Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Jangan-jangan!


__ADS_3

Saat ini Fin tengah berdiri di depan sebuah pintu ruang rawat inap seseorang, Fin menarik nafasnya dalam sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut. Fin mengetuk pintu pelan, terdengar jawaban dari dalam ruangan tersebut, Fin masuk dengan disambut tetapan penuh tanya perempuan paruh baya yang tengah berbaring di atas ranjangnya.


Saat ini Fin sedang menemui Vina yang selama tiga tahun terakhir sudah merawat Karina dan Devin sang anak, Vina merupakan adik dari Sita mendiang Ibunya Karina.


Fin mendekat ke arah Bibi Vina kemudian membungkuk hormat, Bibi Vina mengerutkan keningnya bingung melihat seorang pria yang tidak dia kenal langsung membungkuk hormat padanya, namun tak urung Bibi Vina pun membalas dengan membungkukkan tubuhnya setelah dia mendudukkan bokongnya di atas ranjang.


Vina di pindahkan pagi tadi atas perintah Fin semalam, rencananya Fin akan meminta restu sang Bibi untuk menikahi Karina hari ini, karena tidak mungkin bagi Fin untuk meminta izin pada Agam Ayah dari Karina yang bahkan secara terang-terangan menolak Karina dan Anaknya.


Fin sedang menunggu kesempatan untuk membuat Agam menyesal sudah mengusir Karina bahkan tidak mau mengakui Devin sebagai cucunya.


"Maaf nak apakah sebelumnya kita saling kenal?" tanya Vina penuh tanya.


Fin tersenyum kemudian mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi yang tersedia di sebelah ranjang Vina.


"Sebelumnya perkenalkan saya Fin Grahatama, calon suami Karina" jelas Fin hati-hati.


Kening Bibi Vina semakin mengkerut, ya bingung dengan pernyataannya Fin.


"Calon suami? Karina yang Anda maksud? apa Karina keponakan saya?" tanya Bibi Vina memastikan.


"Ya Karina Grizelle Putri, keponakan Bibi satu-satunya" jawab Fin dengan fasih.


"Sebentar" ucap Bibi Vina mencoba mencerna segala keterkejutannya.


"Bukankah Karina baru putus kemarin dari kekasihnya? apa sebelumnya kalian sudah saling kenal?" tanya Vina hati-hati.


Fin mengangguk pelan.


"Ya, tepatnya tiga tahun yang lalu" jawabnya dengan nada rendah.


"Oh Tuhan! mata itu jangan bilang kalau kamu..." jerit Bibi Vina tidak kuasa meneruskan, dia hanya membekap mulut dengan kedua tangannya.


"Ya saya bagian dari masa lalu Karina yang dia lupakan" jawab Fin lirih.


"Bagaimana bisa kamu baru datang hari ini?" tanya Vina menatap Fin penuh kebencian.


"Apa kamu tahu seberapa mengerikannya perjalanan yang harus dia lalui untuk mempertahankan anak yang bahkan dia tidak ingat siapa Ayahnya?" tanya Vina penuh tekanan.

__ADS_1


Fin mengangguk pelan.


"Maaf" sesal Fin.


Fin beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap jendela besar untuk melihat keramaian dari atas ketinggian yang merupakan posisi favoritnya. Fin memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Saya sudah mencari Karina selama tiga tahun terakhir namun pencarian saya selalu tidak membuahkan hasil" jedanya.


"Akhirnya saat saya bertemu kembali dengan Karina di rumah sakit ini saya sudah memutuskan untuk memilikinya seumur hidup saya dengan menjadikan Karina sebagai istri saya lebih dari itu Devin alasan terbesar saya untuk tidak melepaskan Karina kembali dan membayar dosa-dosa saya di masa lalu" jelas Fin penuh keyakinan.


Bibi Vina masih mematung. Dia mencoba mencerna setiap kata yang Fin ucapkan.


"Apa Karina mengetahui kebenaran nya?" tanya Bibi Vina.


Fin menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia bahkan tidak mengingat saya" jelas Fin sambil menundukkan kepalanya.


"Lantas bagaimana dia bisa setuju untuk menikah dengan kamu?" tanya Vina kembali.


"Saya menggunakan uang saya agar dia mau menikah dengan saya!" jawab Fin jujur.


