Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Menertawakan Fin!


__ADS_3

Seminggu sudah Karina dan Fin menghabiskan waktu mereka di negara romantis, Prancis. Dengan waktu singkat tersebut, mereka berhasil mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di sana.


Seperti mengarungi Seine dengan kapal, mengunjungi Menara Eiffel, memasang gembok cinta di Jembatan Arts, dan Archeveche, mengunjungi taman Jardin du Luxemborg untuk berfoto.


Karina merasa seperti seorang ABG kembali, dengan apa yang dia dan suaminya lakukan beberapa hari terakhir ini. Dengan bebas mereka dapat berjalan sambil berpegangan tangan, berfoto bersama, bermesraan di jalanan, tanpa Karina takut dan khawatir akan ada orang lain yang mengenalinya atau paparazi yang memfotonya.


Malam tadi, Fin mengajak sang istri mengunjungi kawasan elite, yaitu Champ Elysees Di malam hari, cahaya lampu dan kendaraan yang beralu lalang


membuat tempat ini semakin memukau.


Champ Elysees merupakan destinasi mewah, yang menawarkan semuanya dalam area sepanjang kurang dari dua mil. Mulai dari butik-butik Eropa yang mewah, restoran kelas dunia, produk-produk desainer, tempat wisata bersejarah, hingga sisi kehidupan romantis di Paris.


Sepanjang jalan yang Karina dan Fin lalui dipenuhi dengan gedung penuh dekorasi. Namun tetap tujuan Fin saat ke Champ Elysees adalah toko brand kelas dunia


Melihat cara sang suami berbelanja dan membeli barang-barang mewah untuk kebutuhannya sendiri


membuat Karina bergidik ngeri. Fin cenderung membeli semua seri dari setiap model yang di sukai nya. Ya, dia lupa kalau sang suami seorang konglomerat yang hartanya tidak akan pernah habis.


Sepertinya Karina sudah terlalu lama hidup sebagai rakyat jelata, sehingga saat diajak berbelanja barang mewah, dia cenderung melihat harganya terlebih dahulu. Yang pada akhirnya sang suami lah yang berinisiatif memilihkan semuanya untuk Karina.


Hari ini, hari terakhir Karina dan Fin berlibur di Paris. Mereka memangkas waktu libur mereka yang pada rencana awalnya akan menghabiskan sepuluh hari di sana.


Siang ini, Fin sudah rapi dengan kemeja abu serta rambut yang di sisir rapi dengan memberikan sedikit sentuhan Pomade pada rambut hitamnya. Dia akan memimpin rapat melalui zoom call dengan karyawan nya untuk membahas beberapa hal penting perihal perusahaan.


Fin duduk sambil menatap laptop yang sudah mulai tersambung ke perusahaan nya. Tangan kanan dia kepalkan sebagai tumpuan dagu miliknya. Sementara tangan kirinya dia simpan di atas meja dengan jari tangan yang mengetuk-ngetuk meja membuat irama. Jangan tanyakan seperti apa wajahnya! Karena sudah pasti, wajahnya datar, dingin, tanpa ekspresi.


Fin mengadakan rapat, menyesuaikan waktu yang ada di Indonesia. Saat ini, di Indonesia sendiri, baru pukul delapan pagi sementara di tempat Fin sudah pukul satu siang. Kadang perbedaan waktu yang cukup jauh menyulitkan Fin dalam mengatur schedule untuk rapat. Para peserta rapat belum datang seluruhnya karena dalam pemberitahuan rapat baru akan dimulai pukul setengah sembilan pagi.

__ADS_1


"Dad, makan dulu!" ajak Karina yang tiba-tiba datang dari luar kamar membawa nampan berisi makan siang untuk suaminya. Fin bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengambil alih nampan yang sedang istrinya bawa. Fin membawa makan siang itu menuju balkon kamar mereka yang langsung berhadapan dengan Menara Eiffel.


"Daddy, mau kemana?" heran Karina melihat suaminya sudah rapi dengan kemejanya.


