
Karina dan Fin masih berada di udara. Mereka masih membutuhkan beberapa jam lagi untuk sampai ke tempat yang akan menjadi tujuan honeymoon mereka selanjutnya yaitu Melbourne, Australia.
Karina bahkan di buat bertanya-tanya, kenapa suaminya memilih Negara tersebut sebagai tujuan dari honeymoon mereka? Kenapa tidak ke Inggris? Atau negara Eropa lainnya?
Namun sayang Karina tidak dapat membaca pikiran suaminya. Dia hanya bisa mengikuti kemanapun sang suami akan membawanya sekalipun tempat tersebut adalah neraka.
Saat ini, mereka tengah berada di dalam kamar utama jet pribadi mewah keluarga Grahatama. Sepertinya saat sampai di Australia pun Karina hanya bisa tidur dan beristirahat.
Terlalu banyak menghabiskan waktunya di udara membuat Karina linglung. Bahkan perbedaan waktu yang jauh dari Negara satu ke Negara lainnya membuat Karina terkena jet lag.
Saat perjalanan dari Indonesia menuju Prancis mereka menghabiskan tujuh belas jam di perjalanan. Dan sekarang waktu tempuh dari Prancis ke Australia bahkan menghabiskan waktu yang jauh lebih lama yaitu dua puluh jam perjalanan udara.
Semoga saja kondisi Karina kuat karena dengan waktu yang singkat harus melintasi beberapa Negara.
Selain itu sang suami sering membuatnya kelelahan dengan gempuran yang terus menerus di atas ranjang. Karina heran bagaimana stamina suaminya selalu terisi penuh? Apa melintasi beberapa Negara dengan waktu yang cukup singkat adalah hal biasa bagi Fin?
Karina berbaring di atas tempat tidur dengan selimut yang menutup hampir seluruh tubuhnya sampai batas leher. Fin sendiri tengah duduk menyandar pada dashboard tempat tidur sambil memainkan iPhone mewah miliknya. Sementara tangan sebelahnya dia gunakan untuk menggenggam tangan sang istri yang tengah tertidur pulas.
Tangan Fin sibuk menggulir layar iPhone miliknya untuk melihat isi galeri yang penuh dengan fotonya dan sang istri saat di Paris. Selain itu banyak juga foto istrinya yang secara diam-diam Fin ambil yang tentunya tidak di sadari Karina.
Ajaibnya foto-foto candid yang di ambilnya secara diam-diam dan terkesan asal-asalan itu menangkap semua ekspresi cantik sang istri.
Bahkan bayangan nya saja terlihat sangat cantik. Suatu hari, Fin pernah secara diam-diam memotret bayangan sang istri dan hasilnya mencengangkan! Cantik, seperti sebuah lukisan.
Fin tersenyum kemudian dia pandangi wajah damai sang istri yang tengah terlelap dalam tidurnya. Fin pilih foto bayangan cantik sang istri tersebut untuk dia jadikan gambar layar utama iPhone miliknya. Fin tersenyum kembali sambil menatap layar iPhone nya itu.
Fin masih anteng memainkan iPhone nya. Selanjutnya Fin berselancar membuka sosial media miliknya yang hanya di isi beberapa foto.
Dia masukan juga mengunggah foto bayangan tersebut kedalam I*******m miliknya. Dia beri caption manis.
"Terima kasih sudah kembali!" tulisnya pada foto tersebut.
__ADS_1
Fin matikan kolom komentar. Dia tidak ingin handphonenya berisik dengan notifikasi yang masuk. Dia buka kembali folder galeri yang menyimpan banyak foto sang anak. Dia pilih beberapa foto yang tidak memperlihatkan wajah sang anak. Dia unggah kembali foto sang anak ke dalam I*******m miliknya.
Bagi Fin, anaknya berhak memiliki privasi. Biarlah setelah dewasa nanti dia yang menentukan sendiri pilihan nya untuk tampil di depan publik atau tidak.
