
Hari ini adalah hari ke empat Devin di Australia. Tiga hari kebelakang, Fin mengajak Devin dan Karina mengeksplor tempat-tempat yang tiga tahun lalu pernah Fin dan Karina datangi. Fin berharap dengan menelusuri kenangan saat pertama kali mereka bertemu dapat mengembalikan ingatan Karina. Namun nihil. Sedikit pun, Karina tidak dapat mengingat tentang Fin ataupun momen tentang mereka di tempat tersebut. Rencananya, hari ini Fin akan mengajak sang anak ke Fairy Park di Anakie Victoria.
Fairy Park sendiri adalah tempat bermain anak, yang di bangun tiga puluh lima tahun lalu. Tempat tersebut menyajikan seluruh cerita dongeng anak di dalam satu tempat luas dengan boneka-boneka karakter yang di simpan di dalam tempat kaca. Dari dalam kaca itu terdengar seseorang membacakan cerita atau kisah dari dongeng itu sendiri.
Fin membawa mobilnya sendiri namun tetap dengan pengawasan bodyguard bayangan dan Eca yang mengikuti nya dengan menggunakan mobil lain.
Devin terlihat antusias di sepanjang jalan yang di lewatinya. Matanya berbinar dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Di kiri dan kanan mobil yang Fin lalui, terdapat hamparan Padang rumput yang luas dengan perbukitan di belakangnya.
Setelah menghabiskan satu setengah jam di perjalanan, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Karina mengambil tiga topi untuk mereka pakai. Karena cuaca di Australia sendiri saat ini tengah memasuki musim panas.
Fin memakai kemeja denim dengan tiga kancing bagian atas yang terbuka seperti biasanya. Warna denim tersebut senada dengan overall yang istrinya pakai. Tidak lupa sebuah kacamata mewah menggantung di atas kemejanya. Devin sendiri menggunakan kaos putih logo G dengan sebuah gambar boneka Teddy bear di depannya.
Di depan pintu masuk, terdapat mushroom raksasa dengan boneka di dalamnya. Di sebelah mushroom tersebut berdiri patung kurcaci raksasa yang menyambut kedatangan Fin dan keluarga.
Devin bersorak saat masuk ke dalam. Dia bahkan berlari menghampiri air terjun buatan yang tidak jauh dari area tempat masuk.
"Mommy, mau belenang, di cinih!" pintanya sambil menunjuk kolam yang berada di bawah air terjun.
Fin mengangkat alis sebelah kanannya mendengar permintaan sang anak. Sementara Karina hanya menanggapinya dengan santai.
"Devin mau berenang?" tanyanya.
"Wah, sayang sekali baju renang Devin nggak Mommy bawa!" jawabnya dengan lembut.
Fin tersenyum mendengar jawaban sang istri. Kalau Fin yang menjawab mungkin dia akan cenderung melarang dengan alasan airnya kotor atau berbohong dengan menyebut ada monster di dalam kolam tersebut.
"Yah, cayang cekali!" jawabnya. Fin gemas sendiri melihat tingkah sang anak. Dia pangku tubuh sang anak kemudian menyimpan nya di atas pundak kokohnya.
Devin memekik kencang saat tubuhnya melayang ke udara. Setelahnya dia bertepuk tangan karena menyukai posisinya saat berada di pundak sang Daddy.
Karina hanya menggeleng pelan sambil tersenyum hangat ke arah anak dan suaminya.
"Sini!" panggil Fin agar Karina merapat ke sampingnya.
__ADS_1
Karina menurut. Dia berdiri di samping Fin. Tangan Karina, Fin bawa ke dalam genggamnya kemudian berjalan dan mulai masuk untuk menjelajah tempat yang mereka kunjungi.
Hati Karina menghangat. Inilah bayangan keluarga yang sudah lama Karina impikan. Berjalan bergandengan tangan sambil bersenda gurau. Semoga suaminya akan selalu menjadi suami yang Karina kenal hari ini.
Karina maupun Fin tidak menyia-nyiakan quality time nya hari ini. Banyak foto yang mereka ambil untuk mengabadikan momen pertama mereka berlibur sebagai sebuah keluarga utuh.
Saat masuk ke dalam, mereka di sajikan dengan rumah-rumah mungil beserta patung-patung kurcaci yang berdiri disamping rumah tersebut. Bangunan tersebut kurang lebih mirip seperti rumah Hobbit.
Tempat yang di kunjungi Fin memang recommended untuk di kunjungi anak-anak. Apalagi anak seperti Devin yang sangat menyukai cerita dongeng.
Bangunan yang pertama mereka kunjungi adalah tempat Snow White. Di tempat yang bertema Snow White sendiri terdapat rumah yang di buat mirip dengan rumah Snow White yang ada di film.
Selain itu, terdapat sekumpulan boneka kakek kurcaci yang dapat bergerak dengan suara seseorang yang tengah menceritakan dongeng tersebut menggunakan Bahasa Inggris.
