
Vera sudah berlalu beberapa langkah dari hadapan Fin yang saat ini masih mengumpat, mengutuk Vera yang sudah menghancurkan kegiatan intim dari bos nya itu.
Vera dengan terpaksa harus kembali ke hadapan Fin dengan konsekuensi amarah dari bos nya itu akan meledak kembali begitu melihat dirinya.
"Apalagi sekarang?!" Seperti dugaan Vera sebelumnya, Fin menaikan nada suaranya begitu melihat Vera kembali.
"He he..." Vera tersenyum kaku sambil tangannya sedikit menggaruk leher bagian belakangnya.
"Sepuluh menit lagi kita ada rapat, Pak!!" ucap Vera dalam satu tarikan nafas. Dengan cepat Vera membungkuk hormat dan bergegas pergi sebelum Fin benar-benar mengeluarkan sumpah serapahnya.
Fin memejamkan mata sambil menghembuskan nafasnya secara kasar. Mood dia hari ini benar-benar hancur. Dia sudah cukup lelah sehingga melupakan rapat yang sudah di aturnya dari jauh-jauh hari. Sebuah tangan lembut menepuk punggungnya dengan pelan seakan-akan tengah menenangkannya.
Fin membuka mata sambil menatap perempuan cantik yang berdiri di sampingnya. Wajah teduh Karina membuat segala kepenatan dalam diri Fin hilang begitu saja.
Karina tidak jadi masuk ke dalam ruangan Fin dan memilih untuk kembali saat melihat wajah mantan suaminya yang murung saat di dekati Vera.
"Ayo! Kenapa melamun?" tanya Karina melihat Fin menatapnya dengan dalam.
"Ayo? Melanjutkan aktivitas yang tadi?" tanya Fin dengan seringai menyebalkannya.
"Kak Fin!!!" teriak Karina sambil kembali menggeplak punggung Fin. Karina menyesal sudah mengasihani mantan suaminya itu.
"Aaaaaa... aaa..." pekik Fin kesakitan.
"Mommy, tunggu!!" lanjut Fin berteriak melihat Karina berjalan cepat meninggalkannya.
Karina tidak menghiraukan teriakan Fin. Dia terus berjalan lurus untuk bergegas masuk ke dalam kantor Fin dan segera menemui Devin, sang anak.
Begitu masuk ke dalam kantor Fin di dalam sudah ada Devin yang tengah berdiri di hadapan jendela besar yang menampilkan pemandangan ibu kota. Dia berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan nya ke dalam saku celana.
"Persis Daddy nya!" ucap Karina tanpa sadar saat melihat sang anak.
"Ya. Dia memang anak ku!" bisik Fin tepat di telinga Karina.
"Astaga!" pekik Karina terkejut dengan kedatangan Fin yang tiba-tiba ada di belakang tubuhnya. Karina juga mengusap dadanya beberapa kali.
Mendengar pekikan sang Mommy, Devin membalikan tubuhnya ke arah sumber suara.
"Mommy!!" panggilnya hangat. Dari matanya terpancar kebahagiaan.
"Kenapa saat dengan Daddy kamu tidak sebahagia itu?" decak Fin, iri.
Devin pura-pura tidak mendengar apa yang Daddy nya ucapkan. Dia terus berjalan menghampiri Karina kemudian memeluknya.
"Kenapa sendirian?" tanya Karina sambil bersusah payah untuk jongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan sang anak.
"Aku mau duduk sana," ucapnya sambil sedikit menarik tangan Karina agar bangkit dan pergi menuju sofa.
Seolah tau dengan kesusahan Mommy nya, Devin membawa Karina untuk duduk di atas sofa.
"Kenapa meninggalkan Devin sendirian di sini?" tanya Karina sedikit berteriak pada Fin yang saat ini tengah masuk ke dalam kamar tempat dimana Devin sebelumnya tertidur.
"Devin tadi tidur," jawab Fin sambil menyerahkan sesuatu kepada Karina. Fin paham kekhawatiran Karina sebagai seorang ibu.
Karina menatap Devin. Devin mengangguk membenarkan ucapan Daddy nya.
"Apa ini?" tanya Karina sambil menatap barang pemberian Fin.
"Kami rapat dulu. Saat Daddy kembali, Mommy harus sudah memakainya!" perintah Fin.
