Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kena tipu.


__ADS_3

Dengan wajah menahan kesal pada akhirnya Fin tetap mengikuti Karina untuk masuk ke dalam hotel.


"Kenapa harus di hotel?" pikir Fin dalam hatinya.


Tidak jauh berbeda dengan Fin di sepanjang jalan menuju tempat pertemuannya, Karina pun memasang wajah cemberut. Dia malu dengan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan heran. Bagaimana tidak heran, Karina mengenakan setelan olahraga di padukan dengan Stiletto dan tas pesta yang berkilau.


Setelah keduanya berjalan di tengah keheningan, akhirnya mereka sampai di tempat yang menjadi tujuan Karina. Sebuah restoran mewah di lantai atas hotel.


Fin tersenyum kecil mentertawakan pikiran kotornya sendiri.


"Oh ... di sini," celetuk Fin membuat Karina menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ya! Menurut Daddy," Karina mengangkat jari kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Apa pantas memakai pakaian seperti ini saat masuk ke dalam?" tanya Karina sinis.


"Tidak masalah. Mommy datang dengan piyama pun tidak akan ada yang berani menegur Mommy," jawab Fin dengan santainya sambil melenggang pergi masuk ke dalam restoran.


"Huh..." Karina mengembuskan nafasnya secara kasar.


"Sendirinya tidak mau jalan beriringan. Daddy lebih memilih pergi tanpa Mommy," ucap Karina dengan wajah sendunya sambil menatap punggung Fin yang menjauh dari pintu masuk restoran.


Tidak ada cara lain. Karina harus tetap masuk dengan percaya diri. Lagi pula dia sudah sangat terlambat.


"Kenapa berhenti?" tanya Karina saat mendapati Fin berdiri di hadapannya


"Ayo!" ajak Fin sambil mengulurkan tangannya.


Wajah murung Karina dalam seketika berubah ceria. Apa yang dia pikirkan ternyata salah. Fin ternyata tidak malu dengan penampilan Karina yang aneh. Dia bahkan memberikan tangannya untuk Karina genggam.


Tidak menunggu lama, Karina menyambut uluran tangan Fin dengan senang hati.


Fin melepas genggaman tangannya, kemudian beralih merangkul pundak Karina dengan posesif sambil melemparkan pandangannya ke sembarang arah mencari keberadaan Alziko.


"Di sana," tunjuk Karina membuat perhatian Fin teralihkan.


Fin menengok ke arah tangan Karina menunjuk.


"Mereka..." ucap Fin saat melihat siapa yang Karina maksud.


"Ayo," Karina menarik tangan Fin untuk bergegas pergi menemui kedua orang yang ada di ujung restoran tersebut.

__ADS_1


"Bukannya makan malam dengan si..."


"Siapa?" tanya Karina memotong.


"Sudahlah!" jawab Fin dengan cepat.


'Kurang ajar si Renal!!' batin Fin mengumpat. Dia di tipu Renal. Semua skenario penembakan yang sudah Fin siapkan dari jauh-jauh hari pun gagal di lakukan.


Rencana awalnya, Fin ingin memulai hubungan baru dengan Karina dengan cara normal seperti yang pasangan-pasangan lain lakukan. Di mulai dari menyatakan cinta dengan cara yang romantis. Namun yang terjadi sekarang malah sebaliknya.


Fin menembak Karina dengan cara yang konyol dan terkesan memaksa. Tidak ada bunga ataupun musik romantis. Yang ada hanya sepinya suasana lift kantor. Fin bahkan tidak ingin mengingat kembali momen tersebut. Dia seperti pria bodoh yang arrogant, pikirnya. Semua gara-gara Renal, Renal mengacaukan rencana indahnya.


"Kiara, Eca!" panggil Karina saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi.


Fakta sebenarnya, Karina akan makan malam dengan Kiara dan Eca bukan dengan Alziko. Renal sengaja mengarang cerita begitu mendapat telepon dari Eca yang meminta izin untuk keluar rumah bersama Karina. Renal terlalu gemas dengan Fin yang di nilainya terlalu lamban dalam bertindak. Niat Renal memang baik. Namun niat baiknya lah juga yang pada akhirnya menghancurkan rencana-rencana indah yang sudah Fin susun dari jauh-jauh hari.


Eca bergegas berdiri untuk memberi salam. Sementara itu, Kiara langsung menyembunyikan wajahnya dengan buku menu begitu melihat Karina datang bersama Kakaknya.


"Astaga Kak Karina!" ucap Kiara sambil menurunkan buku menu yang dia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Please, jangan mengomentari kostum yang sedang aku pakai saat ini," jawab Karina dengan cepat seolah tau apa yang akan Kiara sampaikan.


Karina menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dan menyandarkan tubuhnya di sana.


"Tanya saja sama Abang kamu," jawab Karina lemas.


Kiara mengarahkan pandangannya pada Fin yang tengah membuka buku menu dengan wajah polosnya.


"Lagian, kenapa Abang ikut? Ini acara perempuan!" tanya Kiara pada sang Kakak.


