
'Mommy gak dengar kan, apa yang baru saja Daddy ucapkan?' batin Fin bertanya pada dirinya sendiri.
"Da... Daddy!" panggil Karina kembali dengan kedua tangan yang terangkat untuk menyentuh setiap bagian dari wajah suaminya.
Seterusnya, mata itu turun untuk menerawang tubuh dari sang suami yang tidak memakai atasan. Fin masih bertelanjang dada.
"Mommy tidak sedang bermimpi kan?" tanya Karina tidak percaya.
Tangan yang awalnya menyentuh wajah dari suaminya, kini pindah dan menyentuh setiap lekuk otot-otot padat dari dada Fin.
"Ini semua tampak nyata!" ujarnya kembali.
"Sssshhh... Mom!" desah Fin yang mendapat sentuhan dari jari-jari lembut istrinya.
"Dad!" pekik Karina kaget sambil bangkit dan mendudukkan tubuhnya. Kali ini Karina sudah dengan kesadaran penuh.
"Bu... bukannya... tadi... disitu... Daddy" ucap Karina tergagap tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Bahkan untuk membayangkannya saja, Karina tidak mau.
"Daddy baik-baik saja! Seperti yang Mommy lihat." jawab Fin yang kemudian mengikuti istrinya untuk duduk. Kedua tangannya terbuka terlentang agar sang istri dapat melihat kalau dia baik-baik saja.
"Oh thanks God!" ucap Karina penuh syukur.
"Mommy benar-benar takut," ungkapnya sambil masuk ke dalam pelukan Fin.
Air mata mengalir dari kedua sudut mata Karina. Dia menangis dalam diam. Karina segera menghapus air matanya menggunakan punggung tangan agar Fin tidak mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.
Namun sayang, seberapa rapi Karina menutupinya pun, Fin tahu kalau Karina saat ini tengah menangis. Dadanya yang bertelanjang itu dapat merasakan tetesan demi tetesan dari air mata istrinya.
"Apa Mommy tau, bagaimana perasaan Daddy saat melihat Mommy pingsan?" tanya Fin sambil tangannya mengusap pelan punggung istrinya.
Karina menggeleng masih dalam pelukan suaminya.
"Bukannya Daddy lebih mengkhawatirkan Kak Queen?" tanya Karina sedikit kesal. Dia selalu kesal saat ingatannya terarah pada Queen.
Fin membaringkan tubuhnya sehingga posisi Karina saat ini berada di atas tubuh Fin. Kedua tangan Fin dia lipat ke belakang kepala untuk dia jadikan sebagai tumpuan.
"Daddy khawatir pada Queen, seperti halnya Daddy mengkhawatirkan, Kiara." jelas Fin sambil menatap mata Karina penuh kesungguhan. Tidak ada sedikitpun kebohongan dari netra zamrud tersebut.
"Queen itu, sudah seperti adik kandung Daddy sendiri. Queen sudah bersama keluarga kita, sejak dia masih sekolah dasar. Jadi, tentu saja Daddy khawatir. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Hanya kita keluarganya sekarang." ucap Fin menjelaskan.
Karina hanya mengangguk pelan mencoba memahami situasi suaminya.
Karina mencoba bangkit dari atas tubuh suaminya. Namun, pinggangnya di tahan oleh kedua tangan Fin agar tetap berada di atas tubuhnya. Akhirnya Karina kembali pada posisi awal telungkup di atas dada suaminya.
Karina mengarahkan tatapan mata seriusnya, yang membuat Fin mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa? tanya Fin takut melihat keseriusan di mata istrinya.
"Saat di pemakaman tadi..., kenapa Daddy mengacuhkan Mommy?" tanya Karina dengan wajah garangnya. Namun tetap saja, wajah yang menurut Karina sudah sangat garang, bagi Fin tetap menggemaskan.
"Daddy biasa saja!" kilah Fin sambil membuang muka melihat ke arah lain berusaha menghindari tatapan dari mata tajam istrinya.
Selain itu, Fin ingin tertawa melihat bagaimana alis mata istrinya itu menukik saat sang istri berusaha terlihat galak. Bisa-bisa kiamat, andai saja Fin kelepasan dan mentertawakan istrinya yang sedang marah itu.
"Apa karena ada wartawan? Daddy malu, kalau publik tau, Mommy istri, Daddy?" tuduh Karina.
Dalam seketika, wajah Fin berubah menjadi dingin. Matanya menatap netra sang istri. Dia belum menjawab. Karina yang menyadari perubahan mimik wajah suaminya, tiba-tiba merasa takut. Dia merutuki mulut lancangnya.
"Pembuat kesepakatan awal kalau hubungan ini tidak terekspos siapa?" tanya Fin dengan suara seraknya yang berat.
