
Saat tengah fokus menapaki trotoar jalanan, bahu Karina di tepuk oleh seseorang. Mata Karina membulat.
"Ni... Nisa" panggil Karina tergagap. Dia terkejut karena Nisa yang tiba-tiba muncul dari belakang.
'Apa dia tau?' tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu gugup?" tanya Nisa.
"Kaget, Nisaaaaa ..." jawab Karina.
"Kenapa suami kamu nggak nganterin sampai depan perusahaan?" tanya Nisa, membuat Karina harus memutar otak mencari jawaban.
"Mmmm, dia sedang terburu-buru, jadi nggak bisa nganterin sampai depan perusahaan!" jawab Karina mencoba tenang.
"Oh... bukan karena dia CEO kita?" bisik Nisa tepat di telinga Karina. Setelahnya Nisa berlari meninggalkan Karina yang masih mematung, shock mendengar apa yang Nisa katakan.
"Dia tau?" lirih Karina kemudian berlari menyusul Nisa.
Karina sudah berada di depan perusahaan. Dia berhenti sejenak karena kehabisan nafas setelah mengejar Nisa. Karina menarik nafasnya, mencoba mengatur dan menormalkan kembali pernafasannya.
Tampak Nisa yang tengah menunggu di depan pintu kaca sambil melipat kedua tangannya dan menjulurkan lidahnya.
Karina masuk kemudian menangkap Nisa dan mengunci tubuhnya dengan cara memeluknya. Nisa memekik dan tertawa karena ulah sahabatnya itu.
"Khem!" dehem Fin yang melewati mereka berdua. Wajahnya dingin, datar dan cenderung menyeramkan.
Karina dengan refleks melepaskan pelukannya kemudian membungkuk hormat. Begitupun dengan Nisa. Fin terus berjalan lurus, tidak menghiraukan mereka berdua sama sekali dan masuk ke dalam lift eksekutif. Sifat suaminya sudah kembali menjadi mode CEO galak, dan status Karina kembali menjadi bawahannya.
"Ckk, bisa-bisanya kamu mau sama cowok kulkas..." Karina membungkam mulut Nisa menggunakan tangannya. Dia tidak mau orang kantor mengetahui statusnya.
Karina menyeret Nisa untuk masuk ke dalam tangga darurat yang ada diujung ruangan.
"Kamu tau darimana, Nisa?" tanya Karina.
"Jadi benar dia suami kamu?" tanya Nisa sambil menutup mulutnya.
Karina mengangguk membenarkan.
"Ya, dia suamiku yang pernah kalian temui saat di bioskop tempo hari." ujar Karina.
"Pantas saja, sifatnya sedikit tidak asing! Oh, GOD!" pekik Nisa.
"Apa teman-teman yang lain tau?"
"Nggak, mereka semua belum tau."
"Jangan tau! Jangan sampai ada yang tau!" ancam Karina.
"Kamu juga, kalau mau ***** ya pilih-pilih tempat kali! Nggak di pojokan hotel juga, Karina!" sindir Nisa.
Karina membulatkan matanya. Dia terkejut karena keteledoran dari dia dan suaminya saat ulang tahun perusahaan membuat satu orang mengetahui statusnya sebagai nyonya Grahatama.
##########
Karina dan Nisa masuk ke dalam ruangan mereka, setelah Nisa dapat menormalkan kembali ekspresinya dari keterkejutan. Siapa yang tidak terkejut, jika ternyata teman magang yang merupakan juniornya adalah istri dari pemilik perusahaan tempat dia mencari nafkah.
Karina dan Nisa menempati tempatnya masing-masing. Karina mulai mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
Ini adalah minggu terakhir Karina bekerja sebagai anak magang dan tinggal menunggu pemberitahuan tentang di terima atau tidaknya Karina sebagai karyawan tetap di perusahaan Grahatama Group
Saat mereka semua tengah fokus pada pekerjaannya masing-masing, tiba-tiba....
BRAK!
Seseorang menggebrak meja dengan cukup keras, sehingga mengagetkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Karina memegang dadanya sambil terjengkat karena kaget. Sementara Nisa dan Mila latah dengan menyebutkan hal-hal yang menggelikan.
__ADS_1
"Rina!" bentak Nisa.
Ya! Yang menggebrak meja adalah Rina. Teman satu ruangan mereka.
"Kamu, kenapa sih pagi-pagi udah bikin anak orang jantungan?!" kesal Nisa kembali.
"Kamu tanya saja sama si kulkas menyebalkan!" jawab Rina masih dengan wajah memberengut nya.
