Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Pertanggungjawaban!


__ADS_3

"Baby, dia siapa?" tanya seorang pria yang tadi Eca cium pipinya.


"Baby? Baby, kamu bilang? Ch!" Renal berdecih sambil tersenyum sumbang. Kedua tangan Renal terlipat pada pinggang nya.


"Renal!" bentak Eca.


Renal melebarkan matanya tidak percaya kalau Eca berani membentaknya demi membela pria tersebut.


"Jadi pernikahan ini di dasari atas suka sama suka? Bukan karena perjodohan? Begitu?" tanya Renal menggebu.


Eca mengerutkan keningnya.


"Kenapa Kak Renal marah? Kalau pun saya menikah, apa hubungannya dengan, Kak Renal?" tanya Eca bingung.


Renal tertawa sumbang mendengar pertanyaan dari Eca. Memang benar kenapa Renal harus marah? Tapi, apa Eca tidak memiliki kepekaan? Apa dia tidak mengerti kenapa Renal sampai rela datang ke tempat jauh hanya untuk menghentikan perjodohannya?


Renal bertolak pinggang. Dia kehabisan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan dari Eca.


"Wah...!" Renal hanya bisa berseru.


Semua orang mengelilingi Renal dan Eca. Pesta pernikahan seketika berubah tegang dengan kedatangan Renal.


Tuk... Tuk... Tuk...


Suara sepatu pentopel menggema, membelah kerumunan orang dan memberi jalan bagi si pemiliknya untuk maju menuju altar pernikahan yang saat ini tengah menghadapi ketegangan.


"Apa hak kamu melarang putri saya untuk menikah?" tanya pemilik suara dingin tersebut.


Deg...


Jantung Renal berdetak kencang. Renal membalikan tubuhnya untuk menghadap si Tuan rumah dari kota yang di datangi Renal saat ini.


Renal mengumpulkan keberaniannya untuk mengutarakan maksud dari kedatangannya. Dia menarik nafasnya terlebih dahulu.


"Tujuan saya datang ke sini..." jedanya.


"Untuk menghentikan pernikahan paksa ini!" ucapnya tegas dan lantang.


Tuan Alexander mengerutkan keningnya.


"Kata siapa pernikahan ini sebuah pernikahan paksa?" tanyanya.


"Semua orang yang datang pun tau kalau pernikahan ini tidak normal!" Jawab Renal menggebu.


Mulut Eca terangkat, namun Tuan Alexander mengangkat tangannya meminta Eca untuk diam. Tuan Alexander ingin melihat sejauh mana Renal akan bertindak.


"Apa Tuan tega menikahkan putri Tuan satu-satunya dengan seseorang yang umurnya bahkan sama dengan, Tuan?" Tanya Renal kembali.


"Saya tau apa yang terbaik untuk putri, saya!" jawab Tuan Alexander tenang.


"Apa dengan perjodohan seperti ini yang Tuan anggap baik?" Tanya Renal nyalang. Wajahnya memerah. Amarahnya terpancing.


"Apa hak Anda meneriaki keputusan saya?" nada Tuan Alexander sedikit meninggi. Beberapa pria bertubuh tinggi tegap berotot mulai mendekat. Namun, pria yang Renal sebut paruh baya itu mengangkat tangannya meminta berhenti untuk tidak maju ke depan altar.


"Memangnya anda siapa?" tanya Tuan Alexander kembali sambil maju mendekati Renal.

__ADS_1


Dengan refleks Renal memundurkan badannya beberapa langkah. Renal tidak membalas tatapan Tuan Alexander. Matanya fokus pada seseorang yang berada di belakang Tuan Alexander dan tengah berjalan mendekat.


"Sa... saya... Ayah dari bayi yang di kandung oleh anak, Tuan. Jadi, batalkan pernikahan ini sekarang juga!" ucap Renal yang dengan terpakasa menyebutkan ide gila yang akan melenyapkan nyawanya di tangan Sang Clarke. Renal tidak mempunyai ide lain saat melihat pendeta datang untuk memulai acaranya.


Eca membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


'Apa dia sudah gila?!' batin Eca.


"Renal!" bentak Eca.


"Shuut... biar aku yang menjelaskan semuanya sayang!"


'What? Sayang?' batin Eca.


"Apanya yang harus di jelaskan, Renal!" bentak Eca kembali. Dia takut papi dan keluarganya mempercayai apa yang Renal katakan.


Bugh..


Sebuah pukulan yang cukup kencang mendarat pada pipi mulus Renal. Renal terjungkal setelah menerima pukulan yang sangat keras tersebut.


Orang-orang berteriak histeris Eca maju untuk meraih tubuh Renal.


"Papi!" Eca menatap sang papi dengan tatapan tajam.


Renal mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Dia tersenyum kecut di sela-sela mengusap lukanya dengan punggung tangan.


'Kamu benar-benar sudah gila, Renal! Kamu sudah di perbudak cinta atau mungkin ini karma dari wanita-wanita yang kamu tinggalkan dulu?' lirih Renal dalam hati.


"Kak Renal! Cepat jelaskan pada papi bahwa semua ini hanya omong kosong!" ucap Eca yang tengah berjongkok di sebelah Renal.


"Eca! Katakan bahwa semua ini tidak benar!" bentak Tuan Alexander.


"Itu benar!" potong Renal.


"Kak Renal! Jangan membuat masalah!" ucap Eca penuh kekesalan.


