Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Seperhatian itu!


__ADS_3

Tampak Kiara dari kejauhan tengah berjalan sambil melambaikan tangannya ke arah Devin. Wajahnya sumringah dengan senyum yang tidak lepas dari kedua sudut bibirnya.


Apalagi saat matanya menangkap sosok keponakan yang sudah sangat dia rindukan. Devin tengah duduk di atas stroller dengan Eca di belakangnya yang siap untuk mendorong.


Karina sendiri belum menyadari kehadiran adik iparnya karena tengah menerima panggilan. Jadi, hanya Devin yang sudah mengetahui kedatangan Kiara. Eca pun tengah fokus memperhatikan Karina yang menerima panggilan dari Renal sang suami.


Karina mematikan panggilannya bersamaan dengan kedatangan Kiara ke hadapannya.


"Kakak" pekik Kiara kegirangan.


Karina menatap Kiara sambil tersenyum. Namun, hanya sebuah senyum sendu yang Karina berikan pada Kiara.


Eca pun tidak berani bertanya tentang apa yang Karina bicarakan dengan suaminya. Dia menunggu Karina sendirilah yang menceritakannya.


"Apa Kakak tidak bahagia dengan kedatangan aku?" tanya Kiara sambil mendekat kemudian memeluk Karina.


"Bukan begitu, Kiara,"


"Kenapa? Apa Abang tidak mengizinkan kalian ke Singapura?" Kiara berjongkok menghampiri keponakannya.


Dia menggendong Devin dari atas stroller kemudian memeluknya sambil beberapa kali memberikan ciuman di seluruh wajah keponakannya itu. Devin terkikik menahan geli efek dari kecupan sang Tante.


"Kiara, sepertinya kita tidak bisa ikut ke Singapura,"


"Tuh kan pasti Abang yang sudah melarang kalian untuk ikut," kesal Kiara dengan wajah yang memberengut.


"Bu... bukan Kiara. Ini karena... Tante Nada." ucap Karina sendu.


Kiara mengerutkan keningnya. Dia menunggu lanjutan dari potongan kalimat yang akan Karina sampaikan.


"Tante Nada... dia... dia, meninggal dunia," ucap Karina pelan sambil menahan tangis di hadapan sang anak. Karina sudah terlanjur dekat dengan sang Tante. Tau Nada pergi untuk selamanya membuat Karina seperti kehilangan sosok terdekatnya. Kiara sendiri masih mematung mencoba mencerna tiap kata yang Karina sampaikan.


"Apa aku tidak salah dengar? Tante Nada meninggal?" tanya Kiara kembali untuk memastikan pendengarannya.


Karina mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya.


Eca mengambil Devin dari gendongan Kiara dan mendudukkannya kembali ke atas stroller.


"Kiara, mau ikut ke rumah sakit atau kembali ke Singapura?" tanya Karina pada adik iparnya itu.


"Aku ikut ke rumah sakit saja Kak. Kasihan Queen. Dia tidak punya siapa-siapa lagi." tutur Kiara.


Karina mengangguk.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Queen pasti terpukul kehilangan Mamanya."

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Singapura dan memilih ke rumah sakit untuk menemani Queen yang memang tidak memiliki siapa-siapa lagi selain keluarga Grahatama dan asistennya.


Mereka berempat baru sampai di rumah sakit Medistra, tempat sang Tante menghembuskan nafas terakhirnya.


Tampak Renal di lobi rumah sakit tengah menunggu kedatangan Karina dan yang lainnya.


Renal segera mengambil Devin dari gendongan Eca, kemudian menggendongnya dan membiarkan Karina berjalan terlebih dahulu menuju ruangan sang Tante yang ada di lantai atas ruang VVIP.


"Kiara, bisa di sini dulu? Ada yang ingin Kakak sampaikan."


Kiara mengangguk. Sepertinya, apa yang akan Renal sampaikan padanya adalah sesuatu hal yang cukup penting.


"Kak Karina naik saja duluan. Kiara nanti menyusul sama Kak Renal,"


"Kak Renal nggak apa-apa aku titip Devin? Bu Linda sebentar lagi sampai."


"Gak apa-apa, Karina. Tenang saja,"


Karina mengangguk sambil tersenyum untuk berterima kasih.


"Ayo, Eca. Kita naik sekarang," ajak Karina pada Eca.


Karina dan Eca naik lift yang akan membawa mereka menuju lantai atas ruang VVIP. Tidak sampai tiga menit lift yang mereka tumpangi sudah sampai di lorong ruang VVIP.


