Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kenapa mengangkat panggilan di luar?


__ADS_3

"Queen Azzura Arrabella!" ucap Karina lirih, Karina dapat melihat wajah wanita tersebut saat sang wanita melepas pelukan nya dari tubuh sang suami.


Ya, wanita yang saat ini tengah memeluk tubuh suaminya itu adalah Queen Model terkenal asal Indonesia yang saat ini melebarkan sayap permodelan nya nya hingga negara, Prancis.


Karina dapat melihat binar kebahagiaan dari mata sang wanita saat menatap suaminya. Fin pun tidak canggung memberikan senyum hangatnya pada wanita yang beberapa waktu lalu mengirimkan pesan rindu padanya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Karina.


"Apa maksud semua ini, Fin?" lirihnya lagi.


Kedua tangan Karina yang saat ini sedang saling meremas sudah banjir keringat dingin. Bayangan-bayangan menyakitkan yang Lisa dan Ramon lakukan padanya beberapa waktu lalu terus berputar di dalam otaknya.


"Apa kejadian yang sama akan terulang kembali?" tanyanya dalam hati.


Karina menarik nafasnya mencoba menenangkan segala gundah dalam hatinya. Dia masih duduk di dalam mobil sang suami dan masih menunggu apa yang akan suaminya jelaskan. Kenapa dia mengharapkan sebuah penjelasan? Pikirnya dalam hati.


"Abang kenapa kesini tidak bilang sama aku?" tanya Queen pada Fin.


"Apa Kiara memberitahu Abang kalau aku akan pulang ke, Indonesia?" tanyanya kembali masih dengan nada ceria nya.


"Kamu akan pulang ke Indonesia? Tidak! Kiara tidak memberitahu apa-apa" jawab Fin.


"Oh, Abang bukan mau jemput aku?!" pekiknya.


"Terus Abang kesini untuk apa? Bekerja?" tanyanya kembali dengan nada kesal yang di buat-buat.


Fin hanya memberikan sebuah senyuman sambil mengacak rambutnya.


"Dad!" panggil Karina dari belakang tubuh Fin.


Alis Queen berkerut saat mendengar seorang wanita memanggil Fin dengan sebutan, Dad!


"Mommy!" ucapnya sambil tersenyum hangat ke arah sang istri. Fin meraih tangan istrinya, kemudian membawanya ke samping tubuh Fin. Tangan Fin melilit posesif pada pinggang Karina.


Queen semakin mengerutkan dahinya dengan semua yang dia lihat di depan matanya. Apa dia tidak salah orang? Apa yang di hadapannya sekarang adalah Fin yang dia kenal sebelumnya? Mommy? Mommy dia bilang? Tanya Queen di dalam hatinya.


"Tuan, kami minta maaf kapal yang Tuan sewa telat beberapa menit!" ucap pria paruh baya menggunakan Bahasa Inggris yang tiba tiba muncul dari arah samping Fin.


"Tidak masalah!" jawabnya dengan wajah yang datar tanpa ekspresinya.

__ADS_1


"Silahkan, sekarang Tuan dan Nyonya bisa menaikinya!" lanjut pria tersebut mempersilahkan


"Queen sepertinya kita harus meluangkan waktu khusus, agar bisa berbincang lebih lama! Sekarang Abang harus naik ke sana!" ucapnya menunjuk kapal pesiar yang sudah dia sewa.


"Aku pun harus kembali!" ucapnya sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berjalan menuju mereka.


"Abang hutang penjelasan sama aku" lanjutnya dengan bibirnya yang mengerucut.


"Queen, ayo kita masih mempunyai jadwal lain!" ucap seorang wanita yang Queen tunjuk tadi menggunakan Bahasa Inggris yang fasih. Namun, kalau di lihat dari fisik dan parasnya orang tersebut sepertinya orang Indonesia.


"Abang, aku duluan, ya!" pamitnya pada Fin.


Queen pun tidak lupa memberikan sebuah senyuman ke arah Karina sambil mengangguk kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Karina menatap tubuh jangkung Queen yang menghilang masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari lokasi Karina dan Fin saat ini.


Fin mengajak sang istri untuk naik ke atas kapal modern bertampang klasik yang sudah di sewanya. Kapal kecil mewah yang hanya bisa menampung tiga belas awak kapal termasuk Fin dan sang istri itu akan membawa mereka untuk berkeliling menyusuri Sungai Seine dan melewati beberapa tempat bersejarah.


Kapal tersebut memiliki empat buah kamar Suite di lengkapi dengan Jazzuci di setiap kamarnya. Kesan lega di bangun oleh jendela kamar setinggi langit-langit. Kapal ini pun di lengkapi dengan dua buah kolam renang. Di dek paling atas, ada area lounge, bar, dan pusat hiburan. Selain itu, terdapat sebuah teras yang menyajikan langsung keindahan, Kota Paris.


