
Suara bariton milik pria asing itu membuat seisi club menjadi hening bahkan DJ yang tadi hanya terbengong mulai turun dari panggungnya untuk memanggil pihak keamanan.
Renika masih membeku di tempatnya. Dia menatap lekat tubuh tegap menjulang tinggi yang telah menyelamatkan wajahnya dari tamparan Naufal tadi. Meski tubuh itu sekarang membelakanginya namun aura pria itu begitu kuat.
"Lepasin aku!" Naufal berteriak sembari berusaha menarik lepas tangannya dari cengkeraman pria bermanik zamrud tersebut. Begitu berhasil dan ingin melawan pria asing itu pandangannya bertemu dengan wajah sang pria sekejap membuat tubuhnya membeku.
"K...kamu"
Melihat Naufal mengenal pria tersebut, Renika menggeser tubuhnya sedikit untuk melihat pria yang telah membantunya.
Detik itu juga, Renika terkejut. Manik zamrud mempesona yang di lengkapi dengan rahang tegas dan tatapan mengintimidasi itu mampu memukau siapa saja. Akan tetapi ekspresi dingin yang terpasang di wajah rupawan tersebut mampu mematikan nyali bahkan orang terberani sekali pun.
"Pria macam apa yang mengangkat tangannya terhadap seorang perempuan?" tanya pria asing tersebut dengan tatapan dingin.
Mendengar kalimat itu, manik Renika pun berbinar.
'Wah... dia keren' Namun dengan cepat dia menggelengkan wajahnya berusaha kembali sadar.
'Fokus Renika, rencanamu belum selesai!!'
Renika pun langsung menatap ke arah Naufal.
Dia memasang wajah tak percaya dan mulai menuding sang mantan kekasih selagi air mata palsu menuruni wajahnya.
"Setelah berselingkuh kamu mau nampar aku?! Apa kamu masih bisa di anggap pria?!"
Kalimat Renika sekejap memicu reaksi dari para penonton sekeliling. Dan hal tersebut membuat Naufal menggertakkan giginya.
"Kamu!!"
Di mata Naufal tingkah Renika jelas adalah sebuah sandiwara untuk menghasut kerumunan. Dia mengambil langkah untuk menghampiri gadis itu tapi tubuh pria asing bermanik zamrud di sisi Renika langsung bergeser dan menghalangi langkah Naufal.
Karena tatapan dingin dan mengintimidasi si pria asing, Naufal tidak berani melakukan apa pun.
"Cih!" Pria itu mendecakkan lidah dan memutuskan untuk langsung berbalik pergi meninggalkan club. Dia tahu tetap di tempat itu hanya akan memperburuk keadaannya.
Sejumlah pengunjung ramai-ramai mencibir kepergian Naufal.
__ADS_1
"Beraninya sama cewek. Pas ada lawannya aja lari. Ckckck, malu-maluin!"
Di sisi lain, melihat kepergian Naufal, Renika mengepalkan tangannya dan berusaha mengejar.
"Naufal, urusan kita belum sele..."
Ucapan gadis itu terpaksa berhenti ketika dia merasakan sebuah genggaman pada tangannya. Renika pun menoleh ke belakang menatap sosok tampan yang sempat membantunya.
Dengan tatapan datarnya pria itu berkata.
"Tetaplah di sini." Nada bicaranya terdengar memerintah.
"Setelah drama LIVE Instagr*m mu itu, banyak reporter telah menunggumu di luar."
Renika melebarkan matanya terkejut. Tentu saja para reporter akan langsung menarget dirinya. Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting itu?
"Menangkap kekasih mu selagi LIVE, kamu jelas ingin menghancurkan reputasinya," ujar sang pria lagi membuat Renika sukses memandangnya dengan waspada.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Renika dengan tatapan mata menyelidik.
"Siapa kamu?"
Namun, niat sang pria terpaksa di urungkan kala Renika berseru.
"Oh!" Pria itu pun mengernyitkan kening, tak mengerti kenapa Renika bereaksi demikian.
"Kamu fans ku?" tebak gadis itu sembari tersenyum sumringah.
"Makasih, ya. Kamu udah perhatian banget!"
Pria bernetra zamrud itu mengerjapkan mata seakan tak percaya dengan apa yang tengah dia dengar.
"Aku..."
"Sudah, sudah, jangan malu-malu." Renika kembali memotong ucapan pria itu.
"Kamu udah ngebantuin aku kayak pahlawan tadi," pujinya sembari merogoh isi tasnya dan mengeluarkan ponsel cadangannya.
__ADS_1
"Ayo, sini!"
Tanpa menunggu jawaban sang pria, Renika yang sedang berada dalam puncak kesenangannya setelah membalas Naufal yang menjijikan itu menarik tangan pria itu agar mendekat. Tangannya melingkari pundak pria itu dan dia mendekatkan wajahnya ke wajah pria tersebut.
"Say cheese!"
KLIK!
"Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu mengangkat sebelah alisnya.
"Sebentar, aku posting ke Inst* Story dulu,"
"Untuk apa?" tanya pria itu singkat.
Mendengar pertanyaan tersebut, Renika menghentikan aktivitasnya sebelum kemudian menatap pria itu dengan bingung.
"Berterima kasih," jelasnya sembari memamerkan hasil unggahannya ke sosial media pada pria tersebut.
Memangnya apalagi yang di inginkan seorang fans dari idolanya? Padahal dia sudah sangat berbaik hati dengan melakukan selfie dan mengunggahnya di Inst* story miliknya, apa itu kurang?
"Ah, ya... tentu saja aku tidak akan berterima kasih hanya dengan ini." lanjut Renika.
"Bagaimana kalau besok kita makan siang bersama?" tawarnya dengan senyum manis, terlalu percaya bahwa itu yang di inginkan si pria.
Sesaat, pria itu kehilangan kata-katanya menghadapi sikap Renika. Dia mengerutkan keningnya.
"Aku sibuk," jawab pria kemudian.
"Sibuk??" heran Renika, nadanya sedikit naik.
"Hei, aku bahkan meluangkan waktu untukmu, apa kamu yakin mau menolak makan siang denganku?" cerocos Renika yang tidak terima niat baiknya di tolak.
Pria itu berjalan mundur kemudian menyandarkan tubuh tegapnya pada meja bar. Kedua tangannya tersimpan di dalam saku celana.
"Ada satu hal yang bisa kamu lakukan untuk ku."
Renika bersorak dalam hati. Itu dia, Renika sudah dapat menduganya. Tentu saja fansnya menginginkan sesuatu yang lebih, apalagi kesempatan bertemu dengannya semacam ini amat sangat jarang terjadi.
__ADS_1
"Apa? Katakan saja," tantang Renika.
"Bekerjalah untuk ku."