Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Pria tua!


__ADS_3

"Hallo, Mom!"


"Dad!" lirih Karina pelan.


"Kenapa, Mom?" panik Fin saat mendengar suara lirih istrinya.


"De... Devin..." lirihnya pelan.


"Iya, Devin kenapa?" tanya Fin tidak sabar.


"Devin, Dad!" lirih Karina dengan tangis yang mulai pecah.


"Mommy ngomong! Devin kenapa?" tanya Fin dengan nada yang sedikit meninggi.


"Devin, hilang!" ucap Karina lirih di sela tangis nya.


"Apa kamu bilang???!!!" bentak Fin saat mendengar kabar kalau anaknya hilang.


Terdengar suara tangis Karina yang semakin kencang saat dengan tidak sadarnya Fin sudah membentaknya.


Fin mengusap wajahnya kasar dengan tangan sebelah kirinya yang bertolak pinggang. Fin mencoba meraih kewarasannya kembali.


"Daddy pulang sekarang! Mommy cari dulu di sekitar sana. Daddy juga akan kirim seseorang untuk mencari, Devin!"


Saat panggilan berakhir, Karina bangkit dari atas tanah kemudian mengusap air mata menggunakan punggung tangannya.


'Ya, benar kata, Daddy! Cari dengan seksama dulu, Karina! Tidak ada gunanya kamu menagis tanpa berbuat apa-apa!' Karina menyemangati dirinya sendiri.


Di tempat lain, Fin tengah gelisah. Dia meminta Renal membatalkan pertemuannya dengan investor besar dari Hongkong.


Tentu saja Renal menolak permintaan gila Fin. Ya, menurut Renal, permintaan untuk membatalkan meeting beraset milyaran itu merupakan permintaan gila.


Tapi, Fin tetaplah Fin. Mau kerugiannya sebesar apapun, kalau itu menyangkut hidup orang yang di cintai nya dia akan mengorbankan apapun untuk itu.


"Fin, kamu serius mau balik sekarang juga?" tanya Renal sedikit emosi.


"Apa yang lebih berharga dari anak ku, Renal? Harta?" tanya Fin dengan suara dinginnya.

__ADS_1


"Nggak! Itu semua nggak menjamin kebahagiaan, ku!" lanjut Fin dengan langkah tergesa nya masuk ke dalam lift untuk naik menuju lantai tertinggi gedung yang Fin datangi.


Renal tidak berkutik. Dia hanya mengikuti Fin dari belakang.


"Haish!!" kesal Renal. Dia merogoh telepon genggamnya kemudian menghubungi seseorang.


"Cece! Pergi dan temukan Devin. Kamu bisa pergi ke alamat yang aku kirim." perintah Renal pada istrinya yang baru sampai dini hari tadi.


Fin sendiri terlihat sibuk menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya. Saat ini Renal dan Fin tengah menunggu helikopter yang akan membawa mereka menuju Bandara.


Di tempat hilangnya Devin, Karina tengah mencarinya sekuat tenaga. Karina berlari kesana kemari mencari anaknya yang hilang entah kemana.


Bahkan suara Karina sudah hampir hilang saking seringnya dia berteriak memanggil nama sang anak.


Karina frustasi. Andai saja Karina tidak keras kepala dan lebih menurut dengan perintah suaminya untuk selalu pergi dengan di temani bodyguard mungkin hal mengerikan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Pikir Karina dalam hati.


Karina duduk diatas aspal dengan kedua lutut yang dia tekuk dan kepala yang dia sembunyikan ke dalamnya. Dunianya runtuh dalam seketika. Kehilangan anaknya adalah kehilangan terbesar dalam hidup Karina. Bahkan Karina tidak dapat melihat sebuah masa depan.


"Baby, harus kemana Mommy mencari kamu?" lirih Karina dengan terisak.


"Bu!" panggil seseorang.


Eca berjongkok. Dia bawa tubuh rapuh Karina masuk ke dalam pelukannya. Eca tidak bertanya. Dia hanya menunggu sampai Karina benar-benar puas menumpahkan kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran nya yang sejak tadi dia tahan seorang diri.


Setelah di rasa cukup, Karina bangkit dari pelukan Eca.


"Terima kasih sudah kembali. De... Devin..." ucapnya.