"I... iya ma... maaf..." cicit Karina ketakutan. Dia tertunduk tidak berani menatap wajah suaminya.
Hussshhh...
Fin menghembuskan nafas, mencoba meredam kemarahannya. Dia tidak tega melihat istri cantiknya ketakutan. Fin raih tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Apa Mommy benar-benar tidak tau, kenapa Daddy mengacuhkan, Mommy?" tanya Fin pada istrinya. Nada bicaranya, Fin buat setenang mungkin agar tidak menyakiti hati istrinya yang akhir-akhir ini lebih sensitif.
Karina menggeleng dengan wajah yang terlihat bingung. Wajahnya berkerut dengan bola mata yang sesekali memutar ke atas mencoba berfikir keras. Karina kembali menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Fin.
"Apa Mommy tidak merasa bersalah sudah dekat dengan pria lain?" tanya Fin to the point.
"Hah? Pria lain? Maksud Daddy?" kaget Karina yang merasa tuduhan suaminya itu tidak berdasar. Lagi pula, siapa yang maksud Fin dengan pria lain? Karina bahkan tidak dapat membayangkan siapa pria itu.
"Ya. Apa perlu Daddy ingatkan?" tanya Fin.
"Siapa?" tanya Karina kembali.
"Serius Mommy tidak ingat sama sekali, Dad!" lanjut Karina.
"Alziko!" jawab Fin singkat menyebutkan nama seseorang.
"Kak Ziko?" Karina mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Daddy cemburu pada Kak Ziko?" tanya Karina kembali meyakinkan.
"Ckk... siapa yang cemburu? Apa Mommy pikir, Daddy pantas bersaing dengan dia?" tanya Fin arrogant, penuh kesombongan. Dia tidak rela di banding-bandingkan dengan pria lain. Terlebih, pria itu seseorang yang menginginkan istrinya.
"Gak lah! Kamu yang terbaik! Tidak ada seorang pun yang pantas bersaing dengan seorang Fin Grahatama!" jawab Karina dengan cepat, menyadari ketidaksukaan suaminya di bandingkan dengan orang lain.
Fin mengangguk sambil tersenyum penuh bangga. Kekesalannya dalam sesaat hilang entah kemana. Karina mengucap syukur dalam hatinya saat melihat ekspresi sang suami sudah kembali seperti biasanya.
"Kakek kemana?" tanya Karina saat sadar kalau di ruangan itu mereka hanya mereka berdua.
"Kakek pulang!" jawab Fin singkat.
"Daddy, ayo kita juga pulang. Devin sendiri di rumah!" ajak Karina saat sadar kalau sang anak ada di rumahnya.
"Tidak! Mommy masih perlu di rawat sampai benar-benar sehat dan siap untuk pulang ke rumah," jawab Fin dengan keputusannya.
"Mommy baik-baik saja! Mommy mau pulang!" tegas Karina sambil bangkit dari atas tubuh Fin dan duduk di sampingnya, masih di atas ranjang yang sama.
"Tapi, Mom..."
"Daddy mandi sana! Di dekat leher Daddy masih ada bau Kak Queen!" ucap Karina tiba-tiba dengan delikan tajam yang dia layangkan pada suaminya.
Fin menyentuh area leher yang istrinya sebutkan.
"Aneh, di sosor sampai leher tapi diam saja! Giliran Mommy yang hanya bertukar kabar, Daddy tuduh yang aneh-aneh," desis Karina dengan kesal.
Fin pura-pura tidak mendengar apa yang istrinya ucapkan. Sebenarnya, saat Fin menggendong Queen yang tiba-tiba pingsan dan mengantarnya naik menuju lantai dua kamarnya, bibir Queen menyentuh leher Fin dan melabuhkan beberapa kecupan di sana.
Fin sempat kesal dengan apa yang Queen lakukan. Dia juga menegur Queen sesaat sebelum dia turun menuju lantai bawah, namun Queen berkilah, kalau dia tidak sengaja melakukan itu. Dia berpikir saat itu tengah memeluk sang Mama.
Fin mencoba memaklumi apa yang Queen lakukan dan berusaha bersikap biasa saja, walau sebenarnya dia tengah menahan kesal. Namun, saat di lantai bawah, kemarahan Fin kembali terpancing saat matanya menangkap sang istri tengah berbincang hangat dengan seorang pria yang dari matanya memancarkan banyak cinta dan kekaguman untuk istrinya.
Yang awalnya ingin menghindari Queen pada akhirnya Fin memanfaatkan Queen untuk melampiaskan kekesalannya pada sang istri. Namun akhirnya, Fin juga yang sakit. Sakit melihat istrinya terkulai lemah dalam gendongan pria lain.
