
Malam ini, Karina tengah terduduk diatas lantai kamar rumahnya. Karina duduk sambil menatap kopernya yang terbuka. Dia memandangi koper tersebut, kurang lebih sudah tiga puluh menit, namun belum ada satupun pakaian yang mengisi koper itu. Karina hanya memandanginya tanpa dia mau bergerak memindahkan isi lemari ke dalamnya.
"Heehh... " desahnya. Entah ******* ke berapa kali yang Karina keluarkan malam ini.
"Kenapa?" tanya pemilik suara serak yang tidak lain adalah suami dari si pemilik koper itu.
Karina membalikan setengah badannya untuk menengok ke arah Fin datang. Fin tengah berdiri di depan pintu masuk walk in closet dengan punggung yang dia sandarkan pada pintu kaca ruangan tersebut.
"Kenapa? Hem?" tanyanya lagi.
Karina mengalihkan pandangannya. Dia tidak bisa memandangi mata zamrud itu lebih lama lagi, agar Karina tidak masuk ke dalam pesona si pemiliknya.
"Terus saja pura-pura tidak mengerti!" gerutu Karina dalam hati.
Karina tersentak, saat tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Fin duduk di belakang tubuh Karina, dengan kedua kakinya dia tekuk, menempatkan tubuh sang istri, di tengah-tengah kaki miliknya.
Fin raih kepala istrinya untuk dia sandarkan pada dada bidang miliknya. Dagu Fin dia simpan di atas kepala Karina dengan kedua tangannya yang melingkar di atas dada mengunci kedua lengan milik istrinya.
"Mommy, kenapa?" tanyanya kembali.
Mulut Karina meniru pertanyaan Fin, namun dengan gerakan yang mengejek. Fin mencoba menahan tawanya saat melihat apa yang Karina lakukan itu terpantul dari kaca yang ada di ruangan tersebut. Karina tidak menyadari apa yang dilakukannya di lihat oleh Fin sehingga terus melakukan hal konyol tersebut.
"Mommy mau memasukan pakaian Mommy dulu, Dad!" ucap Karina mencoba ke luar dari kungkungan tangan kekar suaminya.
Fin menahannya dengan memeluk tubuh Karina semakin erat, kemudian melesakan kepalanya masuk ke sela-sela dari leher istrinya.
"Minta bantuan Eca saja, Mommy!" ucapnya dengan enteng.
"Mommy Nyonya disini!" lanjut Fin lagi.
"Karena Mommy, Nyonya Grahatama sekarang...." jedanya.
__ADS_1
"Apa Mommy bisa menggunakan hak veto, Mommy?" tanya Karina yang berhasil mendatangkan kerutan bingung pada kening suaminya
Fin melepaskan pelukannya, kemudian membawa tubuh Karina untuk berhadapan dengannya.
"Maksud, Mommy?" tanya Fin kebingungan. Kenapa istrinya membawa-bawa salah satu lembaga tinggi negara, ke dalam urusan rumah tangganya? Pikir Fin.
"Apa Mommy bisa membatalkan keputusan, Daddy?" cicit Karina sambil memainkan kuku-kuku jari tangannya.
"Oh, jadi dia sedang melobi, sekarang?" ucap Fin dalam hati.
"Tidak bisa, Mom! Itu sudah keputusan dari perusahaan!" jawab Fin tegas.
"Kan perusahaan punya kamu, Fin!" gerutu Karina dalam hatinya. Mana berani Karina ngata-ngatain bos sekaligus suaminya tersebut secara langsung, dihadapannya. Apalagi Karina sudah mengetahui bagaimana tempramental nya, sang suami.
"Ya sudah, Mommy berbenah dulu! Sebaiknya Daddy kembali ke dalam kamar!" Karina berdiri dari pelukan suaminya, kemudian berjalan menuju tempat pakaiannya tersimpan.
Karina mengisi koper tersebut dengan setelan kerja, baju tidur, dan baju ganti biasa. Setelah mengecek kembali perlengkapan yang akan di bawanya selama sepuluh hari, Karina kembali ke dalam kamar tidur untuk bergabung bersama suaminya.
