Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Semoga saja hanya sementara...


__ADS_3

Fin, Karina dan Devin saat ini tengah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju kediaman mewahnya.


Setelah makan malam bersama, Fin mengajak anak dan istrinya untuk pulang. Selain Devin sudah terlihat terkantuk-kantuk, Fin juga melihat perubahan yang terjadi pada sikap istrinya.


Selama makan malam berjalan, Karina lebih banyak melamun dan tidak fokus pada makanan nya ataupun sekeliling nya.


Fin tidak mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya, selama dia tinggal pergi untuk bekerja di lantai dua rumah adiknya. Seingat Fin saat dia menemuinya di dapur tadi, Karina masih terlihat biasa-biasa saja.


Di jok belakang, Devin tampak sudah terlelap. Fin terus mengawasi sang istri menggunakan sudut matanya. Tidak ada sepatah katapun yang istrinya ucapkan.


'Kalau perempuan tiba-tiba diam seperti sekarang,' jedanya.


'Sebenarnya... apa yang terjadi dengan mereka?' tanya Fin pada dirinya sendiri.


'Fin, itulah pentingnya kamu harus mencoba menjadi seperti si Renal! Dia bahkan berkencan dengan siapapun yang di temuinya!' seru Fin dalam hati.


Andai saja dia seorang Cassanova seperti sahabatnya itu, saat ini mungkin saja Fin tidak akan kebingungan menghadapi karakter istrinya yang tiba-tiba diam dan murung. Fin terlalu awam untuk dapat menilai dan mengerti karakter, rahasia serta misteri dari makhluk yang bernama perempuan. Meskipun adiknya seorang perempuan, tapi Fin cenderung acuh dan tidak pernah mengambil pusing saat adiknya tersebut ngambek ataupun merajuk padanya. Dengan memberikan kartu sakti berwarna hitamnya, sang adik biasanya langsung kembali ceria.


'Ah, apa perlu aku kasih dia black card juga? Biasanya Kiara langsung ceria saat di beri kartu hitam itu.' Fin mengangguk-anggukkan kepalanya saat di rasa cara tersebut merupakan jalan keluar dari kegalauan nya.


Mobil yang di kendarai Fin berhenti di teras garasi rumahnya, Karina keluar dari dalam mobil sementara Fin masih duduk di tempatnya bersama sang anak yang juga masih berada di kursi belakang mobilnya.


Mobil lain yang mengikuti mobil Fin pun berhenti tepat di belakang mobil yang Fin kendarai.


Bu Linda keluar dari dalam mobil di ikuti Eca dari belakangnya. Bu Linda langsung menghampiri mobil sang Nyonya yang berhenti tepat di depan mobil yang di naiknya bersama Eca dan di kendarai oleh Renal.


"Bu, Devin tidur. Ibu bawa langsung saja ke kamarnya!" perintah Karina pada pengasuh anaknya tersebut.


"Terima kasih untuk hari ini. Ibu bisa langsung beristirahat juga!" lanjutnya di akhiri dengan sebuah senyuman yang tulus.


Karina mencondongkan tubuhnya dan mensejajarkan kepalanya dengan jendela mobil.

__ADS_1


"Dad, Mommy duluan, nggak apa-apa?" tanyanya dengan sedikit senyum yang di paksakan.


Fin hanya mengangguk karena setelah meminta izin, Karina langsung masuk ke dalam rumah. Fin keluar dari dalam mobil di kagetkan oleh suara sahabatnya yang tiba-tiba datang dari arah belakang tubuhnya.


"Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya Renal tepat di belakang telinga Fin.


Fin mendengus kesal dengan kehadiran tiba-tiba sahabatnya itu. Fin juga menggosok telinganya yang terkena hembusan nafas Renal. Namun secara tiba-tiba Fin menghentikan aktivitas nya dengan alis yang saling bertautan.


Fin membalikan tubuhnya, sambil menatap sahabatnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Fin penasaran.


"Udah jelas kali, Bro!" jawab Renal sambil melenggang pergi dari hadapan Fin. Fin menarik kerah belakang kemeja sahabatnya yang menyebabkan Renal terbatuk karena tercekik kemeja yang di tarik Fin.


Fin dengan santainya berdiri sambil menyandarkan tubuh atletis nya pada body mobil dan tangan sebelah kirinya masuk ke dalam kantong celana.


"Kurang ajar! kamu pengen aku mati ya?" tanya Renal dengan sedikit berteriak.


Fin tidak terpengaruh dengan teriakan Renal. Fin merubah posisinya menjadi melipat kedua tangannya di atas dada.


"Anak mu nggak bakal dengar juga, Fin!" ucapnya gemas.


"Kamu nggak lihat, seberapa jauhnya lokasi garasi dengan rumah utama?" tanya Renal pada Fin.


"Aku atasan kamu! Kalau kamu lupa!" sombong Fin sedikit menekankan kata-katanya.


Renal memutar bola matanya.


"Sekarang mau kamu apa, Fiiinnn...?" tanya Renal kesal.


"Sikap Karina berubah saat kita makan malam, dia lebih banyak melamun dan juga kurang fokus." jelasnya pada Renal.

__ADS_1


"Sedang banyak yang di pikirkan mungkin," jawab Renal singkat.


"Mikirin apa? Tadi saja dia baik-baik saja!" bingung Catra.


"Ya cari tahu, Fiinnnn!" gemas Renal.


"Apa dengan di kasih black card dia bakal biasa lagi?" tanyanya pada Renal.


"Kiara aja kalau merajuk aku kasih black card dia langsung ceria lagi," lanjutnya.


Sekarang Renal sudah benar-benar gemas dengan sahabatnya. Dia mengeratkan kedua giginya sebelum mengeluarkan umpatannya.


"Kamu emang ya, kalau masalah perempuan selalu bego!" umpat Renal.


"Bini mu udah punya segudang kartu limited edition yang isinya no limit dan gratis seumur hidup," jelasnya kembali.


"Nal, kamu rindu, Tuan Clarke?" tanya Fin mencoba mengancam Renal.


"Kamu nggak asik mainnya!" keluh Renal saat mendengar nama orang yang harus di hindarinya.


"Aku harus gimana Renaallll? Seumur hidup aku baru pertama kali minta saran sama kamu! Ini sejarah bagi kamu!" sombongnya.


Seperti biasa, Renal hanya memutar bola matanya jengah menanggapi kesombongan sahabat nya.


"Bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak tau apa-apa." jawabnya singkat.


"Perempuan, semakin kita tanya dia kenapa semakin bingung jawaban yang dia berikan. Lebih baik kita pura-pura tidak tau. Dia hanya membutuhkan ruang dan waktu untuk berpikir ataupun merenung." jelas Renal pada sahabatnya yang minim pengetahuan nya tentang makhluk yang namanya perempuan.


Fin mengangguk setuju dengan jawaban yang sahabatnya berikan.


"Oke, sekarang kamu boleh pulang." ucap Fin meninggalkan Renal sendiri di parkiran.

__ADS_1


"Kurang ajar! Dia ngusir aku!" dengus nya kemudian masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu mobil dengan kencang.


Fin tertawa sambil berjalan masuk menuju rumahnya dan akan mengikuti saran dari Renal. Semoga saja perubahan sikap istrinya hanya sementara.


__ADS_2