Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Rubah betina...


__ADS_3

Karina tengah mematut dirinya di depan cermin ruang walk in closet nya. Malam ini, Karina mendapat undangan makan malam dari adik iparnya.


Kiara mengundang Karina dan keluarganya untuk makan malam di rumah utama keluarga Grahatama sebagai perpisahan sebelum Kiara berangkat besok siang menuju Singapura untuk satu bulan ke depan.


Kiara berencana mempertemukan Ara dengan keluarga besar dari Raiden, suaminya.


"Mommy, masih belum selesai?" tanya suara serak dan berat yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang sama dengan yang Karina tempati.


Karina belum siap. Dia masih memakai bathrobe nya dan hanya bagian wajahnya saja yang sudah siap. Karina hanya memakai make up tipis dengan rambut yang dia gerai dan dia ikat bagian atasnya saja.


"Kebiasaan banget, ngagetin orang!" gerutu Karina masih dengan posisi Karina membelakangi Fin. Karina tengah memilih pakaian yang akan di kenakannya.


Fin maju, kemudian menempelkan tubuhnya untuk memeluk Karina dari belakang.


"Daddy! Mommy jadi basah!" Karina memberengut kesal dengan Fin yang tiba-tiba memeluknya.


Akhir-akhir ini, Karina sering kesal tanpa alasan karena ulah sepele yang suaminya lakukan. Kadang Karina bisa kesal saat bangun tidur, saat suaminya sudah berada di ruangan gym. Padahal bangun pagi dan langsung ke ruang gym sudah menjadi aktivitas rutin Fin bahkan sebelum menikah dengan Karina.


Keadaan Fin sendiri saat ini hanya memakai handuk sepinggang dengan rambut yang masih basah karena baru selesai mandi.


Otot-otot di perut Fin terpang-pang indah menambah keseksian dari seorang Fin Grahatama.


Karina menjauhkan tubuhnya dari pelukan sang suami. Dia berjalan menghampiri lemari kecil yang ada di sebelah rak tempat pakaian milik suaminya.


Karina raih sebuah handuk kecil berwarna putih kemudian menyimpannya di atas kepala suaminya.


Selanjutnya, Karina menyeret Fin untuk masuk ke dalam kamar dan mendudukkannya di depan meja rias. Karina menyalakan alat pengering rambut dan menyimpannya di atas meja.


Fin tidak melawan, dia hanya pasrah menurut dan menunggu apa yang akan istrinya lakukan.


Karina menggosok rambut Fin terlebih dahulu dengan lembut sebelum mengeringkannya menggunakan hair dryer.


Posisi Karina sendiri berdiri berhadapan dengan Fin. Fin duduk di atas kursi dengan kedua tangan melilit pada pinggang Karina dan kepala yang dia tempelkan pada dadanya.


Karina raih hairdryer yang sebelumnya dia simpan di atas meja rias.


"Daddy, jangan menempel Mommy susah ngeringin nya!" gerutu Karina.


Fin mengangkat kepalanya kemudian duduk tegak sesuai permintaan istrinya. Tangan Fin masih tetap berada di pinggang istrinya. Karina mulai mengeringkan rambut Fin sampai benar-benar kering.


"Selesai!" ucap Karina sambil membereskan dan menyimpan kembali alat pengering ke dalam laci.


"Terima kasih!" tulus Fin sambil membawa tubuh Karina untuk duduk di atas pangkuannya. Fin mengecup sesaat bibir candu istrinya.

__ADS_1


"Dad!" pekik Karina saat tiba-tiba tangan Fin masuk ke dalam bathrobe nya.


"Nggak capek apa begituan terus?" desis Karina pelan.


"Kalau sama Mommy mana ada kata capek," jawab Fin polos.


Karina bergidik ngeri mendengar jawaban suaminya. Padahal Karina dan Fin baru menyelesaikan ritual celup mencelup beberapa saat yang lalu saat keduanya berada di kamar mandi.


"Daddy..." pekik Karina sambil menjauhkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam walk-in closet.


"Ha... ha... ha..." Fin tergelak keras melihat istrinya ketakutan. Dia mengusap miliknya yang tertutup handuk.


"Keperkasaan 'kamu' membuat si Mommy lari ketakutan!" ucapnya.


Karina tengah berdiri melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat terhenti karena harus membantu suaminya mengeringkan rambut.


"Dad!" panggil Karina sedikit kencang.


"Hmm?" jawab Fin singkat.


"Mau Mommy siapin pakaian buat Daddy atau mau Daddy yang pilih sendiri?" tanya Karina kembali sedikit berteriak.


"Biar Daddy saja, Mom!" jawab Fin sambil berjalan masuk ke dalam walk in closet dan berdiri di depan lemari pakaian miliknya.


Karina memakai dress model off shoulder berwarna hitam. Dia tampil seksi tetapi imut dan tidak berlebihan untuk di pakai saat makan malam keluarga. Dress yang Karina pakai menonjolkan bahunya yang putih dengan tampilan cantik yang cocok di segala acara.


