NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 28. HAI, AKU MICHAEL


__ADS_3

Setelah sampai di kampus, Milley tidak lupa berterima kasih pada lelaki tersebut. Namun sayang, ia lupa menanyakan namanya.


"Ya ampun, gara-gara Dylan, gue lupa tanya nama laki-laki itu. Lain kali kalau ketemu nggak boleh kayak gini," batin Milley di sela-sela mata kuliahnya berlangsung.


Satu mata kuliah selesai, lanjut ke dalam mata kuliah kedua. Saat ada lelaki jangkung masuk ke dalam kelas, tiba-tiba saja suasana kelas menjadi riuh.


Milley yang asyik memandangi buku, terpaksa mengikuti arah pandang mahasiswa lainnya. Begitu pula dengan Dylan yang duduk tidak jauh darinya.


Lelaki tampan tersebut mengulas senyum ke arah Milley yang sekejap membuat wajah Milley merona.


"Astaga, dia dosenkah?"


Cica yang kebetulan sudah dekat dengan Milley menyenggol lengannya, "Cie, dipandangi dosen baru nih ye, uhuk!"


Milley menoleh, "Apa-an sih, Ca?"


Sayup-sayup Dylan mendengar percakapan Milley dengan Cica. Tentu saja hal itu mengusik hati Dylan.


"Kok, berasa pernah liat tuh dosen, ya? Tapi di mana?"


Lamunan Dylan dan kekaguman semua mahasiswi terhenti ketika dosen mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas.


"Selamat pagi, jadi selama Pak Anthony cuti, maka jadwal mata kuliah beliau akan saya bawakan."


"Yes, asyik!"


"Gue rela duduk di kelas selama berjam-jam, asal dosennya dia."


"Setuju, Cin!"


Michael tersenyum melihat atensi para muridnya, lalu ia mulai memperkenalkan diri.


"Mohon tenang sejenak, bolehkah saya memperkenalkan diri?"


"Boleh banget, Pak!"


"Sekalian sama nomer telepon, ya ...."


"Ha ha ha ...."


Suasana kelas menjadi riuh, namun, tetap terkendali.


"Oke, semuanya tenang. Nama saya Michael, saya lulusan Oxford University. Selama di sana saya mengambil jurusan Faculty of Philosophy."


"Wah, ganteng, pinter filsafat pula. Fix, dosen calon jodoh gue!" ucap salah satu mahasiswi dengan percaya diri.


"Wuuuu ...." sorak anak-anak yang lain.


"Maunya semua dosen muda di kekepin! Ngaca dulu, Non!"


Bukan namanya Silvia kalau tidak percaya diri. Baginya menjadi cantik dan populer di kampus adalah cita-citanya. Maka dari itu tingkat percaya dirinya dia atas rata-rata.

__ADS_1


"Diem, Lu ogeb, sirik aja!"


"Mohon tenang semuanya, karena kelas akan saya mulai sebentar lagi."


"Saya harap semuanya tenang, oke!"


"Oke, Pak!"


Sesekali Michael mencuri pandang ke arah Milley yang sejak tadi merona karena tatapannya. Bagaimana tidak malu, kalau ternyata orang yang selalu menolongnya adalah dosen baru.


"Mampus Lu Milley, dia dosen kamu! Mau ditaruh di mana lagi tuh, muka!"


Beberapa kali Milley terlihat menutupi wajahnya dengan buku miliknya. Cica yang sedari tadi melihat Milley bertingkah aneh semakin gencar menggodanya.


"Ehem, Mbak Milley malu-malu meong, nih. Dari tadi salting mulu, deh."


"Diem, Cica!"


"Oke, Cica yang imut paripurna diem," ucapnya sambil menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


Selama mata kuliah berlangsung, Dylan tidak bisa berkonsetrasi. Apalagi melihat Milley yang salting semakin membuat amarahnya memuncak.


Terbukti saat jam mata kuliah selesai, ia langsung meninggalkan Milley sendirian. Dylan lebih memilih pergi bersama teman satu geng motornya ke roof top.


"Lu kenapa sih, Bro. Dari tadi gue liatin, kaya orang lain kebakaran jenggot aja."


"Iya nih, sejak Lu kenal Milley, Lu udah berubah, Bro."


