
Fin menyembunyikan Karina di belakang tubuhnya. Dadanya naik turun menahan amarah.
"Mommy, masuk ke dalam!" perintah Fin dengan suara dinginnya.
"Tapi Dad..."
"Masuk!" bentak Fin tanpa ingin di bantah.
"Da... Dad," gagap Karina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Fin menatap tajam Karina dengan telunjuk yang terangkat menunjuk ruangan di lantai atas. Dia meminta Karina pergi ke lantai atas tempat sang anak dan sang adik berada.
Dengan tangis yang mulai pecah, Karina berlari dan pergi menuju lantai atas.
Fin kembali memfokuskan perhatiannya pada Kakek Bram. Kakek Bram sendiri masih duduk di tempat sebelumnya sambil bertumpang kaki dengan kedua tangan terlipat di atas dada.
Wajah Kakek Bram menengadah menatap Fin dengan senyum misteriusnya. Fin sendiri masih berdiri di hadapan pria tua itu dengan segunung amarah di benaknya, saat dia mendapati sang istri tengah menangis.
Wajah Fin mengeras dengan kedua tangan terkepal erat.
"Apa yang sudah Kakek lakukan pada istri, Abang?" tanya Fin dingin dengan suara bergetar yang tengah menahan amarahnya.
"Kakek?" tanya Kakek Bram.
Ya selama ini Bram memperkenalkan dirinya pada Karina dan sang cicit dengan sebutan Kakek Bram. Tidak ada yang memanggilnya dengan panggilan tersebut, selain mereka berdua.
"Kamu masih menganggap pria tua ini sebagai Kakek mu?" tanya Bram sinis dengan senyum yang terlihat getir.
Fin mengabaikan pertanyaan Bram. Dia masih marah pada sang Kakek karena menganggap Bram lah penyebab Karina menangis.
"Abang tanya sekali lagi, Kakek apakan istri Abang? Kenapa dia menangis? Apa Kakek mengancam Karina seperti saat Kakek mengancam, Abang?" Fin menekankan setiap pertanyaannya.
Bram kembali memberikan sebuah senyum sinis pada cucunya itu. Dia merubah posisinya dengan merentangkan kedua tangannya dan menyimpannya di atas punggung kursi taman.
"Yakin kalau istri kamu menangis gara-gara Kakek?" tanya Bram pada Fin.
"Memang siapa lagi kalau bukan Kakek?" tuduh Fin pada sang Kakek.
"Kakek sudah tau segalanya kan?" tanyanya kembali.
"Sejak kapan pria bodoh seperti kamu menjadi cucu dari Bram?" tanya Bram membuat Fin melebarkan kedua matanya saat dia mendengarnya.
Fin bergeming. Dia hanya bertanya dengan bahasa isyarat.
"Sudahlah! Tidak ada gunanya juga menjelaskan segalanya pada pria bodoh seperti kamu!"
"Kakek!" bentak Fin tidak terima di panggil bodoh oleh sang Kakek. Lagi pula, mana mungkin orang bodoh dapat memimpin perusahaan besar bahkan dia disegani lawan bisnisnya.
"Lantas, sebutan apa yang lebih pantas Kakek sematkan untuk kamu selain bodoh?" tanyanya arrogant.
"Suami macam apa yang tidak mengetahui perasaan istrinya?" tanya Bram kembali.
"Maksud Kakek?" tanya Fin semakin bingung dengan pertanyaan Kakeknya.
Bram bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan Fin.
"Apa maksud Kakek?" tanya Fin kembali sambil mempercepat langkahnya menyusul sang Kakek yang sudah beberapa langkah di depannya.
__ADS_1
Kedua tangan Bram, dia masukan ke dalam saku celananya. Dia masih bergeming tidak menjawab pertanyaan dari cucunya. Dia terus melangkah masuk untuk pergi menuju ruangan tempat Queen berada.
Fin sendiri masih terus mengekor di belakangnya.
"Apa kamu benar-benar tidak memiliki kepekaan, bahkan pada istrimu sendiri?" tanya Bram pada Fin. Dia terus melangkah menuju lantai atas ruang VVIP.
Fin semakin bingung dengan arah pembicaraan sang Kakek.
'Kenapa pembahasannya jadi tentang perempuan?' batin Fin.
"Tidak usah berkelit, Kakek. Langsung saja pada pokok pembicaraannya." kesal Fin seolah tengah di permainkan oleh sang Kakek.
"Ckk," decak Bram.
"Cari tahu saja sendiri!" ucapnya kemudian.
Fin tidak mau ambil pusing. Dia masih harus mencari tahu seberapa banyak sang Kakek mengetahui tentang istri dan anaknya.
"Kakek, selama ini Kakek tau kan kalau Abang sudah menikah?" tanya Fin pada Bram.
"Hmm..." jawab Bram singkat.
"Apa Kakek tengah merencanakan sesuatu?" tanya Fin kembali.
"Kenapa Kakek diam saja saat mengetahuinya? Apa Kakek menunggu waktu yang tepat untuk memisahkan kami?" tanya Fin kembali.
Bram yang kesal mendengar ocehan cucunya, lantas menghentikan langkahnya kemudian berbalik sambil menatap Fin dengan kesal.
"Sejak kapan kamu jadi banyak bicara seperti sekarang, hem? Bukannya diantara yang lain, kamu yang paling pelit dalam bersuara?"
Fin memutar bola matanya jengah.