"Baby, kalau mau membuat masalah jangan hari ini! Apalagi di hari bersejarah seperti ini!" ucap pria yang memakai tuxedo putih khas pengantin pria.


"Apa kita bisa memulai pernikahannya sekarang? Waktu baik sebentar lagi akan lewat." ucap pendeta mengingatkan.


"Tidak ada pernikahan! Pernikahan ini dibatalkan!" ucap Renal penuh keyakinan.


"Siapa yang berani membatalkan pernikahan ini, hah???!" teriak seorang perempuan yang datang dari arah kerumunan.


Semua orang mengalihkan perhatiannya pada perempuan tersebut. Perempuan yang sudah cantik dengan gaun putih nya itu berjalan naik ke atas altar dengan kabut amarah di wajahnya.


Dia bertolak pinggang menatap Renal dari atas ke bawah.


"Siapa kamu, berani membatalkan pernikahan saya?" tanya perempuan itu kembali.


Renal mengkerutkan dahinya bingung.


"Pernikahan siapa?" tanya Renal bingung.


"Aunty!" lirih Eca melihat amarah dari perempuan berusia empat puluh lima tahun itu.

__ADS_1


"Pernikahan ini akan tetap terselenggara! Baby, selesaikan masalah kalian!" ucap perempuan itu dengan tegas. Dia berjalan menghampiri pria yang tadi berdiri bersama Eca di atas altar.


Renal melongo. Dia bingung melihat apa yang terjadi. Para tamu undangan sudah menempati tempatnya masing-masing. Pendeta pun sudah memulai upacara pernikahannya.


"Aunty? Jadi pria itu Om kamu? Bukan pria yang di jodohkan dengan kamu?" lemas Renal.


Eca menyeret tubuh Renal ke belakang dan mendudukkannya pada kursi tamu yang tersedia. Renal terdiam dan tidak mengeluarkan suaranya setelah mengetahui faktanya.


Dia masih shock. Apalagi di tambah tatapan mengintimidasi dari Tuan Alexander sambil berkata.


'Urusan kita belum selesai!' menggunakan gerak bibir dengan tangan yang terkepal ke arah Renal.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa jadi seperti ini?" lirih Renal.


"Makanya jangan sok jadi jagoan!" tegas Eca dengan suara pelannya. Matanya tetap fokus pada acara pernikahan di depannya.


"Datang-datang membuat onar! Hamil? Wah... sungguh ide yang sangat luar biasa!" lanjut Eca mengeluarkan kekesalannya.


"Ya, aku mengakui kegilaan ku! Dan setelah ini aku yakin jasad ku nggak akan pernah balik ke Indonesia! Wajah tampan ku akan jadi menu makan siang singa-singa lapar!" ucap Renal dengan mata terpejam membayangkan nasibnya.


"Bodoh!" jawab Eca singkat.


"Kenapa momennya tepat? Si Fin kurang ajar!" murka Renal.


"Kenapa juga kamu memakai gaun dan berdiri di depan dengan posisi intim seperti tadi? Di luar dari kebiasaan kamu!" Renal masih menggerutu dan menyalahkan siapa saja yang bisa dia salahkan atas kebodohannya.


"Apa kamu tidak melihat pakaian dari para tamu yang hadir? Adakah tamu perempuan yang memakai celana, hah?" tanya Eca kembali.


"Lebih baik kamu pergi sekarang juga, sebelum PAPI..." jedanya menekankan kata Papi dan membuat Renal membuka matanya sambil membangkitkan tubuhnya.


"Menurunkan anak buahnya untuk menghabisi pria yang telah menghamili anak gadisnya!" lanjut Eca berbisik di telinga Renal.


"Ya, kamu benar. Aku harus cepat-cepat keluar dari neraka ini!" ucap Renal sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi secara diam-diam dari pesta pernikahan adik Tuan Alexander.


Renal mengendap meninggalkan tempat dia membuat onar. Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba seseorang menahan pundaknya.


Renal mematung tidak berani meneruskan langkahnya.


"Mau lari dari tanggung jawab?" tanya suara berat tersebut.


Degh...


Jantung Renal berdetak cepat. Dia tahu siapa orang yang menghentikan langkahnya. Renal menarik nafas kemudian berbalik.


"Tu... Tuan!" Renal tergagap saat berhadapan langsung dengan Tuan Alexander. Di belakangnya berdiri beberapa pria bertubuh tinggi kekar.


"Kamu mau kabur kemana? Apa kamu lupa kalau kota ini wilayah kekuasaan United Bamboo?" tanya Tuan Alexander dingin.


"Ti... tidak, Tuan. Mana berani saya kabur!" Renal tertawa sumbang demi mencairkan ketegangannya.


"Oke, saya tunggu pertanggung jawaban kamu besok pagi di Gereja dekat rumah saya!"


"Papi! Jangan bercanda!" Tiba-tiba Eca datang dari belakang.


"Siapa yang sedang bercanda? Bukannya tujuan dia datang dari tempat yang jauh untuk meminang kamu?" tanya Tuan Alexander.

__ADS_1


"Tapi, Tu... Tuan!" sanggah Renal. Wajahnya pucat pasi. Bagaimana bisa dia menikah tanpa persiapan? Sebelumnya bahkan pernikahan tidak ada dalam impian masa depan Renal. Dan pertanyaan dari Tuan Alexander tadi, menjadi pertanyaan Renal juga untuk dirinya sendiri.


'Senjata makan tuan, Renal!' lirihnya dalam hati.


__ADS_2