NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 124. BERTEMU LAGI


__ADS_3

"Hallo, apa Tuan Michael sudah kembali ke kantor?" tanya Dylan selepas makan siang.


"Belum, Tuan. Sepertinya setelah Anda pergi beliau juga menyusul Anda," terang asistennya.


"Ha-ah, menyusulku?" ucapnya penuh tanda tanya.


"Apakah ia juga datang ke rumah ini, lalu kenapa ia tidak ikut masuk?" gumamnya.


Beberapa saat kemudian Nanni melintas di depannya. Melihat hal itu Dylan segera menghentikan langkahnya dan menegur Nanni.


"Maaf, Nanni, apa kau melihat Michael tadi datang kemari?"


"Benar, Tuan. Tadi saat Tuan memeluk Nona Milley, ia berada di belakang saya. Akan tetapi ketika saya menyuruhnya masuk, beliau malah memilih pergi dan meminta saya agar merahasiakan kedatangannya."


"Kenapa ia berperilaku seperti itu, apa semua ini karena Milley? Atau ia belum siap menemui kami?"


Tiba-tiba Milley datang dari belakang dan mengangetkan Dylan.


"Hayo, sedang mikirin apa, kenapa sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Apa kau mau ikut?"


"Boleh, sebentar aku ganti baju dulu."


Tidak mau istrinya terlihat cantik di mata karyawannya, Dylan menarik tubuh Milley hingga ia terjatuh di pelukan Dylan.


"Kamu apa-apaan?"


Dylan menyentuh dagu Milley lalu mendekatkan wajahnya ke arah Milley hingga hal itu membuat Nanni harus membuang muka. Tidak perlu menunggu lama, Dylan mengecup kening istrinya lalu membisikkan sebuah kata.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu berganti baju, karena hanya dengan pakaian seperti ini saja kamu sudah kelihatan cantik," bisiknya tepat di telinga kanan Milley.


Wajah Milley seketika memerah karena malu, apalagi saat ini mereka tidak hanya berdua melainkan ada Nanni di sana. Tidak ingin menganggu majikannya, Nanni pamit undur diri.


"Lebih baik saya segera pergi," gumamnya.


"Sa-saya permisi Tuan dan Nona," pamit Nanni dengan terus menunduk.


Perjalanan panjang yang ditempuh Michael akhirnya telah mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Tempat di mana Tuan Chryst dirawat. Ia tidak menyangka jika ia harus kembali lagi ke Indonesia saat ini. Apalagi di hari pertama ia datang sudah melihat wajah cantik Milley.


Sesekali ia juga sangat bersyukur karena Paman Jo masih mempercayainya untuk membantu menyelesaikan masalah di Perusahaan Anggara corp. milik Tuan Chryst. Beruntung saat ini sudah mulai keluar dari masa krisis.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Michael telah sampai Rumah Sakit tempat Tuan Chryst dirawat. Michael turun dari mobil dan segera pergi ke bagian informasi di lobby.


"Selamat siang Mbak."


"Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya akan mencari datanya terlebih dahulu," ucap perawat itu.


Tiga menit kemudian.


"Pasien atas nama Tuan Chryst berada di kamar VVIP di lantai empat, ruang Lili," sahut perawat itu.


"Terima kasih banyak," ucap Michael.


Setelah mendapatkan cukup informasi, Michael langsung bergegas naik ke lantai empat. Secara tidak sengaja ia dan Viola berada di satu lift. Viola yang merasa ia pernah bertemu dengan Michael menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Hai Tuan, kita bertemu lagi," sapanya dengan ramah.

__ADS_1


Baru disapa seperti itu saja, sudah membuat detak jantung Michael berdetak dengan sangat kencang. Hal seperti ini pernah ia rasakan saat berdekatan dengan Milley. Apakah ini sebuah firasat, atau hanya sekedar kebetulan?


Hal itu membuat Michael menjadi tergagap saat menjawab sapaan dari Viola.


"Ah, hai Nona."


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi di sini," ucap Michael sambil tersenyum ramah.


"Iya aku sedang melakukan serangkaian tes untuk keperluan perusahaan. Kalau Tuan sendiri sedang apa?"


"Aku, ya? Aku sedang mengunjungi kerabat lamaku di sini, kebetulan beliau dirawat di sini."


"Aku juga datang ke sini atas permintaan beliau. Senang bisa bertemu denganmu," ucap Michael.


"Sama-sama."


Setelah lift terbuka, Viola meninggalkan Michael lebih dulu. Tidak lupa ia berpamitan kepadanya.


"Sampai berjumpa lagi, Tuan," pamit Viola.


"Eh, iya. Sampai berjumpa kembali."


Melihat Viola sudah menghilang, Michael bergegas melangkah ke kamar tuan Chryst. Selama di perjalanan menuju kamar Tuan Chryst, banyak sekali pikiran yang menghinggapi Michael.


Dia berpikir kenapa sampai dua kali, ia bisa bertemu dengan Viola. Mungkinkah ini sebuah kebetulan atau memang ia ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Milley. Atau mungkin Tuhan menginginkan dia tetap bersama Milley meski itu hanya duplikatnya.


Akan tetapi karena Milley sudah menjadi milik orang lain, maka Tuhan mengirimkan satu orang lagi yang mirip dengan Milley. Meskipun begitu mungkin wajahnya saja yang sama tetapi hatinya Michael tidak tahu apakah sama dengan Milley atau lebih buruk darinya.


Meskipun begitu, cinta pertama tidak akan pernah salah, yang ia mau adalah sosok seperti Milley. Meskipun ia tomboy, tetapi ada sesuatu hal yang menarik di dalam dirinya. Hal itu pula yang membuat Michael tidak bisa melupakan Milley begitu saja.

__ADS_1


Bahkan ia mempertahankannya, menjaganya selayaknya berlian. Akan tetapi, ternyata berlian itu milik orang lain. Miris, itulah kata yang tepat untuknya.


__ADS_2