Nisa melebarkan matanya sementara Karina hanya mengerutkan keningnya bingung sambil ikut menyimak.
"Rina!" bentak Nisa kembali.
'Mampus kamu, Rin! Nggak tau aja kamu kalau bini nya ada disini!' hardik Nisa dalam hatinya.
"Ngapain si kamu malah ikut nge gas?" tanya Rina pada Nisa.
"Ya maaf kan aku kaget!" elaknya.
"Lagian kenapa dengan si Bos?" tanya Nisa kembali.
"Kurang ajar! Dia meminta rapat dadakan saat ini juga! aku kan belum nyiapin materinya, Nisaaaaa," rengek Rina.
"Heran aku cowok kulkas kaya dia masih saja laku! Dan lebih kurang ajar nya lagi, kenapa wajahnya harus mirip oppa-oppa kesayangan aku? Why?" pekik Rina dengan kedua tangan menengadah ke atas.
Nisa menyeret tubuh Rina keluar ruangan, sebelum mengeluarkan umpatan yang lebih parah lagi.
"Sudah yuk! Bukannya di suruh cepat cepat rapat? Kamu mau di kirim ke kantor cabang yang ada di pelosok Negeri hanya gara-gara telat datang?" Nisa menekankan setiap ucapannya.
"Ya ampun! aku lupa!" Rina berlari menuju aula tempat rapat. Sementara Nisa menarik nafasnya lega karena Rina sudah pergi dan menghentikan umpatannya.
"Mampus kamu, Rin! Kalau saja bininya nggak sebaik si Karina, aku jamin kamu nggak bisa bayar cicilan mobil, gara-gara kamu di pecat!" gumam Nisa menyaksikan punggung sahabatnya menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Nisa masuk kembali ke dalam ruangannya. Di lihatnya Karina sudah fokus kembali dengan pekerjaannya.
"Aku lihat... pagi ini, ada yang aneh sama kamu!" ucap Mila pada Nisa dengan tiba-tiba.
"Aneh apanya?" bingung Nisa.
"Tumben kamu nggak ikut nyumpahin si bos?" tanya Mila dengan mata yang menyipit.
"Mila!" pekik Nisa frustasi.
"Jangan bilang..."
"Apa?" tanya Nisa panik.
"Kamu suka ya sama si bos?" celetuk Mila selanjutnya dan berhasil menghadirkan tawa dari Karina.
Nisa berdiri dari tempatnya kemudian menghampiri meja Mila.
Pletak...
Nisa memukulkan polpen yang tengah di pegang nya pada dahi Mila.
"Nisaaa!" pekik Mila, sambil mengusap dahinya yang kesakitan.
"Iiihh... mulut mu, ya!" gemas Nisa sambil tangannya *******-***** udara seolah-olah sedang meremas mulut Mila.
"Ye... kan aku bilang jangan-jangan!! kalau nggak bener, ya nggak usah marah," ucap Mila dengan mulut yang mengkerut.
"Lagian, prediksi mu nggak kira-kira!" gumam Nisa sambil duduk kembali pada tempatnya.
'Nisa, beban mu bertambah beberapa kilo gara-gara mengetahui status rahasia bos kamu!' Nisa membatin.
##########
Setelah menempuh waktu kurang lebih enam belas jam perjalanan dari Indonesia ke Italia, akhirnya Renal sampai di Leonardo Davinci Internasional Airport.
__ADS_1
Renal mencari hotel untuk dia menginap malam ini, sebelum besok pagi pergi ke kota Napoli yang merupakan tempat tinggal dari Tuan Alexander.
Renal kesana untuk menghentikan pernikahan Eca dan pria yang sudah di pilihkan oleh Tuan Alexander sebagal calon suami Eca.
Renal tidak membawa banyak pakaian. Dia hanya membawa satu setel pakaian di tambah dengan pakaian yang tengah di pakainya dan sebuah tas gendong berisi paspor serta identitas pribadinya.
Renal membaringkan tubuhnya di atas kasur sebuah Hotel dekat Bandara. Renal tengah memikirkan cara bagaimana dia akan menghentikan perjodohan yang sudah di atur Tuan Alexander.
Dia berguling kesana kemari, tidak dapat terlelap karena saat ini otaknya tengah Renal perintah untuk berpikir keras.
Saat Renal akan terlelap tiba-tiba sebuah ide datang. Renal bangkit dan duduk menyandarkan tubuhnya pada dashboard tempat tidur. Kedua tangan Renal terlipat ke belakang menyangga kepalanya.