"Kami? Siapa?" tanya Karina bingung. Karina mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dari kantor Fin seolah tengah mencari seseorang.
"Iya, kami." jawab Fin sambil berdiri di samping Devin.
Karina melebarkan matanya tidak percaya.
"Kalian?? Rapat??" tanyanya memastikan.
Fin mengangguk sambil membereskan barang yang akan di bawanya ke ruang rapat. Sementara itu, Devin hanya diam sambil menatap Fin dengan segala kesibukannya
__ADS_1
"Jangan ngarang kamu!"
"Kenapa? Dia penerus Grahatama Group. Tidak ada salahnya dia ikut rapat di perusahaannya sendiri,"
"Gila! Dia masih terlalu dini untuk terlibat dalam perusahaan! Dia masih tiga tahun, Daddy!!"
"Language, Mom!" bisik Fin mengingatkan.
"Tapi..."
Cup. Fin mengecup bibir Karina membuat Karina membisu dalam sesaat. Wajah Karina merona. Dia malu dengan Devin.
"Semenjak hamil Mommy jadi hobi mengumpat," ucap Fin terjeda.
"Cukup di depan Daddy, jangan di hadapan Devin" bisik Fin selanjutnya. Bahasanya lembut bahkan Fin tersenyum saat mengatakannya namun apa yang Fin ucapkan membuat Karina malu. Dia malu pada dirinya sendiri.
"Daddy sudah telat," Fin mengusap puncak kepala Karina dengan sayang.
"Ayo Nak," ajak Fin selanjutnya pada sang anak sambil menggandeng tangan mungil Devin menuju luar ruangan.
Karina terkesima dengan apa yang baru saja Fin lakukan. Dia menatap keduanya dalam diam.
"Oh astaga... kenapa saat kalian bersama terlihat begitu menggemaskan?" celetuk Karina begitu pintu ruangan tertutup. Setelah berkata demikian, pintu yang masih Karina tatap itu tiba-tiba terbuka kembali menampilkan wajah tampan Fin yang mengintip dari balik pintu tersebut.
"Astaga!!" kaget Karina.
Fin terkikik geli melihat wajah terkejut dari Karina.
"Apalagi??" tanya Karina pura-pura kesal padahal faktanya Karina bahagia dapat melihat kembali wajah yang selalu dia rindukan itu.
"Jangan lupa, pakai apa yang tadi Daddy berikan!" perintah Fin sekali lagi. Selanjutnya Fin benar-benar pergi untuk menghadiri rapat bersama Devin dan Vera yang mengikutinya dari belakang.
###########
Satu setengah jam berlalu. Fin kembali dari rapatnya namun tidak dengan Devin. Devin pulang di jemput Pak Deni dan Bu Linda yang sengaja Fin hubungi untuk menjemput sang anak.
"Devin mana?" tanya Karina saat tak mendapati anaknya kembali dengan Fin.
"Kenapa belum di ganti?" tanya Fin mengabaikan pertanyaan Karina sebelumnya.
Karina menunduk menatap pakaian yang ladi Fin berikan padanya.
"Gak bisa, Dad!" jawab Karina.
"Kenapa? Ganti sekarang!" perintah Fin tegas.
"Mana bisa makan malam dengan pakaian seperti ini..." rengek Karina kesal.
"Makan malam??" tanya Fin tidak suka.
Karina mengangguk sebagai jawaban.
"Devin mana?" tanya Karina kembali saat sadar Fin belum menjawab pertanyaannya.
"Pulang. Di jemput Bu Linda." jawab Fin singkat.
"Oohhh..."
"Ayo ganti sekarang!" perintah Fin kembali.
"Astagaaaa" desah Karina kesal. Karina membawa pakaian yang tergeletak di atas meja itu secara kasar. Dia pergi menuju kamar Fin.
"Kemana?" tanya Fin.
"Ganti baju kan? Gimana sih?" kesal Karina sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Di sini kan bisa," celetuk Fin membuat mata Karina melotot dalam sesaat.
"No way!! Mommy sudah tau endingnya kalau ganti baju di sini," jawab Karina sambil meninggalkan Fin dan masuk ke dalam kamar. Dia berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan keras.
__ADS_1
"Ha... Ha... Ha..." Fin terbahak. Hanya menggoda Karina dengan hal-hal receh seperti itu saja sudah membuatnya bahagia.