Fin simpan iPhone nya di dalam laci nakes sebelah tempat tidurnya. Dia bergabung bersama Karina masuk ke dalam selimut dan tidur sambil memeluk tubuh ramping istrinya. Karina yang merasa nyaman semakin melesakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan suaminya tersebut.
##########
"Uncle, ana?" tanya Devin pada Renal dengan pelapalan yang masih belum sempurna saat melihat sang paman menarik koper milik Devin dan memasukan nya ke dalam mobil
"Duh, Boy! Bisa nggak kamu nurut saja sama Uncle, tanpa banyak bertanya kaya anak baru gede!" jawab Renal asal-asalan.
"Nggak boleh! Mommy ilang, aku da boleh ikut om-om cembalangan!" jawabnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada dan berdiri mematung di depan pintu tanpa mau mengikuti sang paman untuk naik ke dalam mobil.
Renal membulatkan matanya mendengar jawaban sang keponakan.
"Hadeuh...," ucap Renal sambil menepuk keningnya.
"Boy, mau ketemu Mommy, nggak?" tanya Renal sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badan nya dengan Devin.
Devin menatap Renal dengan matanya yang berbinar. Dia mengangguk dengan cepat bahkan dia tersenyum saat mendengar Renal menyebut sang Mommy, Devin sudah terlalu rindu dengan Ibu nya.
"Oke, let's go! Kita bertemu Mommy sama Daddy!" ajak Renal pada Devin.
Devin merapatkan tubuhnya pada Renal kemudian.
"Cup..." sebuah kecupan mendarat di pipi Renal. Tanpa menunggu lama Devin berlari dan naik ke dalam mobil pribadi yang Fin siapkan khusus untuk anaknya itu.
Renal menggeleng pelan sambil memegangi pipinya yang basah. Ternyata perlakuan sederhana dari sang keponakan bisa membuat hatinya bahagia. Sekarang Renal mengerti kenapa Fin begitu menjaga Devin dari berbagai aspek. Naluri seorang Ayah sudah benar-benar terbentuk dalam diri seorang Fin.
"Bu Linda!" teriak Renal dari dalam mobil.
__ADS_1
Bu Linda keluar dari dalam rumah dan berjalan mendekat menuju mobil yang terparkir di depan rumah sang majikan.
"Iya Pak!" jawabnya.
Renal mengerutkan keningnya heran sambil menatap Bu Linda.
"Loh, kok Ibu belum bersiap-siap?" tanyanya.
"Oh, saya tidak ikut Pak!" jawabnya.
"Terus, saya hanya berdua?" tanyanya kembali.
"Bu, mana bisa saya mengurus anak sekecil ini!" lanjutnya kesal.
"Nanti di Bandara akan ada seseorang yang ikut mengantar Aden ke Australia. Dia yang menggantikan saya sementara," jelas Bu Linda.
"Ya sudah kalau begitu!" jawab Renal.
"Ayo Pak berangkat sekarang!" perintahnya pada Pak Deni yang saat ini akan menjadi sopir mereka.
Mobil mewah yang membawa Renal dan Devin ke Bandara melesat pergi membelah keramaian ibu kota siang ini.
Sebelumnya Renal di mintai tolong oleh Fin agar membawa sang anak ke Melbourne, Australia. Karina sendiri tidak tahu jika sang anak akan datang. Ini salah satu kejutan yang Fin siapkan untuk sang istri.
Setelah berkendara kurang lebih tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di Bandara. Renal berjalan sambil menggendong Devin masuk ke dalam lounge VIP Bandara untuk menunggu seseorang yang akan menggantikan Bu Linda dan terbang ke Australia bersamanya.
Koper Devin dan Renal sendiri di seret oleh Pak Deni yang mengikutinya dari belakang. Renal menurunkan Devin dan mendudukkannya di kursi sebelahnya.
"Ayo, pesawat sudah siap!" ajak seseorang pada Renal dan Devin. Renal mematung menatap dua orang yang ada di hadapannya.
"I...iya, Tuan" jawabnya tergagap.
__ADS_1
"Kamu! Apa tidak dengar yang anak saya ucapkan?!" tanya seorang pria pemilik suara bass yang menakutkan bagi Renal.