Fin tidak menyangka kalau istrinya akan tau tentang bau Queen yang tertinggal di lehernya. Fin heran sendiri dengan ketajaman penciuman sang istri akhir-akhir ini. Pikir Fin.
"Mom," panggil Fin saat melihat istrinya tengah berusaha membuka selang infus yang menancap di tangannya.
"Sana mandi! Serius, Mommy mual, Dad!" jawab Karina sambil mengusir suaminya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Mom, apa Dokter mengatakan sesuatu tentang kondisi Mommy yang akhir-akhir ini selalu mual?" tanya Fin sambil bersandar di daun pintu kamar mandi dengan kedua tangan yang dia lipat di atas dada dan wajah yang sedikit terangkat tengah memikirkan sesuatu.
Karina menghentikan kegiatannya. Dia menatap suaminya.
Fin mengarahkan pandangannya untuk menatap wajah cantik istrinya.
"Mmmm... Mommy mual-mual sudah cukup lama kan?" tanya Fin kembali.
"Terus?"
"Apa Dokter tidak bilang kalau Mommy sedang hamil?" cicit Fin pelan.
Karina menatap Fin sambil mengerutkan keningnya.
"Hamil?" tanya Karina pada suaminya.
Fin mengangguk.
"Bukannya, kalau perempuan hamil suka mual-mual?" tanya Fin polos.
"Hey! Perlu di ingat, Mommy hanya mual saat ada Queen di dekat, Mommy!" jawab Karina sedikit kencang.
"Jangan aneh-aneh deh! Sana mandi!" lanjut Karina mencoba mengakhiri perbincangan perihal kehamilan.
"Ckk," kesal Fin yang merasa di marahi oleh sang istri. Fin masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya.
Sementara itu, Karina melamun memikirkan pertanyaan suaminya.
"Apa Daddy benar-benar menginginkan seorang anak dari, Mommy?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Tapi saat hamil Devin dulu, Mommy bukan mual seperti sekarang. Mommy benar-benar kepayahan dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Sampai usia kandungan enam bulan, Mommy bahkan gak bisa makan nasi." lanjut Karina mengenang saat kehamilannya dulu.
"Selamat malam, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" kedatangan seorang suster mengembalikan kesadaran Karina dari lamunannya.
"Maaf ya sus, malam-malam mengganggu waktu istirahat nya." ucap Karina meminta maaf.
"Tidak masalah, Bu. Ini sudah bagian dari tugas kami." jawabnya bijak.
"Ada yang perlu saya bantu?" tanyanya kembali.
"Bisa tolong buka infusan saya?" tanya Karina.
"Bagaimana kondisi ibu sekarang? Sudah jauh lebih baik?" tanya sang suster kembali.
__ADS_1
"Saya sudah sangat sehat, sus. Saya ingin pulang sekarang!" jelas Karina.
"Baiklah. Boleh saya periksa kondisi ibu dulu?" ijin sang suster sebelum memeriksa Karina untuk di laporkan kondisinya kepada Dokter jaga.
Suster mulai memeriksa tanda-tanda vital dari Karina dan melaporkan hasilnya pada Dokter jaga. Sementara itu, Fin masih sibuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.
"Bu, saya sudah konsultasi dengan Dokter dan beliau mengijinkan ibu untuk pulang." jelas sang suster pada Karina.
Karina tersenyum cerah mendengar penuturan sang suster. Suster muda itu mulai membawa alat-alat untuk melepas infusan yang terpasang pada tangan Karina.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fin tiba-tiba, dengan suara seraknya yang dingin.
Suster yang tengah melakukan tugasnya terperanjat kaget mendengar suara Fin yang datang tiba-tiba dari arah belakang.
Suster muda itu menyingkirkan tangan dan menghentikan kegiatannya kemudian berbalik untuk menatap pemilik suara dingin itu.
Matanya melotot tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Seorang Tuan muda dari keluarga Grahatama tengah berdiri dengan hanya menggunakan handuk sepinggang. Tetesan air bahkan masih menetes dari atas rambutnya yang basah menambah kadar keseksian dari seorang Fin.
"Ckk..." Karina berdecak kesal. Dia tidak rela tubuh indah suaminya di nikmati perempuan lain.
"Saya tanya anda sedang apa?" tanya Fin kembali.
"A... anu... i... itu..." jawab suster tersebut tergagap, Telunjuknya tiba-tiba terangkat menunjuk dada sixpack dari Fin.
Fin menurunkan pandangannya.
"Kenapa dengan dada saya?" tanya Fin sambil bertolak pinggang.