"Kalau mau penampilan seperti ini, minimal ganti dulu Stiletto nya dengan sepatu biasa," lanjut Kiara mengasihani kakak iparnya. Kaira menatap kaki Karina dengan miris.


"Aku ngilu lihat Kakak jalan pakai itu," tunjuk nya pada kaki Karina.


"Se aneh apapun pakaiannya akan tetap terlihat cantik jika yang memakainya Kakak ipar kamu," jawab Fin dengan wajah santainya. Berbeda dengan Karina yang pipinya langsung merona saat Fin mengatakan itu.


"Kenapa Abang ikut?" tanya Kiara kembali.


"Kalau ikut memang kenapa?" Fin menutup buku menu kemudian memfokuskan pandangannya pada sang adik.


"Abang tidak mau terjadi sesuatu dengan Kakak ipar kamu makannya Abang ikut," dusta Fin.

__ADS_1


"Tampilan mereka normal-normal saja, tidak seheboh gaun yang Mommy pakai saat datang ke kantor tadi siang," celetuk Fin begitu melihat penampilan Eca dan Kiara.


"Hem?" bingung Kiara sambil menatap Karina.


"Entahlah, akhir-akhir ini Mommy jadi hobi memakai gaun bahkan saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah," jujur Karina pada akhirnya.


Fin menatap Karina. Ada rasa bersalah dalam diri Fin saat mengetahui yang sebenarnya. Dia bahkan meminta Karina mengganti pakaiannya secara paksa, tanpa tau alasannya.


Fin pikir, Karina berpenampilan seperti itu untuk bertemu dengan Alziko. Ternyata itu semua ulah dari jabang bayi yang sampai saat ini belum mereka ketahui jenis kelaminnya itu.


"Wah... jangan-jangan baby nya perempuan," celetuk Kiara sambil menaruh kedua tangannya di bawah dagu.


"Mau perempuan ataupun laki-laki yang terpenting baby dan Mommy nya sehat. Abang tidak mau nuntut ini itu. Dia hadir saja, Abang sudah sangat bersyukur," Ucap Fin sambil mengusap perut Karina dengan lembut.


Mata Karina berkaca-kaca mendengar apa yang mantan suaminya itu ucapkan. Dia terharu.


"Ya sudah, mumpung Abang di sini juga, kita langsung bahas saja acara minggu depannya," ucap Kiara memulai diskusi yang sudah ketiga wanita itu rencanakan. Saat membahas jenis kelamin sang bayi dia jadi ingat tujuan utamanya mengundang Karina untuk makan malam.


"Acara?" bingung Fin.


"Kandungan Kak Karina sebentar lagi masuk bulan ke delapan," jeda Kiara. Fin menyimak dengan seksama apa yang akan Kiara sampaikan padanya. Sementara Karina hanya diam dan menyerahkan segalanya pada Kiara.


"Kakek meminta aku untuk membuatkan Kak Karina acara gender reveal. Kakek ingin menggunakan momen tersebut untuk mengumpulkan keluarga dan kerabat baik dari keluarga Grahatama ataupun keluarga dari Kak Karina" jeda Kiara kembali. Fin masih terus menyimak sambil sesekali mengangguk membenarkan apa yang Kiara ucapkan.


Walaupun usia kehamilan Karina akan memasuki bulan ke delapan baik Karina ataupun Fin, mereka belum mengetahui jenis kelamin dari bayi yang Karina kandung.


Karina pernah meminta pada Dokter kandungannya untuk merahasiakan jenis kelamin sang anak sampai hari kelahiran sang anak tiba.


Namun, karena ini permintaan langsung dari sang Kakek pada akhirnya Karina mengalah. Kakek bahkan meminta Kiara untuk menyiapkan konsepnya.


Siang tadi Kiara mendatangi Dokter kandungan Karina bersama Eca dan meminta Dokter menuliskan jenis kelamin bayi dari sang Kakak ipar. Setelahnya dia serahkan amplop yang Kiara sendiri pun tidak tahu isinya itu kepada EO yang mengurus acara Karina nanti.


###########


Karina dan Fin saat ini tengah berada di dalam mobil. Setelah diskusi selesai, Fin pamit pulang lebih awal karena kasihan dengan Karina yang kakinya sudah mulai membengkak. Stiletto yang di pakai Karina tadi bahkan sudah di tanggalkan dan di ganti dengan sendal hotel. Fin menghubungi langsung manager hotel kemudian meminta sendal untuk di pakai Karina.


Saat ini Karina terlelap dengan kepala bersandar pada bahu Fin. Tangan sebelah kanan Fin menahan kepala Karina sambil sesekali mengusapnya. Sementara tangan sebelah kirinya sibuk memainkan telepon genggam. Dia tengah menghubungi seseorang untuk di mintai tolong.


"Renal, hubungi pihak Tiffany & Co! Minta mereka membuatkan dua cincin ekslusif untuk acara lamaran minggu depan!" perintah Fin tidak ingin di bantah.


Fin berencana melamar Karina di acara gender reveal nanti. Fin berharap ini akan menjadi momen bersejarah yang akan Karina kenang seumur hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2