Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Renal dan Tuhan!


__ADS_3

Setelah menghabiskan kurang lebih satu setengah jam di udara akhirnya Karina dan Fin sampai di Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle. Bandara tersebut merupakan pintu gerbang penyambutan utama bagi wisatawan mancanegara yang ingin mengunjungi kota Paris. Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle ini sendiri terletak di sebelah Timur Laut kota Paris, dan merupakan salah satu Bandara termodern dan tersibuk di dunia.


Fin turun dari atas pesawat pribadi milik nya, dengan kedua tangan nya menggendong Karina ala bridal style. Mereka sampai di Paris pukul sebelas malam. Fin tidak tega jika harus membangunkan istrinya yang tengah tertidur pulas karena ulahnya yang telah membuat Karina kelelahan setelah harus melayani nya saat di udara tadi.


Pramugari yang sudah lumayan lama bekerja sebagai awak Pesawat Grahatama Air, di buat iri melihat sikap manis Fin pada istrinya. Ini kali pertama dia menyaksikan sendiri sifat lain dari seorang pewaris Grahatama itu.


Biasanya Fin akan selalu dingin terhadap siapa saja yang di temuinya. Mau itu perempuan ataupun laki-laki. Maka dari itu tidak ada yang berani mendekati Fin, karena dia selalu membangun tembok pembatas yang cukup tinggi bagi orang di sekitarnya dan membatasi ruang lingkupnya.


Sebuah Limosin mewah sudah standby di bawah pintu keluar pesawat. Fin masuk ke dalam Limosin tersebut setelah seseorang membukakan pintu dan mempersilahkan nya masuk. Dengan hati-hati Fin membawa tubuh istrinya masuk agar tidak membangunkan tidur nyenyak nya.


Setelah beberapa koper dan sang pemilik sudah siap di dalam, mobil mewah tersebut melesat pergi meninggalkan Bandara, membelah keramaian jalanan, Kota Paris. Walaupun sekarang sudah memasuki tengah malam, namun kota tersebut seolah tidak pernah sepi, dan semakin ramai dengan aktivitas para turis maupun pribumi itu sendiri.


Kota yang tidak pernah tidur! Sepertinya julukan tersebut sangat cocok di sematkan pada kota ini. Masih banyak aktivitas dan keramaian di sepanjang jalanan kota yang Fin lewati.


Sopir akan mengantar Fin dan sang istri menuju kediaman mewah milik Fin yang ada di Paris. Jarak dari Bandara ke kediaman pribadi Fin cukup dekat. Hanya membutuhkan dua puluh lima menit saja untuk sampai di mansionnya tersebut.


Tubuh polos sang istri hanya Fin balut dengan long coat tebal miliknya yang selalu tersimpan rapih di dalam walk in closet, kamar pribadi pesawatnya. Long Coat besar milik Fin itu, bahkan berhasil menenggelamkan seluruh tubuh ramping istrinya.


Fin turun dari dalam mobil masih dengan Karina yang berada di dalam gendongannya. Fin masuk ke dalam rumah mewah dengan model kastel Prancis Abad ke 17, di sambut para pelayan yang berjejer di depan pintu masuk dengan beribu tanya di benak mereka. Mereka baru pertama kali melihat sang tuan membawa seorang wanita masuk ke dalam kastel mewah pribadinya.


Fin berjalan lurus dengan wajah dingin nya yang tanpa ekspresi kemudian masuk ke dalam lift yang akan mengantar Fin menuju kamar pribadinya di lantai tiga.


Meski bergaya klasik namun interior dari rumah tersebut, di hiasi dengan segala macam fasilitas modern mulai dari air mancur, lampu, dan banyak fasilitas lainnya yang bisa di kendalikan menggunakan iPhone.


Selain itu, rumah berbentuk kastel ini pun memiliki halaman dengan luas lima puluh tujuh hektar, di lengkapi gudang anggur yang dapat menampung kurang lebih seribu lima ratus botol anggur, dua ballroom, lapangan golf, bioskop, serta sebuah tempat pacuan kuda.


Setidaknya, Fin memiliki satu rumah mewah di setiap Negara yang sering di kunjunginya.


Fin membaringkan tubuh istrinya secara perlahan agar tidak membangunkan nya. Saat tubuh sang istri sudah terbaring sempurna Fin bangkit untuk membawa MacBook miliknya yang ada di dalam tas yang belum sempat dia bongkar saat di dalam pesawat.


Namun saat Fin akan bangkit, kedua tangan sang istri menahan leher miliknya, sehingga Fin tetap pada posisinya.


"Mom," ucapnya pelan sambil melepas tangan Karina secara perlahan, kemudian mendudukan tubuhnya di pinggir tempat tidur sebelah istrinya.


Karina mengaitkan kembali kedua tangannya, namun kali ini pada pinggang suaminya.


"Mau kemana?" tanya Karina dengan suara parau nya. Kedua mata Karina masih tertutup.


"Mengambil MacBook sebentar," ucapnya sambil mengelus kepala istrinya lembut. Karina mengangguk kemudian melepaskan tangannya dari pinggang sang suami. Karina melesakan wajahnya, masuk ke dalam bantal, mencoba meredam kepalanya yang sakit.


Apa yang di lakukannya barusan? Apa dia mencoba bersikap manja? Oh, Karina lihatlah! Kamu sudah mulai nyaman dengan dia. Rutuk nya dalam hati.

__ADS_1


Fin kembali ke dalam kamar, dengan MacBook di tangannya dan sebuah kacamata baca, bertengger di hidung mancungnya. Fin simpan MacBook miliknya di atas tempat tidur. Fin meraih pitcher dan menuang isinya ke dalam gelas kosong.