"Eh... maksud saya" Suster tersebut refleks memegangi mulutnya. Dia segera menundukkan pandangannya. Dia takut melihat mata tajam Fin yang tengah mengintimidasinya.
Karina sudah sangat kesal melihat pemandangan di depannya.
"Daddy! Masuk ke kamar mandi sekarang!" perintah Karina terkesan memaksa.
"Kenapa?" tanya Fin tidak mengerti.
"Apa Mommy harus menjelaskan segalanya?" tanya Karina dengan mata yang sedikit melotot berharap suaminya paham.
"Mommy mau kabur tanpa sepengetahuan, Daddy?" tanya Fin kembali.
"Oh God! Bagaimana bisa orang yang tidak mempunyai kepekaan tinggi seperti pria itu dapat memimpin perusahaan sebesar Grahatama Group?" desis Karina pelan.
"Suster! Cepat selesaikan tugas kamu!" bentak Karina sedikit kencang. Dia kesal karena suster tersebut tidak bisa menjaga pandangannya. Secara terang-terangan dia memandangi serta mengagumi tubuh gagah Fin.
Dari pada berdebat dengan suaminya yang tidak mengerti dengan kecemburuannya lebih baik secepatnya Karina membuat si perawat menyelesaikan tugasnya dan keluar dari ruangannya.
"I... iya, Bu." Suster itu kembali fokus pada pekerjaannya dan mulai membuka infusan pada tangan Karina. Setelahnya, dia pamit sesuai permintaan dari Karina.
"Kenapa di buka?" tanya Fin. Dia berjalan mendekat kemudian duduk di samping Karina.
Wajah Karina masih terlihat kesal. Wajahnya di tekuk dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Daddy sengaja keluar seperti ini?" tanya Karina menunjuk dada suaminya serta handuk putih setinggi paha.
"Mana Daddy tau kalau di sini ada suster! Lagipula, Daddy gak fokus ke sana. Fokus Daddy ke tangan Mommy. Kenapa infusan nya di buka? Siapa yang dengan lancang memberi perintah untuk melakukan itu, hah?" bentak Fin marah.
"Mommy yang minta. Mommy mau pulang. DARI TADI MOMMY MINTA PULANG. TAPI DADDY... huaaaaa" tangis Karina pecah. Dia sakit hati. Karina beranggapan kalau Fin marah pada Karina. Dia sudah tidak bisa menahan-nahan lagi kekesalannya yang sudah dia tahan dari siang.
Fin bawa tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Otot-otot padat dari dada Fin bahkan menyentuh pipi dari Karina.
Tangan Karina mulai bergerak menyentuh setiap potong dari lekuk dada Fin. Bibirnya memberi beberapa kecupan sensual dengan sesekali mengulum bagian kecil yang menonjol di dada suaminya.
"Ssshhh... Mom!" desah Fin penuh kenikmatan. Matanya terpejam melupakan kemarahannya.
"Mmmmpphh..." erangnya kembali saat tangan Karina turun mengelus milik Fin dan mencoba membangunkan sesuatu yang bersembunyi di balik handuk putih yang masih membalut tubuhnya itu.
Karina hilang akal. Dia bukan seperti Karina yang biasanya. Karina sudah sangat tidak tahan melihat suaminya yang bertelanjang dada. Dia ingin dipuaskan. Hasratnya untuk bercinta benar-benar diluar kebiasaannya.
"Daddy suka Mommy yang seperti ini. Agresif dan punya inisiatif sendiri," ucapnya di tengah-tengah menikmati pelayanan dari sang istri yang saat ini tengah mengulum miliknya.
Saat baru setengah main, Karina tiba-tiba bangkit dan membersihkan mulutnya. Dia berjalan pergi meninggalkan Fin dan membawa goodie bag yang tergeletak di atas nakes.
"Pakai baju Daddy. Kita pulang sekarang!" ucap Karina dengan tidak berperasaan membiarkan Fin tersiksa menahan keinginan yang tidak istrinya tuntaskan.
Fin melebarkan matanya tidak percaya.
"Mommy, jangan bercanda!!! Selesaikan dulu, baru kita pulang!"
"Tapi Mommy sudah gak mau lagi!" jawab Karina polos.
"Maksud Mommy?"
"Tadi mommy mau. Tapi sekarang gak lagi. Sekarang Mommy lebih menginginkan martabak asin dari pada banana krispi!" jawab Karina sambil jarinya terangkat menunjuk milik Fin yang masih berdiri tegap kemudian pergi begitu saja.
__ADS_1
"Grizelle!!!" teriak Fin kesal. Dia ditinggalkan oleh istrinya. Karina keluar dari ruang perawatan untuk pergi menuju lobby rumah sakit. Saat ini, Karina sedang benar-benar menginginkan sebuah martabak telor.