"Rapat!" jelasnya sambil membawa tubuh istrinya ke dalam pangkuannya.


"Zoom call?" tanya Karina kembali dan dijawab dengan anggukan tipis.


"God! Di saat liburan pun, dia selalu menomor satukan pekerjaannya!" lirih Karina dalam hati.


"Belum mulai?" tanya Karina kembali.


"Belum, Mom! Masih menyesuaikan jadwal mereka," jawabnya. Karina hanya mengangguk paham.


Fin menyendok nasi goreng yang ada di hadapannya kemudian menyuapkannya ke dalam mulut sang istri.


Fin hanya tersenyum gemas melihat pipi kembung istrinya. Tangan sebelah kirinya masih melilit posesif pada tubuh sang istri yang saat ini masih duduk di atas pangkuannya.


Karina masih memakai kaos putih oversize nya dengan celana hotpants yang hanya terlihat bagian ujungnya saja. Rambutnya di ikat sembarang dengan beberapa helai yang menjuntai ke bawah tidak terikat. Entah kenapa, Fin sangat menyukai saat sang istri sedang berpenampilan seperti itu.


Selanjutnya, Fin menyuapkan nasi goreng buatan istrinya tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Semenjak menikah, makanan yang dibuat oleh sang istri selalu jadi favoritnya.


Karina bangkit dari atas pangkuan sang suami.


"Dad, Mommy mandi dulu!" pamitnya pada Fin sambil mengelus dagu sang suami dengan lembut. Fin hanya tersenyum sebagai jawaban.


Fin pandangi tubuh sang istri yang menghilang masuk kembali ke dalam kamar. Kemudian Fin mulai fokus untuk menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


iPhone yang ada di dalam saku celananya berbunyi. Fin terima panggilan tersebut.


"Pak, para peserta telah siap untuk memulai rapat pagi ini!" ucap Vera sang sekretaris.


"Oke!" Jawabnya singkat sambil mematikan panggilannya dan masuk ke dalam kamar. Fin raih kacamata yang ada di atas nakes kemudian dia pakai dan duduk di depan laptop yang sudah di nyalakannya dari tadi.


Terlihat sudah banyak karyawan berkumpul di Aula untuk mengikuti rapat yang dia pimpin. Ada juga Renal dan Raiden yang duduk di kursi utama.


Fin mulai membuka rapat dengan beberapa kata sambutan. Jangan kalian pikir sambutan yang Fin berikan akan di sertai senyum ramah ataupun kata-kata sanjungan, tidak sama sekali! Seperti biasa, dia hanya memberikan wajah datar yang cenderung dingin kepada para peserta rapat pagi ini. Saat rapat sudah setengah jalan, tiba- tiba.


"Daddy, maaf! Mommy lupa membawa handuk!" teriak Karina dari dalam kamar mandi.


Tanpa menunggu lama Fin langsung bangkit dan membawa handuk yang istrinya minta. Beberapa peserta rapat secara diam-diam ada yang terkikik melihat bos mereka yang biasa mengendalikan dunia dengan kekuasaannya malah dikendalikan oleh istrinya sendiri.


Fin duduk menghadap laptop kembali. Dia melihat Renal yang menahan ketawanya dengan cara menutup mulutnya dengan tangan. Fin memberikan tatapan tajam padanya.


"Khem..." dehem Renal.


"Silahkan di lanjut, Pak!" ucapnya.


Saat Fin mulai berbicara kembali tiba- tiba.


"Dad, maaf ambilin baju Mommy!" cicit istrinya kembali sambil mengintip dari balik pintu kamar mandi. Fin bangkit kembali untuk membawa pakaian Karina.


"Ha... ha... ha..." Tawa Renal pecah di ikuti cicitan beberapa karyawan.


Karina mematung dengan tangan yang menutup mulutnya kaget. Karina tidak menyangka kalau rapat telah dimulai.

__ADS_1


__ADS_2