"Mom, minum dulu," ucap Fin mencoba membangunkan istrinya. Karina bangkit dari tidurnya dengan sebelah tangan memegangi kepalanya yang sakit. Karina tenggak habis isi dari gelas yang di berikan suaminya.


"Terima kasih," ucap tulus Karina pada suaminya, kemudian membaringkan kembali tubuh lelahnya. Fin tidak menjawab, dia hanya mengelus kepala istrinya sebagai jawaban.


Fin duduk dengan punggung yang menyandar pada dashboard tempat tidur dan tangan kanan memegang MacBook untuk mengecek pekerjaannya. Tangan sebelah kirinya dia arahkan pada kening sang istri, sedikit mengurut di bagian sana. Sementara matanya tetap fokus pada pekerjaan nya, Karina kembali terlelap karena merasa nyaman dengan apa yang suaminya lakukan.


##########


Pukul sembilan pagi waktu Prancis, Fin melakukan panggilan dengan Renal demi memastikan dia bekerja dengan baik. Pekerjaan yang Fin anggap penting dia limpahkan pada Raiden sang adik ipar.


Walaupun Renal cukup lama bekerja sebagai asisten pribadinya, namun sikap Renal yang cenderung teledor dan slebor membuat Fin berpikir dua kali untuk memberi Renal tanggung jawab besar dalam memegang urusan penting perusahaan. Fin lebih mempercayai adik iparnya untuk urusan penting itu.


"Hari ini ada meeting penting dengan perusahaan Tuan Hendra, cek e-mail sekarang! Materinya sudah di kirim ke sana." Perintahnya pada Renal saat panggilan nya tersambung.


"Ckk, bos nggak ada akhlak!" gerutu Renal saat mengangkat panggilan bos nya tersebut.


"Fin Grahatama, kamu tau sekarang di sini jam berapa?" teriaknya kesal pada Fin.


Fin menjauhkan handphone dari telinganya. Fin sudah dapat menebak apa yang akan sahabatnya itu lakukan.


"Cuma bercanda, Tuan! Jangankan nelpon pukul empat pagi, jam dua pun dengan senang hati akan hamba angkat," ucapnya dengan nada penuh penghormatan.


Fin tersenyum miring dengan tingkah penjilat sahabatnya tersebut sambil mematikan panggilannya begitu saja.


"Oh, kepala ku," lirih Karina sambil membangkitkan tubuhnya dan duduk di samping suaminya,


Fin menyimpan telepon genggam nya dan bergeser mendekati tubuh sang istri.


"Good morning!" ucapnya sambil meraih kepala sang istri kemudian memberikan morning kiss pada bibirnya.


"Morning," jawab sang istri serak dengan mata yang belum terbuka sempurna.


Karina mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut kamar yang di tempatinya saat kedua matanya telah terbuka seluruhnya. Kamar bernuansa silver itu memiliki desain mewah di setiap sudut ruangannya.


"Ayo, sarapan dulu," ajak Fin pada sang istri.


Fin bangkit dari tempat tidur, kemudian membantu Karina untuk berdiri.


"Mom, sepertinya Daddy lebih suka mommy sarapan seperti itu," ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


Dahi Karina mengkerut.


"Maksudnya?" tanyanya bingung. Fin berdiri di hadapan Karina kemudian mengelus tubuh bagian depan istrinya yang polos tanpa penghalang, karena Long Coat yang di pakainya terbuka.


"Oh, God!" pekiknya sambil mendorong tubuh kekar suaminya.


Fin tergelak sambil mengikuti Karina masuk ke dalam kamar mandi. Jangan tanya apa yang Fin lakukan di dalam kamar mandi seperti yang kalian pikirkan tentunya.


###########


"Boy, kamu sudah siap?" tanya Renal pada Devin. Renal sudah dengan setelan santainya saat ini. Rencananya, Renal akan mengajak keponakan nya tersebut untuk pergi jalan-jalan.


Saat di kantor tadi siang, Raiden meminta Renal untuk mengajak Devin jalan-jalan keluar karena Bu Linda yang mengasuh Devin harus pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Bi Vina. Raiden takut Devin jenuh terus-menerus berada di dalam rumahnya sehingga di sinilah Renal sekarang.


Devin tidak menjawab pertanyaan Renal. Dia hanya berdiri sambil menatap Uncle nya dengan tatapan datar.


"Come on, Boy!" ajak Renal. Devin mematung di tempatnya.


"Tunggu Aunty Eca duyu!" tolak Devin.


Renal mengerutkan dahinya bingung.


"Kenapa harus menunggu Aunty Eca, Boy?" tanya Renal pada keponakan nya tersebut.


"Karena kamu, belum tentu becus menjaga Tuan Muda yang nyawanya lebih berharga dari pada nyawa kamu sendiri!" bisik Eca dengan kasar, tepat di telinga Renal.


Renal memutar badannya untuk memaki perempuan lancang yang ada di belakang tubuhnya.


"Kam..." ucapnya terjeda. Penampilan Eca sore ini, benar-benar cantik membuat Renal menghentikan umpatan nya.


Sebuah dress chiffon motif floral, dengan bagian bahu yang terbuka membuat Eca terlihat anggun dan feminim.


"Apakah ini terlihat aneh?" tanya Eca sambil mengedipkan sebelah matanya, menyindir Renal tempo hari.


"Ini bahkan jauh lebih aneh dari pada saat di Mall kemarin," dustanya.


"Khemm..." dehem suara seorang pria dari arah belakang tubuh Renal.


"Mampus, apa Bapak nya ada di sini juga?" batin Renal.


"Mati kamu Renal, singa-singa kelaparan siap menyantap tubuh atletis kamu!" ucapnya dalam hati yang tentunya hanya bisa di dengar oleh Renal dan Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2