Fin tampak sedang menyandarkan tubuhnya pada dashboard tempat tidur, dengan MacBook dihadapannya. Selalu pemandangan seperti itu yang Karina lihat sebelum dia meraih alam mimpinya.
Pukul sepuluh pagi, Karina sudah bersiap untuk keberangkatannya menuju anak cabang perusahaan Grahatama yang ada di pelosok Negeri. Devin sendiri sudah ada di rumah Kiara sejak pagi tadi, di antarkan oleh Fin yang kebetulan akan berangkat menuju kantornya pagi-pagi buta.
Karina dan Eca naik ke dalam mobil yang akan mengantarnya menuju Bandara. Setelah kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Bandara yang Karina tuju.
"Heehh," desah Karina saat turun dari atas mobil. Eca membawa barang-barang Karina, dibantu oleh Pak Deni, sopir pribadi Karina.
Karina mengedarkan pandangannya, meneliti ruangan tempat dia menunggu untuk mencari sosok suaminya.
"Ternyata dia benar-benar sibuk," batin Karina sedih.
"Memangnya apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini Karina?" tanya Karina pada diri sendiri.
__ADS_1
"Jangan berharap terlalu tinggi, kalian menikah hanya untuk keuntungan masing-masing. Kamu berhasil mengobati Bibi kamu, dan dia? Entahlah keuntungan apa yang sebenarnya dia cari dari menikahi seorang Ibu tunggal yang bahkan tidak tau siapa yang menghamilinya." batin Karina bermonolog sendiri.
"Ayo Bu, semua sudah siap. Sebentar lagi pesawat akan take off!" ucap Eca menyadarkan Karina dari lamunan nya.
"Kamu sudah check in?" tanya Karina pada pengawalnya sambil berjalan menuju pintu keberangkatan.
"Sudah Bu, ini boarding pass nya!"
Karina mengerutkan dahinya bingung saat sang pengawal pribadi tidak ikut masuk ke dalam bersamanya. Karina menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak ikut?" tanya Karina bingung. Soalnya, Eca sudah seperti bayangannya yang selalu mengikuti Karina kemanapun dia pergi.
"Tidak Bu, Bapak menyuruh saya untuk menjaga, Aden!" sebutannya pada Devin.
"Kan ada Bu Linda, Eca" kesal Karina yang mood nya sudah terlanjur kacau.
"Saya menjadi pengawal pribadi, Aden untuk sementara, Bu!" jelas Eca pada sang Nyonya.
"Ibu lagi, Ibu lagi!" gerutu Karina pada Eca yang di jawab.
"Maaf" oleh Eca.
Karina masuk untuk pengecekan terakhir, meninggalkan Eca yang masih berada di tempatnya memastikan sang Nyonya selamat sampai di dalam pesawat.
Karina membuka matanya saat sang pramugari membangunkan nya. Alangkah terkejutnya Karina, saat sang pramugari memberitahunya, kalau pesawat yang Karina tumpangi, akan transit terlebih dahulu di Schiphol Airport, Amsterdam.
Karina membelalakan matanya dengan jantung yang berpacu kencang. Apa dia salah naik pesawat? Pikirnya. Dia langsung tertidur nyenyak begitu pesawat take off
"Bukannya ini penerbangan domestik?" tanya Karina pada sang pramugari.
"Ini penerbangan internasional, Nyonya. Kita akan terbang menuju Paris, dan transit terlebih dahulu di Amsterdam." jelas pramugari tersebut dengan ramah.
__ADS_1
"Apa? Paris?" Pekik Karina dengan suara nyaringnya. Orang-orang yang masih ada di dalam pesawat menatap Karina dengan tatapan aneh dan heran. Bagaimana bisa seseorang tidak mengetahui tempat tujuan mereka, padahal sudah berada di dalam pesawat. Pikir orang-orang yang ada di dalam pesawat termasuk sang pramugari.
Karina tidak konsentrasi saat masuk Bandara karena mood nya sudah kacau terlebih dahulu, sehingga dia tidak menyadari kalau terminal yang dia masuki adalah untuk penerbangan internasional. Karina hanya mengikuti kemana Eca, pergi.