
Rombongan yang membawa putra mahkota telah tiba di Australia. Mereka menghabiskan tujuh jam perjalanan untuk sampai di sana.
Eca menggendong Devin yang masih terlelap dalam kursinya. Renal yang melihatnya segera menghampiri dan mengambil alih tubuh mungil sang putra mahkota untuk dia gendong.
Apa yang di lakukan Renal tidak lepas dari pengawasan mata tajam seorang Clarke. Bahkan apa yang di lakukan Renal membuat sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas.
Saat mata Renal dan Eca bertemu, tiba-tiba suasana mendadak menjadi canggung. Semua ini gara-gara Tuan Alexander yang melontarkan leluconnya pada Eca dan mengatakan bahwa Renal cocok di jadikan sebagai menantu.
Ya, Renal menganggap apa yang Tuan Alexander katakan hanya sebagai lelucon. Mana mungkin seorang ketua mafia yang merupakan pemimpin bagi dunia hitam berniat menjadikan seorang Renal yang bahkan takut pada seekor anjing sebagai menantunya. Sangat tidak mungkin pikirnya.
Saat mereka turun dari atas pesawat tampak Fin tengah menunggu sambil menyandarkan tubuh atletis nya yang jangkung pada mobil yang dia bawa dengan kedua tangan yang dia lipat di atas dada.
Ingin rasanya Renal berlari dan menerjang tubuh sahabatnya tersebut sebagai ungkapan kerinduan nya pada Fin. Namun gengsi menguasai dirinya.
Renal tidak terbiasa berpisah lama dengan Fin. Renal sudah seperti bayangannya Fin. Dia selalu mengikuti Fin kemanapun dia pergi. Karena kepergian Fin biasanya untuk mengurus bisnis bersamanya.
Fin berjalan mendekat ke arah tangga, pintu keluar pesawat. Dia sedikit mengangkat sudut bibirnya saat melihat sang anak yang meringkuk di dalam pelukan Renal.
Fin sudah sangat merindukan jagoan kecilnya. Dia merindukan celotehan-celotehan sang anak yang selalu bertanya tentang apa saja yang ingin di ketahui nya. Devin termasuk anak yang kritis di usianya yang masih berada di angka dua.
Eca dan Tuan Alexander membungkuk hormat bagaimana pun Fin merupakan atasan Eca dan partner bisnis bagi Tuan Alexander.
Fin membungkukkan badannya kembali sebagai jawaban dan memberikan sedikit senyumnya pada Tuan Alexander sebagai tanda terima kasihnya karena sudah mengantarkan sang anak dengan selamat.
Renal berdiri di hadapan Fin. Dia mengepalkan tangannya ke arah Fin dan di balas hal yang sama oleh Fin, sebagai ciri khas setiap kali mereka bertemu.
Fin segera membawa tubuh mungil sang anak dari gendongan sahabatnya. Devin langsung melesakan kepalanya masuk ke dalam leher sang Daddy dengan kedua tangan yang ikut melilit di sana.
"Daddy...." panggilnya lirih. Renal mendongak sedikit membungkukkan punggungnya untuk mengintip sang keponakan yang terkulai di bahu sang Ayah.
"Kok tau kamu yang gendong?" tanya Renal.
"Matanya padahal masih merem," lanjut Renal bingung.
"Parfum ku!" jawab Fin singkat.
__ADS_1
Ya, Devin tahu kalau yang menggendongnya adalah sang Daddy dari parfum yang Daddy nya pakai.
"Keren, anak mu! Parfum Bapaknya aja, dia sampai hafal!" jujur Renal.
Fin hanya menyunggingkan sedikit senyum arrogant nya.
"Kan udah aku bilang jangan samakan kemampuan nya dengan kemampuan mu saat kamu seumuran sama, Devin!" ucapnya sombong.
Renal merotasi bola matanya.
"Kurang ajar!" hardiknya.
"Language, please!" ucap Fin pada Renal saat mendengar dia memaki. Dia tidak ingin Devin mendengar kata-kata kasar yang Uncle nya keluarkan kemudian dia mengikutinya. Renal sendiri hanya nyengir dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Fin masuk ke dalam mobil di ikuti Renal yang duduk di bagian samping kemudi. Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil yang tengah di naiki Fin. Fin menurunkan sedikit jendela mobilnya.
"Kenapa?" tanya Fin pada Eca.
"Maaf Pak, sebaiknya Aden sama saya. Tidak di sarankan Bapak dan Aden berada dalam satu kendaraan!" lanjutnya.
