
Karina dan Fin saat ini tengah duduk di halaman belakang pondok yang Renal sewa. Mereka masih membisu. Tidak ada satupun dari keduanya yang membuka pembicaraan.
Renal sendiri saat ini mengajak Eca pergi untuk berkeliling. Dia sengaja meninggalkan Karina dan Fin untuk memberikan ruang bagi keduanya.
Karina tengah mengompres pipi Fin yang lebam menggunakan es batu. Renal melampiaskan kekesalannya selama ini dengan cara meninju wajah tampan Fin dengan sangat keras.
Sebenarnya, Renal belum puas. Namun, Karina melindungi Fin dengan cara memeluknya. Mau tidak mau Renal memilih untuk mengalah.
Fin mematung. Dia menatap Karina penuh rindu. Hampir satu bulan lamanya mereka tidak bertemu. Begitu banyak perubahan pada diri Karina. Perutnya membesar dengan begitu cepat. Namun, tubuh Karina sendiri semakin terlihat kurus.
Karina hanya bisa menunduk. Dia tidak kuasa menatap mata hijau mantan suaminya. Karina yakin begitu matanya bertemu dengan mata Fin tangisnya akan mulai pecah.
"Mommy..." panggil Fin sambil membelai wajah tirus Karina. Suara Fin bergetar. Batinnya sakit melihat fisik Karina yang terlihat jauh berbeda dari saat terakhir kali Fin bertemu dengannya.
"Maaf..." bisik Fin sambil menjatuhkan tubuhnya ke hadapan Karina. Fin memeluk Karina dengan erat. Dia sangat merindukan wangi tubuh dari perempuan yang sudah memberinya dua malaikat kecil itu.
"Maaf..." ulangnya kembali. Tubuhnya mulai bergetar karena tangisan.
Karina mengetatkan rahang dengan gigi yang saling gemerutuk menahan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Sambil memejamkan mata dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya. Kedua tangan Karina bahkan mengepal erat.
Fin bergerak turun dan berhenti tepat di hadapan perut Karina yang mulai membuncit.
"Aaaaaaaaaa..." Fin menangis sejadi-jadinya. Dia meluapkan emosinya sambil memeluk perut Karina.
Tangis itu terdengar begitu memilukan. Andai saja di sana ada orang lain selain mereka berdua sudah pasti orang tersebut dapat merasakan apa yang tengah Fin rasakan saat ini. Penyesalan dan rasa bersalah yang begitu mendalam.
Pada akhirnya, pertahanan Karina pun runtuh. Dia menangis sambil membekap mulutnya.
"Aaaaaaaa... maafkan Daddy... Daddy gagal menjadi seorang Ayah bagi kalian.." ucap Fin di tengah isak tangisnya.
Fin beberapa kali melabuhkan kecupan di atas perut Karina. Seakan mengerti apa yang di rasakan kedua orang tuanya, bayi dalam perut Karina pun ikut merespon dengan bergerak aktif membuat Karina meringis kesakitan.
Fin mengelus perut istrinya lembut. Dia masih terisak.
"Maaf, Daddy bahkan sudah gagal menjadi seorang suami! Daddy tidak bisa menjaga Mommy dengan baik."
Degh... Karina mematung.
'Apa Kak Fin tau tentang kecelakaan itu?' batin Karina.
"Kenapa Mommy begitu kurus?" tanyanya. Karina menghembuskan nafas leganya. Ternyata yang Fin maksud tidak menjaga dengan baik itu karena berat badan Karina yang turun drastis. Karina pikir, Fin tau tentang kecelakaannya. Karina berencana menyembunyikan tentang kecelakaan itu dari Fin. Dia tidak mau membebani Fin dengan masalah lain.
Fin memejamkan matanya.
"Daddy suami dan Ayah yang buruk. Devin memang pantas membenci, Daddy!" Fin menyalahkan dirinya sendiri. Dia ingat saat sang anak tidak mau di temui olehnya. Fin patah hati, sehingga memilih pergi untuk menenangkan pikirannya.
