NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 77. MENYUSULNYA


__ADS_3

Andreas kini berhasil melacak keberadaan Lena dan Milley. Ternyata mereka masih berada di Indonesia dan belum kembali ke Paris. Hanya saja keberadaan mereka memang disembunyikan oleh Michael. Beruntung ia bisa menemukannya. Tanpa memberi tahukan hal tersebut, ia berniat menyusul mereka.


"Aku harus menemui Milley dan mengatakan semuanya, aku harap ini tidak akan terlambat."


Andreas melirik istrinya yang masih terlelap di sana. Ia tidak mau mengusik Rebecca dan lebih memilih untuk keluar dari rumah secara diam-diam. Selama ini ia masih bersikap baik padanya karena sesuatu hal, hingga ia pun bersiap untuk menyusun rencana baru.


"Semoga tidak ada yang melihatku pergi malam ini."


Andreas segera mengambil barang penting dan mengambil kunci mobil. Kali ini ia membawa mobil pajero hitamnya melaju ke perbatasan kota. Dari asistennya ia bisa mendapatkan informasi akurat. Bahkan mereka sudah janjian untuk bertemu di titik tersebut.


"Bagaimana situasinya?"


"Aman, Bos. Mereka masih berada di sebuah perumahan yang sama. Dua hari ini mobil mereka sama sekali tidak keluar rumah. Hanya ada mobil dokter yang sempat masuk satu kali."


"Baiklah, kalau begitu kita segera meluncur ke sana."


"Siap."


Demi keamanan, Andreas mengganti mobilnya dan masuk ke dalam mobil lain ketika sampai di markas. Ia bersama anak buahnya pergi keluar kota. Perjalanan yang mereka tempuh menghabiskan sekitar delapan jam perjalanan darat.


"Milley, Lena ... tunggullah aku datang, aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu.


🍂Keesokan harinya.


"Sarapan sudah siap ...." seru Lena dari arah dapur.


Kali ini Lena sengaja memasak makanan untuk Keluarga Michael karena kondisi Milley kakinya masih terkilir. Milley terpaksa memakai crutch untuk menopang sebelah kakinya. Melihat Milley kesusahan, Michael membantu Milley menuruni tangga.


"Sayang, hati-hati," ucap Lena dari kejauhan.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Michael memperhatikan ruang makan masih sepi, tidak ada ibunya di sana.


"Loh, Mama belum ke sini, Tante?"


Lena menoleh ke arah Michael.


"Belum, mungkin masih bersih-bersih. Tadi sempat membantu Mama dan pamitnya begitu."


"Biar aku yang manggil, Tante, ya?" usul Milley.


"Nggak usah Mill, biar aku saja yang memanggilnya. Kamu duduk di sini saja."


Michael kembali berdiri lalu menuju kamar Ibunya. Letaknya tidak terlalu jauh dengan ruang makan, jadi ia sempat sampai. Di dalam kamar, Ibunda Michael masih mengusap hidungnya yang berdarah atau mimisan.


Sesampainya di depan kamar.


"Mam, boleh aku masuk? Makanannya sudah siap."


"Iya, Sayang. Sebentar lagi Mama keluar."


"Oke, Mam, aku tunggu di depan pintu, ya."


"Iya, Sayang."


Nyonya Marrie segera ia mengusap hidungnya yang masih mimisan. Lalu membuang beberapa lembar tisu ke dalam plastik hitam yang berada di tempat sampah.


Tidak lupa melapisi bibirnya dengan lipstik warna nude, kedua pipinya dipulas dengan blush on warna pink agar tidak terlalu pucat.

__ADS_1


"Semoga, Michael tidak curiga, anak itu terlalu curigaan, sih. Mirip sekali dengan papanya."


Nyonya Marrie terkekeh untuk sementara waktu. Setidaknya masih ada sebuah senyuman yang terbit di wajahnya kali ini. Membuat wajahnya masih bersinar di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Sesaat kemudian ia keluar, Michael lalu mencium tangan ibunya dan menggandeng beliau ke meja makan.


"Ayo sarapan dulu, Mam."


Nyonya Marrie mengangguk.


"Mama kok pucat, ya?" gumam Michael, tetapi ia tidak berani berkomentar.


"Wah, Nyonya Marrie sudah datang, sini silakan duduk."


Lena menyambut calon besannya dengan sopan. Milley bahagia melihat ibunya bisa akrab dengan ibunya Michael. Terlebih lagi ada satu hal yang membuatnya nyaman ketika berada di rumah itu adalah sikap sopan dan saling menghormati satu sama lain.


"Andai Ibu dan Ayah masih bersama, mungkin masih ada kesempatan untuk kami bahagia."


.


.


Adakah yang kangen dengan Ayahnya Milley? Kalau iya nanti othor temuin lagi, ya.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2