
Karina yang seakan bisa membaca maksud dari Queen menatap balik Queen dengan tatapan tajam. Karina mengeratkan pelukan nya pada pinggang sang suami.
Fin yang merasa pelukan istri nya itu mengerat menundukkan kepala nya menatap sang istri.
"Mommy kenapa?" tanya Fin lembut. Tangan Fin mengusap kepala Karina.
Queen mendelik tidak suka dengan apa yang Fin lakukan pada Karina. Dia mengepalkan kedua tangan nya dengan rahang yang mengerat ketat menahan kekesalan nya.
"Mommy hanya pusing, Dad!" jawab Karina sambil tersenyum agar suami nya tidak panik.
"Queen, Abang duluan ya! Sepertinya Karina membutuhkan waktu untuk beristirahat." terang nya pada Queen.
Queen belum menjawab. Dia masih mematung menyaksikan bagaimana seorang Fin yang terkenal dengan keahlian nya mengendalikan orang lain justru malah di kendalikan oleh istri nya sendiri.
Queen tidak habis pikir dengan perubahan yang terjadi pada pria yang diam-diam di cintainya itu.
"Mari, Mba!" ucap Karina sedikit menunduk dan tidak lupa memberi Queen sebuah senyum tengil meremehkan.
Karina dan Fin melanjutkan perjalanan nya menuju lantai atas kamar VVIP tempat sang Bibi di rawat.
'What? Mba? Sialan! Dia manggil aku, Mba? Kurang ajar!' pekik Queen sambil mengumpat dalam hati. Pasalnya Karina dan Fin baru beberapa langkah pergi dari hadapan Queen.
"Kamu remehin aku, Karina!" desis nya pelan.
"Abang!" panggil Queen kembali.
Fin dan Karina menghentikan langkah nya kembali kemudian menengok ke arah Queen. Karina mengerutkan dahi nya dengan mata mendelik tidak suka pada model berusia tiga puluh tahun tersebut.
"Abang, Mama di rawat di sini dia mau bertemu sama, Abang!" lirih Queen dengan wajah yang menyedihkan.
"Tante Nada masuk rumah sakit?" tanya Fin yang di jawab anggukan oleh Queen.
"Nanti Abang sempatkan untuk mampir. Kamu kasih tahu saja dimana ruangan nya." jawab Fin.
Queen merekahkan bibir nya tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Fin. Dia menatap Karina seolah-olah sedang berkata.
"Walaupun kamu istrinya, tapi tetap aku yang jadi kesayangan nya!"
Sejak kecil Fin memang sangat memanjakan Queen. Selain dia sudah di anggap seperti adik nya sediri, Queen pun saat kecil sering sakit-sakitan sehingga Nada, Ibu dari Queen sering menitipkan Queen pada Fin ataupun Renal.
"Yuk, Dad!" ajak Karina pada suami nya.
##########
"Bibi!" pekik Karina dari ambang pintu masuk.
Bi Vina menoleh ke arah datang nya suara. Dari bibirnya tersungging senyuman saat di lihatnya sang keponakan datang bersama suami nya.
Karina sedikit berlari menghampiri sang Bibi.
"Mommy, hati-hati!" ucap Fin saat melihat istri nya berlari.
Karina masuk ke dalam pelukan sang Bibi melepaskan rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. Fin menjulurkan tangan nya kemudian mencium punggung tangan Bi Vina.
__ADS_1
"Bibi sudah siap untuk pulang?" tanya Karina pada Bibi nya.
"Bibi sudah berkemas tinggal berangkat." Bi Vina membawa Karina dan Fin untuk duduk di atas sofa depan televisi ruangan nya.
"Bagaimana keadaan Bibi?" tanya Fin pada Bi Vina. Fin membawa tubuh istri nya untuk berbaring di atas paha nya.
"Aaaahh" pekik Karina kaget saat tiba-tiba bahu nya di tarik ke bawah dan kepala nya di tempatkan pada paha Fin.
Bi Vina yang menyaksikan kelakuan Fin dan Karina hanya menggeleng pelan sambil tersenyum penuh syukur. Dia bersyukur keponakan nya mendapatkan suami sebaik Fin.
"Mommy tidur dulu! Tujuan perjalanan kita masih banyak, jadi lebih baik Mommy istirahat untuk mengembalikan tenaga, Mommy!" jelas Fin pada istri nya.
Karina mengangguk menyetujui saran dari suami nya. Jika Karina pikir kembali, apa yang di katakan suaminya memang benar. Karina harus mengistirahatkan tubuh nya apalagi dia merasakan letih dan lesu efek dari darah Karina yang di sedot untuk di simpan di bank darah hari ini.
"Kalian dari bank darah?" tanya Bi Vina pada keduanya.
"Ya, Bi." jawab Fin sambil tangan nya mengelus kening istri nya yang mulai memejamkan matanya.
