Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Aku harap kamu tidak menyesal...


__ADS_3

"Mommy," ucapnya kembali. Karina menahan nafas nya. Dia menundukkan kepalanya.


"Terima kasih atas segala dukungan yang Mommy berikan." ucap Fin melanjutkan kalimat dalam pidatonya. Karina mengangkat kepalanya menatap netra zamrud suaminya dalam.


"Untuk Devin anakku. Terima kasih sudah hadir!" lanjutnya membuat Karina berkaca-kaca saat mendengar nya.


Beberapa orang mulai berbisik membicarakan sosok istri dan anak dari seorang Fin Grahatama. Mereka mulai penasaran seperti apa istri dari CEO yang terkenal dingin itu.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Nisa heran melihat sahabat nya mengeluarkan air matanya.


Karina langsung menghapus buliran air mata yang tanpa sepengetahuan nya mengalir membasahi pipinya.


"Terharu saja mendengar apa yang bos dingin itu ucapkan." jawabnya.


"Ya, ternyata dia bisa seromantis itu. Aku kira mulut tajam nya itu hanya untuk melumpuhkan orang-orang." kelakar Nisa yang mendapatkan geplakan dari Karina di bagian pahanya.


Di kursi lain, Queen mematung dengan ribuan tanya di benaknya. Matanya sendiri tidak lepas dari Fin.


'Apa yang perempuan itu lakukan? Bisa- bisanya Abang berubah. Dia bilang apa tadi? Anakku? Tidak dapat di percaya!' ucapnya dalam hati.


########


Setelah kurang dari dua jam di habiskan untuk memperkenalan dan kilas balik tentang sejarah berdirinya perusahaan Grahatama Group ini, sekarang waktunya mereka menikmati pesta yang tengah berlangsung.


Para karyawan dan tamu undangan berbaur menjadi satu, Fin sendiri masih berkeliling untuk menyapa satu persatu tamu undangan yang hadir, di temani oleh Renal dan Raiden yang mengekor di belakang nya.


"Bro lihat! Istri mu jadi pusat perhatian dari para pengusaha yang datang!" ungkap Renal dengan sedikit berteriak karena suaranya tertutup musik yang menggema di seluruh ballroom tempat pesta di selenggarakan.


Fin menatap tajam Renal. Namun tak urung mengikuti arahan dari dagu Renal yang mengedik menunjukkan posisi Karina saat ini.


Benar saja. Ada beberapa pria muda yang tengah menatap istrinya dengan penuh kekaguman. Namun sejauh ini tidak ada yang berani mendekat karena Eca yang selalu membuat jarak dengan pria-pria tersebut.


Karina sendiri tidak menyadari kalau pesonanya telah menyihir seluruh orang. Dia dengan santainya mengelilingi stand makanan untuk memilih menu sebagai pengganjal perutnya.


"Eca, nikmati pestanya!" seru Karina pada asisten nya.


"Tapi, Bu..."


"Ssshh," desis Karina sambil melotot kan matanya.


"Tidak akan ada yang berani mengganggu, Eca! kesalnya.


Eca menuruti perintah sang majikan untuk santai sejenak. Namun naluri nya tetap bekerja. Secara otomatis matanya akan selalu waspada memperhatikan sekeliling nya.

__ADS_1


Queen sendiri tengah berbincang hangat bersama para pengusaha muda. Sesekali dia menebar pesona dan sedikit merayu dengan nada manjanya. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Fin.


Pesta dansa telah di mulai. Orang-orang yang sudah mendapatkan pasangan nya mulai turun menuju lantai dansa.


Karina sendiri masih berdiri menikmati minuman nya dengan tubuh yang dia goyangkan perlahan mengikuti musik yang menggema di ruangan itu.


Sementara Queen, saat ini tengah di kelilingi beberapa orang yang mengajak nya berdansa. Namun, dia menolak. Queen menunggu Fin yang menjemput nya dan mengajak nya turun ke lantai dansa.


Di tempat lain, ada Nisa dan Robert yang tengah berbincang.


"Pak, kenapa malah bengong disini?" tanya Nisa pada Robert yang tengah asik memperhatikan kecantikan Karina dari sebrang.


Robert mengerjap.


"Siapa yang bengong? elaknya.


"Ini tuh namanya sedang menikmati pesta, Lisa!" lanjut Robert menjelaskan.


"Pak, kita sudah bekerja di tempat yang sama selama tiga tahun," jedanya.


"Dan Bapak masih salah menyebut nama saya?! NI... SA bukan Lisa!" lanjutnya kesal.


Robert hanya nyengir melihat kekesalan bawahan nya di kantor.


"Oke Lisa, sorry!" ucapnya sambil mengangkat tangannya.