"Sifat yang mana yang kamu tau? Kita bahkan jarang bertemu. Menanyakan kabar pun rasanya kamu tidak pernah." jawab Kakek telak membuat Fin mengatupkan kembali mulutnya.
Dia sadar, apa yang baru saja Kakek sampaikan, memang seperti itu faktanya. Dia tidak pernah sekalipun menghubungi sang Kakek hanya untuk menanyakan kabarnya.
Bukan karena benci atau menganggap Kakek tidak penting, hanya saja banyak kekhawatiran dalam benak Fin, saat akan menghubungi sang Kakek. Perjodohan paksa yang Kakeknya lakukan di masa lalu, membuat Fin malas walau sekedar menanyakan kabar Bram sekalipun.
Namun, setelah Fin pikir kembali, dia tidak akan bertemu dengan sang istri dan sang anak tidak mungkin hadir, kalau dulu sang Kakek tidak memaksa Fin untuk menikah dengan jodoh yang sudah Kakek aturkan.
Fin kabur dari perjodohan dan akhirnya bertemu dengan Karina tidak lain karena sang Kakek lah yang membuat Fin berani untuk pergi dari rumah.
Mereka sampai di lantai atas tempat Queen dan Kiara berada. Bram masuk ke dalam ruangan dengan Fin yang mengekor di belakang.
"Ka... Kakek!" pekik Kiara kaget mengetahui kedatangan Kakeknya.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu?" tanya Bram pada Kiara.
"Apa kamu tidak senang, Kakek mu pulang?" lanjut Bram sambil terus berjalan menghampiri Kiara yang tengah duduk di atas kursi.
"Ck.. ckk... punya dua cucu, tapi tidak seorangpun yang mengharapkan kedatangan Kakek tua ini," ucapnya dengan raut sendunya.
"Bu... bukan begitu, Kakek..." sela Kiara sambil berjalan menghampiri Kakek Bram, kemudian memeluknya. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Kakeknya bersedih.
Bram menatap wajah Kiara kemudian mengelus kepala Kiara.
"Dimana cicit Kakek, hem?" tanyanya.
__ADS_1
"Di Singapura, Kek. Aku ke Indonesia tadinya mau jemput Kakak ipar dan De..."
"Kiara" bentak Fin tidak membiarkan Kiara mengucapkan nama anaknya di depan sang Kakek. Kiara mengatupkan mulutnya ketakutan mendengar ancaman Kakaknya.
"Kakek." lirih Queen yang baru saja membuka matanya.
"Kiara, kamu juga datang?" tanyanya pada Kiara. Kiara berjalan menghampiri Queen yang masih berada di atas sofa bed.
"Kiara, dimana Karina?" tanya Fin saat mendapati istrinya tidak ada di dalam ruangan tersebut.
Kiara menggelengkan kepalanya, tanda tidak mengetahui keberadaan sang Kakak ipar.
"Kiara, Mama... " lirih Queen mengalihkan perhatian Kiara dan Fin. Queen kembali menangisi kepergian sang Mama.
"Aku sekarang sendiri," lanjutnya di tengah isakan.
Kiara membawa Queen masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Queen penuh perhatian.
"Sudah Queen. Tante sudah tenang di sana," tunjuk Kiara ke atas.
"Dia sudah tidak sakit lagi. Tante sudah bahagia bertemu om di surga," ucap Kiara menghibur.
"Kamu tidak sendiri. Ada kita di sini," lanjut Kiara.
Bram menghampiri Queen kemudian memeluk nya.
"Benar kata Kiara. Kamu tidak sendiri. Bukankah ada Kakek yang tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri?" ucap Bram membuat Queen tersenyum lebar.
Kedatangan Kakek Bram merupakan berkah bagi Queen. Dia merasa mendapatkan lotre dengan kedatangannya tersebut, dimana akan ada yang membantunya dalam melancarkan niat untuk mendapatkan Fin.
"Ya, benar. Queen akan selalu jadi cucu kesayangan Kakek." ucapnya sambil tersenyum cerah.
"Syukurlah kalau kamu sudah mulai bisa tersenyum kembali," ucap Fin saat melihat Queen tersenyum seperti biasa lagi.
"Itu semua karena Abang," cicit Queen.
"Hem?" tanya Fin bingung.
"Abang, apa Kakak ipar sudah ketemu?" tanya Kiara menyadarkan kembali Fin, kalau istrinya saat ini tidak ada di sana.
"Oh, God!" pekik Fin.
Semua orang mengalihkan perhatiannya, saat pintu ruangan terbuka. Sosok mungil bermata zamrud muncul dari balik pintu tersebut.
"Daddy" panggil sang anak yang masuk bersama Bu Linda.
Fin mematung di tempatnya. Dia lupa meminta Bu Linda untuk membawa Devin pulang, agar sang anak tidak bertemu dengan Kakeknya. Namun semuanya sudah terlambat. Pikir Fin.
Devin mengedarkan pengelihatannya saat di rasa semua orang menatapnya dengan kaget. Mata zamrud nya, berhenti pada satu objek. Senyum dari kedua bibirnya tersungging, saat mata Devin menangkap sosok Kakek Bram berada di tengah-tengah keluarganya.
Devin berlari sambil memanggil nama seseorang.
"Kakek Bram..." teriaknya dan masuk ke dalam pelukan Bram.
Fin, Kiara dan Queen melebarkan matanya tidak percaya.
"Kakek Bram?" tanya Fin saat mendengar nama tersebut.
__ADS_1
"Jadi, selama ini...??" pekik Fin tidak percaya.