"Cantik. Mommy selalu cantik!" pujinya kembali.


Wajah Karina memerah seperti biasanya. Bagaimana bisa moodnya berubah dengan cepat? Hanya mendengar pujian receh dari suaminya bisa memperbaiki mood Karina dalam sesaat. Sungguh luar biasa.


'Kamu sudah lebih mahir membaca situasi, Fin!' batin Fin. 'Kerja bagus! Kamu sungguh luar biasa dapat mempelajari situasi yang istri kamu rasakan saat ini. Kemampuan kamu sekarang luar biasa saat kamu membaca potensi bisnis. Sungguh prestasi yang membanggakan!' bangga Fin pada dirinya sendiri.


Fin mengambil sebuah kemeja hitam tanpa kerah yang kemudian dia pakai. Tangannya dia gulung sebatas sikut dengan bagian dada yang sedikit terbuka.


Fin sengaja memakai warna yang senada dengan istrinya. Devin pun akan dia pakaikan kemeja yang sama seperti milik Fin.


########


Karina sudah turun dan tengah berada di dapur untuk menyiapkan kue dan makanan yang akan di bawanya ke rumah Kiara.


Fin pun turun dengan menggendong Devin seperti biasanya. Devin menenteng sebuah goodie bag besar berwarna pink yang akan di berikannya untuk Ara sang adik kesayangannya.


"Mommy!" panggil Devin saat melihat Mommy nya.

__ADS_1


"Wah, anak Mommy sudah tampan!" puji Karina sambil menghampiri Fin dan Devin. Karina berniat mengambil alih Devin dari gendongan Fin, namun Devin memilih turun dan jalan sendiri menuju mobil yang akan mengantar mereka menuju rumah Kiara.


"Sejak kapan kalian memiliki pakaian couple?" tanya Karina pada suaminya yang saat ini tengah menyetir.


"Hampir semua pakaian kita couple. Mommy saja yang tidak tau!" ucap Fin.


"Maksudnya, baju-baju baru Devin yang di beli saat pindah kesini semua modelnya sama dengan pakaian, Daddy?" tanya Karina heran.


"Heem kita memiliki selera yang sama" jawab Fin singkat.


'Ya ampun, selera yang membosankan. Putih, abu, navy, hitam.' batin Karina menyebutkan warna-warna yang selalu Fin dan Devin pakai. Karina tidak bertanya kembali dia hanya fokus melihat jalanan.


Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di kediaman megah keluarga Grahatama yang di tempati oleh Kiara.


Karina turun dengan menenteng goodie bag yang tadi di bawa Devin. Sementara Fin menggendong Devin dengan tangan lainnya seperti biasanya melilit posesif pada bahu Karina.


Beberapa box makanan, kue-kue, dan cemilan yang Karina buat sendiri khusus untuk Kiara di bawa oleh security yang tengah berjaga disana.


Kedatangan Fin, Karina dan Devin di sambut langsung oleh Kiara yang sudah menunggu kehadiran mereka.


Devin meminta turun dari gendongan sang Daddy dan langsung berlari menghampiri Ara yang tengah di gendong oleh Raiden. Ara tergelak bahagia melihat kedatangan kakak kesayangannya.


"Ya ampun, kalian nggak salah tempat acara kan?" tanya Kiara pada Fin dan Karina.


Karina mengerutkan keningnya bingung sementara Fin hanya berdecak mendengar pertanyaan adik satu-satunya itu.


"Maksudnya?" bingung Karina.


"Kalian habis dari pemakaman atau mau pergi ke pemakaman?" tanya Kiara kembali.


"Heh?" bingung Karina. Sementara Fin merotasi matanya karena paham dengan sindiran adiknya.


"Pakaian kalian kaya mau ngehadirin pemakaman, hitam semua!" jelas Kiara dengan wajah kesal yang di buat-buat.


"Tau sendiri Abang kamu kan bajunya gelap semua!" celetuk Karina.


"Ayo, langsung ke meja makan saja!" ajak Kiara pada Karina dan Fin.


Fin dan Karina berjalan mengikuti Kiara untuk pergi menuju ruang makan. Saat Karina dan Fin sampai di meja makan, seseorang memanggil Fin dengan nada manjanya seperti biasa.


"Abanggg..." panggil Queen yang sudah lebih dulu berada di ruang makan.


Karina menarik nafasnya kesal melihat Queen juga ada di kediaman Kiara. Mood Karina seketika rusak kembali.

__ADS_1


'Hadeuh, si rubah betina ngapain kesini juga sih?' tanya Karina dalam hatinya.


'Oke, kamu akan menyesali kedatangan kamu kesini Queen, tunggu saja!" ucap Karina dengan senyum liciknya yang dia berikan pada Queen. Dan Queen hanya membuang pandangannya, menganggap Karina tidak ada.


__ADS_2