Saat tinggal di Swiss, Fin berusaha tegar dengan mencoba melupakan segala permasalahan hidupnya. Namun, saat bertemu dengan istrinya pertahanan itu runtuh. Sisi lemah yang berusaha Fin tutupi selama ini akhirnya terbuka di hadapan mantan istrinya.
__ADS_1
Fin bangkit dan duduk di samping Karina. Dia membersihkan sisa-sisa air mata menggunakan punggung tangannya.
"Dari mana Mommy tau kalau Daddy ada di sini?" tanya Fin penasaran.
"Apa selama ini Kakek terus mengirim orang-orangnya untuk mencari keberadaan, Daddy?" tanya Fin kembali.
Karina masih belum menjawab. Dia duduk sambil menatap Fin penuh rindu. Semua kesalahpahaman yang terjadi adalah salahnya. Karina tidak bisa memungkiri itu. Keputusannya yang terburu-buru pada akhirnya melukai semua orang. Karina hanya bisa meminta maaf untuk itu.
"Maaf," ucap Karina tiba-tiba. Dia belum menjawab pertanyaan dari Fin.
"Kenapa Mommy meminta maaf?" tanya Fin dengan tangan yang terus menggenggam tangan Karina seolah takut kehilangannya.
"Maaf, untuk kesalahpahaman selama ini. jawab Karina.
Fin melebarkan mata, setelahnya dia tersenyum hangat. Saat Karina mengatakan tentang kesalahpahaman beban berat yang ada di pundak Fin tiba-tiba menghilang.
"Sekarang Mommy percaya kan sama Daddy?" tanya Fin dengan wajah cerianya.
Karina mengangguk dengan wajah bersalahnya. Fin memegangi kedua pipi Karina kemudian dia bawa ke hadapannya.
"Walaupun sedikit terlambat tapi terima kasih sudah mempercayai, Daddy," tulus Fin sambil melabuhkan beberapa kecupan pada bibir Karina. Wajah Karina tiba-tiba merona karena malu.
"Terima kasih Tuhan..." ucap Fin dalam hatinya. Fin tidak pernah berpikir kalau hari ini akan datang.
Fin merebahkan tubuhnya dengan kepala yang dia simpan di atas paha Karina. Kepalanya miring berhadapan dengan perut buncit Karina.
"Mommy tau dari mana kalau Daddy pergi ke sini?" tanya Fin mengulang pertanyaannya. Dia penasaran dengan jawaban Karina. Tangan Fin sendiri terus bermain-main di area perut Karina. Menekan dengan sesekali mengelusnya.
Dada Karina berdetak kencang. Wajahnya pun memerah. Tanpa Fin sadari apa yang di lakukan nya membuat hasrat Karina terangsang.
Hormon ibu hamil sedang pada puncak-puncaknya. Sedikit bersentuhan saja sudah membuatnya tidak karuan. Apalagi yang di lakukan Fin lebih dari itu. Fin bahkan mengangkat kaos yang di pakai Karina sehingga tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Karina.
"Mom..." panggil Fin menyadarkan Karina dari lamunannya.
"I... iya." jawab Karina gugup. Dia takut ketahuan oleh Fin kalau saat ini dia tengah berfantasi liar.
"Siapa yang memberitahu Mommy kalau Daddy ada di sini? Anak buah Kakek?" tanya Fin kembali.
"Mmm. sebenarnya, ini inisiatif Mommy sendiri untuk mencari Daddy ke sini," jawab Karina. Dia lupa panggilan Daddy kembali Karina sematkan pada mantan suaminya itu. Padahal sebelumnya panggilan tersebut sudah Karina ganti menjadi Kak Fin. Kebersamaannya dengan Fin membuat Karina lupa dengan status mereka saat ini.
Fin yang tengah memainkan perut Karina dalam sesaat langsung menghentikan kegiatannya. Kepala Fin bergerak untuk menatap Karina.