"Bagaimana keadaan Bibi?" tanya Fin menanyakan kembali kondisi Bibinya.
"Berkat pertolongan dari kamu, Bibi sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya!" jawab Bi Vina penuh syukur.
"Sudah kewajiban saya untuk membantu, Bibi!" jawab Fin.
"Devin kemana?" tanya Bi Vina menyadari ketidakhadiran keponakan nya.
"Devin pergi ke kebun binatang bersama, Renal. Setelah mengantar Bibi, kami akan kesana untuk menyusulnya." jelas Fin pada Bibinya.
"Bagaimana perkembangan nya?" bisik Bi Vina.
Fin menggeleng pelan dengan senyuman getir tercetak pada bibir nya.
"Masih seperti sebelum nya. Karina belum mengingat masa lalunya." jelasnya berbisik.
"Dengan pergi di Melbourne pun tidak membantu sama sekali. Dia bahkan menolak untuk bertemu dengan ahli neurology di sana." lanjutnya menceritakan segalanya.
"Huushh..." Bi Vina menghembuskan nafas nya berat. Dia ikut merasakan apa yang Fin rasakan. Namun dia juga cukup mengerti dengan keputusan keponakan nya untuk menolak permintaan suami nya mengunjungi ahli neurology terbaik di sana.
"Saat ini, kita hanya bisa menunggu. Menunggu keajaiban datang dan mengembalikan setiap keping ingatan dari masa lalunya." ucap Bik Vina mencoba menguatkan Fin.
"Ya, untuk saat ini saya hanya bisa bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan saya kembali dengan wanita cantik ini." syukurnya sambil mengelus pipi istri nya.
Fin menggendong tubuh istri nya untuk di pindahkan ke atas ranjang tempat tidur yang biasa sang Bibi tempati.
Fin pamit pada Bi Vina untuk menemui Ibu dari Queen di ruangan yang jaraknya tidak jauh dari tempat Bi Vina di rawat selama ini
############
Di kebun binatang sendiri Renal tengah sibuk menggendong Devin di atas pundak nya yang di ikuti Eca dan Bu Linda di belakangnya.
"Boy, mau bertemu sodara kamu dulu?" tanya Renal pada Devin.
"Ala?" tanya Devin menggemaskan.
__ADS_1
"Kok Ara? Sini Uncle kasih tau yang mana sodara kamu," Renal membawa Devin menuju tempat dari orang utan.
"Tulun." pinta Devin pada Renal. Renal menurunkan nya dan menaikan nya pada stroller yang di bawa Eca.
"Tuh, sodara kamu." tunjuk Renal pada anak orang utan yang tengah menyusu pada induknya.
"Itu, codala ku?" tanya Devin polos yang menghasilkan tawa dari Renal. Eca sendiri mendelik tajam menatap dengan mata menyipit mengintimidasi Renal.
Ting...
Sebuah pesan masuk ke dalam telepon genggam milik Eca. Pesan dari seseorang bertuliskan.
"My Super Hero"
"Oh, God!" pekiknya saat membuka pesan berisi foto dirinya dan Renal yang tengah jalan beriringan dengan tulisan.
"Kalian cocok. Tahun depan sepertinya bisa!"
Eca menjauh beberapa langkah untuk menghubungi Ayah nya. Saat tersambung dia langsung mengomelinya.
"Papi!" pekiknya.
"Siapa lagi yang Papi tempatkan untuk memata-matai, ku?" tanya nya dengan kesal.
"Papi jangan berharap aku sama dia, pada nyatanya kita tidak akan pernah bisa untuk bersama. Kita terlalu berbeda dari berbagai hal termasuk selera. Oke? Stop berharap!" cerocos Eca tanpa memberi kesempatan sang Papi untuk menjawab. Eca langsung mematikan panggilan nya.
Renal menatap Eca dengan heran.
"Siapa? tanyanya.
"Kenapa marah-marah?" tanya Renal kembali.
"Bukan urusan, Bapak!" jawabnya jutek.
Renal tidak mengetahui apa yang di bicarakan Eca dengan orang yang di hubunginya karena mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Italia.
##########
Fin masih berada di ruangan Nada, Ibu dari Queen. Mereka masih mengobrol bernostalgia menceritakan masa lalu.
Queen sendiri saat ini sedang pergi ke lantai bawah bertemu dengan manager nya.
"Fin," lirih Nada.
"Apa Tante bisa meminta sesuatu?" tanyanya.
"Apa Tante?" tanya Fin.
"Tante, titip Queen," pintanya sambil menggenggam tangan Fin.
Saat Fin akan menjawab permintaan dari Nada tiba-tiba seseorang datang.
"Daddy!" panggil seseorang dari balik pintu masuk ruangan Nada. Saat ini Karina tengah masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1