"Ide itu terlalu gila, Renal!" ucap Renal pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Tidak, tidak bisa! Itu terlalu berbahaya!" gumamnya kembali.
Renal menemukan sebuah ide yang menurutnya akan langsung menghentikan perjodohan yang sudah Tuan Alexander rencanakan.
Namun, ide yang ada di dalam otak Renal resikonya terlalu besar dan mungkin akan melenyapkan nyawa Renal yang berharga di tangan Tuan Alexander.
"Sudahlah, nyawa kamu terlalu berharga untuk kamu korbankan!" ucap Renal sambil menurunkan tubuhnya untuk berbaring.
"Renal... sejak kapan kamu berani mengambil resiko hanya untuk seorang betina? Benar-benar keluar dari kebiasaan kamu!" gumamnya, kemudian memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi.
Pagi-pagi Renal sudah rapi dan bergegas untuk berangkat menuju kediaman Tuan Alexander. Dia mengecek kembali barang pribadi miliknya sebelum meninggalkan Hotel.
Renal meminta bantuan Fin untuk mengirimkan sebuah mobil pribadi milik Fin yang ada di Italia beserta sopirnya.
Fin memiliki satu rumah di setiap Negara termasuk di Italia. Jarak yang jauh dari Bandara menuju kediaman Fin membuat Renal lebih memilih tidur di Hotel dari pada harus menempuh waktu satu jam perjalanan menuju mansion mewah sahabatnya.
Mobil mewah sudah terparkir di depan pintu keluar Hotel. Renal masuk dan memberikan alamat tujuannya pada sang sopir.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Eca, Renal gelisah. Tangannya basah dengan dada yang berdebar sedikit lebih cepat.
"Santai, Nal! Kenapa kamu tegang? Apa kamu sedang melamar seorang gadis? Ini hanya sebuah metode penyelamatan. Ya, kamu sedang menyelamatkan masa depan seorang gadis polos dari kekejaman dunia perjodohan. Ya, itu benar!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya Renal sampai di depan rumah mewah yang jarak dari pos keamanannya saja kurang lebih setengah kilometer.
Untuk bisa masuk ke dalam kediaman Tuan Alexander harus melewati beberapa pemeriksaan keamanan. Renal memaklumi tindakan pemeriksaan yang cukup ketat tersebut mengingat status pekerjaan dari Tuan Alexander sendiri yang dapat membahayakan nyawa dari keluarganya.
"Apa Tuan Alexander ada di dalam?" tanya Renal pada penjaga pos keamanan dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Maaf, Tuan Alexander tengah menghadiri pesta pernikahan." jawabnya dengan ramah setelah tau kalau Renal salah satu orang Grahatama.
"WHAT?!" pekik Renal kencang.
"Berikan alamatnya sekarang!" ucapnya dingin dengan kilatan kemarahan di matanya.
Setelah mendapatkan alamat tempat pernikahan berlangsung, tanpa menunggu waktu Renal langsung berangkat menuju lokasi.
Di sepanjang jalan yang di lewatinya tangan Renal terus terkepal menyalurkan setiap amarahnya. Bagaimana bisa dia kecolongan perihal waktu pelaksanaan pernikahan? Apa Renal tengah di bohongi Fin? Bukannya minggu depan? Pikir Renal dalam hatinya.
Renal sampai di lokasi. Lokasi pernikahan tersebut berada di sebuah bukit yang di dekor dengan sangat indah. Renal dapat merasakan nuansa pesta saat masuk ke dalamnya.
Orang-orang menatap Renal dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak aneh, Renal datang dengan memakai celana jeans hitam dan kemeja denim yang tangannya di gulung sampai sikut.
Orang-orang yang hadir semua memakai dress code putih, dan Renal orang paling mencolok di antara yang lainnya.
Renal tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang. Dia terus berjalan membelah kerumunan dengan mata yang terus mencari dan meneliti setiap sudut dari tempat yang di lewatinya.
Saat sampai di ujung jalan, mata Renal membelalak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Perempuan yang dua hari belakangan ini Renal cari, tengah berdiri sambil mencium pipi seorang pria yang berdiri disampingnya.
"CECE!!" bentak Renal refleks sambil menarik tangan Eca untuk menjauh dari pria tersebut.
Semua orang yang hadir memfokuskan perhatiannya pada Renal termasuk Tuan Alexander. Eca membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kak Renal!" pekik Eca dengan kedua tangan yang terangkat menutup mulutnya.
__ADS_1