
Melupakan sebuah kenangan tentang masa lalu memang tidak mudah. Apalagi itu menyangkut tentang hati.
"Jika mencintaimu adalah sebuah luka, maka akan aku biarkan luka itu membunuhku asalkan kau bahagia."
Saat melihat Dylan sangat mencintai Milley begitu pula dengan sebaliknya, membuat Michael sadar jika semua memang sudah menjadi takdir cinta mereka. Michael mencoba mengikhlaskan apa yang sudah menjadi takdirnya.
"Apakah ada yang terluka?" tanya Dylan memastikan keadaan pada istrinya itu.
Milley menggeleng perlahan, ia tidak bisa mengatakan jika tadi ibunya berbuat jahat kepadanya.
"Terima kasih sudah datang ke sini, aku harap semua ini tidak akan terjadi lagi setelahnya."
"Aamiin, kalau begitu beristirahatlah."
"Enggak, tadi aku selesai masak untuk makan siang, bagaimana kalau kita makan berdua?"
"Boleh, ayo kita makan!"
"Ayo."
"Nanni tolong kesini, bantu aku mempersiapkan makanannya."
"Baik Nyonya."
Melihat kebahagian Milley dan Dylan membuat Nanni bahagia. Begitu pula dengan Dylan yang merasa lega karena istrinya baik-baik saja. Ia bahkan melupakan kehadiran Michael di perusahan tadi."
"Milley, bolehkah aku meminta sesuatu?"
__ADS_1
"Boleh, kenapa tidak?"
"Aku ingin kita pindah dari sini, karena rumah ini sebenarnya milik kakek, dan aku merasa tidak enak jika terus menerus tinggal di sini. Apalagi kita sudah menikah."
"Tentu saja aku setuju dengan usulmu, tetapi alangkah baiknya kalau kita menunggu kepulangan kakek."
"Ya, aku juga berpikiran seperti itu."
"Nah, karena semuanya sudah siap, bagaimana kalau kita makan sekarang."
"Baiklah."
Milley dengan telaten mengambilkan beberapa lauk dan makanan untuk suaminya. Hingga beberapa saat kemudian akhirnya mereka makan bersama.
...***...
"Bagaimana keadaan Tuan Besar?"
"Keadaannya sudah jauh membaik saat ini, sebaiknya kita bersiap untuk melakukan operasi besok."
"Lakukan yang terbaik untuk Tuan Besar. Berapapun biaya yang dibutuhkan Anda tidak perlu khawatir."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih."
Jo masih memandangi Tuan Besarnya. Beliau mengingat semua kenangan yang telah dilalui bersama Tuan Besarnya. Dari dulu sejak beliau lumpuh, hingga akhirnya bisa sembuh. Jo tidak pernah meninggalkannya.
__ADS_1
Bahkan di saat semua orang tidak ada yang peduli, ia selalu berada di samping Tuan Chryst. Banyak kebaikan yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Terlebih saat ini, beliau kembali sakit. Tidak ada hal yang lebih penting kecuali membiarkannya sembuh.
Melihat Tuan Chryst masih terlelap, Jo kembali ke perusahaan. Tidak lupa ia semakin memperketat pengamanan untuk beliau. Banyak orang yang bisa saja mencelakai beliau jika Jo tidak waspada.
Tidak disangka di tempat parkir, Jo berpapasan dengan Viola. Kebetulan ia harus melakukan tes untuk menyatakan bahwa dirinya bebas dari Covid. Terlebih lagi dia adalah warga asing, untuk kebaikan dirinya ia pun melakukan serangkaian tes untuk memastikan dirinya bebas dan sehat.
"Bukankah itu Nona Milley, sejak kapan ia mengecat rambutnya?" gumam Jo.
Merasa ada yang mengamatinya, Viola menoleh ke sekelilingnya. Namun, ia tidak menemukan siapa pun.
"Mungkin hanya perasaanku saja."
Viola mempercepat langkahnya lalu segera masuk ke dalam. Sementara itu, Jo masih mengamatinya dari dalam mobil. Setelah jejaknya menghilang, ia baru mengemudikan mobilnya.
"Kenapa bayangan Milley selalu melekat, mungkin itu hanya halusinasiku saja. Sebaiknya aku pergi ke Rumah Sakit. Semoga Tuan Chryst baik-baik saja."
Setelah berpikiran cukup tenang, Michael segera melajukan mobilnya pergi ke Rumah Sakit. Kalau pun tidak bisa bertemu dengan Tuan Chryst setidaknya ia bisa mengechek kondisi tubuhnya.
Satu pesan dari Adam membuatnya ia harus rajin chek up. Ia juga tidak mau membuat ibunya khawatir karena kondisi tubuhnya yang sering drop.
...***...
"Bagaimana kondisi pasien atas nama Lena?"
"Kondisi pasien sudah stabil. Mungkin dua hari lagi akan dilakukan chek up ulang. Kalau kondisinya benar-bbenr pulih, maka ia boleh pulang."
"Terima kasih, Dokter."
__ADS_1
"Sama-sama."