"Bibi baik-baik saja?" tanya Fin.


Bibi Vina mengangguk kemudian mencoba mengatur nafasnya kembali.


"Maaf Bi saya tidak punya pilihan lain, saya tidak bisa kehilangan mereka untuk kedua kalinya" jujur Fin. Bibi Vina dapat melihat ketulusan di mata Fin.


"Baiklah saya akan memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki segalanya tapi kalau kamu membuat Karina menangis saya tidak segan-segan untuk membawa dia pergi menjauh dari kamu" tegas Bibi Vina pada Fin.


Fin tersenyum kemudian memeluk Bibi Vina penuh syukur.


"Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Bibi" janji Fin pada Bibi dari calon istrinya.


##########


Saat ini Karina, Fin, Devin dan Renal sang asisten sekaligus sahabat Fin, tengah berada di dalam sebuah kantor urusan agama, Fin dan Karina sekarang sudah sah menyandang status sebagai suami istri.

__ADS_1


Fin tengah mendorong Karina yang duduk di atas kursi roda untuk keluar dan masuk ke dalam mobil sementara Devin tengah digandeng oleh Renal.


"Kalian akan pulang ke mana?" tanya Renal pada Karina dan Fin saat sudah sampai di depan mobil yang sedang terparkir.


"Rumah Sakit" jawab mereka kompak kemudian saling memandang satu sama lain setelahnya.


Renal tersenyum kecil melihat kecanggungan di antara Karina dan Fin.


"Jadi malam pertama kalian di rumah sakit?" goda Renal.


"RENAL!" bentak Fin pada sahabatnya tersebut sementara Karina menyembunyikan wajah yang memerah dengan cara menunduk.


"Kamu lihatlah dia sampai ketakutan" elak Renal mencoba menghindari kemarahan Fin, Fin menengok anaknya yang tampak bersembunyi di balik punggung Renal.


Fin berjongkok kemudian mencoba berbicara dengan Devin.


"Daddy sedang bercanda dengan uncle Renal, tidak benar-benar marah" jelas Fin pada Anaknya.


Devin tersenyum kemudian mengangguk paham, Devin juga menatap sang Ibu yang juga mencoba meyakinkan Devin bahwa apa yang dilakukan Fin hanya sekedar bercanda sementara Renal hanya terkikik geli melihat kepanikan Fin saat melihat Devin ketakutan.


"Jagoan kamu pulang sama uncle Renal, Daddy sama Mommy kamu nanti nyusul oke?" ajak Renal pada Devin, Devin mengangguk patuh tanpa banyak bicara dan mengeluh dia mengikuti Renal untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi khusus bayi.


"Kamu hati-hati! ingat yang kamu bawa penerus Grahatama Group, nyawanya lebih berharga dari nyawa kamu sendiri" tegas Fin.


"Ckk" decak Renal sambil masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan Devin dalam posisi aman. Renal kemudian memutar bola matanya jengah tanpa menjawab satupun pesan panjang lebar seorang Fin, mobil Renal pun menjauh dari parkiran kantor catatan sipil.


Fin bergegas menghampiri Karina yang masih duduk di atas kursi roda miliknya, Karina tidak mendengar obrolan antara Renal dan Fin karena posisi Karina cukup jauh dari mobil Renal.


Fin mendekat kemudian mengangkat tubuh ramping Karina untuk masuk ke dalam mobil sport miliknya, Fin memasang sabuk pengaman Karina kemudian dia mundur beberapa langkah.


Karina menatap Fin penuh tanya, saat ini Fin berdiri sambil tangannya berpegang pada pintu mobil, matanya naik turun menatap Karina, Karina yang di tatap seperti itu merasa risih.


"Kenapa?" tanya Karina.


"Apa ada yang salah?" tanya Karina kembali.


Fin menggeleng pelan kemudian dia berkata.

__ADS_1


"Kamu cantik hari ini" puji Fin yang membuat wajah Karina merona dalam seketika, setelah berkata demikian Fin menutup pintu dan masuk ke tempat dia akan mengemudi.


"Apa dia sedang mabuk atau dia menginginkan sesuatu? jangan-jangan malam ini..?" batin Karina panik.


__ADS_2