"Ya, Kak Renal sudah menjelaskan semuanya. Aden akan baik-baik saja. Kita akan segera menemukannya!" ucap Eca penuh keyakinan.


Karina dan Eca mulai berjalan menelusuri jalanan untuk menemukan sang Tuan muda Grahatama. Setelah beberapa langkah Eca menghentikan pencariannya. Dia mematung mengarahkan pandangannya ke segala arah. Kemudian tatapan berhenti pada sebuah toko bunga yang tadi sempat Karina datangi untuk membeli bunga.


"Bu, bukannya toko bunga itu tepat di sebrang mobil Ibu yang terparkir?" tanya Eca.


"Ya, Devin saya suruh untuk menunggu di dalam mobil, tapi saat kembali dia..." lanjutnya tidak kuasa melanjutkan.


"Oke, kita kesana sekarang!" Eca langsung berjalan dan masuk ke dalam toko bunga tersebut. Karina yang bingung dan tidak tau apa-apa hanya mengikuti kemana Eca akan membawanya. Yang terpenting bagi Karina dia dapat menemukan anaknya.

__ADS_1


Saat ini Eca, Karina beserta pemilik toko bunga tengah memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di depan toko tersebut. Saking paniknya, Karina sampai melupakan hal penting perihal CCTV.


Saat CCTV itu di putar tampak Devin yang keluar sendiri dari dalam mobil dan berjalan ke arah seorang Kakek yang akan menyeberang. Karina yang menyaksikan rekaman tersebut tidak kuasa menahan tangisnya. Tangan Karina mengusap layar komputer yang tengah menampilkan tubuh mungil sang anak.


Devin menuntun serta menyeberang kan Kakek tersebut. Namun, setelahnya Devin tidak terlihat kembali ke dalam mobil setelah menyeberangkan Kakek itu.


"Baby... kembali nak, Mommy disini!" lirih Karina masih menatap layar komputer.


"Bu, ayo kita cari lagi!" ajak Eca.


Karina bangkit dia kembali meyakinkan dirinya kalau Devin akan baik-baik saja.


"Devin anak pintar! Mommy yakin Devin tidak semudah itu mengikuti orang yang Devin anggap jahat." ucap Karina pelan.


Karina dan Eca keluar dari dalam toko bunga. Namun saat baru sampai luar pemilik toko datang menyusul.


"Bu, coba cari di taman belakang. Di belakang toko ini ada sebuh taman mungkin saja anak Ibu pergi ke sana!" ucapnya.


Karina dan Eca bergegas pergi menuju taman belakang yang di maksud.


Dan benar saja, di sana ada Devin anaknya yang tengah bermain ayunan yang di dorong oleh seorang pria tua.


Karina berlari meraih tubuh mungil anaknya dan membawa masuk ke dalam pelukannya. Tangis Karina pecah kembali. Dia meluapkan segala ketakutan dan kegelisahannya saat ini.


Devin mematung kemudian dia ikut menangis saat melihat sang Mommy menangis.


Eca meraih telepon genggamnya kemudian memberi info terkini kepada suaminya kalau Devin sudah ditemukan.


Kakek yang sejak tadi bersama Devin menghampiri Karina dan Devin yang saat ini masih menangis.


"Maaf, sudah membuat khawatir. Anak baik ini membantu Kakek tua ini menyebrang." ucapnya sopan.


Karina menghapus air matanya kemudian bangkit sambil membawa sang anak ke dalam gendongannya.


"Saya cukup ketakutan saat tau anak saya hilang, tapi setelah tau kalau anak saya telah membantu seseorang, saya cukup bangga padanya. Lain kali, Devin ijin Mommy dulu. Mommy takut," ucapnya sambil menatap mata sang anak.


Karina menatap pria tua itu dengan seksama kemudian dia berkata.

__ADS_1


"Saat anak saya lahir kemudian melihat warna matanya yang hijau saya sedikit berkecil hati karena sebelumnya belum pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki mata berwarna hijau seperti yang anak saya miliki. Saya takut anak saya akan jadi bahan Bullyan karena perbedaannya. Namun setelah bertemu suami saya dan anda hari ini saya yakin kalau orang bermata hijau itu banyak." ucapnya.


__ADS_2