Robert semakin kencang mengeluarkan tawanya. Dia mengusap sudut matanya yang berair.


"Kenapa kamu malah disini? Nggak ada yang mau berdansa sama kamu?" lanjut Robert menggoda Nisa.


"Harusnya saya yang bertanya pada Bapak. Kenapa nggak maju ke depan? Apa saingannya terlalu berat?" Nisa membalikan pertanyaan nya.


"Wah, kamu meremehkan saya, ya?" tanya Robert.


Nisa mengedikkan bahunya.


"Kalau target sudah di tentukan, kenapa susah sekali untuk main kalau bukan nyali Bapak yang menciut karena harus berebut dengan sang CEO!"


"Waktunya belum pas, Lisa!" jawab Robert.


Nisa memutar bola matanya jengah.


"Lihatlah, dia masih menikmati pestanya." lanjut Robert menunjuk Karina yang tengah menggoyangkan badannya mengikuti iringan musik.

__ADS_1


Tidak hanya Robert yang tersihir oleh Karina. Hampir semua yang melihat Karina, tidak dapat memalingkan pandangan nya dari wajah cantiknya. Apalagi dengan tubuh nya yang bergerak anggun dengan senyum yang tidak lepas dari wajah nya.


Fin yang menyaksikan segalanya sudah mengepalkan kedua tanyanya erat dengan gigi yang saling gemerutuk melampiaskan kekesalan nya.


"Sabar, bro. Tahan emosi, ini acara besar perusahaan!" Renal mencoba mengingatkan saat matanya menangkap kekesalan di mata sahabatnya.


"Eh, itu si Cece kenapa sempoyongan?" gumam Renal saat melihat Eca bertingkah aneh di samping Karina.


"Siapa, Cece?" tanya Fin bingung.


"Itu, bodyguard nya istri mu." jawab Renal sambil menunjuk Eca yang tengah di gandeng keluar dari kerumunan oleh Karina.


Fin meraih telepon genggam nya dan menyambungkan nya pada nomor bodyguard bayangan nya.


"Tutup seluruh akses pintu keluar, kemudian cek CCTV seluruh area di hotel ini." perintah Fin pada bodyguard bayangan nya.


Fin dan Renal bergegas mengikuti Karina dan Eca tanpa membuat orang-orang di pesta curiga. Wajah dingin Fin dan wajah pecicilan dari Renal dapat mengelabui para tamu saat Fin keluar mengikuti sang istri.


"Eca, kamu kenapa?" tanya Karina panik melihat Eca yang kepanasan dengan wajah yang memerah. Mereka saat ini tengah berjalan menuju tempat yang lebih sepi.


"Mommy." panggil Fin.


"Daddy, Eca." panik Karina memeluk suaminya. Sementara Renal langsung meraih tubuh Eca untuk di bopongnya.


"Apa ada yang memberinya minuman?" tanya Fin saat melihat gelagat dari bodyguard sang istri.


"Ya, tadi ada seorang pria yang meminta Mommy meminum, minuman yang dia berikan. Katanya sebagai rasa hormat," jeda Karina menarik nafas saat menceritakan kembali apa yang terjadi sebelumnya.


"Sebelum Mommy meminumnya, Eca langsung mengambil dan meminum nya sedikit untuk menggantikan, Mommy." lanjut Karina menjelaskan.


"Apa perlu di bawa ke Dokter? Sepertinya Eca keracunan!" panik Karina.


"Renal, bawa pulang saja. Kalau sekiranya tidak memungkinkan kamu bawa dia ke lantai atas tempat biasa kamu tinggal kalau sedang di sini!" perintah Fin pelan.


"Ingat, jangan membuat hal yang akan kamu sesali di kemudian hari!" Fin mengingatkan Renal.


Renal bergegas membawa Eca menuju lantai atas hotel. Eca semakin bergerak agresif dengan tangan yang terus menyentuh bagian tubuh dari Renal.


"Cece, diam! Aku pria normal!" gerutu Renal mengingatkan.


"Pak, panas... " lirihnya mencoba melepaskan pakaiannya. Mereka saat ini sudah berada di dalam lift yang akan membawa mereka langsung menuju lantai khusus tempat Renal dan Fin biasa menginap.


"Pak, tolong!" lirihnya kembali. Eca menarik kepala Renal kemudian mendaratkan ciuman panas pada bibirnya.

__ADS_1


Renal membelalakan matanya. Namun tak urung si Cassanova itu terpancing dengan apa yang Eca lakukan. Sikap agresif namun terkesan maskulin yang Eca lakukan, benar-benar memancing sifat kelelakian nya.


"Aku harap kamu tidak menyesal saat tersadar esok hari." bisik Renal saat tiba di depan kamar tempat mereka akan menghabiskan malam.


__ADS_2