Di saat seperti ini, mengingatkan Karina akan kejadian dulu saat sang bunda terbujur kaku di ruang mayat rumah sakit yang sama seperti hari ini.


Karina membuka pintu ruangan. Dia masuk melewati ruang tengah dan terus berjalan untuk sampai di kamar perawatan tempat sang Tante biasa terbaring.


Dari luar sudah terdengar sayup-sayup suara tangis Queen yang cukup lirih Karina menarik nafasnya beberapa kali sebelum memutuskan untuk masuk. Eca sendiri masih berjalan di belakang Karina mengikuti kemana Karina pergi.


Saat Karina membuka pintu kamar perawatan, tampak sang suami yang tengah memeluk Queen sambil mengelus punggungnya yang tampak rapuh itu. Pelukan Queen begitu erat sambil menyembunyikan wajahnya di atas dada Fin.


Fin masih belum menyadari kedatangan istrinya. Entah kenapa, dada Karina tiba tiba sesak saat melihat bagaimana perhatiannya sang suami kepada perempuan lain.


Fin terus menepuk dengan sesekali mengelus kepala Queen dengan lembut. Saat seperti ini, ingin rasanya Karina berharap kalau mual sang suami kembali kambuh agar Queen tidak dapat memeluk tubuh suaminya.


Namun Karina kembali mengingatkan dirinya dan mencoba menyingkirkan egonya untuk saat ini, dia harus berdamai dengan kecemburuannya. Ada hati yang tengah terluka karena di tinggalkan seseorang.


Karina pernah berada di posisi yang sama dengan Queen. Di tinggalkan oleh seorang Ibu. Dunianya seakan hancur dalam sesaat. Karina bahkan tidak dapat melihat adanya masa depan setelah kepergian Ibunya.


Namun, keberadaan sang Bibi di sampingnya, membuat Karina kuat untuk menjalani hari-hari kedepannya.


Namun Queen, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain keluarga Grahatama. Jadi, kepada siapa lagi dia meluapkan kesedihannya selain pada Fin sang suami yang saat ini ada di samping Queen. Pikir Karina.


Setelah menata hatinya, Karina mencoba mendekat.

__ADS_1


"Queen," panggil Karina pelan.


Fin yang mendengar suara istrinya mendongak ke arah sumber suara.


"Mom," panggil Fin.


Kepala Queen keluar dari balik dada Fin.


"Mama..." ucapnya sambil terisak kembali. Tangisnya kembali pecah saat mengingat kepergian Mamanya.


Dia kembali masuk ke dalam pelukan Fin dengan tangan yang semakin erat memeluk pinggang Fin.


Karina sendiri tidak bisa mendekat karena kondisinya tidak memungkinkan untuk merangkul Queen. Karina mual tiap kali menghirup parfum Queen. Persis seperti yang Fin alami sebelumnya.


"Queen..." panggil Fin sambil menepuk pelan kedua pipi Queen. Queen terkulai lemah di dalam pelukan Fin.


"Dad, Queen pingsan?" tanya Karina panik melihat Queen yang sepertinya tidak sadarkan diri.


Fin segera mengangkat tubuh Queen dan memindahkannya ke atas sofa bed yang ada di ruang tengah.


Karina mengekor di belakang Fin, namun dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


"Queen," panggil Fin kembali.


"Nih," Karina memberikan segelas air minum kepada suaminya.


"Queen" panggil Fin sambil terus menepuk pipi Queen pelan.


"Eeeemmmhh" lirih Queen.


"Minum dulu," ucapnya penuh perhatian.


Fin membatu Queen untuk duduk dan minum beberapa teguk air. Karina mematung menyaksikan suaminya yang tengah mengurus Queen dengan telaten.


Hatinya merasakan sakit saat perhatian sang suami yang selama menikah selalu tercurah padanya kini memperhatikan perempuan lain juga.


'Apa mommy yang terlalu menganggap perhatian Daddy selama ini, bentuk dari kecintaan Daddy pada Mommy?' Karina membatin.


'Tapi nyatanya pada perempuan lain pun, Daddy seperhatiaan itu,' batin Karina lagi.


Fin bangkit untuk menghampiri istrinya. Namum tangan Queen menahannya.


"Abang," panggil Queen lirih sambil menggelengkan kepalanya, tidak ingin di tinggal.


Fin mengalah. Dia duduk kembali di samping Queen dengan tangan Queen menggenggam lengan Fin. Fin menunggu sampai Queen terlelap, baru akan menghampiri istrinya yang saat ini izin untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2