Fin membawa sang istri untuk duduk di atas meja makan yang telah di sediakan. Para pelayan mulai menyajikan makanan, sebagai menu pembuka. Selain itu, pelayan itu pun menyajikan menu utama yang totalnya ada tiga menu dan semuanya makanan khas, Prancis.


Menu kedua mereka adalah Soupe al'oignon. Makanan khas Perancis ini terbuat dari kuah kaldu sapi yang di olah bersama bawang putih, parutan keju serta daging ayam Soupe al'oignon ini miliki tekstur kental serta rasanya yang gurih.


Sementara untuk menu terakhir dari makanan utama, ada beef burguignon yang sekilas akan terlihat seperti rendang khas Padang. Kuliner ini berbahan dasar daging sapi yang telah di bumbui bersama dengan beragam bumbu-bumbu yang lainnya. Yang membedakannya yaitu Kuliner ini menggunakan anggur merah atau wine di dalam campuran bumbunya kemudian di masak hingga meresap serta miliki tekstur yang lembut dan lezat.


Mata Karina berbinar saat melihat menu-menu yang tersaji di hadapannya. Dia melupakan sejenak kekesalan nya pada sang suami yang bahkan tidak menjelaskan tentang siapa perempuan yang memeluknya tadi.


"Makan yang banyak! Kamu membutuhkan tenaga lebih untuk menghabiskan malam indah kita di atas kapal ini!" ucap Fin sambil mengangkat sebelah alisnya dan memberikan piring berisi duck foie gras yang sudah dia potong kepada istrinya.


Karina mengalihkan perhatiannya yang awalnya sibuk mengamati isi piring-piring cantik di depannya menjadi menatap sang suami dengan tatapan herannya.


"Apa yang ada di otaknya hanya tentang ************?" tanya Karina pada dirinya sendiri.


"************ nomor dua rangking pertama tetap pekerjaan." ralat Karina dalam hati.


###########


Karina dan Fin saat ini tengah berada di dalam kamar, masih di atas kapal pesiar mewah yang di sewanya. Setelah tadi menghabiskan makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup, Fin membawa sang istri masuk ke dalam kamar untuk menikmati indahnya pemandangan Kota Paris dari balik balkon kamar mereka.

__ADS_1


Fin berdiri menyandar pada pintu balkon kamarnya, dengan posisi Karina berada di depan tubuhnya, dan memeluknya dari belakang. Kepala Fin sendiri melesak masuk di antara leher Karina.


Fin sudah mulai menggoda Karina dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada titik-titik sensitif tubuh istrinya.


Karina meremang saat Fin mendaratkan bibirnya pada punggung polos miliknya. Karina menolak sebisanya walau di akuinya setiap sentuhan yang suaminya lakukan membuat Karina frustasi dan membuatnya menginginkan lebih.


"Dad. Ja... jangan di sini!" lirih Karina.


Ya, mereka saat ini masih di depan kamar mereka. Bisa saja apa yang di lakukan nya akan disaksikan orang lain dari daratan. Fin menyutujui saran istrinya. Dia pun tidak rela jika orang lain menyaksikan bagaimana wajah istrinya saat tengah menikmati ciuman nya. Walaupun sebenarnya keadaan di depan kamar mereka tidak terlalu terang. Fin membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Fin merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur mewah yang ada di dalam kapal tersebut. Namun setelahnya dia membangunkan istrinya kembali Karina mengerutkan dahinya bingung.


"Mommy, sekarang giliran Mommy yang naik di atas sini!" ucap Fin kemudian membaringkan tubuhnya. Karina masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.


"Naik Mommy!" perintah Fin.


"Aahh..." jerit Karina kaget namun dengan kenikmatan yang berbeda dari biasanya.


Fin memejamkan matanya. Karina yang melihat ekspresi kenikmatan dari suaminya secara otomatis terpancing untuk memuaskannya.


Kring... Kring... Kring


iPhone miliknya berbunyi, Fin mengabaikan panggilan tersebut dan melanjutkan permainannya. iPhone tersebut berbunyi untuk yang kedua kalinya.


"Kurang ajar!" umpat Fin kesal.


"Angkat dulu, Dad!" pinta Karina. Karina bangkit dari atas tubuh sang suami, namun Fin menarik tangannya dan menahan agar Karina tetap pada posisinya.


"Ckk... Awas saja kalau panggilan ini tidak penting sama sekal!" umpatnya kembali.


Fin melihat nama yang tertera pada iPhone nya.


"Mom, sebentar!" ucapnya meminta Karina untuk bangkit.


Karina bangkit dari atas tubuh sang suami di ikuti Fin yang juga bangkit dari tempat tidur, kemudian meraih dua bathrobe untuk dia pakai dan untuk istrinya pakai.


Fin angkat panggilan tersebut kemudian mengecup kening Karina dan pergi menuju balkon untuk berbicara dengan seseorang yang menghubungi nya itu.


Karina mematung menyaksikan punggung suaminya yang menjauh.


"Kenapa mengangkat panggilan di luar? Apa aku tidak berhak tau?" lirih nya.

__ADS_1


__ADS_2