tepat di hadapan Renal. Mata Renal semakin sayu, membayangkan hal luar biasa apa yang akan istrinya lakukan.
"Ya... yank..."
Renal memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan liar dari tangan istrinya.
"Apa tidak sesak?" tanya istrinya.
"Ssssshhh..." Renal semakin merintih kala tangan nakal istrinya, sudah sampai pada miliknya yang menonjol di balik celana kerja yang sudah sangat sesak itu.
Eca terus melancarkan aksinya.
"Yankkk..." protes Renal pada istrinya.
Eca tersenyum licik.
Eca berdiri dari posisinya, kemudian naik ke atas pangkuan suaminya. Dia duduk tepat di atas milik Renal, membuat Renal mendesah karena miliknya, bergesekan dengan milik istrinya yang masih berbalut kain itu.
Eca mulai bergerak, memaju mundurkan tubuhnya, dengan kedua tangan melilit posesif pada leher suaminya. Renal memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi yang hadir.
"Yankkkaahh..." desah Renal.
"Come on!" pekik nya meminta Eca segera melakukan tugasnya.
Eca tersenyum mendengar suaminya memohon. Dia mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik tepat di telinga suaminya.
"Malam ini, sampai sini dulu, ya!" bisik Eca, kemudian bangkit dari atas pangkuan Renal dan pergi begitu saja meninggalkan Renal dengan keterkejutannya.
Renal melebarkan matanya, mengetahui fakta kalau dia dikerjai oleh istrinya.
"ECA" pekiknya.
"Jangan bercanda kamu! Tuntaskan sekarang juga!" teriak Renal sambil menatap punggung sang istri yang masuk ke dalam kamar miliknya.
Renal dan Eca tidur di kamar yang terpisah sesuai permintaan Eca saat pertama kali tinggal di apartemen Renal.
Eca hanya mengangkat tangannya.
"Nanti pulang dari Singapura. Sekarang aku mau berkemas dulu!" teriak nya tanpa melihat sang suami yang sudah sangat memprihatikan.
Renal mengumpat merasa di permainkan istrinya.
"Eca, aku tuntaskan di club malam!" teriak Renal kesal.
__ADS_1
"Pergilah! Hati-hati bertemu anak buah papi!" teriak Eca membuat Renal meringis membayangkannya.