Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kelakuan Fin...


__ADS_3

Pagi-pagi para karyawan di Grahatama Group di sibukan dengan pemberitahuan rapat dadakan yang akan di adakan di Aula lantai atas perusahaan. Rapat itu sendiri, akan di pimpi oleh CEO secara langsung bukan melalui zoom call seperti 2 minggu terakhir. Setiap divisi diwajibkan hadir guna membahas hasil akhir persiapan ulang tahun perusahaan. Karina berjalan dengan langkah lebarnya saat jam menunjukan pukul setengah delapan pagi. Dia harus segera ke ruangan nya dan menyiapkan bahan rapat untuk divisinya.


Saat di lobi, Karina bertemu dengan Nisa yang bekerja satu ruangan dengannya.


"Karina" pekik Nisa, saat melihat Karina masuk bekerja kembali setelah sekian lama bertugas di kantor cabang pikir Nisa. Padahal kenyataannya beberapa pekan itu, Karina habiskan untuk melayani bos nya di atas ranjang. Bos yang juga suaminya.


Karina membalikan setengah badannya untuk menengok ke belakang. Bibirnya terangkat lebar saat di lihatnya sang sahabat satu-satunya tengah berlari ke arahnya.


"Nisa, miss you!" ucap Karina sambil membawa tubuh sahabatnya masuk ke dalam pelukan Karina.


"Me too!" jawabnya.


"Kamu, dua Minggu di pelosok... tapi kok malah semakin kinclong?" heran Nisa.


"Susah memang kalau sudah glowing dari lahir, mau se pelosok apapun tempatnya tetap tidak berpengaruh pada kulit kamu!" lanjut Nisa sambil merangkul Karina dan membawanya berjalan ke arah lift.


Karina yang mendengar pernyataan sahabatnya hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan nya.


"Woy, ada bos datang!" bisik Nisa pada Karina sambil menarik Karina untuk ke pinggir dan memberi jalan pada Fin untuk lewat. Karyawan yang ada di sana langsung menundukan tubuhya memberi hormat.


Fin yang melewati Karina langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik kemudian mengarahkan tatapan tajamnya pada Karina. Keningnya berkerut dengan mata hijau nya yang menyorot seperti meminta penjelasan.


Karyawan yang menyaksikan mata dingin yang tengah mengintimidasi Karina langsung diam mematung sambil berbisik satu sama lain membicarakan nasib Karina.


Fin berjalan dan berhenti tepat di hadapan Karina.


"P... Pak!" gugup Karina setelah melihat kembali mata dingin suaminya. Sudah dua minggu dia tidak melihat mata dingin itu.


Karina menundukan kepalanya. Bibir bagian bawah nya dia gigit dengan tangan yang saling meremas. Nisa sendiri hanya diam tanpa punya kuasa untuk membantu Karina.


"Kamu," tunjuknya pada wajah Karina. Suaranya serak dan berat.


"Saya tunggu di ruangan, sekarang!" perintahnya.


Fin berjalan kembali untuk masuk ke dalam lift khusus yang akan mengantarkan nya langsung menuju ruangan CEO. Karina sendiri masih mematung di tempatnya dengan bisikan-bisikan para karyawan yang secara terang-terangan mengasihani nya.


"Kamu tidak dengar, apa yang saya bilang?!" ucap suara dingin yang ternyata masih belum menutup pintu lift khusus yang di naikinya.

__ADS_1


Karina bergegas memencet tombol lift karyawan yang akan mengantarnya ke ruangan CEO.


"Kamu mau kemana?" tanyanya kembali.


Karina yang geram langsung mengarahkan tatapan sinis pada bos nya tersebut.


"Bukannya Bapak menyuruh saya bergegas?" tanyanya tanpa menjaga suaranya agar tetap rendah. Dia sudah terlalu kesal.


Para karyawan yang ada di sana termasuk Nisa membulatkan matanya melihat sisi lain dari Karina yang biasanya lemah lembut dan selalu menurut.


"Kamu naik lift ini, Grizelle!" ucapnya kembali dan berhasil menarik perhatian karyawan yang ada di sana.


Mereka saling berbisik mengasihani nasib Karina yang mungkin saja akan di pecat setelah dengan terang-terangan melawan bosnya itu.


Sementara Nisa mencoba menyemangati Karina dengan mengangkat sedikit tangannya yang terkepal. Karina menitipkan tas milik nya agar di bawa ke ruangan kerjanya oleh Nisa. Karina sendiri berjalan menuju lift eksekutif yang tengah menunggunya masuk.