"Mommy tau tempat ini?" heran Fin dengan kening yang berkerut dalam.
Karina mengangguk ragu.
"Sebelumnya... bukannya kita pernah membahas tentang tempat ini?" tanya Karina dengan wajah berkerut terlihat sedang berpikir.
__ADS_1
Fin bangkit kemudian duduk sambil meraih pundak Karina agar menghadap padanya.
"Bilang sama Daddy, tepatnya kapan kita membahas tentang Swiss, hah?" tanyanya tidak sabaran.
"Kapan ya?" bingung Karina.
"Kalau tidak salah... tiga bulan yang lalu," jawab Karina.
"Apa Daddy lupa?" tanyanya kembali.
Fin melepaskan genggamannya kemudian duduk sambil menyandarkan tubuhnya di atas sandaran kursi taman.
"Ya, kita membicarakan itu tiga bulan yang lalu" lemas Fin.
"Dan tiga tahun lalu malam ke empat di Melbourne." sahut Karina membuat Fin terkejut saat mendengarnya.
"Apa?? Barusan Mommy bilang apa??" tanyanya, yang tiba-tiba berdiri di hadapan Karina.
"Duduk!" pinta Karina dengan lembut"
"Jawab. Mommy tau dari mana tentang itu?" tanya Fin tidak sabar.
"Mmm... Se... sebenarnya... sebenarnya Mommy sudah ingat semuanya," jawab Karina pelan.
Fin melebarkan matanya. Dia mematung karena terkejut.
"Ingat? Mommy ingat?" Fin menurunkan tubuhnya dan bersimpuh di hadapan Karina.
"Ingatan Mommy sudah kembali? Sejak kapan?" Fin mencecar Karina dengan banyak pertanyaan.
Karina mengangguk. Mata Karina berkaca-kaca karena melihat Fin menitikan air matanya setelah mengetahui bahwa ingatan Karina sudah kembali.
"Belum lama ini," jawab Karina sambil tersenyum.
"Sampai mana ingatan Mommy kembali?" tanya Fin menginterogasi. Punggung tangan Fin menghapus air mata yang terus jatuh tanpa seijinnya.
"Semuanya! Mommy ingat semuanya!" jawab Karina mantap. Kedua tangan Karina tersimpan di atas pipi Fin.
Fin diam sesaat sebelum akhirnya dia meraih tengkuk Karina dan menciumnya tanpa aba-aba. Walaupun terkejut namun respon Karina cukup baik. Dia dapat mengimbangi Fin yang melahap bibir mungil Karina dengan begitu rakusnya. Nafas keduanya terdengar saling memburu. Karina yang sedang di atas awan dalam sesaat melupakan status barunya. Mereka tengah melepaskan rindu satu sama lain.
Rasa dari tiga tahun lalu masih terasa sama bagi keduanya. Baik Karina maupun Catra melupakan sekitar. Mereka hanya saling melampiaskan rindu satu sama lain.
"Kurang ajar!!!" pekik Renal kencang. Dia baru kembali dari jalan-jalannya saat melihat pemandangan yang menusuk matanya itu. Bahkan dengan refleks Eca langsung membalikan tubuhnya.
Saat mendengar pekikan Renal yang cukup keras, Karina mendorong tubuh Fin hingga terjerembab ke belakang. Wajah Karina memerah menahan malu. Dia juga langsung menutup bibir bengkaknya menggunakan tangan.
Fin bangkit dengan tangan yang terus menepuk celana dan pakaiannya.
__ADS_1
"Ckk!" decak Fin kesal sambil menatap Renal dengan tajam.
"Kalau mau *******, lihat situasi dulu Finnnn... gak di luar juga kali!" sindir Renal membuat Karina malu. Sementara Fin, seperti biasa dia tidak memberi respon apapun. Dia hanya diam dengan kedua tangan terlipat di atas dadanya.