"Kamu masuk saja biar saya yang naik mobil lain bersama, Tuan Alexander." Fin keluar dari dalam mobil yang sudah di naikinya. Tampak Devin yang sudah berbaring di jok mobil.
Mobil yang di naiki sang anak pergi menuju alamat yang sudah Fin beritahukan kepada Renal.
Fin naik ke dalam mobil yang dia siapkan sebelumnya untuk Tuan Alexander. Dia bergabung bersama Tuan Alexander di jok belakang
"Pasti bahagia mempunyai anak secerdas dia!" ucap Tuan Alexander secara tiba-tiba sambil matanya menerawang mobil yang berjalan menjauh dari Bandara.
"Ya, saya bersyukur dia di besarkan dan di didik dengan sangat baik oleh, Ibunya." jawab Fin sambil tersenyum membayangkan wajah cantik istrinya.
"Kamu tidak akan memberitahu, Tuan Bram tentang anak itu dan pernikahan kalian?" tanya Tuan Alexander menyebutkan nama Kakek dari Fin.
"Untuk saat ini sepertinya saya tidak akan memberitahu Kakek perihal Devin dan pernikahan saya..." jedanya.
"Bukannya anda tahu sendiri, bagaimana perangai Kakek saya?" tanya Fin pada Tuan Alexander.
__ADS_1
Saat ini mobil yang di tumpangi Fin dan Tuan Alexander berjalan mengikuti mobil yang di tumpangi Devin sang anak.
"Ya, sifat otoriter Kakek kamu, kadang membuat seseorang tidak berkutik. Bukannya sifat itu juga yang membuat kamu tiga tahun lalu kabur ke Negara ini? tanya Tuan Alexander.
"Ha... ha... "Tawa Fin pecah saat di ingatkan Tuan Alexander perihal kejadian tiga tahun lalu. Ya, Fin kabur ke Australia gara-gara akan di jodohkan oleh sang Kakek. Tuan Alexander yang di utus untuk mencari Fin pura-pura tidak dapat menemukannya sesuai permintaan Fin pada Tuan Clarke tersebut.
"Terima kasih sudah mau di ajak bekerjasama," ucapnya tulus.
"Andai saja waktu itu Tuan mengirim saya pulang sesuai permintaan Kakek mungkin saat ini Devin tidak akan pernah hadir." jelas Fin dengan ingatan yang menerawang masa lalunya.
Tuan Alexander membulatkan matanya, mendengar fakta yang baru saja diketahuinya.
"Jadi, Devin hadir saat kamu tengah kabur dari Kakek kamu?" tanya Tuan Alexander penasaran.
"Ya, saat itu kami bertemu di Negara ini. Makanya saya membawa dia kembali ke Negara ini untuk mengembalikan ingatannya..." jeda Fin.
"Walaupun dengan kemungkinan yang sangat kecil," lirihnya pelan.
"Jadi istri kamu hilang ingatan? Terus sekarang dia tidak tahu kalau kamu Ayah kandung dari anaknya?" tanya Tuan Alexander kembali.
Fin menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Oh, God!" ucap Tuan Alexander yang merasa miris dengan nasib yang Fin dan istrinya alami. Dia mengusap punggung kokoh Fin yang terlihat rapuh saat ini.
"Tunggu, apa sebulan yang lalu saat kamu meminta anak buah saya untuk mencari tahu tentang seseorang itu adalah istri kamu?" tanya Tuan Alexander saat ingat kalau Fin pernah meminta bantuan padanya agar anak buahnya mencari tahu seseorang bulan lalu.
"Ya, benar!" jawabnya.
"Satu bulan yang lalu kami bertemu kembali, setelah sebelumnya berpisah tiga tahun lamanya" lanjut Fin menceritakan sepenggal kisah masa lalunya pada Tuan Clarke.
Entah kenapa dia menemukan kenyamanan saat bercerita pada Tuan Alexander. Padahal, Tuan Alexander tidak memiliki ikatan apapun dengannya. Dia selalu mendengarkan setiap keluh kesah Fin tanpa menghakimi ataupun menginterupsi segala curhatannya.
Mobil mereka terus melaju membelah keramaian dan kepadatan kota petang ini. Kedatangan Devin yang sudah sangat istrinya rindukan akan menjadi kejutan indah untuknya.
Semoga dengan Fin membawa sang istri ke kota yang mempertemukan mereka dapat mengembalikan ingatannya tentang tiga tahun lalu. Semoga saja! Harap Fin dalam hati.
__ADS_1