Karina berdiri di belakang Fin. Keberaniannya yang tadi sempat muncul, dalam sesaat menjadi ciut kembali dan hanya dapat menundukan kepalanya dengan jari jemari yang saling meremas satu sama lain.


Lift yang mereka naiki hening. Baik Fin ataupun Karina tidak ada yang membuka pembicaraan. Karina angkat sedikit wajahnya untuk melihat apa yang sedang Fin lakukan dari pantulan kaca lift.


Karina segera menundukan kembali wajahnya saat mata Karina menangkap wajah dingin Fin yang tanpa ekspresi dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celananya.


"Vera, persiapkan materi untuk rapat hari ini. Kamu tidak perlu menunggu saya! Saya pastikan, sebelum pukul delapan saya sudah berada di Aula tempat rapat!" perintah pada sang sekertaris.


Karina masih mengekor di belakang Fin dan mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang di dominasi dengan warna krem dan putih itu. Kepalanya masih tertunduk.


"Aah..." pekik Karina saat kening nya membentur belakang punggung Fin yang secara tiba-tiba menghentikan langkah nya.


Karina mengusap keningnya yang kesakitan. Sementara Fin masih pada posisinya dengan kedua tangan yang dia simpan di atas pinggang.


Nafas Fin naik turun.


"Tidak ada yang ingin dijelaskan?" tanya Fin masih dengan posisi membelakangi Karina.


Karina mengerutkan keningnya bingung.


"A... apa?" tanya Karina gugup.

__ADS_1


"Apa kamu tidak merasa bersalah?" tanyanya kembali.


Karina menggeleng pelan. Namun percuma saja, Fin tidak dapat melihatnya.


"P... Pak," panggil nya kembali dengan tangan nya menepuk pundak Fin pelan.


Fin membalikan tubuhnya.


"Jadi, pulang tanpa memberi kabar," jedanya menarik nafas.


"Tiba-tiba, masuk bekerja kembali, menurut Mommy itu bukan sebuah kesalahan?" tanyanya menggunakan kembali panggilan sehari-hari nya.


"I... itu, kemarin" gagapnya mencoba menjelaskan namun sia-sia. Bibirnya sudah Fin lahap dengan rakusnya Fin menyalurkan seluruh rindunya yang empat hari terakhir tidak bertemu dengan istrinya. Karina terhanyut dalam permainan Fin.


Tangan Fin mulai kemana-mana.


"Jangan, lima belas menit lagi rapat akan di mulai," lirih Karina mengingatkan namun dengan bibir yang menahan ******* karena tangan suaminya sudah kemana-mana.


"Daddy... ahh," desahnya saat tangan Fin semakin menjadi-jadi.


"Make it fast, Baby!" bisiknya pada telinga Karina sambil membalik tubuh sang istri agar menungging dengan perut bertumpu pada meja kerjanya.


Adrenalin Karina terpancing. Tanpa sadar dia menikmati sensasi lain dari bercinta yang terburu-buru tersebut. Hantaman kenikmatan yang tiada henti membuat dua manusia di dalam kantor yang sepi itu saling melempar erangan dan ******* sampai mereka berdua benar-benar mendapatkan puncaknya di menit ke sepuluh percintaan mereka.


Setelahnya Karina mengambil tisu yang ada di atas meja kerja untuk membersihkan sisa percintaan yang ada di ujung milik suaminya.


Karina sendiri pergi ke kamar mandi ruangan tersebut karena tidak mungkin hanya membersihkannya dengan tisu, bisa-bisa di tengah rapat cairan itu keluar kembali. Selain itu dia juga merapikan penampilan nya yang cukup berantakan.


Fin menghampiri Karina yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan gerakan tiba-tiba.


"Cup...cup..." Fin memberi kecupan kuat di bagian leher Karina dan meninggalkan dua tanda cinta di tempat yang terekspos itu.


"Ayo, rapat akan di mulai kurang dari dua menit lagi!" ucapnya dengan wajah datar dan mulai mengaktifkan kembali sifat arrogant nya sebagai seorang pemimpin.


"Tapi ini..." tunjuk Karina pada bekas kiss mark yang jelas terlihat di leher depannya yang mulus.


"Kamu tau kan konsekuensi nya kalau kamu terlambat?" tanya Fin kembali yang sudah berada di ambang pintu keluar.

__ADS_1


"Dan itu, hukuman untuk kamu!" lanjutnya kemudian menutup pintu ruangan nya.


Karina mematung dengan mulut menganga tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya.


__ADS_2