Memang sudah jadi kebiasaan kalau ia lagi datang bulan, ada saja masalah yang datang. Entah itu pusing atau perutnya yang terkadang bisa kram. Kebetulan Michael lewat di tempat Milley duduk sendirian.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Michael tanpa rasa canggung.


"Eh, Pak Dosen. Aku enggak kenapa-napa, kok."


Meskipun Milley menutupi rasa sakitnya, tetapi Michael bisa membaca raut wajah Milley yang kesakitan.


"Ya sudah, kamu tunggu sebentar, ya."


"Iya."


"Kirain mau nolongin, tetapi ternyata malah ninggalin!" batin Milley.


Namun, dugaan Milley salah besar. Beberapa saat kemudian Michael datang membawakan satu gelas air hangat dan camilan kue untuknya. Tanpa rasa malu, ia duduk di samping Milley dan menyodorkan apa yang ia bawa untuknya.


"Kamu minum air hangatnya, siapa tau bisa mengurangi rasa sakitnya."


Michael membantu menopang punggung Milley yang tadinya membungkuk hingga agak tegap. Ia juga membantunya untuk menyuapi Milley minum.


"Eh, enggak usah, Pak."


"Nggak apa-apa, kamu diem aja dan nurut."

__ADS_1


Perlahan-lahan ia mengusap punggung Milley, tetapi sebelumya ia sudah meminta ijin padanya.


Sungguh di luar dugaan, perhatian kecil dari Michael mampu meredakan nyeri di perut Milley. Ada kenyamanan yang ia rasakan saat itu.


"Sudah, Pak. Terima kasih, saya sudah merasa lebih baik saat ini."


"Iya, jangan lupa di makan ya, kuenya. Itu bisa membantu mengurangi rasa sakit perut kamu."


Dengan malu-malu, Milley mengangguk. Tidak pernah ia merasakan perhatian dari lawan jenis sebelumnya. Hal yang biasa ia dapatkan adalah perhatian dari ibunya. Lena sangat paham dengan kondisi putrinya jika sedang datang bulan seperti ini. Tidak disangka, Tuhan mengirimkan seseorang yang sama perhatiannya dengan Lena.


Tiba-tiba saja, sudut mata Milley berembun ketika mengingat ibunya. Michael yang awalnya berniat pergi, menjadi mengurungkan niatnya melihat hal itu.


"Aku berbuat salah, ya? Kok kamu ...."


Buru-buru Milley mengusap sudut matanya, "Ma-maaf, Pak. Bukan karena Bapak, aku hanya ingat ibu aja."


"Oh, maafkan saya kalau begitu."


Milley mencoba tersenyum, "Santai aja, Pak. Harusnya saya tidak boleh merepotkan Bapak."


"Sebentar-sebentar, gimana kalau kamu panggil Mich aja, kan ini di luar jam mata kuliah saya."


"Lah, kesannya nanti nggak sopan, dong!" ucap Milley tidak enak hati.


"Saya yang minta, kok. Gimana, soalnya kesannya saya tua amat kalau dipanggil Bapak," ucap Michael sambil tertawa.


"Wkwkwk, terserah kamu aja deh."


"Oke, fix mulai sekarang kita temenan, ya?"


Michael mengulurkan tangannya ke arah Milley untuk berjabat tangan. Sementara itu Milley masih ragu. Spontan Michael menarik paksa tangan Milley untuk berjabat dan hal itu sukses membuat Dylan terbakar api di sudut ruangan.


Sesudahnya mereka berdua tertawa bersama.


"Pak Michael lucu deh."


"Syukurlah kalau aku lucu, setidaknya bisa mengukir senyum di wajah cantik kamu."


Blush. Seketika semburat merah memenuhi pipi Milley.


"Ya, ampun gue ketemu buaya."


Tanpa keduanya sadari, entah sejak kapan Dylan memperhatikan keduanya. Namun, ia sengaja berdiam di sana untuk melihat sejauh apa hubungan Milley dengan dosen tersebut. Tangannya mengepal erat saat melihat Milley tersenyum dengan lelaki lain.


"Milley, awas kamu, ya!"


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


Kira-kira Dylan mau ngapain sih? Kok bisa ya, tuh dosen ngadalin mahasiswinya sendiri? Wkwkwk.


__ADS_2