NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 10. TUAN CHRYST YANG MISTERIUS


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Mau kemana Dylan, kok sudah rapi?"


"Mau ngampus Kek, kenapa, nggak boleh ngampus juga?"


Dylan tampak mendudukan dirinya di meja makan bersama Kakek Chryst. Di tempat yang sama ada Virgo yang sudah berganti nama menjadi Milley dan duduk bersama mereka semua.


"Kenapa Milley enggak kamu ajak?"


"Uhuk!"


Dylan tersedak makananya. Dengan sigap Milley mengambilkan minum untuknya.


"Terima kasih."


Lalu acara sarapan pagi segera dilanjutkan kembali. Karena ada Dylan, Milley mulai mengambilkan beberapa menu makanan untuknya. Kakek Chryst masih mengamati keduanya. Milley yang peka segera mengambilkan menu yang sama untuk kakek.


Satu suapan pertama, enak. Yang kedua lebih enak lagi, tentu saja hal itu membuat kakek bertanya siapa koki yang bertugas hari ini, kenapa semua masakannya terasa sangat enak dan lezat.


"John, panggil kepala pelayan hari ini."


"Baik Tuan Besar."


"Memangnya ada apa Kek? Makanannya enggak enak kah, atau ada menu yang mau di ganti?" tanya Dylan di tengah acara sarapannya.


"Kamu diam dulu, bukannya enggak enak, tapi ini enak banget."


Milley yang sebelumnya khawatir karena masakannya tidak di suka oleh Kakek dan Dylan sedikit menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah kalau mereka suka."


Sesaat kemudian datanglah kepala pelayan yang sudah menunduk. Ia berpikiran kalau ini berhubungan dengan menu makanan pagi itu. Kepala pelayan melirik ke arah Milley yang malah tersenyum padanya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menyajikan masakan yang lezat hari ini. Untuk semua jerih payahmu, nanti akan aku berikan bonus tambahan."


Kepala pelayan menengadah, "Maaf Tuan Besar, kalau ingin memberikan pujian ataupun hadiah silakan diberikan pada Nona Milley. Karena semua menu pagi ini adalah kreasinya."


"Wah, benarkah? Kalau begitu akan aku berikan bonus tambahan untukmu karena telah berkata jujur."


"Terima kasih banyak Tuan, terima kasih."


Kakek Chryst menoleh ke arah Milley, "Terima kasih sayang, sudah menyajikan makanan yang sangat lezat pagi ini. Dylan saja sampai memuji hasil kreasimu."


"Sama-sama Kek."


Dylan memandang aneh ke arah Milley. Sementara Milley tidak menganggap kehadiran Dylan saat itu. Selesai makan Dylan benar-benar meninggalkan rumah untuk pergi kuliah.


"Aku pergi kuliah dulu Kek," pamit Dylan.


"Hm, berhati-hatilah."


Tidak lama kemudian Dylan benar-benar meninggalkan rumah menuju kampus. Di sana terlihat Rose menunggunya di area parkir.


"Selamat datang sayang," sapa Rose ketika mendapati Dylan sudah sampai dengan motor sport miliknya."


Dylan melepas helm yang ia pakai dan menaruhnya di atas spion motornya. Senyuman yang menawan mampu menghipnotis semua orang yang melihat kedatangannya.


"Hai sayang, apakabar?" ucap Rose sambil cipika cipiki.


"Baik sekali sayang, yuk ke kelas," ucap Dylan sambil mengalungkan tangannya ke leher kekasihnya itu.


Tentu saja Rose semakin merapatkan tubuhnya ke arah Dylan. Bergandengan mesra seperti biasa hingga sampai di dalam kelas. Sesekali Dylan mengecup pucuk kepala Rose dengan penuh cinta. Sementara itu, di kejauhan Milley tampak biasa melihat hal tersebut.


"Mau kau pacaran dengan siapa pun tetapi tempat kembalimu kuncinya ada padaku!" ucap Milley dalam hati.


"Pak kembali ke rumah saat ini!"

__ADS_1


"Baik Nona Milley."


Dari sorot matanya sudah terlihat sendu, namun bukan karena cinta melainkan hanyalah sebuah kewajiban yang dibebankan padanya sejak saat itu.


RUMAH SAKIT


"Suster, maaf mau tanya."


Salah seorang suster menoleh ke arah Lena, "Iya Buk, ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah di saat aku terlelap tadi ada orang yang masuk ke ruanganku?"


"Maaf sepertinya ada yang datang lagi Nyonya, tetapi aku meminta maaf karena tidak sempat berkenalan dengannya," ucapnya sambil menunduk.


Bagaimana pun suster tersebut sudah dibayar mahal agar bisa menjaga Lena. Hanya saja Lena merasa tidak nyaman karena belum bertemu dengan putrinya.


"Akh, apa aku yang terlalu banyak berpikir, sehingga bayangan Virgo terlintas dalam angan-anganku."


"Maaf Nyonya apa masih ada yang ingin ditanyakan?"


"Eh, sepertinya tidak ada suster, terima kasih banyak."


"Baiklah kalau begitu saya permisi!" pamit suster tersebut.


Saat ia keluar dari kamar rawat Lena, ia segera mengambil ponsel dan melaporkan semua perkembangan kesehatan Lena pada Tuan Chryst. Sementara itu Lena yang sudah terkena obat tidur segera terlelap saat itu juga.


"Maafkan saya Nyonya Lena, tetapi semua ini saya lakukan demi keselamatan Anda," ucap suster tersebut sebelum pergi.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2