Fin duduk di atas sofa sambil memainkan telepon genggamnya menunggu Karina selesai berganti pakaian. Dia membuka sosial media kemudian mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.
"Alziko Davidson" Fin mengetik nama Alziko untuk mencari tau tentang seluk beluk rival terberatnya itu.
Fin menyunggingkan bibir, tersenyum dengan sinis.
"Di kunci," cibirnya, begitu mendapari Instagr*m milik Alziko terkunci untuk publik. Fin gagal mencari tau tentang lawan terberatnya itu. Dia berdecak sambil melemparkan telepon genggamnya begitu saja ke atas sofa. Dia kesal dengan segala pemikirannya.
Saat tengah menggerutu, tiba-tiba kamar tempat Karina berganti pakaian terbuka menampilkan Karina yang tenggelam dalam balutan pakaian yang Fin berikan.
Pakaian yang di berikan Fin memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada tubuh Karina sendiri. Sebuah setelan olahraga berwarna abu. Ya, Fin memberikan sebuah Hoodie dan training miliknya untuk Karina pakai.
Karina mengerucutkan mulutnya karena kesal. Dia berdiri di ambang pintu sambil menekuk kedua tangannya di atas pinggang.
Fin tersenyum lebar. Dia bangkit dan berjalan menghampiri Karina.
"Begini lebih baik. Daddy suka tampilan Mommy yang sporty," puji Fin sambil berjongkok kemudian mulai menggulung training yang kepanjangan itu.
Karina masih mematung.
"Daddy suka tampilan Mommy yang sporty," gumam Karina mengikuti apa yang Fin ucapkan.
"Dad, yang benar saja!" rengek nya sambil menggerakkan kedua tangannya karena kesal.
Fin bangkit kemudian meraih tangan Karina dan mulai menggulung Hoodie yang menutupi kedua tangan dari Karina itu.
"Akhir-akhir ini, setelan seperti ini sedang menjadi trend," karang Fin.
Karina menatap Fin dengan tajam.
Alasan!" kesal Karina sambil meraih tas yang tergeletak di atas meja. Karina keluar dari ruangan Fin dengan kosturn barunya.
"Bu," sapa Vera yang bergegas bangkit dari tempat duduknya.
Karina tidak menghiraukan Vera. Dia terus berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai bawah dengan kaki yang dia hentakkan secara keras.
Bukannya sakit hati, Vera malah tersenyum geli melihat kelakuan Karina. Dia terlihat menggemaskan dengan setelan tersebut.
"Pak," sapa Vera selanjutnya. Fin keluar dari dalam ruangannya dan bergegas menyusul Karina yang tengah marah kepadanya.
"Tidak ada jadwal lain kan?" tanya Fin pada Vera.
"Tidak ada, Pak"
"Oh, oke. Kamu boleh pulang," perintah Fin singkat.
###########
Mobil yang Fin kendarai sudah sampai di tempat yang akan Karina datangi. Awalnya Karina menolak di antar oleh Fin. Namun, sifat Fin yang tidak ingin di bantah membuat Karina mau tidak mau datang dengan membawa Fin bersamanya.
Rencananya untuk berganti pakaian pun pada akhirnya dia urungkan dan terpaksa harus menahan malu dengan datang memakai setelan Hoodie milik Fin yang kedodoran di tubuhnya.
"Di sini?" tanya Fin saat tiba di tempat yang Karina tuju.
Karina mengangguk sambil berusaha membuka sabuk pengamannya.
"Di sini?" tanya Fin kembali sambil menaikkan nada bicaranya.
"Iya! Kenapa?" tanya Karina bingung melihat kemarahan di mata Fin.
"Kalian bertemu di hotel? Wah...." Fin menggelengkan kepalanya tidak dapat berkata-kata lagi.
Sementara itu, Karina hanya menatap Fin penuh kebingungan.
"Apa salahnya bertemu di hotel?" tanya Karina polos.
"Ha... ha... ha..." Fin hanya tertawa sumbang.
__ADS_1
"Ya, sepertinya memang Daddy yang bermasalah di sini," ucap Fin mengakhiri percakapan mereka. Fin malas berdebat dengan Karina dan lebih memilih mengikuti Karina yang akan membawanya bertemu dengan Alziko.