Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Berani-beraninya dia mengacaukan segalanya.


__ADS_3

Dahi Karina berkerut bingung.


"Siapa? Kak Ziko?"


Fin bergeming. Untuk mendengar nama laki-laki itu saja, Fin cukup muak. Apalagi yang mengucapkan bibir seksi Karina. Rasa rasanya Fin ingin membungkam bibir stroberi mantan istrinya itu dengan mulutnya.


"Kenapa jadi bawa-bawa kak..."


Fin meraih tengkuk Karina kemudian membungkam mulut tipis Karina dengan bibirnya. Bibir Fin bergerak dengan kasar dan melahapnya dengan rakus.


Karina membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang di lakukan Fin. Dia masih mengingat setiap detail cumbuan yang di lakukan mantan suaminya itu.


"Apa arti dari cumbuan kasar ini?" pikir Karina sedikit melamun, di tengah sepak terjangnya Fin yang semakin membabi buta.


Tangan Fin yang awalnya memegang tengkuk Karina, kini beralih membelai benda lembut yang ukurannya semakin membesar sejak terakhir kali Fin memainkannya.


"Mmmmphh..." Karina melenguh di tengah lamunannya. Tanpa dia sadari, dia menikmati setiap remasan dan sentuhan yang di lakukan Fin pada benda kenyal miliknya.


Fin menyeringai. Dia mulai berani mengangkat sedikit kain yang menutupi bagian benda kenyal mantan istrinya. Namun, Karina menahannya dengan memegangi tangan Fin sambil menggelengkan kepalanya. Tidak ambil pusing dengan penolakan Karina, Fin kembali melanjutkan aksinya menjelajah bibir dan leher milik Karina. Aksinya lebih lembut dari pada sebelumnya.

__ADS_1


Ting... Lift yang di naiki keduanya terbuka di lantai paling atas tempat kantor Fin berada. Fin maupun Karina terhanyut dalam aksi panas yang Fin ciptakan sehingga tidak menyadari kalau pinti lift sudah terbuka.


"Astaga, Pak Fin!!" refleks Vera berteriak. Dia terkejut melihat pemandangan yang menyakiti mata itu tersaji di hadapannya.


Mendengar pekikan dari Vera dengan sekuat tenaga Karina mendorong tubuh tegap Fin, agar menjauh dari hadapannya.


"Mampus," gumam Vera pelan. Dia menundukkan kepalanya sambil terus memukul pelan bibirnya yang dia nilai telah lancang meneriaki atasannya.


Dengan tenang Fin keluar dari dalam lift seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya menatap Vera dengan tajam.


"M... maaf..." ucap Vera ketakutan.


"Jangan meminta maaf. Harusnya saya yang berterima kasih pada Mba Vera karena sudah menyelamatkan saya," sergah Karina membuat Fin melebarkan matanya tidak percaya mendengar apa yang mantan istrinya itu katakan.


Karina mengangguk membenarkan pertanyaan Fin.


"Sana..." ucap Karina sedikit berbisik meminta Vera untuk menjauh demi menghindari kemarahan dari Fin.


"Bukannya status kita berpacaran? Orang pacaran gak cium-ciuman ya…….. Aku gak mau ada Devin part dua," jawab Karina membuat Fin tergelak.

__ADS_1


"Sebelum Devin part dua hadir yang ini harus lahir dulu," jawab Fin sambil menunjuk perut buncit Karina. Tidak hanya itu, Fin mengucapkannya sambil menahan tawanya.


Karina memejamkan matanya sesaat. Bagaimana dia bisa melupakan anak yang saat ini tengah di kandungannya? Pikir Karina.


"Jangan tertawa!!" kesal Karina.


"Bukannya Mommy menikmati apa yang Daddy lakukan saat di dalam lift?" tanyanya pada Karina.


"Seperti ini," Fin memainkan lidahnya meniru apa yang Karina lakukan saat tengah berciuman dengan Fin.


"Daddy!!!" pekik Karina sambil memukul lengan berotot dari Fin.


"Jangan berlagak jadi korban, Mommy! Bukannya Mommy lebih ke tersangka utama?" tanya Fin sambil menunjuk bibirnya yang terluka karena gigitan dari Karina.


"Astagaaaa..." ucap Karina sambil berlalu memilih pergi meninggalkan Fin dengan segala kegilaannya.


Fin tersenyum geli setelah berhasil mengerjai ibu dari anak-anaknya itu.


"God... sepertinya aku sudah benar-benar gila!" ucap Fin selanjutnya.

__ADS_1


Fin berjalan menyusul Karina yang beberapa langkah berjalan di depannya.


"Vera, gaji kamu bulan ini saya potong! Berani-beraninya dia mengacaukan segalanya!" kesal Fin mengutuk sekretarisnya itu.


__ADS_2