Devin meminta turun dari atas pundak sang Daddy. Fin menuruti keinginan anaknya dan menurunkannya. Fin membawa tubuh sang istri untuk dia peluk dengan dagu yang dia simpan di atas kepala sang istri.
Devin sendiri terus bergerak aktif meloncat sambil bertepuk tangan dengan mulut yang tidak pernah berhenti berbicara menceritakan kisah dari karakter-karakter dongeng yang di temui nya. Mulai dari The Frog Prince, Snow White, Pinokio, Cinderella, dan masih banyak lagi yang tersebar hampir di seluruh tempat yang ada Fairy Park.
Eca terus mengikuti Karina dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat sang Nyonya.
Eca melupakan keberadaan Renal. Dia berbalik menatap Renal yang tengah bertolak pinggang di belakangnya.
"Ckk, Pak Renal ngapain sih ngikutin terus? Kenapa nggak jalan-jalan sendiri saja?" tanya Eca kesal dengan Renal yang terus mengikutinya. Sejak keluar dari hotel, Renal memaksa ikut pada mobil Eca.
"Cece, berjalan sendirian di tengah keramaian terlihat sangat menyedihkan!" jawabnya sambil menatap keramaian di hadapannya.
Eca memutar bola matanya jengah.
"ECA, bukan Cece!" jelasnya garang.
"Nggak lah, mulai sekarang aku panggil kamu Cece!" kekeuh nya.
"Bapak sih berisik terus! Lihat, sekarang saya kehilangan jejak, Bu Karina" Gerutu Eca pada Renal saat kehilangan jejak majikannya. Mata Eca terus meneliti mencari keberadaan sang Nyonya.
__ADS_1
Eca menyambungkan earphone nya untuk menghubungi bodyguard bayangan yang juga mengikuti Fin.
"Di mana posisi bos sekarang?" tanya Eca pada sambungan earphone yang terpasang di telinganya. Dia tidak menghiraukan keberadaan Renal sama sekali.
"Oke, saya ke arah jam 3 sekarang!" jawab Eca pada Bodyguard yang memberi tahukan posisi Fin pada Eca.
"Pak Renal, kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, siap-siap saja jadi santapan singa-singa laparnya, Papi!" lanjut Eca setelah mematikan panggilannya, kemudian berlalu meninggalkan Renal yang tengah mematung mendengar ancaman dari Eca.
###########
Fin, Karina dan Devin, hanya menghabiskan waktu tiga jam di Fairy Park. Selanjutnya mereka kembali ke hotel karena Fin akan kembali ke Indonesia nanti malam.
Raiden menghubungi Fin, kalau besok pagi ada investor yang akan meninjau kantor Grahatama Group dan meminta bertemu langsung dengan CEO nya.
Fin yang tidak memiliki pilihan lain terpaksa pulang malam ini dan harus rela meninggalkan Karina serta Anaknya di Australia
Dia mempercayakan keselamatan anak dan istrinya pada Eca dan dua bodyguard yang Fin siapkan untuk terus memantau keselamatan istrinya.
"Mom, mumpung kita masih di Melbourne, apa Mommy mau bertemu Dokter Neurologi untuk memeriksakan kondisi, Mommy?" tanya Fin hati-hati.
Karina mematung mendengar suaminya menyebut Dokter spesialis yang dua tahun terakhir sudah sering di kunjunginya tersebut. Karina menghentikan kegiatannya mengemas barang sang suami kemudian menatap netra sang suami secara dalam.
"Mommy sudah cukup bahagia dengan kondisi saat ini. Mommy tidak mau dengan kembalinya ingatan Mommy akan mempengaruhi masa depan dari hubungan yang sudah terjalin saat ini." jawabnya penuh keyakinan.
Ya, Karina setiap hari mengkhawatirkan masa depan pernikahan nya andai saja suatu hari ingatannya kembali dan mulai menemukan siapa Ayah dari anaknya.
"Oke! Tidak masalah. Jangan terlalu di pikirkan!" ucap Fin lembut sambil mengusap kepala istrinya yang tengah terduduk di atas lantai sambil memegangi koper yang terbuka.
Fin masuk ke dalam ruang kerjanya setelah meminta izin pada sang istri yang tengah melanjutkan kembali mengepak pakaian Fin dan memasukannya ke dalam koper.
Fin berdiri di depan kaca ruang kerja yang ada di hotel tempatnya menginap. Dia tengah menghubungi seseorang.
"Tuan Alexander, apa sudah ada rencana untuk memberi pelajaran pada Eliz?" tanya Fin saat panggilan tersebut terhubung.
__ADS_1
"Berani sekali dia menyuruh orang untuk mencelakai seorang pewaris Grahatama Group, saat di Mall!" lanjutnya.
"Buat dia miskin!" perintah Fin dengan nada dinginnya.